HARI Pos Sedunia diperingati setiap 9 Oktober untuk menandai berdirinya Kesatuan Pos Sedunia atau Universal Postal Union (UPU) pada tahun 1874 di Bern, Swiss. Dikutip dari situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), penetapan tanggal ini diresmikan pada Kongres UPU di Tokyo pada tahun 1969. Serikat Pegawai Pos ini berarti sudah berusia 151 tahun, satu abad 51 tahun. Sebuah organisasi yang sudah tua, namun mulai meredup kiprah dan fungsinya.
Peringatan Hari Pos Sedunia bukan sekadar perayaan simbolis, tetapi juga momentum untuk menyoroti transformasi layanan pos di era digital. Tahun ini, kampanye global mengusung tema yang menekankan nilai kemanusiaan dan jangkauan global dari layanan pos.
Hari Pos Sedunia dirayakan di lebih dari 150 negara sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi sektor pos dalam memfasilitasi komunikasi, perdagangan, dan pembangunan sosial. Melalui peringatan ini, UPU mendorong negara-negara anggota untuk meningkatkan inovasi, kualitas layanan, serta peran pos dalam mendukung masyarakat di berbagai lapisan (https://news.detik.com/berita/d-8149701/hari-pos-sedunia-2025-sejarah-tema-dan-cara-merayakannya).
Perkembangan teknologi yang amat pesat telah membuat beberapa jenis pekerjaan hilang, salah satunya profesi tukang pos yang sangat legendaris mulai tersingkirkan, karena informasi kini telah banyak tersampaikan secara digital. Petugas gerbang tol sudah tergantikan juga oleh “uang eloktronik”, teller atau kasir mungkin tidak lama lagi juga tak akan relevan lagi karena perkembangan teknologi.
Pesatnya perkembangan teknologi tidak hanya mempengaruhi bidang profesi pekerjaan manusia, juga telah mengubah wajah format bisnis yang ada. Bisnis konvensional menurut para ahli diprediksi akan surut akibat munculnya jenis baru yang didukung oleh perkembangan teknologi, kamera analog berganti digital, supermarket yang dulu sangat mapan sudah berpindah ke jaringan online, berjualan tidak harus memiliki “ruang secara fisik”. Cukup dipasarkan lewat media sosial, IG, tik-tok, youtube, facebook, dan lain-lain.
Sebagaimana tajuk yang saya sampaikan “pak pos riwayatmu kini”, tulisan ini hanya coba ingin memotret peran lembaga pos yang sangat termasyur dan mapan pada masa lalu. Nasib kantor pos, sebutan oleh masyarakat untuk dinas pos memang secara bertahap tergerus oleh peta persaingan. Untunglah jasa ekspedisi ini masih bertahan, tapi berpacu dengan kurir swasta. Namun peta kompetisi terus dan kian mengetat.
Saat ketika internet mulai merambah Indonesia, kantor pos pun pada 1996 menjadi penyedia layanan internet. Sempat ada warnet besar di Kantor Pos Besar Jakarta di Pasar Baru. Namun ujung perjalanan Wasantara Net itu diketahui banyak orang (https://lokadata.id/artikel/nyanyian-itu-aku-tukang-pos-jadi-begini).
***
Kini semuanya berubah. Internet mengubah banyak hal. Kenangan kaum milenial terhadap produk kantor pos pun amat tipis, karena mereka memang tak banyak mengalami. Hanya orang tua dan kakek-nenek mereka yang mengalami wesel pos, kartu pos, perangko, kotak pos, surat kilat dan kilat khusus.
Internet telah mendepak layanan pos. Sebelumnya SMS lintas operator, mulai 2001 telah menggeser telegram dan surat pos. Lalu ATM dan mobile banking menggeser wesel. Begitu pula remitansi di minimarket (https://lokadata.id/artikel/infografik-nostalgia-dan-perjuangan-pos-indonesia).
Ketika dulu mengirim pesan atau menyampaikan kabar kepada kerabat atau teman melalui surat yang dikirimkan ke kantor pos. Kini dengan canggihnya alat komunikasi dan pesan singkat seperti WhatsApp, Line, FB Messenger dan sosial media lainnya membuat kita tidak perlu lagi berkirim surat karena terlalu lama dan tidak efisien (https://www.kompasiana.com/indramahardika/60842b69d541df6fec3a88b7/mengintip-nasib-tukang-pos-apakah-masih-dibutuhkan?page=3&page_images=1).
Bila kita melihat sejarah, jalan raya seribu kilometer yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels, “mega” proyek Anyer (Banten) – Panarukan (Jawa Timur), itu untuk kepentingan pos. Mengantar surat dan kiriman lain, dan juga kepentingan militer Belanda tentunya. Proyek jalan tersebut dikenal sebagai Jalan Raya Pos, hampir setiap kota yang dilalui proyek tersebut memiliki nama jalan Pos Raya, dan suatu tempat yang di beri nama Pos.
Bangunan kantor pos, lokasinya selalu strategis, membuatnya jadi salah satu ikon di setiap kota, seperti Yogyakarta dahulu namanya Post, Telegraaf en Telefoon Kantoor. Bandung Posten Telegraf Kantoor, setelah Indonesia merdeka berubah menjadi Kantor Pos Besar. Bangunan kantor pos Taman Fatahillah, dari awal didirikan, bangunan ini memang digunakan sebagai kantor pos (post en telegraafkantoor)(https://lokadata.id/artikel/menelusuri-kantor-pos-tua-di-penjuru-indonesia).
Layanan pos pada masa Hindia Belanda masih memegang peran yang penting dalam hal informasi maupun komunikasi. Ini alasan mengapa gedung kantor pos ini dibangun di depan gedung Balai Kota Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia, dan selalu agar arus informasi bisa diterima dengan cepat. Juga kantor-kantor pos pada setiap kota yang ada di Indonesia hampir setiap kantornya selalu berada di lokasi yang strategis.
Sampai sebelum teknologi informasi digunakan dan dikembangkan ke dalam berbagai aplikasi untuk keperluan berbagai bentuk komunikasi dan keperluan manusia. Fungsi kantor pos sangat strategis dan penting untuk berbagai lapisan masyarakat. Kini mulai meredup peran dan fungsinya, karena makin banyak jenis pekerjaan yang diotomatisasi dengan teknologi, termasuk Pak Pos.
Menutup tulisan ini saya mengutip lirik lagu yang dibawakan The Beatles “Please mr. postman, why are you not delivering my mail?I have been waiting for a letter from my boyfriendOh please mr. postman, will you please be on your way? Seperti dalam lirik tersebut Pak Pos akan selalu dirindukan, dikenang, dan dinantikan kehadirannya oleh seseorang yang sedang merindu…Semoga sejarah akan mencatat amal baik Pak Pos, “kring..kring.,pos..pos.,surat..surat. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole


























