Efiseinsi anggaran yang digagas pemerintah pusat dirasakan imbasnya oleh banyak instansi, baik pemerintah maupun swasta. Semua kini serba efisien, serba berhemat. Kinerja pegawai tetap dituntut maksimal dengan anggaran yang minimal.
Kebijakan efisiensi bukan hanya untuk instansi pemerintah di pusat, tetapi juga di daerah. Ketika instansi pemerintah harus efisensi, perusahaan swasta pun kena imbasnya. Karena instansi pemerintah biasanya bermitra juga dengan perusahaan swasta.
Tak terkecuali perguruan tinggi. Kebijakan efisiensi juga dilakukan, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Dampaknya tentu dirasakan oleh dosen, pegawai, dan mahasiswa. Banyak rencana kegiatan yang tertunda dan dihapus dari daftar, karena keterbatasan anggaran.
Beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan dosen dan pegawai kini tak bisa lagi. Perjalanan dinas ke luar daerah dibatasi. Jika tidak terlalu penting, dosen dan pegawai tidak diizinkan melakukan kunjungan ke luar daerah, apalagi ke luar negeri.
Rapat dosen dan pegawai tidak lagi diizinkan dilakukan di luar, di restoran atau rumah makan. Cukup dilakukan di dalam kampus. Konsumsi rapat pun dibatasi. Kalau tidak terlalu mendesak, tidak diperlukan rapat dengan mengundang orang dalam jumlah banyak. Rapat bisa dilakukan secara daring lewat zoom.
Perawatan gedung dan kendaraan di kampus mengalami efisiensi pula. Servis AC dan kendaraan dinas tergantung pada keluhan. Jika tidak ada keluhan pada AC dan kendaraan, servis berkala bisa diundur waktunya. Maka bukan hanya dosen dan pegawai, jasa servis AC dan bengkel kendaraan pun terimbas efisiensi.
Efisiensi bahkan merambah ke bidang administrasi dan tata usaha. Semua surat-menyurat dan pengumuman dari kampus menjadi paperless. Semua bentuk undangan, surat tugas, dan pengumuman dari fakultas tidak lagi menggunakan kertas, tetapi diganti dengan format digital. Hemat kertas dan hemat kerjaan bagi pegawai tentunya.
Masalah efisiensi surat-menyurat dirasakan Hendardi dan Sugiono. Mereka tidak lagi harus mencetak surat-surat dan mengantarkannya ke setiap jurusan. Mereka cukup membuat surat dalam format pdf dan dikirim secara daring melalui WhatsApp (WA) secara gateway. Sekali klik, seluruh dosen dan pegawai di fakultas akan langsung membaca surat maupun pengumuman penting.
***
Hendardi, 45 tahun dan Sugiono, 35 tahun. Mereka sudah cukup lama bekerja sebagai pegawai administrasi di fakultas. Mereka dikenal oleh banyak dosen, pegawai, dan mahasiswa. Setiap surat yang perlu mendapat tanda tangan pimpinan fakultas akan melalui mereka proses pengetikannya. Jika sudah disetujui pimpinan, surat itu akan mereka kirim melalui WA kepada yang meminta.
Bukan hanya surat-menyurat, Hendardi dan Sugiono juga bertugas membagikan pengumuman kepada dosen dan pegawai. Hendardi biasanya bertugas pagi hingga sore, Sugiono kebagian sore hingga malam. Kadang banyak instruksi pimpinan atau pengumuman penting yang harus segera diumumkan pada sore atau malam hari untuk dikerjakan dosen dan pegawai pada esok harinya.
Pengumuman yang mereka bagikan bukan cuma tentang proses pendidikan dan administrasi akademik, tetapi juga pengumuman berita lelayu. Jika ada dosen, pegawai, dan mahasiswa yang meninggal dunia, Hendardi dan Sugiono akan segera menyampaikan berita lelayu melalui pesan gateway.
Menyampaikan berita lelayu bagi Hendardi dan Sugiono merupakan pekerjaan yang kadang menimbulkan rasa haru dan sedih. Mereka harus mengumumkan berita duka dosen yang mereka kenal dengan baik, atau pegawai yang meninggal adalah teman dekat mereka. Bahkan, banyak kejadian misterius dan membuat mereka merinding ketika harus mengumumkan dosen, pegawai, dan mahasiswa yang meninggal. Setiap ada yang akan meninggal, Hendardi dan Sugiono kerap mendapat firasat, entah lewat mimpi maupun dari gerak-gerik orang yang mau meninggal.
