27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 16, 2025
in Esai
Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Ilustrasi tatlkala.co | Diolah dengan Canva

BERBEDA dengan ilmu kedokteran Barat, diagnosa penyakit jiwa di Bali agaknya lebih spesifik, bahkan cenderung sangat kasat mata. Dalam Lontar Usada Buduh, gejala dan klasifikasi orang yang dianggap “buduh”—sebuah istilah lokal untuk gangguan jiwa—lebih pada kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.

Misalnya, ada orang yang suka melucu dan tertawa sendiri, ada yang senang menyanyi atau menari tanpa alasan, ada pula yang berjalan mondar-mandir ke sana kemari seakan tak pernah menemukan tempatnya. Yang lain digambarkan sering merasa takut, gemetar, atau suka memungut barang-barang di jalan. Setiap perilaku itu dianggap ciri, tanda, bahkan kategori tersendiri dari sakit jiwa.

Di masa lalu, penyakit jiwa masih bersifat generik. Belum ada pembedaan rumit seperti dalam klasifikasi kedokteran modern, seperti skizofrenia paranoid, bipolar, depresi mayor, gangguan kecemasan, dan seterusnya. Usada Buduh tidak mengenal istilah-istilah semacam itu. Yang ada hanyalah tanda-tanda yang menempel di tubuh dan jiwa seseorang. Lalu penawarnya, adalah ramuan obat, boreh, bedak, minuman, atau tetesan mata dan hidung. Uniknya, hampir semua ramuan berbahan air, daun, umbi, bunga, hingga rempah yang tumbuh di pekarangan rumah orang Bali.

Kalau sekarang psikiater menulis resep antipsikotik, antidepresan, atau stabilisator mood, maka dulu balian menumbuk daun kelor, lempuyang, gadung, jintan hitam, atau bunga kenanga. Obat-obat itu lalu diminum, ditempelkan di tubuh, diteteskan ke mata, atau dipakai sebagai boreh. Sambil memberi ramuan, balian juga membacakan mantra—sebuah aspek yang menandai bahwa sakit jiwa tak hanya diobati secara jasmani, tapi juga secara niskala, spiritual.

Saya membaca ulang buku Usada Buduh: Pengobatan Alternatif Sakit Gila karya I Gede Sugata Yadnya Manuaba. Buku ini merupakan alihaksara dan alihbahasa dari lontar, sekaligus memberi penjelasan modern, diterbitkan oleh Pustaka Bali Post pada 2012. Dari sana tampak betapa kaya pengetahuan tradisional Bali soal jiwa. Ada tak kurang dari tiga puluh dua resep untuk mengobati orang sakit jiwa, masing-masing disesuaikan dengan gejalanya.

Bayangkan, seorang pasien yang suka tertawa dan melucu akan diberi ramuan paria, lempuyang, ketumbar, tri ketuka, dicampur air cuka. Bahkan umbi gadung yang biasanya beracun ikut dipakai, tentu dengan takaran khusus. Ampas ramuan itu dipakai sebagai bedak, serupa terapi luar. Sementara pasien yang suka bermain kotoran akan ditempeli ramuan dari sulasih, ginten hitam, bunga sarem, dan semut hitam. Ada juga yang disebut “suka berkata aneh” akan diberi ramuan daun kelor munggi, kesawi, bawang, adas, tri ketuka, diminum lalu diteteskan ke mata dan hidung.

Bahkan epilepsi, yang di dunia medis modern dipahami sebagai gangguan saraf, dimasukkan dalam klasifikasi “buduh”. Penawarnya berupa pacipaci, kemiri, pala, jarangan, dan mungsi. Ramuan itu diminum, ampasnya menjadi boreh. Semuanya dibungkus dalam satu kesadaran bahwa tubuh, jiwa, dan alam adalah satu jaringan yang tak terpisahkan.

Membaca resep-resep itu, saya merasa orang Bali zaman dahulu sangat jeli dalam mengamati perilaku. Mereka tak memberi label abstrak seperti “psikotik” atau “depresif”, melainkan menunjuk langsung ke kebiasaan sehari-hari, seperti, tertawa, menangis, marah, berlari, diam, bahkan tidur terus. Dari hal-hal sederhana itulah diagnosa ditegakkan.

Hari ini, gejala sakit jiwa meningkat di banyak tempat. Kota-kota besar dengan tekanan ekonomi, ritme kerja, dan keterasingan sosial menghasilkan banyak orang yang kelelahan jiwa. Pandemi (dan juga bencana alam) lalu memperparah segalanya. Banyak orang kehilangan pekerjaan, kehilangan orang terdekat, kehilangan arah. Tak sedikit yang jatuh pada depresi, kecemasan, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Ada yang bisa pulih setelah berobat ke psikiater, rutin minum obat, dan mendapat dukungan keluarga. Ada juga yang merasa lebih baik setelah berkonsultasi dengan penyembuh tradisional, mendapatkan terapi doa, meditasi, atau ramuan herbal. Di Bali, dua dunia ini kini coba dipertemukan.

