4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Suci Lestari by Suci Lestari
November 7, 2025
in Esai
Gen Z dan Krisis Mental: Ketika Dunia Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Suci Lestari

GENERASI Z, atau sering disebut Gen Z, adalah generasi yang tumbuh di lingkungan yang serba terhubung dengan dunia maya, era di mana teknologi maju begitu pesat dan sangat lengkap. Gen Z sering disebut sebagai “Digital Native” karena gaya hidup mereka yang sangat bergantung pada digitalisasi, yang menjadikan mereka generasi yang menyukai segala sesuatu yang instan. Ini semua karena mereka ingin kebutuhan sehari-harinya terpenuhi dengan cepat tanpa repot atau instan.

Bayangkan saja, setiap pagi di depan mata benar-benar terbuka lebar, yang dicari adalah gadget, ibu jari sudah menggulir lapisan ponsel. Linimasa di media sosial bagai sarapan pagi, disusul notifikasi dari grup kuliah, pekerjaan, obrolan pribadi, atau grup keluarga. Begitulah Gen Z, lahir, tumbuh dan berkembang di dunia digital yang tak pernah berhenti berputar.

Namun di balik semua kemudahan dan koneksi super cepat itu, ada sisi lain yang negatif yang jarang erlihat, seperti meningkatnya kecemasan, stres, kekhawatiran berlebihan, dan kelelahan dalam berpikir. Banyak remaja atau anak muda zaman sekarang merasa sangat lelah, meski tak tahu persis penyebabnya. Sibuk tapi tak benar-benar bahagia. Dan memang benar bahwa data menunjukkan bahwa krisis kesehatan mental di kalangan Gen Z adalah nyata dan memerlukan perhatian serius.

Dunia Digital Media Sosial: Ruang Semu yang Aman

Tak dapat dipungkiri, dunia maya memiliki banyak sisi positif, menyediakan ruang yang luas bagi Gen Z untuk mengekspresikan diri apa adanya. Melalui media sosial WhatsApp, TikTok, Instagram, dan X (dulunya Twitter), mereka dapat melampiaskan kecemasan, memperjuangkan isu sosial yang muncul di luar kebiasaan, bahkan menyampaikan masalah kesehatan mental dengan cara yang kreatif dan unik. Mereka lebih terbuka tentang kesehatan mental dan berani mengungkapkan jika mereka “tidak baik-baik saja”. Maka dalam banyak kasus, media sosial menjadi pelarian pertama untuk mencari empati dan dukungan dari orang lain.

Namun ruang yang mereka anggap aman pun tidak sepenuhnya aman, di balik konten positif, terdapat algoritma yang terus mendorong perbandingan sosial tanpa henti. Semakin lama seseorang membuka ponsel dan scroll media sosial, semakin besar risiko mereka merasa “kurang” dibandingkan orang lain, waktu layar yang tinggi jelas berkaitan dengan risiko stres digital.

Berdasarkan Survei American Psychological Association (APA, 2023), 48% Gen Z mengatakan bahwa media sosial adalah sumber stres utama mereka, dibandingkan dengan hanya 28% Milenial. Ini berarti bahwa ruang digital memang memberikan kebebasan dan ekspresi diri, tetapi juga membuka peluang bagi tekanan psikologis baru yang tidak dialami generasi sebelumnya.

Meskipun Gen Z merupakan generasi yang disebut-sebut sebagai generasi yang paling up to date, paling cepat menyerap perubahan, tetapi justru merupakan generasi dengan kondisi kesehatan mental yang kurang baik. Berdasarkan hasil survei McKinsey Health Institute yang mengambil sampel 41.960 orang di 26 negara, terdapat 18% responden yang dikategorikan sebagai Gen Z yang merasa kesehatan mentalnya kurang baik, angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi milenial sebesar 13%, generasi X sebesar 11% dan baby boomer sebesar 8%.

Begitu pula di Indonesia, data riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2018 mencatat jumlah anak usia di bawah 15 tahun yang menderita gangguan mental emosional meningkat menjadi 9,8% (20 juta jiwa), dari sebelumnya hanya 6,1% (sekitar 12 juta jiwa).

Perspektif Statistik: Antara Korelasi dan Kausalitas (Bukan Sebab Mutlak).

Dari perspektif statistik, hubungan antara penggunaan media digital dan kesehatan mental bersifat berkorelasi, tidak selalu kausalitas atau sebab akibat langsung. Artinya, semakin sering intensitas bermain media sosial, semakin tinggi pula kemungkinan seseorang mengalami stres, tetapi belum tentu menjadi penyebab utamanya. Masih banyak faktor lain yang berperan, seperti kualitas dukungan sosial di dunia nyata, kondisi ekonomi keluarga, pola tidur, dan kepercayaan diri.

Beberapa studi yang menggunakan analisis regresi berganda dalam beberapa studi psikologi menunjukkan bahwa durasi penggunaan media sosial saja hanya menjelaskan sekitar 10–15% variasi skor kecemasan, sisanya dipengaruhi oleh faktor psikososial lainnya. Namun, angka sekecil itu tetap sangat berarti dalam skala populasi. Jika 70 juta Gen Z di Indonesia aktif di dunia digital, maka 10% dampak negatifnya berarti jutaan anak muda yang berisiko menghadapi krisis mental.

Stres, Perbandingan, dan Kelelahan Mental

Lagipula, media sosial adalah panggung besar. Semua orang tampak seolah hidup mereka super sempurna, liburan, karier cemerlang, hubungan harmonis, prestasi atau pencapaian hebat. Bagi banyak Gen Z, hal ini menciptakan tekanan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” dan produktif.