Suatu pagi, Hendardi sedang berada di ruangannya. Priambodo, dosen senior di kampus menemui Hendardi untuk dibuatkan surat tugas pengabdian masyarakat. Hendardi membaca secarik kertas yang berisi tentang hari, tanggal, dan bentuk kegiatan.
“Waktu kegiatan masih lama ini, Pak Priambodo. Kok buru-buru buat surat tugasnya,” kata Hendardi. Ia melihat kegiatan yang akan dilakukan Priambodo masih dua bulan lagi.
“Nggak apa, Mas Hendardi. Siapa tahu besok saya tidak bisa bertemu mas Hendardi lagi,” kata Priambodo sambil menunjukkan raut wajah yang muram.
Hendardi terkejut. Ia anggap Priambodo bercanda. Hendardi tak menolak permintaan Priambodo untuk membuat surat tugas. Namun ada yang aneh saat ia mengetik surat tugas itu. Bulu kuduknya berdiri. Ia merinding, entah mengapa.
Malam harinya Hendardi dikejutkan oleh gateway yang dikirimkan Sugiono lewat pesan WA. Dikabarkan Priambodo meninggal dunia sehabis isya. Hendardi sedih dan merinding. Baru saja pagi hari Priambodo meminta surat tugas untuk kegiatan dua bulan yang akan datang. Hendardi masih ingat betul ucapan Priambodo yang mengatakan siapa tahu tidak bisa bertemu Hendardi lagi.
Sugiono juga kerap menjumpai hal misterius soal berita lelayu sebagaimana dialami Hendardi. Mereka kadang heran, mengapa selalu ada firasat aneh setiap ada yang mau meninggal. Seolah mereka menerima pesan kematian sebelum orang yang akan diumumkan itu meninggal.
Sugiono piket malam hari di kampus. Suasana kampus di malam hari sebenarnya terang benderang dengan banyaknya lampu di dalam maupun luar ruangan. Namun entah mengapa, setiap mendapat tugas malam Sugiono selalu merasa takut. Apalagi sejak ada kebijakan efisiensi, beberapa lampu di taman dan tempat parkir dipadamkan. Sugiono merasakan kengerian bertugas sendiri.
Saat asyik minum kopi di ruangannya, Sugiono dikagetkan oleh datangnya Sujiman, pegawai bagian keuangan. Tidak seperti biasanya Sujiman ke kampus di malam hari. Masalah yang berkaitan dengan keuangan kampus selalu diselesaikan pada siang hari.
“Kok ke kampus malam hari, Pak Sujiman?” tanya Sugiono.
Sujiman tidak langsung menjawab pertanyaan Sugiono. Ia hanya memandangi ruangan, seolah mencari sesuatu. Namun ia tidak menemukan apa yang ia cari. Sujiman tampak seperti orang bingung. Wajahnya tampak lelah.
“Cari apa, Pak Sujiman?” tanya Sugiono lagi. Padahal pertanyaan pertama belum dijawab.
Sujiman masih belum menjawab. Matanya melihat ke sekililing ruangan.
“Saya cari map yang berisi laporan keuangan fakultas,” kata Sujiman lirih.
“Dicari besok pagi saja, Pak,” saran Sugiono saat melihat Sujiman seperti orang linglung.
“Siapa tahu besok saya tidak sempat ke kampus,” kata Sujiman dengan muka sedih.
Sugiono terkejut mendengar penuturan Sujiman. Mengapa Sujiman berkata seperti itu? Bukankah besok bukan hari libur? Sugiono memandangi Sujiman. Tampak ada yang berbeda pada diri Sujiman dibanding hari-hari biasanya. Sugiono menduga barangkali Sujiman terlalu capai bekerja mengurusi masalah keuangan di fakultas, sehingga wajahnya lusuh dan linglung.
Esoknya Sugiono dikejutkan oleh pesan gateway WA yang dikirim Hendardi. Berita lelayu yang mengumumkan Sujiman meninggal dunia menjelang duhur. Sontak Sugiono merinding. Semalam Sujiman berada di ruangan yang sama mencari berkas laporan keuangan. Sugiono masih ingat betul ketika Sujiman mengatakan besok tidak sempat ke kampus. Sungguh misterius kematian Sujiman.
***
Hendardi seperti biasa sudah berada di depan laptop untuk membuat surat-surat. Seorang mahasiswi menghampirinya. Hendardi diminta untuk membuatkan surat tugas bagi dosen yang akan menguji skripsi mahasiswi itu. Sesuai dengan tanggal yang disetujui dosen pembimbing, ujian skripsi baru akan dilaksanakan dua minggu ke depan.
“Ujiannya masih lama, Mbak. Kenapa buru-buru dibuat surat tugas mengujinya?” tanya Hendardi.
