12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
in Ulas Film
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Film "The Long Walk (2025)" | Photo by Murray Close/Lionsgate/Murray Close/Lionsgate - © 2025 Lionsgategate

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang terus-menerus mundur. Francis Lawrence mengambil ketakutan itu—ketakutan akan ruang yang tak memberi arah—dan mengubahnya menjadi sebuah neraka bernama The Long Walk (2025).

Namun neraka yang ia bangun bukan berasal dari api atau jerit kesakitan, melainkan dari hal-hal yang seharusnya biasa saja. Aspal abu-abu yang tak berujung, rumput kering yang menyerah pada debu, langit yang menatap dari jauh tanpa ekspresi. Dunia yang diciptakan Lawrence terasa datar. Tapi, dalam keheningan dan keseragaman itu kekuasaan menemukan ruang untuk bekerja tanpa malu-malu.

Karenanya, barangkali The Long Walk adalah cetak biru dari sebuah ritus kekejaman. Panggung yang tujuan utamanya bukan sekadar mencari pemenang. Tetapi mengubah ketaatan, kelelahan, dan penderitaan menjadi tontonan ritual—apa yang disebut oleh Guy Debord sebagai the spectacle.

Lawrence yang sebelumnya piawai mengontraskan kemuraman Distrik 12 dengan kemegahan opresif Capitol dalam The Hunger Games, kini seperti melucuti dunia itu hingga ke tulang. Ia mengambil estetika Distrik 12—kesuraman yang masih menyisakan harapan—dan menghapus sisa harapan itu sama sekali.

Tidak ada lagi Capitol yang dijadikan musuh, tidak ada pusat kekuasaan yang jelas. Menyisakan lanskap Amerika Serikat yang berkarat, terperangkap dalam kelelahan dan paranoia.

Dunia yang muram ini diperparah oleh cara sinematografer Jo Willems memandangnya. Kita jarang sekali mendapat close up yang intim untuk merasakan apa yang dirasakan para pejalan (walker). Alih-alih, kita lebih sering dikunci dalam medium shot atau tracking shot yang berjarak. Kamera terasa seperti seorang penjaga yang dingin, objektif, dan sama lelahnya dengan para peserta.

Jalan raya yang lurus dengan cakrawala yang terus mundur itu membelah layar secara horizontal, menciptakan penjara tanpa jeruji. Lawrence tidak memberi kita adegan aksi yang megah untuk dinikmati. Ia memaksa kita untuk tinggal di dalam kebosanan dan peluruhan ritus itu.

Peluruhan yang lambat itu didukung oleh logika yang kaku. Aturan mainnya adalah tiga mil per jam, tiga peringatan, dan satu tiket. Tiga aturan itu adalah alat psikologis yang dirancang agar para pejalan menjadi polisi bagi diri mereka sendiri. Ketiganya adalah fondasi yang menopang The Long Walk.

The Long Walk tidak menuntut siapa yang tercepat—sesuatu yang manusiawi. Ia menuntut para pejalan untuk jangan berhenti, sesuatu yang lebih brutal—konsistensi yang tak manusiawi.

Tuntutan “jangan berhenti” itu yang kemudian membuat musuh para pejalan bukanlah pejalan lain, melainkan diri mereka sendiri. Kelelahan, sesuatu yang manusiawi, adalah suatu pelanggaran berat. Dan konsekuensinya tiket, yang berarti kematian, adalah contoh sempurna dari apa yang disebut oleh Hannah Arendt sebagai banality of evil (banalitas kejahatan).

The Long Walk diadaptasi dari novel yang berjudul sama milik Stephen King yang ia tulis di bawah nama samaran Richard Bachman. Tapi Lawrence tidak lagi menuturkannya sebagai kisah teror distopia, ia menata ulang cerita itu menjadi semacam renungan sunyi tentang manusia yang terus melangkah meski makna hidup pelan-pelan memudar.

Kita diperkenalkan pada Ray Garraty (Cooper Hoffman), remaja dengan wajah polos dan keyakinan samar bahwa hidup masih punya alasan untuk dipertahankan. Ia berjalan dengan langkah penuh keraguan, seolah setiap langkah adalah negosiasi antara harapan dan keputusasaan.

Di sisinya, Peter McVries (David Jonsson), yatim piatu yang berjalan bukan karena ingin menang, tapi karena tak tahu mau ke mana lagi. Hidup baginya adalah sisa, bukan tujuan. Sementara dari kejauhan, The Major (Mark Hamill)—imam besar the walk—menatap mereka seperti bapak yang bangga sekaligus algojo yang sabar.

Di antara tiga sosok itu, Lawrence menemukan bentang moral dari zaman ini, yang satu masih percaya, yang satu sudah menyerah, dan yang satu menikmati kepatuhan sebagai bentuk keabadian. Mereka tidak bertarung satu sama lain, tapi bersama-sama berjalan di dalam sistem yang telah menggantikan makna dengan keteraturan.