Lebih lanjut, ada fenomena hustle culture yang kini marak di kalangan Gen Z. Ini adalah sebutan bagi seseorang yang merasa nilai mereka diukur dari seberapa sibuk atau produktif mereka. Istirahat, bersantai, atau kegiatan yang tidak produktif sering dianggap sebagai bentuk kemalasan atau bahkan kegagalan yang memperburuk keadaan. Banyak anak muda merasa harus terus berjuang tanpa henti untuk dianggap sukses. Akibatnya, muncullah rasa lelah, cemas, dan bersalah saat beristirahat.

“Ketika semua orang terlihat bahagia di media sosial, mereka mulai bertanya-tanya: apa yang salah dengan hidup mereka?” Perasaan tidak cukup baik ini seringkali muncul dari perbandingan yang tidak adil. Membandingkan kehidupan nyata dengan cuplikan terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial. Perlahan-lahan, hal itu menurunkan rasa percaya diri dan tanpa disadari membuat pikiran lelah.

Krisis Mental di Balik Layar

Data dari berbagai lembaga kesehatan menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan. Menurut WHO, sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental, dan angka tersebut terus meningkat di era digital ini.

Masalahnya bukan hanya dari luar, tetapi juga dari cara kita berinteraksi dengan teknologi. Doom scrolling atau kebiasaan membuka media sosial tanpa henti membuat otak terus bekerja meskipun tubuh lelah. Akibatnya, tidur terganggu, fokus menurun, emosi mudah meledak-ledak, muncul overthinking, FOMO, insecurity, dan masalah cyberbullying, serta berkurangnya interaksi sosial.

Namun, penting untuk diingat bahwa krisis mental bukanlah tanda kelemahan. Melainkan sinyal bahwa sistem kita kewalahan menghadapi tekanan yang terlalu besar. Dunia digital bukanlah dunia yang jahat, tetapi menuntut kesadaran dan batasan yang jelas agar kita tidak tenggelam di dalamnya.

Berdasarkan Pew Research Center (2024), rata-rata Gen Z membuka ponsel 150 kali sehari. Setiap kali layar dibuka, otak menerima stimulus dopamin singkat yang menciptakan kecanduan digital. Penelitian di Universitas Indonesia (2023) juga menemukan bahwa mahasiswa dengan waktu layar lebih dari 6 jam per hari memiliki risiko 1,8 kali lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dibandingkan mereka yang durasinya kurang dari 3 jam.

Jadi, data bukan sekadar angka, melainkan cerminan perilaku kolektif kita di dunia digital. Banyak Gen Z yang depresi karena media sosial, akses internet yang mudah, dan semua platform sosial membuat mereka mudah “halu”, “fomo”, bahkan ada pengamat dari Universitas Indonesia yang menganggap Gen Z sulit membedakan antara realitas dan dunia maya.

Menemukan Keseimbangan

Salah satu langkah awal yang bisa dicoba adalah membatasi durasi penggunaan media sosial, menonaktifkan notifikasi yang kurang penting, dan menyediakan waktu untuk beristirahat sejenak dari dunia digital. Bahkan sehari tanpa ponsel pun dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kondisi mental seseorang.

Selain itu, penting untuk membangun kesadaran diri dengan mengidentifikasi kapan perasaan cemas atau lelah yang mengganggu itu muncul. Daripada terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus untuk saling menghormati. Meskipun dunia nyata mungkin tidak semenyenangkan yang terlihat di media sosial, di sanalah kehidupan yang sesungguhnya terjadi.

Jangan ragu untuk berbagi pikiran atau curhat kepada orang-orang terdekat yang dapat dipercaya. Terkadang, satu percakapan jujur ​​dapat menyelamatkan hari yang sulit. Jika situasinya tidak lagi kondusif, segera cari dukungan dari profesional seperti mengunjungi psikolog, dan ini bukan indikasi orang yang lemah, tetapi bukti nyata keberanian untuk menganggap diri sendiri dan mental adalh hal yang sangat bermakna.

Di zaman sekarang, kita paling sering mendengar istilah mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri berarti mampu menerima diri sendiri sepenuhnya, memperlakukan diri sendiri dengan baik dan penuh rasa hormat, serta terus menciptakan kebahagiaan diri. Ini bukan hanya tentang bagaimana seseorang bertindak tetapi juga tentang pikiran dan perasaan tentang diri sendiri.

Self-love juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri dan harga diri. Seseorang yang memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi cenderung lebih tangguh dan memiliki keterampilan memecahkan masalah yang lebih baik. Individu yang sehat mental adalah mereka yang mampu menyadari potensi diri, mengelola emosi dengan baik, mampu mengatasi tekanan hidup sehari-hari, mampu bekerja secara produktif, dan berkontribusi secara aktif.

Hal ini dapat dimulai dengan memprioritaskan kesehatan, menunjukkan rasa welas asih kepada diri sendiri, tidak membandingkan diri dengan orang lain, menetapkan batasan demi kebaikan diri sendiri, mulai memaafkan diri sendiri, bergaul dengan orang-orang yang suportif dan peduli, serta belajar mengubah pikiran negatif menjadi lebih positif. Berawal dari menerapkan self-love, Anda akan lebih memahami diri sendiri dan tahu apa yang perlu dilakukan untuk diri sendiri.

“Teknologi adalah pedang bermata dua, tetapi kitalah yang mengendalikannya.” [T]

Penulis: Suci Lestari
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalGen Zmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

Next Post

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Suci Lestari

Suci Lestari

Dosen Prodi Administrasi Publik, Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co