23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 13, 2025
in Kritik Sastra
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

Buku karya Trakl

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl tumbuh dalam keluarga yang keras. Ia berkonflik dengan ayahnya dan menjalin hubungan kompleks dengan saudari kandungnya, Grete, yang oleh banyak penafsir diyakini membekas kuat dalam puisinya. Sejak muda ia sudah bersentuhan dengan morfin dan kokain.

Perang Dunia I menjadi titik balik. Sebagai apoteker militer, ia menyaksikan luka, darah, dan tubuh-tubuh yang hancur. Trauma peperangan memperburuk gejolak batinnya yang memang rapuh. Pada 1914, di sebuah rumah sakit jiwa di Kraków, Trakl meninggal karena overdosis kokain. Banyak yang menduga itu bunuh diri. Usianya baru 27 tahun.

Salah satu sajaknya yang terkenal, “Malam Musim Dingin”, memperlihatkan betapa Trakl membangun lanskap batin dengan citraan keras dan dingin; kebekuan hitam, tanah keras, udara pahit, langkah membatu dekat rel kereta, hingga serigala merah dicekik malaikat.

Puisi itu seakan menghadirkan dunia yang dingin dan kejam, di mana manusia berjalan seperti mesin, wajah membatu, dan salju menjadi lambang kebekuan jiwa. Kutipan berikut adalah penggalan puisinya dalam terjemahan Indonesia:

……………………..

Kebekuan hitam. Tanah keras, udara pahit di lidah.

            Bintang-bintangmu mengatup jadi pertanda buruk.

            Dengan langkah membatu kau menderap dekat rel kereta, dengan

            Mata bulat bagai prajurit yang menyerang benteng hitam. Avanti!

                        Pahit salju dan bulan!

                        Serigala merah dicekik malaikat. Kakimu melangkah

            gemerincing bagai es yang biru. Senyum sarat duka dan

            keangkuhan membatukan wajahmu, dan dahimu memucat oleh

berahi kebekuan;

            atau dahi itu membungkuk bisu di atas lelap penjaga yang

rebah di gubug kayu.

…………………………………………………

            (Malam Musim Dingin, Hal.65)

Membaca baris-baris itu, kita seperti diseret masuk ke dalam halusinasi yang getir. Trakl tidak hanya menulis puisi, ia menyalin denyut jiwanya yang retak.

Tema paling kuat dalam sajak Trakl adalah kegelapan, kesepian, dan kematian. Puisinya mencatat perjalanan menuju senja, di mana kematian selalu hadir sebagai bayangan yang setia menunggu. Alam muram—musim gugur, musim dingin, salju, senja—tidak sekadar latar, melainkan metafora bagi jiwa yang terasing.

Trakl juga kerap menyinggung simbol religius, yakni, salib, Gethsemane, malaikat. Namun alih-alih menjadi sumber harapan, simbol-simbol itu muncul sebagai lambang doa yang tak sampai, iman yang tertikam putus asa. Relasi keluarga, kata “saudara” atau “anak”, sering menyembunyikan rahasia gelap, menegaskan luka batin yang tak pernah pulih.

Estetika Ekspresionisme

Secara estetik, Trakl ditempatkan dalam arus ekspresionisme Jerman-Austria. Puisinya padat, fragmentaris, penuh warna kontras, seperti, hitam, merah, biru. Bahasanya kerap menyerupai mimpi atau halusinasi. Ia menulis spontan, lalu kadang merevisi keesokan hari, sehingga puisinya sering terdiri dari fragmen-fragmen.

Bagi Trakl, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang untuk memproyeksikan kegelisahan batin. Dari kehancuran jiwa lahirlah bahasa puisi yang unik, tak tertandingi oleh penyair lain sezamannya.

Kondisi skizofrenia Trakl memberi pengaruh besar pada karya-karyanya. Puisi baginya menjadi catatan jiwa yang gelisah, potret pikiran yang sulit terurai, sekaligus pelarian dari beban mental yang ia pikul. Membaca Trakl hari ini, pembaca modern terutama yang pernah bersentuhan dengan trauma atau gangguan mental akan menemukan resonansi mendalam.

