Hari itu—16 Oktober 2025, di saat saya masih meratapi kegagalan Timnas masuk piala dunia, tiba-tiba handphone saya berdering tak karuan. Muncul banyak kabar, dari rekan maupun dari media sosial: seorang mahasiswa Universitas Udayana telah mengakhiri hidupnya kemarin—di Rabu, 15 Oktober 2025 (Gisela, 2025).
Teman-teman, bunuh diri tidak pernah menjadi soal yang sederhana. Ia dipicu karena banyak hal: depresi, trauma, maupun gangguan mental lainnya. Ia bisa bermula karena adanya kecenderungan genetik, maupun pengalaman hidup yang menyesakkan—luas sekali (Narayana et al., 2020; Beghi et al., 2021).
Sederhananya, setiap orang menjalani pertempuran yang tak akan sepenuhnya dipahami orang lain. Kita memiliki beban yang berbeda, juga kekuatan yang berbeda. Maka membandingkan derita atau berlomba menjadi yang paling menderita tak akan pernah bijak.
Membandingkan derita adalah kekeliruan, apalagi menghardik kematian. Tak ada satu pun di antara kita yang pantas mengkakimi kematian seseorang, karena pertanyaannya: siapa Anda? Siapa yang memberi hak untuk merasa paling tahu tentang kehidupan dan dosa orang lain?
Hari ini, laman media sosial saya—terutama Instragram, ramai dengan unggahan jika beberapa individu, alih-alih bersimpati justru mencemooh peristiwa itu. Aneh rasanya, melihat orang bangga menertawakan tragedi. Seolah kehilangan empati kini telah menjadi hal yang lumrah.
Peristiwa ini, tidak hanya tentang kematiannya, tetapi tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, merespon kematian tersebut. Ia adalah tamparan bagi kesadaran kolektif kita: bahwa literasi mental belum benar-benar tumbuh. Masih banyak yang menganggap jika meminta bantuan atau pergi ke Psikolog/Psikiater adalah tanda kelemahan. Akibatnya, banyak yang memilih diam, menahan sakit, atau menutupi ketakuannya dengan mencemooh mereka yang berani mencari pertolongan, atau yang telah usai pertarungannya (Jackson & Ross, 2025) (jikateman-teman tertarik, sila membaca tentang defense mechanism—salah satunya adalah discplacement).
Pada akhirnya, mereka yang menjadikan kematian sebagai bahan lelucon, bukanlah orang yang paling kuat atau yang paling sehat di dunia. Mungkin, tawa mereka hanyalah cara lain menutupi luka yang tak ingin mereka akui.
Teman-teman, saya percaya satu hal, jika tidak ada individu yang benar-benar sehat mentalnya seratus persen. Kondisi mental tidak statis, ia bergerak secara dinamis menyesuaikan apa yang kita alami sehari-hari. Sekarang, yang terpenting adalah bagaimana cara kita meregulasi stress dan emosi (Urano et al., 2022). Namun, sebelum kita mampu meregulasi, kita harus lebih dulu sadar—sadar bahwa setiap manusia pasti memiliki masalahnya sendiri, dan mencari pertolongan bukanlah hal yang hina.
Tidak peduli apakah itu pergi ke Psikolog, nongkrong, mancing, semedi—jika itu membuatmu merasa lebih baik, lakukan saja. Asal itu bukan judi online, atau tindakan yang membuat istri marah. Pada akhirnya, setiap orang memiliki caranya masing-masing, tak ada yang lebih baik, tak ada yang lebih buruk. Semua sama derajatnya!
Akhir kata, tulisan ini memang tidak didesain untuk mengulas kematian seseorang. Beberapa media juga harus menyadari bahwa mengekspos detail pribadi korban bukanlah hal yang pantas. Ia memiliki privasi, dan ada keluarga yang sedang berduka—yang seharusnya kita jaga, tidak dilukai atas dasar keingintahuan atau target tulisan semata. Yang seharusnya menjadi sorotan adalah ketiadaan empati di sekitar kita—tanda bahwa ada yang sakit dalam sistem sosial masyarakat kita, yang seakan-akan membuat nyawa tak lagi relevan. [T]
Daftar Acuan:
Beghi, M., Butera, E., Cerri, C. G., Cornaggia, C. M., Febbo, F., Mollica, A., … & Lozupone, M. (2021). Suicidal behaviour in older age: A systematic review of risk factors associated to suicide attempts and completed suicides. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 127, 193–211.
Gisela, S. (2025, 15 Oktober). Mahasiswa Unud Bali tewas usai jatuh dari lantai 2 gedung kampus. Tirto. https://tirto.id/mahasiswa-unud-bali-tewas-usai-jatuh-dari-lantai-2-gedung-kampus-hjGL
Jackson, J., & Ross, V. (2025). Understanding suicide stigma in fly-in/fly-out workers: A thematic analysis of attitudes towards suicide, help-seeking and help-offering. International Journal of Environmental Research and Public Health, 22(3), 395.
Surya Narayana, G., Suresh, C., & Kolli, K. (2020, October). Predicting students’ transformation to maximum depressive disorder and level of suicidal tendency. In ICCCE 2020: Proceedings of the 3rd International Conference on Communications and Cyber Physical Engineering (pp. 1199–1208). Singapore: Springer Nature Singapore.
Urano, Y., Ikeda, T., & Mearns, J. (2022). Receiving assistance in emotion regulation: A preliminary investigation. Personality and Individual Differences, 188, 111445.
Penulis: I Kadek Okta Dharmadhyaksa
Editor: Adnyana Ole


























