12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hattrick Koster, Antara Prestasi dan Stagnasi

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
October 25, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

TERPILIHNYA kembali I Wayan Koster sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Bali untuk ketiga kalinya menjadi sebuah “Hattrick” politik yang jarang terjadi dalam struktur partai di tingkat daerah. Melalui Konferensi Daerah (Konferda) 2025, Koster kembali didapuk memimpin partai berlambang banteng tersebut untuk periode 2025-2030 secara aklamasi. Bagi sebagian kalangan, fenomena ini dipandang sebagai keberhasilan Koster dalam menjaga dominasi PDI Perjuangan di Bali. Tetapi di sisi lain, fenomena ini memunculkan tanda tanya serius tentang sejauh mana partai politik dalam menjalankan fungsi kaderisasi dan membuka ruang regenerasi politik yang sehat.

Utamakan Stabilitas Politik

Mempertahankan elit lama sering kali menjadi jalan pintas bagi partai politik untuk mempertahankan stabilitas internal mereka. Dalam konteks PDI Perjuangan Bali, memilih Koster untuk kali ketiga mungkin dipandang sebagai sebuah langkah yang rasional. Dalam perjalanannya memimpin, Koster telah mengantarkan partainya memenangkan banyak kontestasi—mulai dari tingkat nasional, hingga tingkat kabupaten/kota, termasuk pula mengantarkan dirinya untuk duduk sebanyak dua periode sebagai Gubernur Bali.

Dalam Konferda beberapa waktu lalu, Koster juga mengklaim bahwa partai yang dipimpinnya telah memiliki 230 ribu anggota dan telah memenuhi kuota 30 persen perempuan—sebuah capaian administratif yang tidak banyak partai politik tingkat daerah mampu meraihnya. Sedangkan dari kaca mata pragmatis, keberlanjutan kepemimpinan Koster jelas memberi rasa aman bagi struktur partai—mulai dari tingkat elit hingga grassroot, karena dianggap dapat menghindari konflik internal dan menjaga soliditas mesin partai jelang kontestasi berikutnya.

Stabilitas terasa semakin menjanjikan karena di waktu yang sama Koster juga memegang jabatan publik sebagai Gubernur Bali untuk kali kedua. Posisi strategis tersebut setidaknya mampu memberi garansi berupa kemudahan bagi partai politik yang dipimpinnya untuk mengakses seluruh sumber daya ke seluruh sektor, sekaligus memudahkan mereka untuk mengkonsolidasikan rakyat untuk tetap setia berada di barisan mereka.

Gejala Stagnasi Partai Politik

Meski banyak media di Bali menyebut terpilihnya Koster memimpin PDI Perjuangan Bali untuk ketiga kalinya sebagai sebuah prestasi. Namun di sisi lain, fenomena ini juga dapat dibaca sebaliknya—sebuah gejala stagnasi partai politik. Hattrick Koster tentu menjadi fenomena politik yang menimbulkan pertanyaan soal sejauh mana partai politik telah menjalankan fungsi kaderisasi di internal partai politik. Dan menjadi pertanyaan kini, apakah PDI Perjuangan di Bali telah gagal menyiapkan regenerasi kepemimpinan di internal mereka?

Setidaknya bagi Andrew Heywood, partai politik memiliki empat fungsi utama: artikulasi kepentingan, sosialisasi politik, rekrutmen elit, dan pengendalian kekuasaan. Dari keempat fungsi tersebut, kaderisasi atau rekrutmen elit menempati posisi sentral karena menjadi jembatan antara rakyat dan struktur kekuasaan. Melalui fungsi kaderisasi, partai memberi pelatihan, menyeleksi, dan menempatkan individu-individu baru yang dianggap telah memiliki kompetensi dan integritas untuk menjadi pemimpin politik.

Sayangnya dalam tataran praktik, idealnya fungsi kaderisasi sering kali terdistorsi oleh dinamika kekuasaan internal partai. Lewat teori iron law of oligarchy, Robert Michels telah lama mengingatkan bahwa setiap organisasi besar, termasuk di dalamnya partai politik akan cenderung berkembang menjadi sebuah lingkar oligarki—dikuasai hanya oleh segelintir elit yang hanya berfokus pada kekuasaan untuk mengontrol sumber daya dan loyalitas para simpatisan. Dan terpilihnya Koster secara aklamasi tanpa calon alternatif lain dapat dibaca sebagai sebuah ajang konsolidasi kekuatan elit sekaligus menjadi sinyal melemahnya kompetisi internal dan regenerasi kader.

