PENJURIAN Lomba Baca Puisi Pelajar Tingkat Nasional dalam rangka Festival Nasional Seni Pelajar Jembrana (FNSPJ) IX/2025 untuk semua tingkatan dilaksanakan pada 16-18 Oktober lalu. Via zoom. Saya termasuk salah seorang juri, bersama Made Adnyana Ole dan Gembong Ismadi. Para pemenangnya sudah diumumkan. Ada tiga kategori, yakni Tingkat Sekolah Dasar/MI, Tingkat SMP/MTS dan Tingkat SMA/MA/Mahasiswa.
Menggembirakan, peserta berasal dari berbagai daerah/kota di Indonesia, menunjukkan luasnya minat baca puisi dewasa ini. Mulai dari Payakumbuh, Bandarlampung, Purwakarta, Karawang, Bandung, Yogya, Kepanjen, Kediri, Surabaya, Probolinggo, hingga Parepare, Bima, Kalabahi, Atambua, Tambolaka, Kupang, Ambon dan Jayapura (untuk menyebut sejumlah kota). Dan tentu saja dari sekolah-sekolah di Bali dan Lombok. Peserta jenjang SD/MI tercatat 31 orang, SMP/MTS 69 orang dan jenjang SMA/MA/mahasiswa 117 orang.
Dari Deklamasi ke Baca Puisi
Lomba baca puisi menjadi magnet bagi banyak kalangan. Puisi yang diasumsikan sebagai dunia hening, justru diangkat ke panggung. Bahkan ada yang lebih “ramai”, yaitu musikalisasi atau sebagian menyebutnya musik puisi. Belum lagi dramatisasi dan deklamasi.

Sesungguhnya, seni baca/pentas puisi yang sempat popular adalah deklamasi. W.S. Rendra sempat ikut mempopulerkannya. Seni deklamasi menuntut pembaca bukan sekadar membaca. Ia juga “mewujudkan” puisi dengan gerak dan ekspresi total, sampai-sampai naskah pun harus dihapal. Dalam konteks ini, kebanyakan yang siap berdeklamasi adalah kalangan aktor atau yang berminat jadi aktor. Tanpa bermaksud menggeneralisasi secara kualitatif, peminat deklamasi orangnya lebih khusus atau spesifik, jika bukan spesial.
Namun di sisi lain, sejumlah penyair membawakan puisinya secara atraktif. Sebut saja Sutardji Calzoum Bachri. Ia membaca puisi seperti orang membaca mantra. Trance. Belakangan ia bawakan dengan gaya ngeblues menggunakan harmonika. D. Zawawi Imron sangat ekspresif, Emha Ainun Nadjib diiringi musik. Ibrahim Sattah membacakan puisinya sambil memukul tambur besar. Hamid Jabbar membaca secara kocak sambil balega (hilir-mudik) di panggung. Jose Rizal Manua bisa membaca dengan berbagai gaya.
Pola pembacaan jenis ini pada hakikatnya tetap saja mengandalkan unsur teaterikal sebagaimana dalam deklamasi. Artinya, juga hanya bisa ditampilkan oleh peminat khusus. Sementara kita tahu, puisi tetap lahir dan panggung menunggu. Tidak semua orang ingin atau bisa tampil dengan cara khusus, bukan?
Maka terjadilah pergeseran minat dari seni deklamasi menjadi seni baca puisi saja. Di kalangan penyair misalnya, banyak yang tampil membacakan puisi dengan gayanya sendiri. Ada yang benar-benar membaca biasa tapi tetap komunikatif, seperti Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Saut Situmorang atau Afrizal Malna (sesekali mengkombinasikannya dengan happening atau video art). Para penyair di Bali seperti Warih Wisatsana, Wayan Jengki Sunarta atau Pranita Dewi, juga membaca biasa, namun terasa amat tekun membangun nuansa hening sehingga puisinya merasuk, jernih.
Rendra sendiri kemudian lebih banyak tampil membacakan puisinya, yang disebutnya sebagai poetry reading. Gerak dan ekspresi diolah secara wajar, tanpa berpretensi teaterikal, dan titik tumpu bergeser kepada vokal dengan segala komponennya (intonasi, artikulasi, tempo, nada, irama). Teks dihidupkan sedemikian rupa dengan membangun atmosfir dan suasana. Ini lahir dari elemen penting lainnya: penghayatan.
