3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 16, 2025
in Esai
Sakit Jiwa Ala Bali – Membaca Ulang Buku Usada Buduh

Ilustrasi tatlkala.co | Diolah dengan Canva

BERBEDA dengan ilmu kedokteran Barat, diagnosa penyakit jiwa di Bali agaknya lebih spesifik, bahkan cenderung sangat kasat mata. Dalam Lontar Usada Buduh, gejala dan klasifikasi orang yang dianggap “buduh”—sebuah istilah lokal untuk gangguan jiwa—lebih pada kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.

Misalnya, ada orang yang suka melucu dan tertawa sendiri, ada yang senang menyanyi atau menari tanpa alasan, ada pula yang berjalan mondar-mandir ke sana kemari seakan tak pernah menemukan tempatnya. Yang lain digambarkan sering merasa takut, gemetar, atau suka memungut barang-barang di jalan. Setiap perilaku itu dianggap ciri, tanda, bahkan kategori tersendiri dari sakit jiwa.

Di masa lalu, penyakit jiwa masih bersifat generik. Belum ada pembedaan rumit seperti dalam klasifikasi kedokteran modern, seperti skizofrenia paranoid, bipolar, depresi mayor, gangguan kecemasan, dan seterusnya. Usada Buduh tidak mengenal istilah-istilah semacam itu. Yang ada hanyalah tanda-tanda yang menempel di tubuh dan jiwa seseorang. Lalu penawarnya, adalah ramuan obat, boreh, bedak, minuman, atau tetesan mata dan hidung. Uniknya, hampir semua ramuan berbahan air, daun, umbi, bunga, hingga rempah yang tumbuh di pekarangan rumah orang Bali.

Kalau sekarang psikiater menulis resep antipsikotik, antidepresan, atau stabilisator mood, maka dulu balian menumbuk daun kelor, lempuyang, gadung, jintan hitam, atau bunga kenanga. Obat-obat itu lalu diminum, ditempelkan di tubuh, diteteskan ke mata, atau dipakai sebagai boreh. Sambil memberi ramuan, balian juga membacakan mantra—sebuah aspek yang menandai bahwa sakit jiwa tak hanya diobati secara jasmani, tapi juga secara niskala, spiritual.

Saya membaca ulang buku Usada Buduh: Pengobatan Alternatif Sakit Gila karya I Gede Sugata Yadnya Manuaba. Buku ini merupakan alihaksara dan alihbahasa dari lontar, sekaligus memberi penjelasan modern, diterbitkan oleh Pustaka Bali Post pada 2012. Dari sana tampak betapa kaya pengetahuan tradisional Bali soal jiwa. Ada tak kurang dari tiga puluh dua resep untuk mengobati orang sakit jiwa, masing-masing disesuaikan dengan gejalanya.

Bayangkan, seorang pasien yang suka tertawa dan melucu akan diberi ramuan paria, lempuyang, ketumbar, tri ketuka, dicampur air cuka. Bahkan umbi gadung yang biasanya beracun ikut dipakai, tentu dengan takaran khusus. Ampas ramuan itu dipakai sebagai bedak, serupa terapi luar. Sementara pasien yang suka bermain kotoran akan ditempeli ramuan dari sulasih, ginten hitam, bunga sarem, dan semut hitam. Ada juga yang disebut “suka berkata aneh” akan diberi ramuan daun kelor munggi, kesawi, bawang, adas, tri ketuka, diminum lalu diteteskan ke mata dan hidung.

Bahkan epilepsi, yang di dunia medis modern dipahami sebagai gangguan saraf, dimasukkan dalam klasifikasi “buduh”. Penawarnya berupa pacipaci, kemiri, pala, jarangan, dan mungsi. Ramuan itu diminum, ampasnya menjadi boreh. Semuanya dibungkus dalam satu kesadaran bahwa tubuh, jiwa, dan alam adalah satu jaringan yang tak terpisahkan.

Membaca resep-resep itu, saya merasa orang Bali zaman dahulu sangat jeli dalam mengamati perilaku. Mereka tak memberi label abstrak seperti “psikotik” atau “depresif”, melainkan menunjuk langsung ke kebiasaan sehari-hari, seperti, tertawa, menangis, marah, berlari, diam, bahkan tidur terus. Dari hal-hal sederhana itulah diagnosa ditegakkan.

Hari ini, gejala sakit jiwa meningkat di banyak tempat. Kota-kota besar dengan tekanan ekonomi, ritme kerja, dan keterasingan sosial menghasilkan banyak orang yang kelelahan jiwa. Pandemi (dan juga bencana alam) lalu memperparah segalanya. Banyak orang kehilangan pekerjaan, kehilangan orang terdekat, kehilangan arah. Tak sedikit yang jatuh pada depresi, kecemasan, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Ada yang bisa pulih setelah berobat ke psikiater, rutin minum obat, dan mendapat dukungan keluarga. Ada juga yang merasa lebih baik setelah berkonsultasi dengan penyembuh tradisional, mendapatkan terapi doa, meditasi, atau ramuan herbal. Di Bali, dua dunia ini kini coba dipertemukan.