Fenomena aklamasi yang berulang kali terjadi menjadi sebuah gejala bahwa mekanisme kompetisi dalam partai semakin menyempit atau dapat dikatakan ini adalah gejala stagnasi kaderisasi di internal partai. Tidak hadirnya calon alternatif dalam sebuah kompetisi bukan berarti semua kader bersepakat atas calon yang muncul, tetapi hal ini bisa jadi sebuah penanda bahwa tidak ada ruang politik yang cukup leluasa bagi generasi baru. Alih-alih memberi ruang bagi pemimpin muda potensial, partai politik justru sibuk kasak-kusuk menjaga keseimbangan politik di lingkaran elit lama.

Tersumbatnya Sirkulasi Elit

Bisa jadi Koster telah berhasil secara elektoral dan memanajemen sebuah organisasi besar. Sayangnya keberhasilan yang telah ditorehkan Koster selama memimpin PDI Perjuangan di Bali dapat bergeser menjadi sebuah beban jangka panjang apabila partai tidak serius menyiapkan pemimpin selanjutnya. Mosca menyebut bahwa sistem politik yang sehat sangatlah bergantung pada sirkulasi elit, artinya perputaran kekuasaan menjadi kunci untuk memunculkan ide dan energi baru bagi sebuah organisasi, termasuk di dalamnya partai politik.

Kelelahan politik (political fatigue) jadi salah satu risiko yang harus ditanggung oleh sebuah organisasi apabila sirkulasi elit hanya berputar pada tokoh-tokoh lama, kehilangan kreativitas dan inovasi, serta semakin jauh dari aspirasi rakyat. Tidak hanya berhenti pada partai politik, dampak tersumbatnya sirkulasi elit juga memberi dampak pada rakyat dan kualitas demokrasi.

Pertama, regenerasi kepemimpinan yang tersumbat akan membuat gagasan politik semakin monoton. Masyarakat tidak lagi disuguhi alternatif figur atau gagasan baru, sehingga pemilu yang mulanya berjalan formalitas bergeser menjadi lebih bermakna. Kedua, menurunnya inovasi kebijakan—cenderung berulang dan tidak peka terhadap kebutuhan rakyat. Banjir besar pada bulan September lalu menjadi salah satu contoh nyata kegagalan pemerintah dalam menangkap aspirasi rakyat.

Ketiga, menguatnya politik patronase—di saat elit lama mempertahankan kekuasaan, distribusi sumber daya sering kali hanya berbasis pada loyalitas belaka, melupakan mekanisme meritokrasi, bahkan cenderung memberi karpet merah bagi para kerabat. Pada akhirnya, rakyat berhadapan kepada birokrasi yang hanya melayani kepentingan politik tinimbang kepentingan publik.

Parahnya lagi, fenomena ini dapat menggerus legitimasi demokrasi. Generasi muda yang tidak melihat ruang partisipasi dalam partai akan menjauh dari politik, selanjutnya menciptakan apatisme dan ketidakpercayaan terhadap politik dan kelindannya. Alih-alih mampu menjadi serbuk sari bagi lebah, demokrasi justru ditinggalkan layaknya rumah kosong—memiliki bentuk tetapi tak memiliki kehidupan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan krisis representasi, rakyat tidak lagi memiliki saluran politik yang efektif untuk menyampaikan aspirasi—pada akhirnya turun ke jalan adalah satu-satunya kanal untuk memberi pelajaran bagi kekuasaan.

Memikirkan Regenerasi Politik

PDI Perjuangan sebagai sebuah organisasi politik dengan struktur dan basis ideologi yang kuat, sudah seharusnya mengambil peran sebagai contoh bagi partai politik lainnya dalam mewujudkan regenasi kepemimpinan yang berkelanjutan—salah satu wujud pelembagaan partai politik. Tanpa harus kehilangan sense of crisis yang dirasakan oleh rakyat yang memberi kursi yang nyaman untuk duduk di dalam kekuasaan.

Meski hattrick Koster dipandang sebagai sebuah prestasi, tetapi fenomena ini juga harus dibaca sebagai peringatan terhadap bahayanya stagnasi dalam menjalankan fungsi kaderisasi. Apalagi demokrasi tidak hanya sekadar membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi juga membutuhkan sirkulasi kepemimpinan yang potensial di setiap masanya. Alangkah berbahayanya jika partai politik gagal menjaga regenerasi kepemimpinan dan hanya sibuk memikirkan cara melanggengkan sirkulasi elit agar tetap berputar di sekitarnya. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPDI PerjuanganPDIPPolitikWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Next Post

Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co