26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Made Chandra by Made Chandra
September 30, 2025
in Esai
Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali

Foto: Made Chandra

TAK bisa dipungkiri, dengan segala akses yang dimiliki Bali sebagai sebuah melting pot pertemuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, membuat Bali begitu rentan dijadikan lahan bernaung bagi para investor demi mendapat keuntungan semata dari kekayaan alam dan budayanya. Problematika ini kerap menghadirkan dua sisi yang saling berlawanan: di satu pihak, pariwisata berperan dalam menopang pembangunan ekonomi lokal; namun di pihak lain, ia dapat menjadi pemicu dekadensi budaya dan terkikisnya nilai-nilai kelokalan yang dikorbankan demi keuntungan segelintir pihak saja.  

Source : Indozone/ M Fadli

Parawisata berbasis kelokalan kini seakan menjelma menjadi tren yang menjamur di berbagai sudut Bali, Dalam banyak kasus, strategi ini justru menjadi siasat cerdas untuk berkelak dari stigma negatif masyrakat terhadap industri parawisata yang selama ini kerap dianggap mengorbankan budaya lokal serta mendorong dekadensi nilai-nilai yang telah lama mengakar di masyrakat sekitar.

Tidak jarang, cara untuk meredam kritik publik hanyalah dengan membungkus program pariwisata dalam kulit “kelokalan,” semata-mata demi membangun simpati publik yang positif. Sementara itu, narasi tentang tumbuhnya lapangan kerja dan meningkatnya ekonomi lokal kerap dijadikan tameng untuk menutupi kenyataan: pembangunan yang marak justru mencaplok sebagian besar wilayah Bali, yang banyak dimiliki investor luar, hingga perlahan menjadikan masyarakat Bali sebagai “turis” di tanahnya sendiri.

Seni Ruang Publik

karya patung I Ketut Putrayasa | Source : baliexpress.jawapos.com

Salah satu instrumen utama yang sering digunakan dalam menggerakan industri pariwisata Bali adalah pemanfaatan seni di ruang publik. Dengan luasnya bentangan lanskap yang dimiliki bali—mulai dari pesisir yang landai hingga tebing-tebing kapur menjulang—menjadi ruang yang seksi untuk diolah sebagai destinasi wisata berbasis seni dan tradisi. Tak jarang kehadiran objek-objek monumental menjadi pilihan utama dalam menarik perhatian masyarakat luas, sekaligus membangun citra “ikon” parawisata baru.

Namun disisi lain, seni berbasis objek gigantik yang dibangun demi parawisata lebih sering hadir sebagai simbol kapital ketimbang ruang dialog antara masyarakat dan budayanya. Akibatnya, ikon yang selayaknya dirancang sebagai ruang komunikasi antar masyarakat, hanya menjadi komoditas turistik yang tak berpihak pada masyarakat lokal.

Source : Detik.com, Rachman_haryanto

Kasus GWK menjadi contoh paling hype dimana seni di ruang publik menjadi titik panas konflik antara kepentingan para pemodal dan warga lokal yang perlahan-lahan diambil haknya. di balik megahnya patung yang menjulang tinggi di atas bukit kapur, hadir polemik antara kehadiran GWK sebagai ruang publik dan realitas tempat tinggal masyarakat Bali di sekitarnya.

Pembangunan kawasan wisata sedikit demi sedikit menggeser ruang tempat tinggal, dan identitas kultural masyarakat lokal yang terkadang terpinggirkan oleh kebutuhan pariwisata massal. Kehadiran GWK juga menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan ruang publik. Apakah GWK menjadi milik bersama yang memberi manfaat bagi warga lokal, atau justru lebih menguntungkan investor dan turis? Polemik ini memperlihatkan adanya tarik menarik antara kepentingan seni monumental, pariwisata global, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang masih berpegang pada tradisi.

Polemik ini menjadi tamparan keras bagaimana ikon-ikon monumental yang awalnya diharapkan mewakili identitas kultural masyrakat lokal justru menjadi pedang yang perlahan mengikis dan meminggirkan masyarakat dari tanahnya sendiri. Ironi ini mengingatkan kita tentang  bagaimana Pembangunan yang selalu dijanjikan manis dan menawarkan utopia, sering kali berbicara sebaliknya. Bangunan yang menjulang tinggi kadang menjadi tembok yang justru mendukung privatisasi akses ruang publik.

Konflik penutupan akses jalan warga lokal sekitar GWK | Source : Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

Masyrakat Apatis

Kini kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah pariwisata ada untuk Bali, atau justru Bali dikorbankan untuk pariwisata? Tanah yang dahulu bebas dinikmati masyarakat kini perlahan beralih menjadi milik segelintir elite bermodal tak terbatas. Dalam situasi ini, masyarakat lokal sepatutnya berperan sebagai alarm pengingat—untuk tetap kritis terhadap perubahan yang terjadi, dan untuk memastikan bagaimana tanah dikelola, baik demi kelestarian tradisi adiluhung maupun demi kesejahteraan yang mengutamakan kepentingan publik secara luas.

Source : Made Chandra

Dalam pusaran persoalan ini, masyarakat lokal sepatutnya menjadi alarm pengingat—bukan hanya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan tradisi, tetapi juga untuk menegaskan kembali bagaimana tanah seharusnya dikelola. Tanah bukan semata ruang fisik yang bisa dipindahtangankan, melainkan warisan kultural yang mengandung memori kolektif, nilai adiluhung, sekaligus sumber kesejahteraan yang semestinya mementingkan kepentingan publik. Jika kontrol atas tanah sepenuhnya lepas ke tangan pemodal, maka yang hilang bukan hanya ruang hidup, tetapi juga identitas kelokalan.  

Berbagai problematika yang muncul tidak hanya menyangkut kelonggaran kebijakan pemerintah, tetapi juga sikap sebagian masyarakat yang memilih “tone deaf,” bersikap seolah tak ada yang terjadi. Realitas hari ini justru memperlihatkan bahwa orang bodoh yang pandai beretorika dapat dengan mudah mengalahkan orang pintar yang memilih berdiam diri.

Pada akhirnya, risiko terbesar dari semua ini adalah masa depan. Jangan salahkan siapa pun jika di kemudian hari anak cucu kita hanya bisa menjadi “turis” di tanah leluhurnya sendiri—membayar untuk tinggal, menyewa untuk hidup, dan sekadar menonton dari jauh bagaimana identitas mereka perlahan dijual atas nama pariwisata. Pertanyaan yang harus dijawab sejak hari ini adalah: apakah kita rela mewariskan tanah leluhur sebagai aset yang terasing dari generasi penerus, ataukah kita memilih menjaga agar Bali tetap menjadi rumah bagi mereka yang lahir dan tumbuh di dalamnya? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Tags: baliruang publikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pola Konsumsi Gula Pada Lansia

Next Post

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Ini Tembok GWK, Bukan Tembok Berlin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co