2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hattrick Koster, Antara Prestasi dan Stagnasi

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
October 25, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

TERPILIHNYA kembali I Wayan Koster sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Bali untuk ketiga kalinya menjadi sebuah “Hattrick” politik yang jarang terjadi dalam struktur partai di tingkat daerah. Melalui Konferensi Daerah (Konferda) 2025, Koster kembali didapuk memimpin partai berlambang banteng tersebut untuk periode 2025-2030 secara aklamasi. Bagi sebagian kalangan, fenomena ini dipandang sebagai keberhasilan Koster dalam menjaga dominasi PDI Perjuangan di Bali. Tetapi di sisi lain, fenomena ini memunculkan tanda tanya serius tentang sejauh mana partai politik dalam menjalankan fungsi kaderisasi dan membuka ruang regenerasi politik yang sehat.

Utamakan Stabilitas Politik

Mempertahankan elit lama sering kali menjadi jalan pintas bagi partai politik untuk mempertahankan stabilitas internal mereka. Dalam konteks PDI Perjuangan Bali, memilih Koster untuk kali ketiga mungkin dipandang sebagai sebuah langkah yang rasional. Dalam perjalanannya memimpin, Koster telah mengantarkan partainya memenangkan banyak kontestasi—mulai dari tingkat nasional, hingga tingkat kabupaten/kota, termasuk pula mengantarkan dirinya untuk duduk sebanyak dua periode sebagai Gubernur Bali.

Dalam Konferda beberapa waktu lalu, Koster juga mengklaim bahwa partai yang dipimpinnya telah memiliki 230 ribu anggota dan telah memenuhi kuota 30 persen perempuan—sebuah capaian administratif yang tidak banyak partai politik tingkat daerah mampu meraihnya. Sedangkan dari kaca mata pragmatis, keberlanjutan kepemimpinan Koster jelas memberi rasa aman bagi struktur partai—mulai dari tingkat elit hingga grassroot, karena dianggap dapat menghindari konflik internal dan menjaga soliditas mesin partai jelang kontestasi berikutnya.

Stabilitas terasa semakin menjanjikan karena di waktu yang sama Koster juga memegang jabatan publik sebagai Gubernur Bali untuk kali kedua. Posisi strategis tersebut setidaknya mampu memberi garansi berupa kemudahan bagi partai politik yang dipimpinnya untuk mengakses seluruh sumber daya ke seluruh sektor, sekaligus memudahkan mereka untuk mengkonsolidasikan rakyat untuk tetap setia berada di barisan mereka.

Gejala Stagnasi Partai Politik

Meski banyak media di Bali menyebut terpilihnya Koster memimpin PDI Perjuangan Bali untuk ketiga kalinya sebagai sebuah prestasi. Namun di sisi lain, fenomena ini juga dapat dibaca sebaliknya—sebuah gejala stagnasi partai politik. Hattrick Koster tentu menjadi fenomena politik yang menimbulkan pertanyaan soal sejauh mana partai politik telah menjalankan fungsi kaderisasi di internal partai politik. Dan menjadi pertanyaan kini, apakah PDI Perjuangan di Bali telah gagal menyiapkan regenerasi kepemimpinan di internal mereka?

Setidaknya bagi Andrew Heywood, partai politik memiliki empat fungsi utama: artikulasi kepentingan, sosialisasi politik, rekrutmen elit, dan pengendalian kekuasaan. Dari keempat fungsi tersebut, kaderisasi atau rekrutmen elit menempati posisi sentral karena menjadi jembatan antara rakyat dan struktur kekuasaan. Melalui fungsi kaderisasi, partai memberi pelatihan, menyeleksi, dan menempatkan individu-individu baru yang dianggap telah memiliki kompetensi dan integritas untuk menjadi pemimpin politik.

Sayangnya dalam tataran praktik, idealnya fungsi kaderisasi sering kali terdistorsi oleh dinamika kekuasaan internal partai. Lewat teori iron law of oligarchy, Robert Michels telah lama mengingatkan bahwa setiap organisasi besar, termasuk di dalamnya partai politik akan cenderung berkembang menjadi sebuah lingkar oligarki—dikuasai hanya oleh segelintir elit yang hanya berfokus pada kekuasaan untuk mengontrol sumber daya dan loyalitas para simpatisan. Dan terpilihnya Koster secara aklamasi tanpa calon alternatif lain dapat dibaca sebagai sebuah ajang konsolidasi kekuatan elit sekaligus menjadi sinyal melemahnya kompetisi internal dan regenerasi kader.

