JIKA Anda sempat berkunjung ke Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025, Anda pasti menemukan mural-mural yang menghiasi berbagai sudut lokasi acara. Dari tembok di sekitar Jalan Penestanan, hingga Taman Baca Ubud, karya-karya itu turut menambah semarak festival yang tahun ini mengusung tema Aham Brahmasmi. Namun, tidak banyak yang tahu siapa di balik mural-mural tersebut. Mereka adalah Canvas Beton, kelompok mural yang didirikan oleh Agus Nantika (26), seniman muda asal Denpasar.
Canvas Beton berdiri sejak Juli 2023. Agus Nantika mengaku tak begitu ingat tanggal pastinya, tapi ia tahu betul bahwa gagasan membentuk kelompok mural ini lahir dari semangat untuk bekerja bersama dan belajar dari satu sama lain. Kini, ada 13 orang yang bergabung di Canvas Beton.
“Di Canvas Beton tidak semuanya pelukis, tapi semuanya suka lukisan,” ujar Agus sambil tersenyum.
Bagi Agus, keahlian teknis bukanlah syarat utama untuk bergabung. Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar dan mampu bekerja sama dalam tim. “Tidak harus andal melukis. Yang penting mau berproses dan belajar bersama,” katanya. Prinsip inilah yang membuat Canvas Beton terasa seperti ruang belajar bagi anak-anak muda yang ingin menyalurkan minatnya dalam seni visual.


Kembali ke UWRF 2025, perhelatan tahun ini menjadi pengalaman pertama Canvas Beton terlibat di festival sastra terbesar di Bali itu. Meski demikian, Agus sendiri bukan orang baru di lingkungan UWRF. Sejak 2020, ia dan beberapa teman kampusnya sudah beberapa kali ikut berpartisipasi, baik dalam proyek dekorasi maupun pameran seni di berbagai festival di Ubud.
“Meskipun ini festival sastra, saya rasa memang tetap perlu sentuhan seni visual di dalamnya, untuk menambah daya tarik dan estetika ruang,” ujarnya.
Agus Nantika mengatakan, untuk proyek UWRF tahun ini, konsep desain dan warna sudah disiapkan sejak awal oleh panitia. Tugas Canvas Beton adalah menerjemahkannya ke berbagai media mural, mulai dari tembok, triplek, hingga papan-papan penunjuk acara.
“Ketika konsep diberikan ke kami, kami cek dulu warna dan desainnya agar identik. Setelah itu, tinggal eksekusi,” ucap Agus, singkat.

Dari 13 anggota tim, enam orang turun langsung melukis mural di lokasi. Menariknya, sebagian besar dari mereka masih berstatus pelajar sekolah menengah, berusia 17–18 tahun. “Semuanya muda-muda, saya aja yang tua sendiri,” ujarnya sambil tertawa.
Keterlibatan anak-anak sekolah ini tentu membawa tantangan tersendiri. Waktu pengerjaan harus menyesuaikan jadwal belajar. Mereka baru bisa bekerja selepas sekolah, sehingga proses pengerjaan menjadi lebih panjang. “Kebetulan waktu melukis di Taman Baca, kami juga ada proyek lain di Pedungan, Denpasar. Jadi harus bagi waktu dan tenaga,” kata Agus.
Ia menambahkan, pengerjaan mural di tembok Jalan Penestanan sepanjang hampir lima belas meter sudah dikerjakan sedari tiga bulan sebelum festival bergulir. Sementara mural di Taman Baca dikerjakan beberapa minggu menjelang acara.
“Untuk pengerjaan di venue memang cukup mendadak juga. Tapi justru di sana serunya. Ketika kita terdesak, pekerjaan malah cepat selesai, kayak bikin skripsi,” candanya.

Meski mural-mural itu tidak secara langsung berkaitan dengan sastra, bagi Agus, keberadaannya tetap penting sebagai unsur dekoratif dan informatif. “Lewat mural ─ hiasan panggung, dan tanda penunjuk arah di venue, kami membantu menciptakan suasana festival yang lebih hidup,” tegasnya.
Ia lalu menambahkan dengan nada bangga, “Intinya, kalau sudah lihat ada hal yang dilukis atau digambar di UWRF, sudah pasti itu karya Canvas Beton.”
Di sela obrolan, Agus menyeruput kopi panasnya sambil menyalakan sebatang rokok. Ia tampak santai, tapi ucapannya selalu mengalir penuh keyakinan. Ia bercerita bahwa tujuan utama membentuk Canvas Beton adalah untuk mewadahi anak-anak muda yang gemar melukis agar punya tempat berekspresi. Ia mengajak kawan, adik, dan kerabatnya untuk bergabung.
“Canvas Beton sebenarnya cuma wadah bagi mereka untuk mencurahkan ekspresi. Kalau pun menjadi komersial, hasilnya dibagi secara adil. Jadi mereka dibayar untuk menjalankan hobinya,” terangnya.

Agus Nantika sendiri baru saja lulus dari Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI). Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di SMK Negeri 1 Sukawati, atau lebih dikenal dengan nama SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) ─ sekolah seni yang banyak melahirkan seniman terkenal di Bali.
Ketika tidak ada proyek mural, Agus tetap melukis dan sesekali berpameran. Namun belakangan, waktunya lebih banyak tersita untuk proyek Canvas Beton. “Jadi ya tetap ngelukis, karena memang nggak ada hal lain selain itu,” ujarnya sambil tertawa.
Kini, Canvas Beton terus berkembang dan mulai dikenal sebagai kelompok mural yang konsisten berkarya di ruang publik. Dari dinding jalan, sekolah, hingga panggung festival, karya mereka menjadi penanda bahwa seni rupa tak selalu harus berada di galeri. Ia bisa hadir di tembok, di antara pejalan kaki, atau di tengah hiruk pikuk festival sastra. “Kalau mau mempercantik tembok rumah, kantor, atau tempat usaha, tinggal hubungi kami,” kata Agus sambil terkekeh. Anda bisa menemukan mereka di Instagram @canvasbeton. Satu hal yang pasti, mereka akan siap “mencorat-coret” tembok Anda ─ dengan harga yang, kata Agus, “menyame.” [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:



