Dan di sanalah The Long Walk berubah menjadi alegori tentang masyarakat yang tidak lagi tahu apa itu kebebasan. Ia menjadi cermin dari peradaban yang telah mengganti iman dengan produktivitas.

Kita Adalah Para Pejalan

Dalam dunia The Long Walk, kekuasaan tidak hadir melalui kekerasan yang meledak-ledak. Ia tidak menindas lewat pentungan atau senapan, melainkan lewat keteraturan. Di dunia ini, kekuasaan bekerja bukan dengan menakut-nakuti, tetapi dengan menyediakan arah yang tidak bisa dihindari.

Para pejalan tidak dipaksa untuk ikut the walk. Mereka mendaftar dengan sukarela. Membawa tubuhnya sebagai persembahan.

Namun kesukarelaan yang tampak bebas itu justru menjadi bentuk kepatuhan paling sempurna. Ketaatan mereka bukan hasil penindasan, melainkan buah dari pengharapan yang dimanipulasi. Di dunia The Long Walk, harapan telah menjadi alat kekuasaan. Kebebasan telah dibentuk sedemikian rupa sehingga ketaatan terasa seperti pilihan. Itulah cara paling halus dari kekuasaan, ketika manusia meyakini bahwa rantai yang melilitnya adalah gelang keberanian.

Lantas jika memang kematian adalah harga yang harus dibayar oleh para peserta, lalu mengapa masih ada yang mau mendaftar?

Hadiah (the prize) jawabannya. Tawaran hadiah menjadi ilusi, umpan yang bekerja lebih ampuh daripada paksaan—todongan bedil, misalnya. Ilusi hadiah itu merayu, membujuk dengan janji kemenangan, kejayaan dan kekayaan. Rayuan itu membuat para peserta—yang kebanyakan adalah kaum tertindas—secara sukarela memilih untuk ikut melangkah, berjalan, menyerahkan jiwa mereka pada ritus kekejaman itu.

Karenanya, para pejalan bukanlah budak yang dicambuk dari belakang. Mereka secara aktif berlomba mengeksploitasi diri, saling mengalahkan, demi ilusi hadiah yang entah wujudnya di ujung aspal sana.

Dan tentu saja, panggung itu tidak akan lengkap tanpa penonton.

Ritus kekejaman ini, pada akhirnya, adalah sebuah tontonan yang sengaja dirancang untuk publik. Penderitaan para pejalan yang terekam kamera bukan lagi sebuah tragedi. Ia adalah hiburan.

Mereka, para penonton, tidak lagi melihat pejalan sebagai manusia yang sekarat. Penderitaan telah diubah menjadi komoditas yang disajikan untuk meninabobokan massa agar mereka lupa bahwa mereka sendiri, dengan cara yang berbeda, mungkin juga sedang terjebak dalam jalan—ritus—yang sama.

Lawrence tidak pernah memperlihatkan penonton itu secara vulgar. Mereka hadir seperti bayangan di ujung jalan, samar, tetapi cukup untuk menandakan sesuatu yang lebih luas. Bahwa the walk bukan sekadar ajang hiburan, melainkan cermin dari cara masyarakat modern menikmati penderitaan orang lain sebagai distraksi dari penderitaannya sendiri.

Setiap langkah dalam The Long Walk terdengar seperti mantra yang diulang tanpa keyakinan. Langkah-langkah itu bukan lagi usaha untuk mencapai sesuatu, melainkan cara untuk menunda kehancuran. Dalam kelelahan panjang, manusia berjalan seperti mengulang hidup yang tak lagi ia yakini, tapi tak juga ia tinggalkan.

Kematian hadir di film ini bukan sebagai peristiwa, tetapi sebagai kebiasaan. Setiap tubuh yang jatuh tidak lagi menimbulkan duka, karena kemampuan untuk berduka telah direnggut—kamera pun tak berhenti, langkah para pejalan terus berlanjut.

Mayat-mayat itu, yang terserak di tengah jalan, sekadar menjadi urutan angka. Pada titik ini The Long Walk terasa getir. Bukan karena kematian begitu dekat, tetapi karena hidup—rasa-rasanya—begitu jauh.

Tidak ada akhir dalam The Long Walk. Tidak ada pemenang, tidak ada kekalahan. Hanya langkah yang terus menjauh dan jalan yang tetap di tempatnya.

Lawrence menutup filmnya tanpa resolusi. Kamera mengikuti tubuh McVries yang berjalan, perlahan, lalu hilang. Ia membiarkan langkah terakhir itu larut ke kejauhan, seolah mengatakan bahwa dunia tidak berhenti ketika cerita berakhir. Yang tertinggal kemudian bukan tokoh atau adegan, melainkan rasa lelah yang samar. Semacam keletihan yang kita kenali, tapi tak pernah tahu dari mana sumbernya.

Barangkali The Long Walk adalah doa yang ditulis manusia modern kepada dirinya sendiri. Tentang keinginan untuk hidup, sekaligus ketakutan untuk berhenti hidup. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah-Kisah dari yang Datang dan Menetap: Bali dari Kacamata Pendatang

Next Post

Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co