23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerak-gerik Budaya Bali

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 1, 2025
in Esai
Gerak-gerik Budaya Bali

Dinamika budaya Bali by Imagen

BUDAYA Bali terus bergerak. Selalu dinamis. Bali berada di simpul cair dalam jaringan dunia, tempat arus manusia, modal, citra, dan gagasan bertemu, berbenturan, dan mencipta. Pagi di Pejeng adalah hening canang sari. Di Canggu, pagi adalah pijar layar laptop yang menyala bagi para pengembara digital, denyutnya terhubung ke zona waktu yang lain. Di sinilah Bali menjadi panggung bagi sebuah drama global: pertarungan antara penyeragaman dan perbanyakan budaya.

Banyak yang khawatir globalisasi akan melahirkan dunia yang seragam, sebuah kebosanan global. Namun, Bali menolak ramalan itu. Di sini, yang terjadi bukanlah homogenisasi, melainkan heterogenisasi. Kelahiran bentuk-bentuk budaya hibrida, lahir dari percakapan sengit antara yang global dan yang lokal.

Mari kita tengok pergerakan budaya Bali lewat kacamata Arjun Appadurai. Baginya, arus global terbagi menjadi ethnoscape (manusia), technoscapes (teknologi), financescapes (modal), mediascapes (citra), dan ideoscapes (gagasan). Kuncinya pada diskoneksi, disjuncture. Kelima arus ini tidak bergerak serempak. Arus itu mengalir dengan kecepatan dan arah yang berbeda, sering kali saling bertabrakan. Gesekan inilah mesinnya. Dari benturan lahir denyut budaya Bali: dinamis, berpacu, dan selalu baru.

Peta Manusia yang Berubah

Manusia adalah arus pertama. Ethnoscape. Lanskap manusia yang terus bergerak ini terdiri dari turis, imigran, pekerja, dan para pelintas batas. Di Bali, arus ini pecah menjadi beberapa aliran. Di jantung Gianyar, turis spiritual datang mencari keheningan. Mereka mengejar citra Bali yang dijual oleh media global: surga untuk penyembuhan jiwa. Di pesisir Canggu, nomaden digital berlabuh. Mereka hidup dari koneksi internet, mencari keseimbangan gaya hidup dalam budaya kerja global. Lalu ada ekspatriat dan investor, pemain jangka panjang yang menancapkan akar di lanskap sosial Bali.

Tiga arus manusia ini menempati ruang yang sama namun dengan mimpi yang berbeda. Gesekan pun tak terhindarkan. Di Canggu, modal asing para nomaden menaikkan harga tanah. Sawah menghilang, tergusur vila. Penduduk lokal terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Inilah wujud nyata dari diskoneksi: daya beli global berbenturan dengan tatanan ekonomi lokal.

Benturan juga terjadi dalam adat. Gaya hidup kaum pendatang (pesta, kebisingan, kebebasan individu) menantang norma komunal Bali yang hening dan sakral. Petisi 8.000 warga Canggu yang muak dengan polusi suara adalah bukti perlawanan. Di sini, ideoscapes kebebasan personal dari Barat bertabrakan dengan ideoscapes harmoni komunal Bali.

Kode, Modal, dan Beton

Teknologi dan modal adalah urat nadi kembar globalisasi. Technoscapes dan financescapes mengalir cepat, tak terlihat, sering kali lepas dari kendali manusia. Di Bali, keduanya mengubah wajah pulau secara radikal.

Lihatlah jalanan. Aplikasi seperti Gojek dan Grab datang membawa kode algoritma. Keduanya menawarkan efisiensi dan harga pasti. Namun, teknologi ini menghantam sistem transportasi lokal yang berbasis komunitas dan teritori. “Zona larangan” muncul sebagai benteng pertahanan. Ketegangan muncul. Inilah perang antara teknologi tanpa batas dan ekonomi lokal yang terikat pada ruang. Pada akhirnya, kode menang, mengubah cara orang bergerak dan mencari nafkah.

Lihatlah tanah. Modal global membanjiri pasar properti Bali. Uang bisa melintasi dunia dalam sedetik, buta terhadap hukum dan adat setempat. Undang-undang Indonesia melarang asing memiliki tanah, namun derasnya modal menciptakan pasar gelap “nominee”. Investor asing menumpang nama lokal, sebuah pertaruhan berisiko tinggi.

Teknologi mempercepat proses ini. Platform seperti Airbnb mengubah rumah menjadi mesin uang, mendorong konversi sawah menjadi vila beton. Sawah ikonik Bali pun tergusur. Diskoneksi di sini begitu telanjang: modal dan teknologi yang cair dan tak terbatas melawan tanah yang terikat oleh hukum, adat, dan spiritualitas. Dari gesekan ini lahir ekonomi, tetapi juga konflik dan lanskap yang terluka.

