25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hattrick Koster, Antara Prestasi dan Stagnasi

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
October 25, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

TERPILIHNYA kembali I Wayan Koster sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Bali untuk ketiga kalinya menjadi sebuah “Hattrick” politik yang jarang terjadi dalam struktur partai di tingkat daerah. Melalui Konferensi Daerah (Konferda) 2025, Koster kembali didapuk memimpin partai berlambang banteng tersebut untuk periode 2025-2030 secara aklamasi. Bagi sebagian kalangan, fenomena ini dipandang sebagai keberhasilan Koster dalam menjaga dominasi PDI Perjuangan di Bali. Tetapi di sisi lain, fenomena ini memunculkan tanda tanya serius tentang sejauh mana partai politik dalam menjalankan fungsi kaderisasi dan membuka ruang regenerasi politik yang sehat.

Utamakan Stabilitas Politik

Mempertahankan elit lama sering kali menjadi jalan pintas bagi partai politik untuk mempertahankan stabilitas internal mereka. Dalam konteks PDI Perjuangan Bali, memilih Koster untuk kali ketiga mungkin dipandang sebagai sebuah langkah yang rasional. Dalam perjalanannya memimpin, Koster telah mengantarkan partainya memenangkan banyak kontestasi—mulai dari tingkat nasional, hingga tingkat kabupaten/kota, termasuk pula mengantarkan dirinya untuk duduk sebanyak dua periode sebagai Gubernur Bali.

Dalam Konferda beberapa waktu lalu, Koster juga mengklaim bahwa partai yang dipimpinnya telah memiliki 230 ribu anggota dan telah memenuhi kuota 30 persen perempuan—sebuah capaian administratif yang tidak banyak partai politik tingkat daerah mampu meraihnya. Sedangkan dari kaca mata pragmatis, keberlanjutan kepemimpinan Koster jelas memberi rasa aman bagi struktur partai—mulai dari tingkat elit hingga grassroot, karena dianggap dapat menghindari konflik internal dan menjaga soliditas mesin partai jelang kontestasi berikutnya.

Stabilitas terasa semakin menjanjikan karena di waktu yang sama Koster juga memegang jabatan publik sebagai Gubernur Bali untuk kali kedua. Posisi strategis tersebut setidaknya mampu memberi garansi berupa kemudahan bagi partai politik yang dipimpinnya untuk mengakses seluruh sumber daya ke seluruh sektor, sekaligus memudahkan mereka untuk mengkonsolidasikan rakyat untuk tetap setia berada di barisan mereka.

Gejala Stagnasi Partai Politik

Meski banyak media di Bali menyebut terpilihnya Koster memimpin PDI Perjuangan Bali untuk ketiga kalinya sebagai sebuah prestasi. Namun di sisi lain, fenomena ini juga dapat dibaca sebaliknya—sebuah gejala stagnasi partai politik. Hattrick Koster tentu menjadi fenomena politik yang menimbulkan pertanyaan soal sejauh mana partai politik telah menjalankan fungsi kaderisasi di internal partai politik. Dan menjadi pertanyaan kini, apakah PDI Perjuangan di Bali telah gagal menyiapkan regenerasi kepemimpinan di internal mereka?

Setidaknya bagi Andrew Heywood, partai politik memiliki empat fungsi utama: artikulasi kepentingan, sosialisasi politik, rekrutmen elit, dan pengendalian kekuasaan. Dari keempat fungsi tersebut, kaderisasi atau rekrutmen elit menempati posisi sentral karena menjadi jembatan antara rakyat dan struktur kekuasaan. Melalui fungsi kaderisasi, partai memberi pelatihan, menyeleksi, dan menempatkan individu-individu baru yang dianggap telah memiliki kompetensi dan integritas untuk menjadi pemimpin politik.

Sayangnya dalam tataran praktik, idealnya fungsi kaderisasi sering kali terdistorsi oleh dinamika kekuasaan internal partai. Lewat teori iron law of oligarchy, Robert Michels telah lama mengingatkan bahwa setiap organisasi besar, termasuk di dalamnya partai politik akan cenderung berkembang menjadi sebuah lingkar oligarki—dikuasai hanya oleh segelintir elit yang hanya berfokus pada kekuasaan untuk mengontrol sumber daya dan loyalitas para simpatisan. Dan terpilihnya Koster secara aklamasi tanpa calon alternatif lain dapat dibaca sebagai sebuah ajang konsolidasi kekuatan elit sekaligus menjadi sinyal melemahnya kompetisi internal dan regenerasi kader.

