24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Panggung Sendiri: Catatan Seorang Pengkarya Muda di Bali

Mahijasena by Mahijasena
October 31, 2025
in Esai
Belajar dari Panggung Sendiri: Catatan Seorang Pengkarya Muda di Bali

Foto-foto: Dok. Mahijasena

Di Antara Cahaya dan Realitas

MENJADI pengkarya (seniman) di Bali seringkali berarti berjalan di antara dua dunia: dunia ideal yang dipenuhi semangat berkesenian, dan dunia nyata yang dipenuhi sistem yang belum selalu siap menampung semangat itu.

Setiap tahun, pulau ini penuh dengan acara seni dari pentas kecil yang digelar oleh komunitas hingga festival berskala internasional. Bali tampak gemerlap, seperti tidak pernah kehabisan panggung. Tapi di balik cahaya itu, ada sisi lain yang lebih sunyi dan tak seindah narasi brosur. Sisi di mana para seniman, terutama yang masih muda, belajar menghadapi ketidakteraturan, kesalahpahaman, dan perbedaan perlakuan.

Sebagai pelaku seni yang masih haus belajar dan terus mencari ruang untuk berkarya, saya sering menjadikan setiap panggung besar atau kecil sebagai tempat belajar tentang bagaimana dunia seni bekerja di balik tirainya.

Saya mengingat satu peristiwa belum lama ini terjadi ketika jadwal gladi yang semula dijanjikan pukul satu siang baru terlaksana setelah jam empat lewat. Kami sudah siap sejak lama, kami sebenarnya ingin mencoba kostum baru yang sebelumnya saya eksplorasi sekadar memastikan apakah bahan dan potongannya tidak mengganggu gerak di atas panggung.

Tapi ketika gladi dimulai, kami hanya diminta untuk blocking, tanpa musik dan tanpa pencahayaan, mapping yang teman saya buat pun tidak dapat kami usahakan dengan maksimal.

Mahijasena dalam sebuah aksi seni di Bali

Kami menari dalam ruang yang hening, mencoba membayangkan irama dan cahaya yang belum hadir. Dari situ saya belajar bahwa kesiapan teknis tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan batin. Hal ini menjadi semacam tamparan bagi saya pribadi, sebab karya yang saya tampilkan bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari proses kolektif bersama beberapa teman lintas disiplin yang sebaya.

Kami berproses dengan semangat belajar, berdiskusi, dan saling menumbuhkan dalam penciptaan karya ini. Bagi saya, semangat itu bukan hanya tentang menari atau mencipta, tetapi juga tentang membangun ekosistem kecil yang sehat.

Antara Energi Kolektif dan Komunikasi yang Pincang

Saya sering melihat bagaimana semangat kolektif yang seharusnya jadi kekuatan justru bisa goyah hanya karena hal sederhana: komunikasi yang tersendat. Dalam satu acara, panitia tampak sibuk mengatur tamu, soundman berjibaku dengan kabel dan peralatan, sementara kami para penampil menunggu kepastian kapan bisa mulai gladi. Setiap orang bekerja keras dengan niat baik, tapi arah kerja itu seperti tak pernah benar-benar bertemu.

Situasi seperti ini tidak jarang terjadi. Kadang semua terlihat rapi di atas kertas, tapi di lapangan justru seperti kehilangan koordinasi. Di tengah kelelahan, suara-suara saling tumpang tindih, bukan menyatu. Energi yang semestinya mengalir dari semangat bersama malah pecah di tengah jalan.

Padahal, seni adalah kerja rasa. Ia bukan mesin yang bisa diatur hanya dengan jadwal dan sistem. Namun, dalam banyak kesempatan, struktur kerja yang terlalu kaku justru membuat suasana jadi kering. Seolah panggung lebih sibuk mengejar ketepatan rundown daripada mendengar degup para penarinya.

Dari pengalaman itu saya belajar, bahwa profesionalisme tidak selalu berarti ketat pada waktu atau aturan. Ia justru tumbuh dari empati dan kesediaan untuk memahami ritme satu sama lain. Karena pada akhirnya, komunikasi yang hangat sering kali lebih menenangkan daripada sistem yang sempurna.

Tentang Perlakuan yang Tidak Sama

Pengalaman itu akhirnya membuka mata saya terhadap banyak hal yang sebelumnya luput saya sadari. Baik ketika saya menjadi pengkarya, penari, maupun pendukung karya orang lain, saya mulai mengenali pola yang berulang hal-hal kecil yang diam-diam membentuk cara kita memandang dunia seni di sekitar kita.

Mahijasena (belakang) bersama Amrita belajar gambuh

Salah satunya adalah isu yang sering terasa namun jarang dibicarakan: perbedaan cara memperlakukan pelaku seni lokal dan non-lokal. Saya pernah menyaksikan bagaimana seniman dari luar negeri disambut dengan segala kelengkapan: ruang istirahat yang nyaman, jadwal teknis yang tertata, bahkan sesi diskusi yang disiapkan dengan rapi. Sementara di sisi lain, seniman lokal harus menunggu giliran, mencari ruang ganti seadanya, atau menerima perubahan jadwal tanpa penjelasan yang jelas.