Pertarungan Citra di Pulau Surga

Citra dan gagasan adalah arus yang tak kalah kuat. Mediascapes dan ideoscapes membangun “dunia yang dibayangkan” yang mendorong manusia bergerak. Selama puluhan tahun, media global melukis Bali sebagai surga nan indah. Sebuah fantasi spiritual yang dikukuhkan oleh buku dan film Eat, Pray, Love.

Citra ini melahirkan sebuah ideologi: Bali adalah tempat menemukan diri, menyembuhkan luka. Ideologi ini menarik para turis spiritual ke Ubud. Sementara itu, ideologi lain tentang kebebasan digital dan hidup seimbang mengalir deras di media sosial. Undangan indah bagi para nomaden digital ke Canggu. Bali menjadi layar proyeksi bagi mimpi-mimpi dunia.

Namun, orang Bali tidak diam. Mereka melawan dengan gagasan sendiri: Tri Hita Karana. Filosofi ini jadi perisai. Tiga penyebab kesejahteraan: harmoni dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Dalam dunia modern, Tri Hita Karana bukan lagi sekadar ajaran spiritual. Ia dibingkai ulang sebagai model pariwisata berkelanjutan, sebuah jawaban atas pembangunan yang hanya mengejar laba.

Maka, terjadilah perang imajinasi. Citra Bali yang dibayangkan dunia bertemu dengan dunia yang dibayangkan oleh orang Bali sendiri. Tesis global melahirkan masalah, yang dijawab dengan antitesis lokal.

Mengelola Arus Global, Simfoni yang Tak Usai

Arus global tidak pernah diterima secara pasif. Arus itu selalu “dijinakkan” atau di-indigenisasi: diserap, ditafsir ulang, dan dipadukan dengan logika lokal. Di sinilah heterogenisasi terjadi. Bali ahlinya.

Industri pariwisata wellness di Ubud adalah contoh sempurna. Praktik sakral Hindu-Bali seperti ritual penyucian Melukat atau membuat sesajen canang sari, dikemas ulang menjadi produk yang bisa dibeli turis. Melukat menjadi sesi detoks spiritual. Canang sari menjadi lokakarya budaya. Ini bukan penghapusan, melainkan transformasi. Budaya diadaptasi agar selamat secara ekonomi, melahirkan lanskap spiritual-komersial yang baru.

Di garis depan negosiasi ini berdiri para seniman kontemporer Bali. Mereka tidak menolak dunia. Mereka meminjam bahasa seni global untuk mengkritik perubahan di tanah mereka. Seniman seperti I Wayan Bendi menggunakan kuas dan kanvas untuk membedah disjungsi yang terjadi. Ini bukanlah penyerahan diri pada budaya luar, melainkan artikulasi perlawanan yang cerdas dan dinamis.

Gesekan di antara arus-arus yang tak selaras itu kemudian jadi sumber kehidupan budaya Bali. Konflik antara pendatang dan penduduk lokal, antara aplikasi dan adat, antara beton dan sawah. Semua itu bukanlah tanda kematian. Justru dari sanalah lahir bentuk-bentuk perdebatan dan kesadaran diri yang baru.

Bali tak jadi seragam. Bali telah menjadi ruang di mana begitu banyak “dunia yang dibayangkan” hidup berdampingan, sering kali dalam ketegangan. Ada dunia mimpi para pencari spiritual, para nomaden digital, dan para investor. Dan yang terpenting, ada dunia yang dibayangkan oleh orang Bali sendiri, yang terus-menerus merundingkan masa depannya.

Budaya Bali hari ini membuktikan globalisasi bukanlah jalan satu arah menuju kesamaan. Diskoneksi dan perbedaan justru mampu melahirkan lanskap kreativitas budaya yang dalam, menantang, dan tak pernah usai. [T]

Daftar Pustaka

Ardhana, I Ketut, dkk. 2012. Komodifikasi Identitas Bali Kontemporer. Pustaka Larasan: Denpasar.

Appadurai, Arjun. 1986. The Social Life of Things: Commodities in Cultural Perspective. Cambridge: Cambridge University Press.

Appadurai, Arjun. 1990. “Disjuncture and Difference in the Global Cultural Economy” dalam Theory, Culture, and Society. London, Newbury Park and New Delhi: SAGE Publication.

Tags: BudayaBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahasa Masyarakat Vernakular yang Kian Terpinggirkan

Next Post

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co