Salah satu contohnya ada di Rumah Sakit Bali Mandara, Sanur-Denpasar. Di sana, pemerintah provinsi Bali menguji coba model pelayanan kesehatan integratif. Artinya, pasien bisa berobat dengan pendekatan medis modern—bertemu dokter spesialis jiwa, menjalani terapi obat—tapi juga mendapatkan pelayanan pengobatan tradisional Bali. Balian dihadirkan, jamu dan ramuan herbal dipakai, doa dan ritual diperkenankan. Tentu dengan pengawasan medis agar tak terjadi efek samping atau penyalahgunaan.

Saya belum sempat datang langsung ke sana, tapi suatu saat saya akan ke sana. Rasanya penting mengetahui bagaimana dua dunia yang sering dianggap bertentangan itu bisa berjalan beriringan. Dari luar, ini terlihat sebagai inovasi bagus. Sejatinya kesehatan memang bersifat holistik. Sakit bukan hanya soal tubuh, melainkan juga pikiran, perasaan, bahkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.

Pendekatan holistik ini sebenarnya bukan hal baru di Bali. Sejak 1990-an, Prof. Luh Ketut Suryani, seorang psikiater kawakan, sudah mengembangkan model pengobatan gangguan jiwa dengan cara berbeda. Ia mendirikan Suryani Institute for Mental Health, yang menangani pasien bukan hanya dengan obat medis, tapi juga dengan meditasi dan terapi komunitas.

Saya pernah membaca kisah pasien yang selama bertahun-tahun dipasung oleh keluarganya. Saat bertemu tim Prof. Suryani, ia diajak meditasi, diberi ruang untuk mengolah batin, sembari tetap mendapatkan obat medis yang diperlukan. Hasilnya menakjubkan, pasien itu perlahan pulih, bahkan bisa kembali bekerja. Prof. Suryani percaya, jiwa manusia punya daya sembuh luar biasa bila disentuh dengan pendekatan spiritual dan kasih sayang.

Bagi saya, inilah inti dari usada, bahwa penyembuhan bukan hanya soal menghilangkan gejala, tetapi mengembalikan keseimbangan. Keseimbangan antara tubuh, pikiran, jiwa, dan alam. Di sini modernitas bisa belajar dari tradisi, dan tradisi bisa mendapat validasi dari sains.

Tentu saja, kita tak bisa begitu saja kembali ke masa lalu. Tidak semua resep dalam Usada Buduh relevan atau aman bila dipraktikkan hari ini. Beberapa bahan seperti umbi gadung atau semut hitam perlu pengolahan khusus agar tidak berbahaya. Tetapi yang patut dipelajari adalah cara pandang orang Bali terhadap sakit jiwa, mereka tidak menstigma. Mereka tidak menyebut orang “gila” lalu menyingkirkannya. Mereka mencoba memberi obat, memberi doa, memberi ritual. Ada usaha untuk memulihkan, bukan membuang.

Dalam banyak lontar usada, termasuk Usada Buduh, mantra selalu menyertai ramuan. Mantra itu bukan sekadar jampi-jampi kosong. Ia adalah bahasa doa, sugesti, bahkan komunikasi batin antara tabib dan pasien. Dengan mantra, orang merasa diperhatikan, diperkuat, dan disambungkan kembali dengan dunia spiritual. Di sinilah penyembuhan jiwa memperoleh maknanya.

Kini, ketika saya melihat banyak orang muda mengalami stres, burnout, depresi, saya jadi teringat lontar-lontar itu. Seakan leluhur sudah menulis pesan: jagalah jiwa, jangan biarkan ia sendirian. Tertawa berlebihan, menangis tanpa alasan, berlari tanpa tujuan—semua adalah tanda yang tak boleh diabaikan.

Barat mungkin memberi label, diantaranya bipolar, depresi, psikotik. Bali menuliskan gejala itu dengan bahasa sehari-hari, seperti misalnya suka bernyanyi, suka melucu, suka marah, suka tidur. Dua-duanya punya nilai. Sains memberi struktur, tradisi memberi rasa. Jika keduanya bertemu, mungkin kita akan lebih bijak dalam merawat jiwa.

Bali memang pulau dengan ribuan pura, upacara, dan ritual. Orang bisa berpura-pura bahagia, tertawa di panggung pariwisata, tapi tetap menyimpan kegelisahan di dalam. Usada Buduh mengingatkan bahwa di balik senyum ada luka, di balik tari ada tangis, di balik doa ada jiwa yang rapuh.

Mungkin sudah waktunya kita membaca kembali lontar-lontar itu, bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk menemukan kearifan yang bisa menyembuhkan masa kini. Jiwa manusia Bali—dan manusia pada umumnya—terlalu berharga untuk dibiarkan hancur oleh tekanan hidup modern. [T]

Denpasar, Agustus 2022-September 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwalontar usadaODGJusada
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Idealisme Lebih Keren dari Kenyamanan: Bersama Bung Karno Mencintai Ibu Pertiwi

Next Post

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Namanya Berlian, Tapi Dia Berkilau Emas di Cabor Karate Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co