14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Suci Lestari by Suci Lestari
November 7, 2025
in Esai
Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Suci Lestari

GENERASI Z, atau sering disebut Gen Z, adalah generasi yang tumbuh di lingkungan yang serba terhubung dengan dunia maya, era di mana teknologi maju begitu pesat dan sangat lengkap. Gen Z sering disebut sebagai “Digital Native” karena gaya hidup mereka yang sangat bergantung pada digitalisasi, yang menjadikan mereka generasi yang menyukai segala sesuatu yang instan. Ini semua karena mereka ingin kebutuhan sehari-harinya terpenuhi dengan cepat tanpa repot atau instan.

Bayangkan saja, setiap pagi di depan mata benar-benar terbuka lebar, yang dicari adalah gadget, ibu jari sudah menggulir lapisan ponsel. Linimasa di media sosial bagai sarapan pagi, disusul notifikasi dari grup kuliah, pekerjaan, obrolan pribadi, atau grup keluarga. Begitulah Gen Z, lahir, tumbuh dan berkembang di dunia digital yang tak pernah berhenti berputar.

Namun di balik semua kemudahan dan koneksi super cepat itu, ada sisi lain yang negatif yang jarang erlihat, seperti meningkatnya kecemasan, stres, kekhawatiran berlebihan, dan kelelahan dalam berpikir. Banyak remaja atau anak muda zaman sekarang merasa sangat lelah, meski tak tahu persis penyebabnya. Sibuk tapi tak benar-benar bahagia. Dan memang benar bahwa data menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental di kalangan Gen Z adalah nyata dan memerlukan perhatian serius.

Dunia Digital Media Sosial: Ruang Semu yang Aman

Tak dapat dipungkiri, dunia maya memiliki banyak sisi positif, menyediakan ruang yang luas bagi Gen Z untuk mengekspresikan diri apa adanya. Melalui media sosial WhatsApp, TikTok, Instagram, dan X (dulunya Twitter), mereka dapat melampiaskan kecemasan, memperjuangkan isu sosial yang muncul di luar kebiasaan, bahkan menyampaikan masalah kesehatan mental dengan cara yang kreatif dan unik. Mereka lebih terbuka tentang kesehatan mental dan berani mengungkapkan jika mereka “tidak baik-baik saja”. Maka dalam banyak kasus, media sosial menjadi pelarian pertama untuk mencari empati dan dukungan dari orang lain.

Namun ruang yang mereka anggap aman pun tidak sepenuhnya aman, di balik konten positif, terdapat algoritma yang terus mendorong perbandingan sosial tanpa henti. Semakin lama seseorang membuka ponsel dan scroll media sosial, semakin besar risiko mereka merasa “kurang” dibandingkan orang lain, waktu layar yang tinggi jelas berkaitan dengan risiko stres digital.

Berdasarkan Survei American Psychological Association (APA, 2023), 48% Gen Z mengatakan bahwa media sosial adalah sumber stres utama mereka, dibandingkan dengan hanya 28% Milenial. Ini berarti bahwa ruang digital memang memberikan kebebasan dan ekspresi diri, tetapi juga membuka peluang bagi tekanan psikologis baru yang tidak dialami generasi sebelumnya.

Meskipun Gen Z merupakan generasi yang disebut-sebut sebagai generasi yang paling up to date, paling cepat menyerap perubahan, tetapi justru merupakan generasi dengan kondisi kesehatan mental yang kurang baik. Berdasarkan hasil survei McKinsey Health Institute yang mengambil sampel 41.960 orang di 26 negara, terdapat 18% responden yang dikategorikan sebagai Gen Z yang merasa kesehatan mentalnya kurang baik, angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi milenial sebesar 13%, generasi X sebesar 11% dan baby boomer sebesar 8%.

Begitu pula di Indonesia, data riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2018 mencatat jumlah anak usia di bawah 15 tahun yang menderita gangguan mental emosional meningkat menjadi 9,8% (20 juta jiwa), dari sebelumnya hanya 6,1% (sekitar 12 juta jiwa).

Perspektif Statistik: Antara Korelasi dan Kausalitas (Bukan Sebab Mutlak).

Dari perspektif statistik, hubungan antara penggunaan media digital dan kesehatan mental bersifat berkorelasi, tidak selalu kausalitas atau sebab akibat langsung. Artinya, semakin sering intensitas bermain media sosial, semakin tinggi pula kemungkinan seseorang mengalami stres, tetapi belum tentu menjadi penyebab utamanya. Masih banyak faktor lain yang berperan, seperti kualitas dukungan sosial di dunia nyata, kondisi ekonomi keluarga, pola tidur, dan kepercayaan diri.

Beberapa studi yang menggunakan analisis regresi berganda dalam beberapa studi psikologi menunjukkan bahwa durasi penggunaan media sosial saja hanya menjelaskan sekitar 10–15% variasi skor kecemasan, sisanya dipengaruhi oleh faktor psikososial lainnya. Namun, angka sekecil itu tetap sangat berarti dalam skala populasi. Jika 70 juta Gen Z di Indonesia aktif di dunia digital, maka 10% dampak negatifnya berarti jutaan anak muda yang berisiko menghadapi krisis mental.

Stres, Perbandingan, dan Kelelahan Mental

Lagipula, media sosial adalah panggung besar. Semua orang tampak seolah hidup mereka super sempurna, liburan, karier cemerlang, hubungan harmonis, prestasi atau pencapaian hebat. Bagi banyak Gen Z, hal ini menciptakan tekanan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” dan produktif.