Perjuangan menghidupkan puisi di panggung dari yang semula berasal dari eksplorasi tubuh (gerak, moving) bergeser pada seni menghidupkan suara, dan tak kalah sulit.
Apa yang berkembang sekarang adalah baca puisi dengan teknik “membaca biasa”, dalam arti tidak mengejar unsur teaterikalnya, melainkan memaksimalkan olah vokal untuk menghidupkan teks. Namun karena berada di ranah pertunjukan, tentu saja faktor tubuh tidak bisa diabaikan. Hanya saja tidak sampai masuk terlalu jauh ke teknik olah tubuh sebagaimana deklamasi atau yang teaterikal.
Ia cukup menjadi elemen pendukung vokal melalui ekspresi, gestur dan gerak sewajarnya. Sesuai belaka dengan gambaran teks. Tak perlu membentang tangan terlalu lebar, wajah menyeringai ekstrem atau dominannya hentakan-hentakan kaki. Ini paralel dengan kewajaran pada vokal yang tak perlu dibesar-besarkan, berteriak, apalagi ngegas emosional. Sebab itulah yang membedakannya dengan deklamasi, teaterikal atau dramatisasi.
Tapi bukan berarti hal-hal itu tidak boleh ada sama sekali. Ia bisa ada sebagai variasi atau bahkan improvisasi. Misalnya, tangan dan jari-jari memeragakan tarian atau mengetuk-ngetuk seperti detak jam demi merespon vokal yang liris dan kontemplatif (dari sebuah teks yang reflektif); tangan terkepal atau jari menuding untuk merespon vokal yang lantang (atas teks yang menggugat atau menuntut); wajah tertekuk sedih saat vokal memberi jeda bagi bait puisi yang mendera.
Karena bertolak dari kata-kata (puisi), maka kata-kata pula yang akan menggambarkan suasana lewat olah vokal dengan segala komponennya. Sementara gestur dan ekspresi membantu memperkuat emosi, membangun atmosfir dan imajinasi. Artinya, baris/bait puisi, vokal dan ekspresi, itu senada-seirama atau presisi, sehingga betul-betul padu. Inilah yang mungkin menghidupkan puisi seutuhnya, sewajarnya.
Hal-hal di atas membuat seni baca puisi termasuk seni yang inklusif, bisa dimasuki oleh semua usia. Tak heran, apabila ditampilkan dalam perlombaan, ia bisa meliputi banyak kategori, misalnya berdasarkan jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA, juga mahasiswa). FNSPJ IX/2005, selain membuat kategori jenjang SD dan SMP atau sederajat, juga membuat kategori campuran, yakni menggabung jenjang SMA dengan perguruan tinggi (mahasiswa).
Ini sah-sah saja, karena selain inklusif, seni baca puisi juga fleksibel dalam hal ketegorisasi. Bukankah banyak lomba baca puisi untuk umum, seperti dalam Lomba Baca Puisi HB. Jassin, yang menggabungkan semua usia dan jenjang pendidikan?
Lomba dengan Perantara dan Resikonya
Apa yang menjadi perhatian khusus dalam FNSPJ menurut saya adalah sistem lomba yang tidak menghadirkan peserta secara langsung di hadapan dewan juri. Peserta tidak berada di spot lomba, lalu vis a vis dengan juri. Kami “menonton” mereka melalui video yang direkam dan dikerjakan di tempat masing-masing peserta berasal. Artinya, ada perantara audio-visual yang membuatnya menjadi virtual.
Apa dan bagaimana dampaknya? Masihkah bisa disebut sebagai lomba baca puisi, alih-alih lomba video baca puisi?
Ada sebuah pengalaman sehubungan dengan itu. Pada sekitar pertengahan tahun 2000-an, di Yogyakarta muncul fenomena pentas teater yang disiarkan TVRI. Dikenal dengan istilah Teatronik alias Teater Elektronik. Format pentas dibuat sedemikian rupa untuk menyesuaikan kebutuhan di layar kaca. Tapi sistem ini kurang berkembang.
