ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang terus-menerus mundur. Francis Lawrence mengambil ketakutan itu—ketakutan akan ruang yang tak memberi arah—dan mengubahnya menjadi sebuah neraka bernama The Long Walk (2025).
Namun neraka yang ia bangun bukan berasal dari api atau jerit kesakitan, melainkan dari hal-hal yang seharusnya biasa saja. Aspal abu-abu yang tak berujung, rumput kering yang menyerah pada debu, langit yang menatap dari jauh tanpa ekspresi. Dunia yang diciptakan Lawrence terasa datar. Tapi, dalam keheningan dan keseragaman itu kekuasaan menemukan ruang untuk bekerja tanpa malu-malu.
Karenanya, barangkali The Long Walk adalah cetak biru dari sebuah ritus kekejaman. Panggung yang tujuan utamanya bukan sekadar mencari pemenang. Tetapi mengubah ketaatan, kelelahan, dan penderitaan menjadi tontonan ritual—apa yang disebut oleh Guy Debord sebagai the spectacle.
Lawrence yang sebelumnya piawai mengontraskan kemuraman Distrik 12 dengan kemegahan opresif Capitol dalam The Hunger Games, kini seperti melucuti dunia itu hingga ke tulang. Ia mengambil estetika Distrik 12—kesuraman yang masih menyisakan harapan—dan menghapus sisa harapan itu sama sekali.
Tidak ada lagi Capitol yang dijadikan musuh, tidak ada pusat kekuasaan yang jelas. Menyisakan lanskap Amerika Serikat yang berkarat, terperangkap dalam kelelahan dan paranoia.
Dunia yang muram ini diperparah oleh cara sinematografer Jo Willems memandangnya. Kita jarang sekali mendapat close up yang intim untuk merasakan apa yang dirasakan para pejalan (walker). Alih-alih, kita lebih sering dikunci dalam medium shot atau tracking shot yang berjarak. Kamera terasa seperti seorang penjaga yang dingin, objektif, dan sama lelahnya dengan para peserta.
Jalan raya yang lurus dengan cakrawala yang terus mundur itu membelah layar secara horizontal, menciptakan penjara tanpa jeruji. Lawrence tidak memberi kita adegan aksi yang megah untuk dinikmati. Ia memaksa kita untuk tinggal di dalam kebosanan dan peluruhan ritus itu.
Peluruhan yang lambat itu didukung oleh logika yang kaku. Aturan mainnya adalah tiga mil per jam, tiga peringatan, dan satu tiket. Tiga aturan itu adalah alat psikologis yang dirancang agar para pejalan menjadi polisi bagi diri mereka sendiri. Ketiganya adalah fondasi yang menopang The Long Walk.
The Long Walk tidak menuntut siapa yang tercepat—sesuatu yang manusiawi. Ia menuntut para pejalan untuk jangan berhenti, sesuatu yang lebih brutal—konsistensi yang tak manusiawi.
Tuntutan “jangan berhenti” itu yang kemudian membuat musuh para pejalan bukanlah pejalan lain, melainkan diri mereka sendiri. Kelelahan, sesuatu yang manusiawi, adalah suatu pelanggaran berat. Dan konsekuensinya tiket, yang berarti kematian, adalah contoh sempurna dari apa yang disebut oleh Hannah Arendt sebagai banality of evil (banalitas kejahatan).
The Long Walk diadaptasi dari novel yang berjudul sama milik Stephen King yang ia tulis di bawah nama samaran Richard Bachman. Tapi Lawrence tidak lagi menuturkannya sebagai kisah teror distopia, ia menata ulang cerita itu menjadi semacam renungan sunyi tentang manusia yang terus melangkah meski makna hidup pelan-pelan memudar.
Kita diperkenalkan pada Ray Garraty (Cooper Hoffman), remaja dengan wajah polos dan keyakinan samar bahwa hidup masih punya alasan untuk dipertahankan. Ia berjalan dengan langkah penuh keraguan, seolah setiap langkah adalah negosiasi antara harapan dan keputusasaan.
Di sisinya, Peter McVries (David Jonsson), yatim piatu yang berjalan bukan karena ingin menang, tapi karena tak tahu mau ke mana lagi. Hidup baginya adalah sisa, bukan tujuan. Sementara dari kejauhan, The Major (Mark Hamill)—imam besar the walk—menatap mereka seperti bapak yang bangga sekaligus algojo yang sabar.
Di antara tiga sosok itu, Lawrence menemukan bentang moral dari zaman ini, yang satu masih percaya, yang satu sudah menyerah, dan yang satu menikmati kepatuhan sebagai bentuk keabadian. Mereka tidak bertarung satu sama lain, tapi bersama-sama berjalan di dalam sistem yang telah menggantikan makna dengan keteraturan.
Dan di sanalah The Long Walk berubah menjadi alegori tentang masyarakat yang tidak lagi tahu apa itu kebebasan. Ia menjadi cermin dari peradaban yang telah mengganti iman dengan produktivitas.