“Iya, Pak. Biar lebih cepat jadi. Saya sudah ingin cepat-cepat ujian,” jawab mahasiswi itu.
Tampak kegelisahan di wajah mahasiswi. Hendardi menuruti saja permintaan mahasiswi itu. Meski dalam hati ia heran, mengapa mahasiswi itu terburu-buru meminta surat tugas untuk penguji skripsinya. Biasanya mahasiswa akan meminta surat tugas ujian empat atau lima hari sebelum ujian.
Keheranan Hendardi terjawab dua hari sesudahnya. Ia mendapat kabar dari bagian kemahasiswaan, mahasiswi yang meminta surat tugas ujian meninggal dunia karena sakit. Hendardi merinding. Ia harus mengumumkan berita lelayu melalui gateway tentang mahasiswi yang dua hari lalu menemuinya di ruangan.
Mengumumkan kabar duka kadang membuat Hendardi larut dalam kesedihan. Ia lebih senang jika harus mengumumkan kabar-kabar tentang jadwal ujian akhir semester, batas akhir penyetoran nilai, atau mengirim ulang surat edaran dari rektorat. Namun sedikit pun Hendardi tidak pernah mengeluh soal pekerjaannya. Beruntung ia bekerja di kampus yang membuatnya punya waktu banyak untuk istirahat.
Malam belum begitu larut ketika rasa kantuk melanda Hendardi. Padahal ia berencana untuk menonton pertandingan sepak bola Liga Inggris yang tayang langsung tengah malam. Seharian ia banyak mengerjakan tugas di kampus. Esoknya ia masih harus melanjutkan mengetik surat-surat yang belum sempat diselesaikannya.
Di tengah lelap tidurnya, Hendardi bermimpi tentang rekan kerjanya, Sugiono. Dalam mimpinya, Sugiono sedang menaiki kereta kencana di suatu tempat yang luas, penuh dengan tanaman bunga. Sugiono tampak memanggil-manggil Hendardi untuk ikut naik kereta kencana yang berhias permata. Namun Hendardi menolak. Tangan Sugiono terus melambai ke arah Hendardi. Hingga tiba di tepi jurang, kereta kencana yang dinaiki Sugiono terperosok dan jatuh ke dalam jurang. Hendardi berteriak dan berlari hendak menolong temannya, namun Sugiono bersama kereta kencananya sudah berada di dasar jurang.
Hendardi terbangun. Jam dinding di kamarnya menunjukkan angka dua. Masih dini hari. Hendardi tersengal-sengal. Seolah ia baru saja berlari jauh. Hendardi mengambil air putih dan meminum untuk menenangkan perasaannya. Ia mencoba menerka apa arti mimpinya. Namun rasa kantuk membuatnya kembali melanjutkan tidurnya.
Bagai disambar petir, esok hari saat Hendardi bangun dari tidur dan membuka pesan WA di ponselnya. Kepala bagian kepegawaian mengirim pesan kepadanya, memberitahu jika Sugiono baru saja meninggal karena serangan jantung. Hendardi lemas. Rekan kerjanya yang sangat baik mendadak meninggal dunia.
Hendardi masih tidak percaya jika Sugiono meninggal. Kemarin sore ia masih sempat bertemu di kampus saat pergantian tugas dengan Sugiono. Tidak tampak tanda-tanda Sugiono sakit. Ia masih kelihatan semangat untuk kerja.
Hendardi mencoba menafsirkan arti mimpinya semalam. Apakah Sugiono yang naik kereta kencana dan terjatuh ke dalam jurang sebagai pertanda ia akan meninggal dunia? Hendardi tentu saja kaget dan merinding sendiri. Betapa tidak, Sugiono baru berusia 35 tahun, terpaut 10 tahun lebih muda dari Hendardi. Mengapa begitu cepat ia menghadap Tuhan?.
Hendardi tak kuasa menahan tangis ketika harus mengumumkan berita lelayu tentang meninggalnya Sugiono lewat gateway WA dosen dan pegawai. Ia tak tahu siapa pegawai yang akan menggantikan Sugiono menyampaikan pesan-pesan fakultas kepada dosen dan pegawai melalui gateway.
Sedih dan terpukul kehilangan teman baik dalam bekerja. Itu yang dirasakan Hendardi. Meski ia yakin, kehidupan dan kematian adalah rahasia ilahi. Tak ada yang tahu kapan orang akan menghadap Tuhan. Dan ia juga tak tahu, kapan dan oleh siapa suatu saat ia akan dikabarkan dalam berita lelayu pesan gateway. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