Muncul kegelisahan dari kalangan teaterawan sendiri yang mempertanyakan bahwa apa yang disebut pentas teater itu mesti langsung, bukan direkam. Rekaman bukan sekedar mengubah sebutan, juga mengubah konvensi-konvensinya. Tak sampai ada gejolak memang, karena masing pihak memahami keadaan. Itu hanya siasat saat darurat. Ketika teater dianggap mati suri dicoba cari alternatif, dan kebetulan saat itu TVRI Yogya sedang welcome.
Tapi upaya tersebut bisa juga digunakan untuk menghadapi situasi darurat benaran sebagaimana pada masa wabah Covid 19. Waktu itu, seni-seni pertunjukan, termasuk tari dan musik, diformat secara online. Artinya, di luar keadaan khusus, seni pertunjukan total seperti teater atau tari, tetap lebih afdol pentas langsung di panggung menghadap penontonnya—tetapi tetap tanpa menutup kemungkinan-kemungkinan menyiasati dunia virtual (online).
Baca puisi menurut saya bisa diberi pengecualian karena unsur pertunjukannya tidak seketat dan sekomplit teater, karena tumpuannya tetap pada seni “membaca”. Dalam hal ini, dia mungkin lebih dekat pada seni monolog. Oleh karena itu, sejauh ini, lomba baca puisi melalui rekaman video yang ditayangkan secara offline, tetap dapat menangkap aspek-aspek penilaian secara relatif utuh dan komprehensif. Setidaknya sebagaimana kami sepakati sebagai juri. Yakni, Wirasa: penghayatan (ekspresi), Wiraga: penampilan keseluruhan (gestur, peragaan) dan Wirama: vokal (artikulasi, intonasi, volume).
Akan tetapi pengecualian ini tentu tidak terlepas dari resiko-resiko penilaian. Resiko paling mencolok adalah kualitas video. Banyak video peserta yang “bocor”—suara ribut, bercakap, deru kendaraan, dan seterusnya. Volume rekaman kecil, dan ada pula yang bergema.
Pengambilan gambar tak proporsional; ada zoom in sehingga gestur dan gerak tangannya tak terlihat. Atau sebaliknya, objek terlalu jauh sehingga ekspresinya kabur, membuat saya dan Ole harus berkali-kali buka-pasang kacamata. Banyak peserta memilih lokasi shooting di tempat-tempat kurang menguntungkan; lalu-lalang orang, lapangan terbuka dengan atmosfir buruk, atau rumah pribadi yang kelihatan tanpa persiapan sama sekali.

Ya, persiapan! Inilah start point penting di dalam lomba baca puisi via rekaman video. Artinya ini menyangkut kualitas video yang akan dihasilkan, baik audio maupun visualnya. Oleh karena itu, saya dan juri lain, memberikan apresiasi khusus kepada peserta yang benar-benar menyiapkan segala sesuatu untuk rekaman. Tak harus di studio, bisa di salah satu ruang kelas, di rumah atau tempat-tempat lain.
Persiapan itu tampak dari bagaimana mereka memilih dan mengkondisikan tempat membaca. Ada di depan candi bentar, gapura kecil, jendela atau dinding yang bersih. Kadang menambah latar dengan banner atau dekorasi. Mereka kenakan kostum tertentu yang enak dipandang. Bahkan termasuk hal kecil, semisal menempatkan puisi di sebuah map.
Sebagian melibatkan tim atau kru kecil dari pihak sekolah, semacam kesadaran bahwa mereka diutus. Jumlah peserta dengan persiapan dimaksud juga tak kalah banyak. Video mereka, meskipun mungkin tidak menang, tapi bisa sebagai dokumentasi yang dapat ditonton ulang, dipelajari atau menjadi bahan evaluasi.
Memilih Puisi dan Menghidupkannya
Sebenarnya, persiapan rekaman baca puisi include dengan persiapan lain yang tak kalah penting, yakni pemilihan naskah puisi. Proses memilih puisi, akan menentukan mood, penghayatan dan kenyamanan pembacaan. Setiap peserta mestinya membaca semua naskah, lalu memilih paling cocok. Kadang tersirat, beberapa sekolah yang mengirimkan peserta lebih dari satu, puisinya disamakan; atau sebaliknya, puisinya beda tapi cara baca disamakan. Seandainya menggunakan pelatih, tentu merupakan bentuk penyeragaman ekspresi.