Kita Adalah Para Pejalan
Dalam dunia The Long Walk, kekuasaan tidak hadir melalui kekerasan yang meledak-ledak. Ia tidak menindas lewat pentungan atau senapan, melainkan lewat keteraturan. Di dunia ini, kekuasaan bekerja bukan dengan menakut-nakuti, tetapi dengan menyediakan arah yang tidak bisa dihindari.
Para pejalan tidak dipaksa untuk ikut the walk. Mereka mendaftar dengan sukarela. Membawa tubuhnya sebagai persembahan.
Namun kesukarelaan yang tampak bebas itu justru menjadi bentuk kepatuhan paling sempurna. Ketaatan mereka bukan hasil penindasan, melainkan buah dari pengharapan yang dimanipulasi. Di dunia The Long Walk, harapan telah menjadi alat kekuasaan. Kebebasan telah dibentuk sedemikian rupa sehingga ketaatan terasa seperti pilihan. Itulah cara paling halus dari kekuasaan, ketika manusia meyakini bahwa rantai yang melilitnya adalah gelang keberanian.
Lantas jika memang kematian adalah harga yang harus dibayar oleh para peserta, lalu mengapa masih ada yang mau mendaftar?
Hadiah (the prize) jawabannya. Tawaran hadiah menjadi ilusi, umpan yang bekerja lebih ampuh daripada paksaan—todongan bedil, misalnya. Ilusi hadiah itu merayu, membujuk dengan janji kemenangan, kejayaan dan kekayaan. Rayuan itu membuat para peserta—yang kebanyakan adalah kaum tertindas—secara sukarela memilih untuk ikut melangkah, berjalan, menyerahkan jiwa mereka pada ritus kekejaman itu.
Karenanya, para pejalan bukanlah budak yang dicambuk dari belakang. Mereka secara aktif berlomba mengeksploitasi diri, saling mengalahkan, demi ilusi hadiah yang entah wujudnya di ujung aspal sana.
Dan tentu saja, panggung itu tidak akan lengkap tanpa penonton.
Ritus kekejaman ini, pada akhirnya, adalah sebuah tontonan yang sengaja dirancang untuk publik. Penderitaan para pejalan yang terekam kamera bukan lagi sebuah tragedi. Ia adalah hiburan.
Mereka, para penonton, tidak lagi melihat pejalan sebagai manusia yang sekarat. Penderitaan telah diubah menjadi komoditas yang disajikan untuk meninabobokan massa agar mereka lupa bahwa mereka sendiri, dengan cara yang berbeda, mungkin juga sedang terjebak dalam jalan—ritus—yang sama.
Lawrence tidak pernah memperlihatkan penonton itu secara vulgar. Mereka hadir seperti bayangan di ujung jalan, samar, tetapi cukup untuk menandakan sesuatu yang lebih luas. Bahwa the walk bukan sekadar ajang hiburan, melainkan cermin dari cara masyarakat modern menikmati penderitaan orang lain sebagai distraksi dari penderitaannya sendiri.
Setiap langkah dalam The Long Walk terdengar seperti mantra yang diulang tanpa keyakinan. Langkah-langkah itu bukan lagi usaha untuk mencapai sesuatu, melainkan cara untuk menunda kehancuran. Dalam kelelahan panjang, manusia berjalan seperti mengulang hidup yang tak lagi ia yakini, tapi tak juga ia tinggalkan.
Kematian hadir di film ini bukan sebagai peristiwa, tetapi sebagai kebiasaan. Setiap tubuh yang jatuh tidak lagi menimbulkan duka, karena kemampuan untuk berduka telah direnggut—kamera pun tak berhenti, langkah para pejalan terus berlanjut.
Mayat-mayat itu, yang terserak di tengah jalan, sekadar menjadi urutan angka. Pada titik ini The Long Walk terasa getir. Bukan karena kematian begitu dekat, tetapi karena hidup—rasa-rasanya—begitu jauh.
Tidak ada akhir dalam The Long Walk. Tidak ada pemenang, tidak ada kekalahan. Hanya langkah yang terus menjauh dan jalan yang tetap di tempatnya.
Lawrence menutup filmnya tanpa resolusi. Kamera mengikuti tubuh McVries yang berjalan, perlahan, lalu hilang. Ia membiarkan langkah terakhir itu larut ke kejauhan, seolah mengatakan bahwa dunia tidak berhenti ketika cerita berakhir. Yang tertinggal kemudian bukan tokoh atau adegan, melainkan rasa lelah yang samar. Semacam keletihan yang kita kenali, tapi tak pernah tahu dari mana sumbernya.
Barangkali The Long Walk adalah doa yang ditulis manusia modern kepada dirinya sendiri. Tentang keinginan untuk hidup, sekaligus ketakutan untuk berhenti hidup. [T]
Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole



























