23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Made Chandra by Made Chandra
September 30, 2025
in Esai
Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Foto: Made Chandra

TAK bisa dipungkiri, dengan segala akses yang dimiliki Bali sebagai sebuah melting pot pertemuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, membuat Bali begitu rentan dijadikan lahan bernaung bagi para investor demi mendapat keuntungan semata dari kekayaan alam dan budayanya. Problematika ini kerap menghadirkan dua sisi yang saling berlawanan: di satu pihak, pariwisata berperan dalam menopang pembangunan ekonomi lokal; namun di pihak lain, ia dapat menjadi pemicu dekadensi budaya dan terkikisnya nilai-nilai kelokalan yang dikorbankan demi keuntungan segelintir pihak saja.  

Source : Indozone/ M Fadli

Parawisata berbasis kelokalan kini seakan menjelma menjadi tren yang menjamur di berbagai sudut Bali, Dalam banyak kasus, strategi ini justru menjadi siasat cerdas untuk berkelak dari stigma negatif masyrakat terhadap industri parawisata yang selama ini kerap dianggap mengorbankan budaya lokal serta mendorong dekadensi nilai-nilai yang telah lama mengakar di masyrakat sekitar.

Tidak jarang, cara untuk meredam kritik publik hanyalah dengan membungkus program pariwisata dalam kulit “kelokalan,” semata-mata demi membangun simpati publik yang positif. Sementara itu, narasi tentang tumbuhnya lapangan kerja dan meningkatnya ekonomi lokal kerap dijadikan tameng untuk menutupi kenyataan: pembangunan yang marak justru mencaplok sebagian besar wilayah Bali, yang banyak dimiliki investor luar, hingga perlahan menjadikan masyarakat Bali sebagai “turis” di tanahnya sendiri.

Seni Ruang Publik

karya patung I Ketut Putrayasa | Source : baliexpress.jawapos.com

Salah satu instrumen utama yang sering digunakan dalam menggerakan industri pariwisata Bali adalah pemanfaatan seni di ruang publik. Dengan luasnya bentangan lanskap yang dimiliki bali—mulai dari pesisir yang landai hingga tebing-tebing kapur menjulang—menjadi ruang yang seksi untuk diolah sebagai destinasi wisata berbasis seni dan tradisi. Tak jarang kehadiran objek-objek monumental menjadi pilihan utama dalam menarik perhatian masyarakat luas, sekaligus membangun citra “ikon” parawisata baru.

Namun disisi lain, seni berbasis objek gigantik yang dibangun demi parawisata lebih sering hadir sebagai simbol kapital ketimbang ruang dialog antara masyarakat dan budayanya. Akibatnya, ikon yang selayaknya dirancang sebagai ruang komunikasi antar masyarakat, hanya menjadi komoditas turistik yang tak berpihak pada masyarakat lokal.

Source : Detik.com, Rachman_haryanto

Kasus GWK menjadi contoh paling hype dimana seni di ruang publik menjadi titik panas konflik antara kepentingan para pemodal dan warga lokal yang perlahan-lahan diambil haknya. di balik megahnya patung yang menjulang tinggi di atas bukit kapur, hadir polemik antara kehadiran GWK sebagai ruang publik dan realitas tempat tinggal masyarakat Bali di sekitarnya.

Pembangunan kawasan wisata sedikit demi sedikit menggeser ruang tempat tinggal, dan identitas kultural masyarakat lokal yang terkadang terpinggirkan oleh kebutuhan pariwisata massal. Kehadiran GWK juga menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan ruang publik. Apakah GWK menjadi milik bersama yang memberi manfaat bagi warga lokal, atau justru lebih menguntungkan investor dan turis? Polemik ini memperlihatkan adanya tarik menarik antara kepentingan seni monumental, pariwisata global, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang masih berpegang pada tradisi.

Polemik ini menjadi tamparan keras bagaimana ikon-ikon monumental yang awalnya diharapkan mewakili identitas kultural masyrakat lokal justru menjadi pedang yang perlahan mengikis dan meminggirkan masyarakat dari tanahnya sendiri. Ironi ini mengingatkan kita tentang  bagaimana Pembangunan yang selalu dijanjikan manis dan menawarkan utopia, sering kali berbicara sebaliknya. Bangunan yang menjulang tinggi kadang menjadi tembok yang justru mendukung privatisasi akses ruang publik.

Konflik penutupan akses jalan warga lokal sekitar GWK | Source : Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

Masyrakat Apatis

Kini kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah pariwisata ada untuk Bali, atau justru Bali dikorbankan untuk pariwisata? Tanah yang dahulu bebas dinikmati masyarakat kini perlahan beralih menjadi milik segelintir elite bermodal tak terbatas. Dalam situasi ini, masyarakat lokal sepatutnya berperan sebagai alarm pengingat—untuk tetap kritis terhadap perubahan yang terjadi, dan untuk memastikan bagaimana tanah dikelola, baik demi kelestarian tradisi adiluhung maupun demi kesejahteraan yang mengutamakan kepentingan publik secara luas.

Source : Made Chandra

Dalam pusaran persoalan ini, masyarakat lokal sepatutnya menjadi alarm pengingat—bukan hanya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan tradisi, tetapi juga untuk menegaskan kembali bagaimana tanah seharusnya dikelola. Tanah bukan semata ruang fisik yang bisa dipindahtangankan, melainkan warisan kultural yang mengandung memori kolektif, nilai adiluhung, sekaligus sumber kesejahteraan yang semestinya mementingkan kepentingan publik. Jika kontrol atas tanah sepenuhnya lepas ke tangan pemodal, maka yang hilang bukan hanya ruang hidup, tetapi juga identitas kelokalan.  

Berbagai problematika yang muncul tidak hanya menyangkut kelonggaran kebijakan pemerintah, tetapi juga sikap sebagian masyarakat yang memilih “tone deaf,” bersikap seolah tak ada yang terjadi. Realitas hari ini justru memperlihatkan bahwa orang bodoh yang pandai beretorika dapat dengan mudah mengalahkan orang pintar yang memilih berdiam diri.

Pada akhirnya, risiko terbesar dari semua ini adalah masa depan. Jangan salahkan siapa pun jika di kemudian hari anak cucu kita hanya bisa menjadi “turis” di tanah leluhurnya sendiri—membayar untuk tinggal, menyewa untuk hidup, dan sekadar menonton dari jauh bagaimana identitas mereka perlahan dijual atas nama pariwisata. Pertanyaan yang harus dijawab sejak hari ini adalah: apakah kita rela mewariskan tanah leluhur sebagai aset yang terasing dari generasi penerus, ataukah kita memilih menjaga agar Bali tetap menjadi rumah bagi mereka yang lahir dan tumbuh di dalamnya? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Tags: baliruang publikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pola Konsumsi Gula Pada Lansia

Next Post

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co