25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Terasa Hari Raya di Kota Denpasar

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 10, 2025
in Esai
Tak Terasa Hari Raya di Kota Denpasar

Banjir di Denpasar | Foto: FB Denpasar Viral / @vikachrn

PAGERWESI, 10 September 2025 hari ini, yang semestinya dirayakan dengan penuh semangat, berubah menjadi air mata duka. Bencana banjir, untuk kesekian kalinya, merendam sebagian wilayah Denpasar (serta juga wilayah Badung dan kabupaten lain di Bali), menghanyutkan kendaraan, hingga bangunan ruko di tepi Tukad Badung yang ambruk dan roboh ditelan ganasnya air yang memenuhi sungai. Adakah ini sebuah kebetulan? Saya kira tidak.

Banjir di Kota Denpasar adalah kejadian berulang setiap hujan deras turun. Tata kota yang buruk, pelanggaran tata ruang yang marak terjadi (sementara aturan tak ditegakkan, termasuk hukuman bagi para pelanggar), persoalan sampah yang tak kunjung selesai, alih fungsi lahan yang sangat masif, di lain pihak angka pertumbuhan penduduk yang tinggi akibat migrasi penduduk—dengan konsekuensi budaya dan cara hidup yang berlainan—membuat Bali abad ke-21 tentu berbeda dengan Bali di masa lalu. Romantisme budaya perlu ditempatkan pada porsi dan tempat yang tepat.

Bali memang punya kearifan lokal termasuk tata kelola air. Namun itu terjadi saat Bali sebagian besar masih agraris. Kini? Bangunan terus bertumbuh; kos-kosan, vila, restoran, hotel, permukiman di tengah lahan yang dulunya sawah menghijau, membuat kita tersadarkan, Bali telah berubah! Dan kita hanya bisa bersenandung, “Kembalikan Baliku padaku”? Ayolah, mari bersikap realistis! Hal yang perlu diperbaiki adalah manajemen pulau dan kota/kabupaten yang tepat sasaran, dengan kajian secara holistik  Buat apa merancang konsep pembangunan Bali hingga 100 tahun mendatang, sementara hujan deras yang mengguyur kota agak lama saja sudah menimbulkan banjir?

Hari raya Pagerwesi sendiri memiliki makna yang dalam. Ia jatuh setelah Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan. Jika Saraswati adalah momen menerima anugerah ilmu, maka Pagerwesi adalah hari untuk membangun benteng diri, memperkuat wawasan, kebijaksanaan, dan keteguhan moral agar tidak mudah goyah oleh kegelapan. Pagerwesi, yang secara harfiah berarti “pagar dari besi”, adalah simbol pertahanan batin dan nalar. Dalam konteks ini, bencana banjir yang melanda Denpasar dan wilayah lain di Bali pada hari raya Pagerwesi tak ubahnya sebuah teguran keras, apakah kita benar-benar sudah membentengi diri dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam mengelola bumi Bali?

Air bah yang meluap di Tukad Badung dan menggerus bangunan di tepinya bukan hanya persoalan teknis. Ia cermin betapa rapuhnya tata ruang kita. Sungai yang dahulu menjadi nadi peradaban kini berubah menjadi saluran air yang tersumbat sampah plastik dan limbah rumah tangga. Pembangunan di sempadan sungai dibiarkan, bahkan kerap mendapat izin. Sawah yang dulunya berfungsi sebagai daerah resapan air hilang berganti beton. Seolah-olah kita sedang mengundang bencana dengan tangan sendiri.

Kejadian ini tentu bukan pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, Denpasar dan Badung selalu masuk berita ketika hujan deras turun lebih dari dua jam. Genangan terjadi di jalan-jalan protokol, pusat perbelanjaan, hingga permukiman warga. Kerugian materi jelas besar, tetapi yang lebih mahal adalah kerugian psikologis yakni rasa waswas masyarakat setiap hujan turun, rasa tidak aman tinggal di kota, dan yang lebih dalam lagi, lunturnya kepercayaan pada pemerintah daerah untuk memberi solusi nyata.