Lebih lanjut, ada fenomena hustle culture yang kini marak di kalangan Gen Z. Ini adalah sebutan bagi seseorang yang merasa nilai mereka diukur dari seberapa sibuk atau produktif mereka. Istirahat, bersantai, atau kegiatan yang tidak produktif sering dianggap sebagai bentuk kemalasan atau bahkan kegagalan yang memperburuk keadaan. Banyak anak muda merasa harus terus berjuang tanpa henti untuk dianggap sukses. Akibatnya, muncullah rasa lelah, cemas, dan bersalah saat beristirahat.

“Ketika semua orang terlihat bahagia di media sosial, mereka mulai bertanya-tanya: apa yang salah dengan hidup mereka?” Perasaan tidak cukup baik ini seringkali muncul dari perbandingan yang tidak adil. Membandingkan kehidupan nyata dengan cuplikan terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial. Perlahan-lahan, hal itu menurunkan rasa percaya diri dan tanpa disadari membuat pikiran lelah.

Krisis Mental di Balik Layar

Data dari berbagai lembaga kesehatan menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan. Menurut WHO, sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental, dan angka tersebut terus meningkat di era digital ini.

Masalahnya bukan hanya dari luar, tetapi juga dari cara kita berinteraksi dengan teknologi. Doom scrolling atau kebiasaan membuka media sosial tanpa henti membuat otak terus bekerja meskipun tubuh lelah. Akibatnya, tidur terganggu, fokus menurun, emosi mudah meledak-ledak, muncul overthinking, FOMO, insecurity, dan masalah cyberbullying, serta berkurangnya interaksi sosial.

Namun, penting untuk diingat bahwa krisis mental bukanlah tanda kelemahan. Melainkan sinyal bahwa sistem kita kewalahan menghadapi tekanan yang terlalu besar. Dunia digital bukanlah dunia yang jahat, tetapi menuntut kesadaran dan batasan yang jelas agar kita tidak tenggelam di dalamnya.

Berdasarkan Pew Research Center (2024), rata-rata Gen Z membuka ponsel 150 kali sehari. Setiap kali layar dibuka, otak menerima stimulus dopamin singkat yang menciptakan kecanduan digital. Penelitian di Universitas Indonesia (2023) juga menemukan bahwa mahasiswa dengan waktu layar lebih dari 6 jam per hari memiliki risiko 1,8 kali lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dibandingkan mereka yang durasinya kurang dari 3 jam.

Jadi, data bukan sekadar angka, melainkan cerminan perilaku kolektif kita di dunia digital. Banyak Gen Z yang depresi karena media sosial, akses internet yang mudah, dan semua platform sosial membuat mereka mudah “halu”, “fomo”, bahkan ada pengamat dari Universitas Indonesia yang menganggap Gen Z sulit membedakan antara realitas dan dunia maya.

Menemukan Keseimbangan

Salah satu langkah awal yang bisa dicoba adalah membatasi durasi penggunaan media sosial, menonaktifkan notifikasi yang kurang penting, dan menyediakan waktu untuk beristirahat sejenak dari dunia digital. Bahkan sehari tanpa ponsel pun dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kondisi mental seseorang.

Selain itu, penting untuk membangun kesadaran diri dengan mengidentifikasi kapan perasaan cemas atau lelah yang mengganggu itu muncul. Daripada terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus untuk saling menghormati. Meskipun dunia nyata mungkin tidak semenyenangkan yang terlihat di media sosial, di sanalah kehidupan yang sesungguhnya terjadi.

Jangan ragu untuk berbagi pikiran atau curhat kepada orang-orang terdekat yang dapat dipercaya. Terkadang, satu percakapan jujur ​​dapat menyelamatkan hari yang sulit. Jika situasinya tidak lagi kondusif, segera cari dukungan dari profesional seperti mengunjungi psikolog, dan ini bukan indikasi orang yang lemah, tetapi bukti nyata keberanian untuk menganggap diri sendiri dan mental adalh hal yang sangat bermakna.

Di zaman sekarang, kita paling sering mendengar istilah mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri berarti mampu menerima diri sendiri sepenuhnya, memperlakukan diri sendiri dengan baik dan penuh rasa hormat, serta terus menciptakan kebahagiaan diri. Ini bukan hanya tentang bagaimana seseorang bertindak tetapi juga tentang pikiran dan perasaan tentang diri sendiri.

Self-love juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri dan harga diri. Seseorang yang memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi cenderung lebih tangguh dan memiliki keterampilan memecahkan masalah yang lebih baik. Individu yang sehat mental adalah mereka yang mampu menyadari potensi diri, mengelola emosi dengan baik, mampu mengatasi tekanan hidup sehari-hari, mampu bekerja secara produktif, dan berkontribusi secara aktif.

Hal ini dapat dimulai dengan memprioritaskan kesehatan, menunjukkan rasa welas asih kepada diri sendiri, tidak membandingkan diri dengan orang lain, menetapkan batasan demi kebaikan diri sendiri, mulai memaafkan diri sendiri, bergaul dengan orang-orang yang suportif dan peduli, serta belajar mengubah pikiran negatif menjadi lebih positif. Berawal dari menerapkan self-love, Anda akan lebih memahami diri sendiri dan tahu apa yang perlu dilakukan untuk diri sendiri.

“Teknologi adalah pedang bermata dua, tetapi kitalah yang mengendalikannya.” [T]

Penulis: Suci Lestari
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalGen Zmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Next Post

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Suci Lestari

Suci Lestari

Dosen Prodi Administrasi Publik, Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co