Fenomena aklamasi yang berulang kali terjadi menjadi sebuah gejala bahwa mekanisme kompetisi dalam partai semakin menyempit atau dapat dikatakan ini adalah gejala stagnasi kaderisasi di internal partai. Tidak hadirnya calon alternatif dalam sebuah kompetisi bukan berarti semua kader bersepakat atas calon yang muncul, tetapi hal ini bisa jadi sebuah penanda bahwa tidak ada ruang politik yang cukup leluasa bagi generasi baru. Alih-alih memberi ruang bagi pemimpin muda potensial, partai politik justru sibuk kasak-kusuk menjaga keseimbangan politik di lingkaran elit lama.

Tersumbatnya Sirkulasi Elit

Bisa jadi Koster telah berhasil secara elektoral dan memanajemen sebuah organisasi besar. Sayangnya keberhasilan yang telah ditorehkan Koster selama memimpin PDI Perjuangan di Bali dapat bergeser menjadi sebuah beban jangka panjang apabila partai tidak serius menyiapkan pemimpin selanjutnya. Mosca menyebut bahwa sistem politik yang sehat sangatlah bergantung pada sirkulasi elit, artinya perputaran kekuasaan menjadi kunci untuk memunculkan ide dan energi baru bagi sebuah organisasi, termasuk di dalamnya partai politik.

Kelelahan politik (political fatigue) jadi salah satu risiko yang harus ditanggung oleh sebuah organisasi apabila sirkulasi elit hanya berputar pada tokoh-tokoh lama, kehilangan kreativitas dan inovasi, serta semakin jauh dari aspirasi rakyat. Tidak hanya berhenti pada partai politik, dampak tersumbatnya sirkulasi elit juga memberi dampak pada rakyat dan kualitas demokrasi.

Pertama, regenerasi kepemimpinan yang tersumbat akan membuat gagasan politik semakin monoton. Masyarakat tidak lagi disuguhi alternatif figur atau gagasan baru, sehingga pemilu yang mulanya berjalan formalitas bergeser menjadi lebih bermakna. Kedua, menurunnya inovasi kebijakan—cenderung berulang dan tidak peka terhadap kebutuhan rakyat. Banjir besar pada bulan September lalu menjadi salah satu contoh nyata kegagalan pemerintah dalam menangkap aspirasi rakyat.

Ketiga, menguatnya politik patronase—di saat elit lama mempertahankan kekuasaan, distribusi sumber daya sering kali hanya berbasis pada loyalitas belaka, melupakan mekanisme meritokrasi, bahkan cenderung memberi karpet merah bagi para kerabat. Pada akhirnya, rakyat berhadapan kepada birokrasi yang hanya melayani kepentingan politik tinimbang kepentingan publik.

Parahnya lagi, fenomena ini dapat menggerus legitimasi demokrasi. Generasi muda yang tidak melihat ruang partisipasi dalam partai akan menjauh dari politik, selanjutnya menciptakan apatisme dan ketidakpercayaan terhadap politik dan kelindannya. Alih-alih mampu menjadi serbuk sari bagi lebah, demokrasi justru ditinggalkan layaknya rumah kosong—memiliki bentuk tetapi tak memiliki kehidupan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan krisis representasi, rakyat tidak lagi memiliki saluran politik yang efektif untuk menyampaikan aspirasi—pada akhirnya turun ke jalan adalah satu-satunya kanal untuk memberi pelajaran bagi kekuasaan.

Memikirkan Regenerasi Politik

PDI Perjuangan sebagai sebuah organisasi politik dengan struktur dan basis ideologi yang kuat, sudah seharusnya mengambil peran sebagai contoh bagi partai politik lainnya dalam mewujudkan regenasi kepemimpinan yang berkelanjutan—salah satu wujud pelembagaan partai politik. Tanpa harus kehilangan sense of crisis yang dirasakan oleh rakyat yang memberi kursi yang nyaman untuk duduk di dalam kekuasaan.

Meski hattrick Koster dipandang sebagai sebuah prestasi, tetapi fenomena ini juga harus dibaca sebagai peringatan terhadap bahayanya stagnasi dalam menjalankan fungsi kaderisasi. Apalagi demokrasi tidak hanya sekadar membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi juga membutuhkan sirkulasi kepemimpinan yang potensial di setiap masanya. Alangkah berbahayanya jika partai politik gagal menjaga regenerasi kepemimpinan dan hanya sibuk memikirkan cara melanggengkan sirkulasi elit agar tetap berputar di sekitarnya. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPDI PerjuanganPDIPPolitikWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Next Post

Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Karya Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Banjar Binoh Kelod untuk Keseimbangan Alam Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co