15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Suci Lestari by Suci Lestari
November 7, 2025
in Esai
Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Suci Lestari

GENERASI Z, atau sering disebut Gen Z, adalah generasi yang tumbuh di lingkungan yang serba terhubung dengan dunia maya, era di mana teknologi maju begitu pesat dan sangat lengkap. Gen Z sering disebut sebagai “Digital Native” karena gaya hidup mereka yang sangat bergantung pada digitalisasi, yang menjadikan mereka generasi yang menyukai segala sesuatu yang instan. Ini semua karena mereka ingin kebutuhan sehari-harinya terpenuhi dengan cepat tanpa repot atau instan.

Bayangkan saja, setiap pagi di depan mata benar-benar terbuka lebar, yang dicari adalah gadget, ibu jari sudah menggulir lapisan ponsel. Linimasa di media sosial bagai sarapan pagi, disusul notifikasi dari grup kuliah, pekerjaan, obrolan pribadi, atau grup keluarga. Begitulah Gen Z, lahir, tumbuh dan berkembang di dunia digital yang tak pernah berhenti berputar.

Namun di balik semua kemudahan dan koneksi super cepat itu, ada sisi lain yang negatif yang jarang erlihat, seperti meningkatnya kecemasan, stres, kekhawatiran berlebihan, dan kelelahan dalam berpikir. Banyak remaja atau anak muda zaman sekarang merasa sangat lelah, meski tak tahu persis penyebabnya. Sibuk tapi tak benar-benar bahagia. Dan memang benar bahwa data menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental di kalangan Gen Z adalah nyata dan memerlukan perhatian serius.

Dunia Digital Media Sosial: Ruang Semu yang Aman

Tak dapat dipungkiri, dunia maya memiliki banyak sisi positif, menyediakan ruang yang luas bagi Gen Z untuk mengekspresikan diri apa adanya. Melalui media sosial WhatsApp, TikTok, Instagram, dan X (dulunya Twitter), mereka dapat melampiaskan kecemasan, memperjuangkan isu sosial yang muncul di luar kebiasaan, bahkan menyampaikan masalah kesehatan mental dengan cara yang kreatif dan unik. Mereka lebih terbuka tentang kesehatan mental dan berani mengungkapkan jika mereka “tidak baik-baik saja”. Maka dalam banyak kasus, media sosial menjadi pelarian pertama untuk mencari empati dan dukungan dari orang lain.

Namun ruang yang mereka anggap aman pun tidak sepenuhnya aman, di balik konten positif, terdapat algoritma yang terus mendorong perbandingan sosial tanpa henti. Semakin lama seseorang membuka ponsel dan scroll media sosial, semakin besar risiko mereka merasa “kurang” dibandingkan orang lain, waktu layar yang tinggi jelas berkaitan dengan risiko stres digital.

Berdasarkan Survei American Psychological Association (APA, 2023), 48% Gen Z mengatakan bahwa media sosial adalah sumber stres utama mereka, dibandingkan dengan hanya 28% Milenial. Ini berarti bahwa ruang digital memang memberikan kebebasan dan ekspresi diri, tetapi juga membuka peluang bagi tekanan psikologis baru yang tidak dialami generasi sebelumnya.

Meskipun Gen Z merupakan generasi yang disebut-sebut sebagai generasi yang paling up to date, paling cepat menyerap perubahan, tetapi justru merupakan generasi dengan kondisi kesehatan mental yang kurang baik. Berdasarkan hasil survei McKinsey Health Institute yang mengambil sampel 41.960 orang di 26 negara, terdapat 18% responden yang dikategorikan sebagai Gen Z yang merasa kesehatan mentalnya kurang baik, angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi milenial sebesar 13%, generasi X sebesar 11% dan baby boomer sebesar 8%.

Begitu pula di Indonesia, data riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2018 mencatat jumlah anak usia di bawah 15 tahun yang menderita gangguan mental emosional meningkat menjadi 9,8% (20 juta jiwa), dari sebelumnya hanya 6,1% (sekitar 12 juta jiwa).

Perspektif Statistik: Antara Korelasi dan Kausalitas (Bukan Sebab Mutlak).

Dari perspektif statistik, hubungan antara penggunaan media digital dan kesehatan mental bersifat berkorelasi, tidak selalu kausalitas atau sebab akibat langsung. Artinya, semakin sering intensitas bermain media sosial, semakin tinggi pula kemungkinan seseorang mengalami stres, tetapi belum tentu menjadi penyebab utamanya. Masih banyak faktor lain yang berperan, seperti kualitas dukungan sosial di dunia nyata, kondisi ekonomi keluarga, pola tidur, dan kepercayaan diri.

Beberapa studi yang menggunakan analisis regresi berganda dalam beberapa studi psikologi menunjukkan bahwa durasi penggunaan media sosial saja hanya menjelaskan sekitar 10–15% variasi skor kecemasan, sisanya dipengaruhi oleh faktor psikososial lainnya. Namun, angka sekecil itu tetap sangat berarti dalam skala populasi. Jika 70 juta Gen Z di Indonesia aktif di dunia digital, maka 10% dampak negatifnya berarti jutaan anak muda yang berisiko menghadapi krisis mental.

Stres, Perbandingan, dan Kelelahan Mental

Lagipula, media sosial adalah panggung besar. Semua orang tampak seolah hidup mereka super sempurna, liburan, karier cemerlang, hubungan harmonis, prestasi atau pencapaian hebat. Bagi banyak Gen Z, hal ini menciptakan tekanan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” dan produktif.