Salah satu contohnya ada di Rumah Sakit Bali Mandara, Sanur-Denpasar. Di sana, pemerintah provinsi Bali menguji coba model pelayanan kesehatan integratif. Artinya, pasien bisa berobat dengan pendekatan medis modern—bertemu dokter spesialis jiwa, menjalani terapi obat—tapi juga mendapatkan pelayanan pengobatan tradisional Bali. Balian dihadirkan, jamu dan ramuan herbal dipakai, doa dan ritual diperkenankan. Tentu dengan pengawasan medis agar tak terjadi efek samping atau penyalahgunaan.

Saya belum sempat datang langsung ke sana, tapi suatu saat saya akan ke sana. Rasanya penting mengetahui bagaimana dua dunia yang sering dianggap bertentangan itu bisa berjalan beriringan. Dari luar, ini terlihat sebagai inovasi bagus. Sejatinya kesehatan memang bersifat holistik. Sakit bukan hanya soal tubuh, melainkan juga pikiran, perasaan, bahkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.

Pendekatan holistik ini sebenarnya bukan hal baru di Bali. Sejak 1990-an, Prof. Luh Ketut Suryani, seorang psikiater kawakan, sudah mengembangkan model pengobatan gangguan jiwa dengan cara berbeda. Ia mendirikan Suryani Institute for Mental Health, yang menangani pasien bukan hanya dengan obat medis, tapi juga dengan meditasi dan terapi komunitas.

Saya pernah membaca kisah pasien yang selama bertahun-tahun dipasung oleh keluarganya. Saat bertemu tim Prof. Suryani, ia diajak meditasi, diberi ruang untuk mengolah batin, sembari tetap mendapatkan obat medis yang diperlukan. Hasilnya menakjubkan, pasien itu perlahan pulih, bahkan bisa kembali bekerja. Prof. Suryani percaya, jiwa manusia punya daya sembuh luar biasa bila disentuh dengan pendekatan spiritual dan kasih sayang.

Bagi saya, inilah inti dari usada, bahwa penyembuhan bukan hanya soal menghilangkan gejala, tetapi mengembalikan keseimbangan. Keseimbangan antara tubuh, pikiran, jiwa, dan alam. Di sini modernitas bisa belajar dari tradisi, dan tradisi bisa mendapat validasi dari sains.

Tentu saja, kita tak bisa begitu saja kembali ke masa lalu. Tidak semua resep dalam Usada Buduh relevan atau aman bila dipraktikkan hari ini. Beberapa bahan seperti umbi gadung atau semut hitam perlu pengolahan khusus agar tidak berbahaya. Tetapi yang patut dipelajari adalah cara pandang orang Bali terhadap sakit jiwa, mereka tidak menstigma. Mereka tidak menyebut orang “gila” lalu menyingkirkannya. Mereka mencoba memberi obat, memberi doa, memberi ritual. Ada usaha untuk memulihkan, bukan membuang.

Dalam banyak lontar usada, termasuk Usada Buduh, mantra selalu menyertai ramuan. Mantra itu bukan sekadar jampi-jampi kosong. Ia adalah bahasa doa, sugesti, bahkan komunikasi batin antara tabib dan pasien. Dengan mantra, orang merasa diperhatikan, diperkuat, dan disambungkan kembali dengan dunia spiritual. Di sinilah penyembuhan jiwa memperoleh maknanya.

Kini, ketika saya melihat banyak orang muda mengalami stres, burnout, depresi, saya jadi teringat lontar-lontar itu. Seakan leluhur sudah menulis pesan: jagalah jiwa, jangan biarkan ia sendirian. Tertawa berlebihan, menangis tanpa alasan, berlari tanpa tujuan—semua adalah tanda yang tak boleh diabaikan.

Barat mungkin memberi label, diantaranya bipolar, depresi, psikotik. Bali menuliskan gejala itu dengan bahasa sehari-hari, seperti misalnya suka bernyanyi, suka melucu, suka marah, suka tidur. Dua-duanya punya nilai. Sains memberi struktur, tradisi memberi rasa. Jika keduanya bertemu, mungkin kita akan lebih bijak dalam merawat jiwa.

Bali memang pulau dengan ribuan pura, upacara, dan ritual. Orang bisa berpura-pura bahagia, tertawa di panggung pariwisata, tapi tetap menyimpan kegelisahan di dalam. Usada Buduh mengingatkan bahwa di balik senyum ada luka, di balik tari ada tangis, di balik doa ada jiwa yang rapuh.

Mungkin sudah waktunya kita membaca kembali lontar-lontar itu, bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk menemukan kearifan yang bisa menyembuhkan masa kini. Jiwa manusia Bali—dan manusia pada umumnya—terlalu berharga untuk dibiarkan hancur oleh tekanan hidup modern. [T]

Denpasar, Agustus 2022-September 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwalontar usadaODGJusada
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Idealisme Lebih Keren dari Kenyamanan: Bersama Bung Karno Mencintai Ibu Pertiwi

Next Post

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
0
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

Read moreDetails

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails
Next Post
Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co