25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seabrek Emosional dalam Puisi Para Penampil di Open Mic Baca Puisi Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 7, 2025
in Panggung
Seabrek Emosional dalam Puisi Para Penampil di Open Mic Baca Puisi Rabu Puisi Komunitas Mahima

Adde Maudy Meylia Fathmady

ADA tujuh penampil baca puisi pada acara open mic Rabu Puisi edisi ke-23 yang digelar secara istimewa di Sasana Budaya, Singaraja, Bali, Rabu, 1 Okrober. Sebagian besar dari mereka adalah penulis dan pembaca puisi yang setia datang pada acara Rabu Puisi Komunitas Mahima yang digelar sejak 16 April 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Mereka itu, Rety Wijayanti, Kadek Wisnu Oktaditya, Gede Yoga Wismantara, Chatrine F. Ndrotndrot, Putu Aryati, Adde Maudy Meylia Fathmady, dan Luh Evi Juniari, tampil dengan penuh energi pada acara Rabu Puisi istimewa, 1 Oktober itu.

Salah satu penampil penuh semangat saat itu Gede Yoga Wismantara atau biasa disapa Yoga, untuk unjuk diri. Yoga masih kelas 11 di SMK Negeri 3 Singaraja. Di panggung ketika itu, ia membacakan puisi hasil belajarnya di Rabu Puisi Komunitas Mahima.

Gede Yoga Wismantara | Foto: Komunitas Mahima

Dua hari sebelum Rabu Puisi #23 digelar, Yoga sudah berlatih di rumah. Sudah cakep—siap tampil. Tapi di Hari H, tubuhnya tampak bergetar. Tapi tidak mundur.

“Karena beda aja, biasanya baca puisi di Mahima ditonton teman-teman sendiri, ini ditonton banyak orang,” jelas Yoga.

Puisi berjudul Saksi dibacakan Yoga kemudian. Itu puisi karya Yoga sendiri. Hasil perenungannya tentang seseorang yang tidak selalu didengar.

Hingga akhirnya si tokoh aku lirik memilih jalan kejahatan karena rasa bencinya terhadap orang-orang yang dulu memperlakukannya tidak adil. Ada kemarahan di puisinya, dan tumpah.

Saksi

Sungguh takdir yang tak pernah direstui.
Tak terlintas dalam benak, engkau kan melihatku seperti ini.
kutukan yang berseri.

Hei, para penyelamat.
Mengapa tak ada yang pernah memandangku?
Mengapa tak satupun ada yang menghargaiku?
Mengapa tak ada yang pernah menyebut namaku?

Jika memang begitu, izinkanlah diri ini tuk melupakan semuanya.
Tentu, rembulan masih menyinari kita.
Hatiku yang retak tak berharap engkau kan mencariku.

Maka aku semakin berdosa.
Menghancurkan pikiranku, mengotori tanganku.
Aku bersumpah pada malam tergelap.
Kan ku akhiri semua.
Aku bersaksi!
Yang tersisa hanyalah kenanganmu.
Bawa aku ke tempat jiwa yang hidup tenang.
Tujuan terakhir, bukankah begitu?

Sampai hari ini.
Aku tetap merasakan gelisah jiwa.
Inilah kutukan yang bernama keadilan.
Yang tak pernah engkau tahu.

“Puisi Saksi, saya ambil referensi dari karakter dalam cerita saya sendiri,” jelas Yoga.

Dari pagi, siang, sore hingga larut malam Yoga merenungkan puisi itu, agar bisa tampil lebih maksimal di depan banyak orang.

Chatrine F. Ndrotndrot | Foto: Komunitas Mahima

Suara Yoga ketika membaca itu, rendah-tinggi, tapi lebih banyak rendahnya. Suaranya agak ditekan, atau memang ia tertekan?

Puisi itu memuat tiga hal yang membuatnya emosional ketika membaca puisi itu, yakni  amarah, kebencian, dan juga kesedihan.

Hei, para penyelamat.

Mengapa tak ada yang pernah memandangku?

Di bagian bait itu, Yoga dengan nada bertanya, dengan suara agak keras dari sebelumnya yang rendah.

Yoga menjelaskan, kalimat tadi adalah teriakan protesnya terhadap sesuatu. Kata “Hei”, misalnya, dijadikan alat seruan untuk menarik perhatiannya entah pada siapa, ya, dengan nada menantang.

“Pertanyaan Mengapa? adalah bentuk kemarahan saya pada suatu yang terlembaga,” jelas Yoga.

Kemudian pada kalimat, “Sungguh takdir yang tak pernah direstui“, ia merasakan ada kebencian terhadap takdir dirinya.

Sedang di bagian “tak pernah direstui“, Yoga seolah hendak menunjukkan penolakannya yang total terhadap jalan hidup yang harus dijalaninya itu, yang terasa begitu-begitu saja.

“Ini adalah kebencian terhadap nasib,” tegas Yoga tentang puisi yang dibacakannya.

Kadek Wisnu Oktaditya | Foto: Komunitas Mahima

Selain Yoga, ada juga Kadek Wisnu Oktaditya, atau biasa disapa Wisnu, membawakan puisi sendiri. Wisnu sekolah di SMK Negeri 3 Singaraja, juga sama seperti Yoga, kelas 11.