Lebih lanjut, ada fenomena hustle culture yang kini marak di kalangan Gen Z. Ini adalah sebutan bagi seseorang yang merasa nilai mereka diukur dari seberapa sibuk atau produktif mereka. Istirahat, bersantai, atau kegiatan yang tidak produktif sering dianggap sebagai bentuk kemalasan atau bahkan kegagalan yang memperburuk keadaan. Banyak anak muda merasa harus terus berjuang tanpa henti untuk dianggap sukses. Akibatnya, muncullah rasa lelah, cemas, dan bersalah saat beristirahat.

“Ketika semua orang terlihat bahagia di media sosial, mereka mulai bertanya-tanya: apa yang salah dengan hidup mereka?” Perasaan tidak cukup baik ini seringkali muncul dari perbandingan yang tidak adil. Membandingkan kehidupan nyata dengan cuplikan terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial. Perlahan-lahan, hal itu menurunkan rasa percaya diri dan tanpa disadari membuat pikiran lelah.

Krisis Mental di Balik Layar

Data dari berbagai lembaga kesehatan menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan. Menurut WHO, sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental, dan angka tersebut terus meningkat di era digital ini.

Masalahnya bukan hanya dari luar, tetapi juga dari cara kita berinteraksi dengan teknologi. Doom scrolling atau kebiasaan membuka media sosial tanpa henti membuat otak terus bekerja meskipun tubuh lelah. Akibatnya, tidur terganggu, fokus menurun, emosi mudah meledak-ledak, muncul overthinking, FOMO, insecurity, dan masalah cyberbullying, serta berkurangnya interaksi sosial.

Namun, penting untuk diingat bahwa krisis mental bukanlah tanda kelemahan. Melainkan sinyal bahwa sistem kita kewalahan menghadapi tekanan yang terlalu besar. Dunia digital bukanlah dunia yang jahat, tetapi menuntut kesadaran dan batasan yang jelas agar kita tidak tenggelam di dalamnya.

Berdasarkan Pew Research Center (2024), rata-rata Gen Z membuka ponsel 150 kali sehari. Setiap kali layar dibuka, otak menerima stimulus dopamin singkat yang menciptakan kecanduan digital. Penelitian di Universitas Indonesia (2023) juga menemukan bahwa mahasiswa dengan waktu layar lebih dari 6 jam per hari memiliki risiko 1,8 kali lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dibandingkan mereka yang durasinya kurang dari 3 jam.

Jadi, data bukan sekadar angka, melainkan cerminan perilaku kolektif kita di dunia digital. Banyak Gen Z yang depresi karena media sosial, akses internet yang mudah, dan semua platform sosial membuat mereka mudah “halu”, “fomo”, bahkan ada pengamat dari Universitas Indonesia yang menganggap Gen Z sulit membedakan antara realitas dan dunia maya.

Menemukan Keseimbangan

Salah satu langkah awal yang bisa dicoba adalah membatasi durasi penggunaan media sosial, menonaktifkan notifikasi yang kurang penting, dan menyediakan waktu untuk beristirahat sejenak dari dunia digital. Bahkan sehari tanpa ponsel pun dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kondisi mental seseorang.

Selain itu, penting untuk membangun kesadaran diri dengan mengidentifikasi kapan perasaan cemas atau lelah yang mengganggu itu muncul. Daripada terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus untuk saling menghormati. Meskipun dunia nyata mungkin tidak semenyenangkan yang terlihat di media sosial, di sanalah kehidupan yang sesungguhnya terjadi.

Jangan ragu untuk berbagi pikiran atau curhat kepada orang-orang terdekat yang dapat dipercaya. Terkadang, satu percakapan jujur ​​dapat menyelamatkan hari yang sulit. Jika situasinya tidak lagi kondusif, segera cari dukungan dari profesional seperti mengunjungi psikolog, dan ini bukan indikasi orang yang lemah, tetapi bukti nyata keberanian untuk menganggap diri sendiri dan mental adalh hal yang sangat bermakna.

Di zaman sekarang, kita paling sering mendengar istilah mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri berarti mampu menerima diri sendiri sepenuhnya, memperlakukan diri sendiri dengan baik dan penuh rasa hormat, serta terus menciptakan kebahagiaan diri. Ini bukan hanya tentang bagaimana seseorang bertindak tetapi juga tentang pikiran dan perasaan tentang diri sendiri.

Self-love juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri dan harga diri. Seseorang yang memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi cenderung lebih tangguh dan memiliki keterampilan memecahkan masalah yang lebih baik. Individu yang sehat mental adalah mereka yang mampu menyadari potensi diri, mengelola emosi dengan baik, mampu mengatasi tekanan hidup sehari-hari, mampu bekerja secara produktif, dan berkontribusi secara aktif.

Hal ini dapat dimulai dengan memprioritaskan kesehatan, menunjukkan rasa welas asih kepada diri sendiri, tidak membandingkan diri dengan orang lain, menetapkan batasan demi kebaikan diri sendiri, mulai memaafkan diri sendiri, bergaul dengan orang-orang yang suportif dan peduli, serta belajar mengubah pikiran negatif menjadi lebih positif. Berawal dari menerapkan self-love, Anda akan lebih memahami diri sendiri dan tahu apa yang perlu dilakukan untuk diri sendiri.

“Teknologi adalah pedang bermata dua, tetapi kitalah yang mengendalikannya.” [T]

Penulis: Suci Lestari
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalGen Zmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Next Post

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Suci Lestari

Suci Lestari

Dosen Prodi Administrasi Publik, Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co