Tidak ada yang salah memberi perhatian lebih kepada tamu. Tapi menjadi persoalan ketika mereka yang “dari dalam” justru harus menurunkan ekspektasi. Pelan-pelan, hal seperti ini menciptakan rasa hierarki dalam dunia seni semacam mentalitas kolonial baru, seperti paribahasa gajah dipelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Padahal seni adalah wilayah setara; semua orang datang dengan niat yang sama: mempersembahkan sesuatu dari dirinya. Menghormati seniman lokal bukan semata karena mereka orang Bali, tetapi karena mereka adalah akar dari kehidupan seni itu sendiri. Dari mereka, panggung di pulau ini tumbuh dan bertahan.

Makan dan Administrasi

Ada hal-hal yang tampak kecil tapi menentukan: urusan makan, saya dan teman teman pernah menunggu lama di area prasmanan dalam suatu acara di Bali berskala internasional hanya untuk memastikan boleh makan. Ternyata nama kami, para penampil lokal, tidak tercantum dalam daftar administrasi. Akhirnya kami tetap makan, tapi dengan rasa kikuk seolah menjadi tamu di rumah sendiri.

Mungkin tampak remeh, tapi penghargaan kadang justru tumbuh dari hal-hal kecil seperti ini. Bagi seorang pengkarya, setiap detail kecil adalah bagian dari pengalaman batin yang memengaruhi cara mereka hadir di panggung. Mungkin penghargaan itu memang tidak selalu berupa tepuk tangan; kadang cukup dengan memastikan semua orang bisa makan dengan tenang.

Ruang Akademik dan Tanggung Jawab Keteladanan

Semua pengalaman ini tidak saya tulis untuk menyalahkan siapa pun. Saya tahu betul, mengelola acara seni bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus disiapkan dari teknis, komunikasi, hingga menjaga suasana kerja tetap hangat di tengah tekanan waktu. Namun, justru karena kompleksitas itulah, ruang-ruang yang memiliki sumber daya dan wacana, termasuk ruang pendidikan seni, seharusnya dapat menjadi contoh dalam pengelolaan dan etika bekerja.

Melatih anak-anak menari

Barangkali sudah saatnya ruang pendidikan seni kita dilihat bukan semata sebagai tempat mengasah kemampuan teknis, melainkan juga sebagai ruang pembentukan nilai tempat belajar tentang empati, disiplin, dan tanggung jawab. Di sanalah, nilai-nilai itu tidak berhenti pada teori, melainkan hidup dalam praktik sehari-hari melalui cara berproses, berkomunikasi, dan saling menghargai.

Apabila kampus, lembaga seni, dan institusi budaya mampu terus menumbuhkan budaya kerja yang saling menghargai dan terbuka terhadap dialog, maka dunia seni di Bali akan bergerak ke arah yang lebih sehat.

Dari ruang belajar yang sadar akan nilai dan proses, akan lahir generasi seniman yang tidak hanya terampil berkarya, tetapi juga peka terhadap manusia dan lingkungan kerja di sekitarnya. Dengan begitu, ekosistem seni dapat berkembang lebih manusiawi, berkelanjutan, dan memberi ruang bagi semua untuk tumbuh bersama.

Belajar dari Panggung Sendiri

Bali sering disebut sebagai “panggung dunia” tempat di mana budaya hidup dalam keseharian. Tapi panggung, betapapun megahnya, tetaplah ruang yang rapuh jika tidak diisi dengan rasa saling menghargai. Seni tidak tumbuh dari kesempurnaan sistem, melainkan dari kesadaran bersama untuk menjaga kemanusiaan di tengah kerja kreatif.

Dalam sesi latihan bersama anak-anak

Kami, para pengkarya muda, tentu masih banyak belajar. Tapi semestinya, lembaga-lembaga yang menaungi kami juga terus belajar: belajar untuk mendengar, memperbaiki, dan menjadi ruang yang menumbuhkan, bukan melemahkan. Karena setiap panggung, sekecil apa pun, adalah tempat belajar tentang bagaimana manusia berhubungan satu sama lain.

Dan mungkin, dari pengalaman-pengalaman kecil yang kadang melelahkan tapi jujur itu, kita semua bisa mengerti makna kalimat sederhana ini: belajar dari panggung sendiri. [T]

Penulis: Mahijasena
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesenian baliSeniseniman bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Next Post

Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup — Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Mahijasena

Mahijasena

Nama panjangnya Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang kerap dipanggil Gus Sena, merupakan mahasiswa ISI Bali dalam disiplin Tari, yang hobi ngopi dan nongkrong

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup — Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup -- Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co