Ketika tampil-membaca, Wisnu lebih lepas suaranya dibanding Yoga. Namun, keduanya sama memiliki kekuatannya yang unik pada puisinya masing-masing.

Wisnu, dengan puisi hasil karya sendiri dengan judul “Untuk Seorang Dalam Jeritannya”.

Kuteringat waktu itu,
saat kau menjagaku
walau waktu yang
terhitung satu persatu.

Dan aku dibuat nyaman ketika
kau bentangkan payung untuk meneduhkanku
dari malam buta bergantikan biru.

Jelasku ingat hari itu,
kau yang terbaring layu dan selalu
titipkan pesan untukku.
Dan sejak kapan kutemui senyumanmu lagi
sepuluh tahun lalu.

Kini jika sampai payungmu terkoyak,
dan penuhnya genangan tetes
air yang membasuhkanku
dari celah-celah robekannya.

Kuingin kau tak menyirami
tubuhmu sendiri, bila pun terjadi
seperti yang kau minta di hari penantian nanti.

Di kehidupan kedua,
mungkin kau tak sama seperti
biasanya, tapi janganlah kau
tangisi diriku… dan tinggalkan semua
gelisah matamu.

“Puisi ini tentang remaja yang tak ingin seseorang yang telah membesarkannya itu mati,” jelas Wisnu tentang puisinya.

Puisi itu merupakan hasil tangkapan Wisnu tentang manusia yang acapkali tidak sadar atas waktu yang terus berputar seperti jarum jam. Dan ia mengibaratkannya sebagai payung peneduh yang sudah terkoyak oleh usia.

Ketika membaca puisi sendiri, sama seperti Yoga, Wisnu juga merasa gugup walaupun sudah belajar di depan cermin di rumahnya. Tapi ada di bagian puisi itu, Wisnu merasa hatinya tergetar ketika membaca selain keder oleh penampakan penonton yang ramai.

Di bagian—Kuingin kau tak menyirami tubuhmu sendiri, bila pun terjadi seperti yang kau minta di hari penantian nanti.

Air muka Wisnu tampak lebih sendu dari sebelumnya. Selayaknya seseorang mengingat kematian seseorang yang lain, apakah Wisnu juga sedang mengingat kematiannya sendiri? Saya tidak tahu.

Rety Wijayanti | Foto: Komunitas Mahima

Di sisi lain, Rety Wijayanti, asal Banyuwangi yang kuliah di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) itu—juga bagian dari Komunitas Mahima, membawakan puisi WS. Rendra dengan judul—Aku Tulis Pamplet Ini.

Suara keras yang diatur dan tangan yang reflektif bergerak, memberikan kesan puisi itu lebih hidup.

Di bagian;

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi.
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,
menjadi mara-bahaya,
menjadi isi kebon binatang.

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan.
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.

“Relate banget sama pemerintahan di negara sekarang. kaya kita ga bebas buat ngomong, yang terkesan dibatasi. Seolah rakyat nggak boleh bebas bersuara, jadinya, kan, kekuasaan di negara demokrasi ini, bakal dikuasai segelintir orang aja,” rasa Rety tentang puisi itu.

Ketika baca puisi—yang di depannya ada banyak orang, seperti mentalnya penuh percaya diri, suaranya tidak pernah tersendat malu-malu ketika bait demi bait saat tampil.

Putu Aryati | Foto: Komunitas Mahima

Pembacaan lebih liat lagi, juga ada pada Putu Aryati, membawakan puisi Chairil Anwar, dengan judul “Karawang-Bekasi”.

Suara Aryati, lebih nyaring dan menggebu-gebu diantara penampil sebelumnya, termasuk Rety. Memberikan suasana baru ketika siang yang menyengat, ada kehebohan dengan air muka yang penuh semangat.

Nadanya tinggi, tubuh-tangannya bergeliat merspon puisi yang dibacakannya. Kemudian di penampil terakhir usai Chatrine F. Ndrotndrot dan Maudy Meylia Fathmady, ada Luh Evi Juniari, atau biasa disapa Evi, menutup acara open mic.

Ini kali keduanya membawa puisi sendiri setelah ikut serta di Rabu Puisi edisi ke-17 yang dilaksanakan di Buleleng Festival, Rabu, 20 Agustus, lalu.

Luh Evi Juniari | Foto: Komunitas Mahima

Pada penampilan di edisi ke-23 ini, Evi membawakan judul puisi—Kisah Yang Telah Usai.

…seingin apapun rasa yang tertata dalam hati
Pada akhirnya akan kandas meninggalkan sunyi
Kini sepi merenggut diri
Kisah telah usai
Rumah tempat berpulang tak ada lagi..

Terdengar kecewa, sih. Evi, apakah dirimu sedang patah cinta pada kekasihmu yang dulu? Heuheu. Peace. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaPuisiRabu Puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Śāsana Balian Bali dalam Lontar Buddha Kĕcapi

Next Post

Dari Lontar ke Layar Digital: Suara Mpu Kuturan Menggema di Thailand

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails
Next Post
Dari Lontar ke Layar Digital: Suara Mpu Kuturan Menggema di Thailand

Dari Lontar ke Layar Digital: Suara Mpu Kuturan Menggema di Thailand

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Khas

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Khas

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co