Trakl mengingatkan kita bahwa di balik gangguan jiwa ada suara manusia yang tetap bisa bersuara, meski dengan bahasa yang sulit dimengerti. Suara yang tidak hadir sebagai solusi, melainkan sebagai kesaksian.

Trakl di Indonesia

Nama Trakl masuk ke Indonesia lewat buku Mimpi dan Kelam Jiwa, dterbitkan pertama kali pada 2012, oleh penerbit Komodo Books bekerja sama dengan  Goethe-Institut Indonesien. Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser sebagai penerjemah berupaya menjaga kepadatan bahasa dan aura kemuraman Trakl. Mereka tidak hanya mengalihbahasakan kata, tetapi juga nuansa—tugas yang berat mengingat puisi Trakl sarat metafora kompleks dan struktur fragmentaris.

Peluncuran buku itu mendapat sorotan media. Trakl diterima sebagai suara asing yang justru terasa akrab, sebab masyarakat kita juga hidup di zaman penuh trauma sosial, alienasi, dan keterasingan batin.

Pada sebuah sore di Semarang, Februari 2013 silam, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes) kedatangan seorang tamu dari Jerman, Berthold Damshäuser, dosen Universitas Bonn. Ia hadir bukan untuk mengajar kelas, melainkan membuka lorong gelap sastra Eropa, memperkenalkan Georg Trakl.

Acara itu bertajuk ”Peluncuran Jilid ke-VII Seri Puisi Jerman, Kumpulan Puisi Karya Georg Trakl “Mimpi dan Kelam Jiwa”, hasil kerja sama Goethe-Institut Indonesien, Rumah Buku Dunia Tera, dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes. Diskusi dimoderatori penyair Dorothea Rosa Herliany, dengan lantunan pembacaan puisi oleh Timur Sinar Suprabana.

“Trakl selalu membicarakan penderitaan. Kritiknya terhadap peradaban modern disampaikan dalam bahasa yang khas,” ujar Berthold. Ia menambahkan, Trakl telah lama diakui sebagai penyair besar abad 20, meski hidupnya singkat dan tragis. “Sayangnya ia meninggal di usia 27 tahun,” katanya. (Sumber: Berita FBS Unnes, 2013)

Kajian tentang Trakl memang terbatas di Indonesia, tetapi tetap ada. Beberapa esai menyoroti bagaimana metafora dan simbolisme Trakl tetap hidup dalam terjemahan Indonesia. Ada pula pengamat sastra yang melihat gema Trakl dalam puisi kontemporer Indonesia, termasuk karya-karya yang menyuarakan kegelisahan eksistensial dengan citraan muram.

Di ranah internasional, para akademisi sudah lama membaca Trakl sebagai penyair trauma. Jurnal Modern Austrian Literature menulis bahwa puisi Trakl adalah “rekaman psikis dari tubuh yang pecah oleh sejarah, sekaligus tubuh yang mencari keselamatan melalui bahasa.” Penelitian lain, seperti yang diterbitkan di German Studies Review, mengaitkan puisinya dengan “trauma kolektif awal abad 20” yang lahir dari perang dan industrialisasi.

Dalam buku Georg Trakl: Poetry and Silence karya James Wright, disebutkan bahwa keheningan dalam sajak Trakl bukanlah ketiadaan, melainkan gema dari sesuatu yang tak terkatakan—sebuah suara batin yang terlalu rapuh untuk diucapkan, tetapi juga terlalu penting untuk diabaikan.

Membaca Trakl akhirnya adalah membaca paradoks: dari jiwa yang hancur lahir bahasa yang kuat, dari penderitaan pribadi tercipta puisi yang abadi, dari kegelapan muncul cahaya yang tetap menyinari sastra dunia. Warisan Georg Trakl adalah keberanian untuk menyuarakan kelam jiwa, agar manusia lain tak merasa sendirian di dalamnya. Membaca Trakl, kita belajar bahwa penderitaan, seaneh apa pun bentuknya, dapat menjadi bahasa yang melintasi waktu dan benua. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Georg TraklPuisisastraskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Next Post

Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 22, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails
Next Post
Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Minikino Film Week 11, Ruang Pertemuan Inklusif yang Sebenar-benarnya Antara Penonton dan Filmmaker

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co