Ini berlaku untuk puisi pilihan. Kadang di suatu lomba juga ada syarat harus membaca puisi wajib dan tentu harus diikuti. Peserta dengan begitu, juga harus siap dengan keragaman teks. Dan ini boleh jadi menguatkan bukti pada inklusifitas seni baca puisi.
Panitia FNSPJ tahun ini mengajukan puisi pilihan saja, tanpa puisi wajib. Menurut saya puisinya cukup variatif, baik dari segi tema, jenis maupun isi—dan karena itu berpengaruh kepada cara membacanya.
Untuk SD/MI ada jenis puisi bercerita (Pulanglah-Kadek Devi Primayanti), puisi ode (Pahlawan Selanjutnya-Ardaraja Kusuma), cinta tanah air (Indonesia Tanah Airku-Akbar Adiansyah), puisi reflektif (Gunung yang Menyimpan Langit-Moh. Akbar) dan puisi nasehat yang terasa didaktif (Tanamkan Pendidikan Moral-Dahrul Mustaqim).
Untuk SMP/MTS, ada puisi Para Penari di Dusunku karya Kadek Bintang Krisnadi yang membuat perbandingan parodik antara orang dusun dengan kaum urban. Sajak Bermain Layang-Layang karya GM. Sukawidana yang menyamarkan tragika dalam keriangan. Di Pura Rambutsiwi karya Nuryana Asmaudi berisi penghormatan seorang liyan kepada sebuah tempat suci. Di Pasar Kita Bertemu karya Nanoq da Kansas dan Di Sebuah Gereja Gunung karya Umbu Landu Paranggi yang bersifat pastoral, sederhana dan bersahaja.
Untuk tingkat SMA/MA/Mahasiswa ada puisi Indonesia pada Sebuah Malam (Toto ST Radik), Surat Kepada Aistyaningnung-5 (Nanoq da Kansas), Dari Tepian Sungai Ijogading (Nuryana Asmaudi), Tanjung Tangis (Riki Dhamparan Putra) dan Kekecewaan Purochana (Triyanto Triwikromo).

Masing-masing naskah memiliki nuansa dan suasana berbeda. Mungkin juga tingkat kesulitannya. Puisi Indonesia pada Sebuah Malam misalnya, merupakan jenis puisi “mimbar”, bisa dibaca dengan “nada dasar” (tone) lantang bahkan garang, tapi bukan berteriak, dan juga bukan berarti tidak ada bagian-bagian yang tenang dan reflektif.
Sebaliknya, puisi Kekecewaan Purochana yang berlatar dunia pewayangan, nada dasarnya adalah dialog, percakapan. Suasananya muram tapi agung, dan siapa bilang tak menyimpan amarah dan pemberontakan? Jika pada puisi Toto ST Radik amarah itu bisa dilampiaskan ke luar, pada puisi Triyanto marahnya dibawa ke dalam—marah yang geram.
Surat Kepada Aistyaningnung-5, bisa mengambil nada dasar membaca surat, lirih dan reflektif, tapi juga meletupkan nuansa kerinduan dan suasana romantik. Tanjung Tangis bernuansa kepergian, tapi elegan karena itu dijalani sebagai pilihan, sehingga percakapan dan perkabaran kepada ibu terasa akrab sekaligus jauh. Dari Tepian Ijogading pada hakikatnya bercerita tentang sebuah kampung, silsilah dan hubungan keluarga, sehingga terasa hangat dan gayeng, tapi juga menyimpan kesenduan karena diam-diam banyak hal sudah hilang.
Jelas penjabaran masing-masing puisi tidak harus persis seperti saya gambarkan. Namun pengenalan teks dan penghayatan sangat menentukan nada dasar beserta variasi-variasi dan kombinasinya kemudian. Karenanya, terasa sangat wagu (aneh, ganjil) ketika sajak bernuansa percakapan justru diteriakkan, atau sebaliknya; jenis sajak “kamar” dibaca sebagaimana sajak “mimbar” dan sebaliknya.
Tak heran, banyak peserta ngengas sejak awal sehingga nyaris tanpa jeda, intonasinya tinggi semua dan gerak tangannya ke mana-mana. Atau sebaliknya, berbisik lirih hingga akhir sehingga nyaris tanpa kadar emosi, datar dan monoton. Selain itu, masih banyak yang membaca dengan cara lama nan usang: berlagu mendayu-dayu dan gerak melambai-lambai.