Fenomena aklamasi yang berulang kali terjadi menjadi sebuah gejala bahwa mekanisme kompetisi dalam partai semakin menyempit atau dapat dikatakan ini adalah gejala stagnasi kaderisasi di internal partai. Tidak hadirnya calon alternatif dalam sebuah kompetisi bukan berarti semua kader bersepakat atas calon yang muncul, tetapi hal ini bisa jadi sebuah penanda bahwa tidak ada ruang politik yang cukup leluasa bagi generasi baru. Alih-alih memberi ruang bagi pemimpin muda potensial, partai politik justru sibuk kasak-kusuk menjaga keseimbangan politik di lingkaran elit lama.

Tersumbatnya Sirkulasi Elit

Bisa jadi Koster telah berhasil secara elektoral dan memanajemen sebuah organisasi besar. Sayangnya keberhasilan yang telah ditorehkan Koster selama memimpin PDI Perjuangan di Bali dapat bergeser menjadi sebuah beban jangka panjang apabila partai tidak serius menyiapkan pemimpin selanjutnya. Mosca menyebut bahwa sistem politik yang sehat sangatlah bergantung pada sirkulasi elit, artinya perputaran kekuasaan menjadi kunci untuk memunculkan ide dan energi baru bagi sebuah organisasi, termasuk di dalamnya partai politik.

Kelelahan politik (political fatigue) jadi salah satu risiko yang harus ditanggung oleh sebuah organisasi apabila sirkulasi elit hanya berputar pada tokoh-tokoh lama, kehilangan kreativitas dan inovasi, serta semakin jauh dari aspirasi rakyat. Tidak hanya berhenti pada partai politik, dampak tersumbatnya sirkulasi elit juga memberi dampak pada rakyat dan kualitas demokrasi.

Pertama, regenerasi kepemimpinan yang tersumbat akan membuat gagasan politik semakin monoton. Masyarakat tidak lagi disuguhi alternatif figur atau gagasan baru, sehingga pemilu yang mulanya berjalan formalitas bergeser menjadi lebih bermakna. Kedua, menurunnya inovasi kebijakan—cenderung berulang dan tidak peka terhadap kebutuhan rakyat. Banjir besar pada bulan September lalu menjadi salah satu contoh nyata kegagalan pemerintah dalam menangkap aspirasi rakyat.

Ketiga, menguatnya politik patronase—di saat elit lama mempertahankan kekuasaan, distribusi sumber daya sering kali hanya berbasis pada loyalitas belaka, melupakan mekanisme meritokrasi, bahkan cenderung memberi karpet merah bagi para kerabat. Pada akhirnya, rakyat berhadapan kepada birokrasi yang hanya melayani kepentingan politik tinimbang kepentingan publik.

Parahnya lagi, fenomena ini dapat menggerus legitimasi demokrasi. Generasi muda yang tidak melihat ruang partisipasi dalam partai akan menjauh dari politik, selanjutnya menciptakan apatisme dan ketidakpercayaan terhadap politik dan kelindannya. Alih-alih mampu menjadi serbuk sari bagi lebah, demokrasi justru ditinggalkan layaknya rumah kosong—memiliki bentuk tetapi tak memiliki kehidupan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan krisis representasi, rakyat tidak lagi memiliki saluran politik yang efektif untuk menyampaikan aspirasi—pada akhirnya turun ke jalan adalah satu-satunya kanal untuk memberi pelajaran bagi kekuasaan.

Memikirkan Regenerasi Politik

PDI Perjuangan sebagai sebuah organisasi politik dengan struktur dan basis ideologi yang kuat, sudah seharusnya mengambil peran sebagai contoh bagi partai politik lainnya dalam mewujudkan regenasi kepemimpinan yang berkelanjutan—salah satu wujud pelembagaan partai politik. Tanpa harus kehilangan sense of crisis yang dirasakan oleh rakyat yang memberi kursi yang nyaman untuk duduk di dalam kekuasaan.

Meski hattrick Koster dipandang sebagai sebuah prestasi, tetapi fenomena ini juga harus dibaca sebagai peringatan terhadap bahayanya stagnasi dalam menjalankan fungsi kaderisasi. Apalagi demokrasi tidak hanya sekadar membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi juga membutuhkan sirkulasi kepemimpinan yang potensial di setiap masanya. Alangkah berbahayanya jika partai politik gagal menjaga regenerasi kepemimpinan dan hanya sibuk memikirkan cara melanggengkan sirkulasi elit agar tetap berputar di sekitarnya. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPDI PerjuanganPDIPPolitikWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Next Post

Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co