Pada akhirnya, dalam seni baca puisi, barang siapa membaca dengan tenang, yang vokalnya jernih dan geraknya wajar, itulah paling tepat untuk menang. Dan itulah memang yang meraih nilai tertinggi.
Selamat untuk semua pemenang! Bagi yang belum beruntung masih banyak kesempatan… [T]
Para juara Festival Nasional Seni Pelajar Jembrana (FNSPJ) IX/2025:
Tingkat Sekolah Dasar/MI
- JUARA 1 : MADE GEDE BAGUS DEDY SAHARA – SDN 1 SEMARAPURA
- JUARA 2 : KOMANG TANIA LAKSMI ALINDYA – SDN 1 BANYUNING SINGARAJA
- JUARA 3 : I GUSTI BAGUS TEJA SUPUTRA – SDN 3 BUNGKULAN
- HARAPAN 1 : MADE LINDA WAHYUNI – SDN 1 BALER BALE AGUNG
- HARAPAN 2: AISYAH LISTIYANA ZAHRA – SDN GONDANGWINANGUN
- HARAPAN 3 : PUTU NENSI JUNIADEWI – SDN 3 BUNGKULAN
- PEMBACA BERBAKAT: PUTRI AISYAH HUMAIROH – MIN 4 JEMBRANA
- PEMBACA BERBAKAT: NAJWA KHAIRA WILDANIA LUBIS – SDN SUKORAME 2
- PEMBACA BERBAKAT : NI KOMANG GITA WIDYA CAHYANI – SD ADI WIDYALAYA SARASWATI KUPANG
- PEMBACA BERBAKAT : ASHALINA AZZAHRA RAHMADHANI – SD SEQUOIA NASIONAL PLUS BANDUNG
Tingkat SMP/MTS
- JUARA 1 : PUTU VIDYA RADHANI — SMPN 5 DENPASAR
- JUARA 2 : KADEK DEVISTYA PRIMAYANTI — SMPN 2 NEGARA
- JUARA 3 : NI PUTU CHINTYA PUTRI — SMPN 1 MENDOYO
- HARAPAN 1 : JESSIKA KAILA DIAH RAHMADANI — SMPN 5 DENPASAR
- HARAPAN 2 : NI KADEK ERIKA DIAH ANGGRENI PUTRI — SMPN 1 MENDOYO
- HARAPAN 3 : ANGELINA DYAH PUTRI PARAMITHA — SMPN 3 NEGARA
- PEMBACA BERBAKAT : TENGKU BASTI ASIKA — SMP IT AN NAHL
- PEMBACA BERBAKAT : NI WAYAN RUPADI WIDIA — SMPN 2 KUPANG
- PEMBACA BERBAKAT : NAJWA AILIN IZMA — SMPN 4 BATU KLIANG
- PEMBACA BERBAKAT : PUTU ANURADHA DEVI CALLYSTA — SMPN 1 SINGARAJA
Tingkat SMA/MA/Mahasiswa
- JUARA 1 : NI MADE AGUSTINI AYU CANDRI PRATIWI — SMAN 1 KUBU
- JUARA 2 : PURWANTI NINGSIH — UNIVERSITAS NEGERI MALANG
- JUARA 3 : SOFIANA EMILLY WASO EA — SMAS ST FRANSISKUS XAVERIUS BOAWAE
- HARAPAN 1 : AKBAR JULIANA — ISBI BANDUNG
- HARAPAN 2 : NI PUTU VIDYA NIRMALA SUWARBAWA — SMAN 1 NEGARA
- HARAPAN 3 : KETUT SUKMA PERMATA PUTRI — SMAN 2 SEMARAPURA
- PEMBACA BERBAKAT : ANJA SAILA TAHIRA RABBAH — SMAN 3 JAYAPURA
- PEMBACA BERBAKAT : I KOMANG AGUS WAHYU SULIANDIKA — SMAN 2 KUTA SELATAN
- PEMBACA BERBAKAT : M. ZAYDI ALMUNTAHAR — MAN 1 KOTA BIMA
- PEMBACA BERBAKAT : SITI MURNI NUR KHOLIFAH — SMAN 01 TANGGERANG


