Di media sosial, netizen ramai membagikan video banjir terbaru. Ada yang menunjukkan mobil terjebak di Jalan Teuku Umar Barat, ada pula yang memperlihatkan aliran air deras di kawasan Ubung Kaja. Di Badung, kawasan Dalung, Kerobokan, hingga Kuta Selatan tergenang. Warga berkomentar getir, “Setiap tahun sama, pemerintah hanya datang foto-foto, lalu hilang.” Yang lain menulis, “Kota yang katanya modern, tapi hujan dua jam saja lumpuh.” Suara-suara seperti ini mencerminkan kekecewaan publik yang sudah lama dipendam.

Pertanyaannya, sampai kapan ini dibiarkan? Apakah kita hanya menunggu hujan reda, banjir surut, lalu melanjutkan hidup seperti biasa? Jika iya, maka banjir berikutnya hanyalah soal waktu.

Seharusnya, pemerintah kota dan kabupaten menjadikan banjir sebagai isu prioritas. Perlu keberanian menertibkan bangunan yang melanggar tata ruang, menata ulang drainase kota, memperluas ruang terbuka hijau, serta memastikan sungai-sungai kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Persoalan sampah juga tidak boleh dipandang sepele. Program-program pengelolaan sampah yang selama ini lebih banyak berhenti di tataran slogan perlu benar-benar dijalankan hingga ke akar rumput.

Namun tanggung jawab ini bukan hanya milik pemerintah. Masyarakat pun harus bercermin. Betapa banyak kita masih seenaknya membuang sampah ke selokan, menutup saluran air dengan paving atau bangunan, atau membiarkan sungai dijadikan tempat pembuangan. Inilah titik di mana Pagerwesi kembali relevan. Hari raya ini mengingatkan kita bahwa pagar diri bukan sekadar ritual di pura, melainkan juga perilaku sehari-hari. Membentengi diri berarti berdisiplin, peduli, dan bertanggung jawab, baik terhadap lingkungan maupun sesama.

Dulu, saat Bali masih sangat agraris, tata kelola air diatur lewat subak. Subak bukan hanya sistem irigasi, tetapi juga kesepakatan sosial yang menjaga keseimbangan air untuk sawah dan desa. Sungai dihormati, bukan ditaklukkan. Air dipandang sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar saluran buangan. Kini, kesepakatan kolektif itu nyaris hilang, tergantikan oleh logika individualisme kota, yakni, siapa cepat membangun, dia dapat.

Sayangnya, pemimpin kita sering lebih sibuk berbicara tentang konsep besar—“Bali 100 tahun mendatang”, “Green Province”, “Smart City”—tetapi abai pada realitas di depan mata. Sebuah visi tidak ada artinya jika genangan air setinggi lutut saja tidak bisa diatasi. Masyarakat tentu membutuhkan mimpi, tetapi lebih dari itu, mereka butuh solusi nyata hari ini.

Fenomena banjir di Denpasar dan Badung di hari Pagerwesi semestinya membuka mata kita, bahwa jangan-jangan kita terlalu sering memaknai hari raya sebatas upacara, sesajen, dan ritual, tetapi lupa pada substansinya. Ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang diajarkan Saraswati dan Pagerwesi mestinya menjelma menjadi kebijakan yang berani, tata kelola yang bersih, serta tindakan nyata yang berpihak pada kelestarian lingkungan.

Di tengah iring-iringan banjir, suara doa Pagerwesi terdengar sayup, seakan-akan bertanya, apakah pagar besi kita masih kokoh, atau justru sudah keropos dimakan ambisi dan kelalaian?

Bali kini berdiri di persimpangan. Kita bisa terus menutup mata, membiarkan pembangunan berjalan tanpa kendali, hingga suatu saat bukan hanya Denpasar dan Badung yang terendam, tetapi seluruh Bali yang kita cintai. Atau, kita bisa menjadikan bencana ini sebagai momentum untuk berbenah, menata kembali tata ruang, menegakkan aturan, dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang pernah membuat Bali selaras dengan alam.

Pagerwesi mengajarkan, benteng diri yang sejati adalah ilmu dan kebijaksanaan. Jika pemimpin Bali sungguh-sungguh mau mendengar pesan ini, mereka akan memahami bahwa pembangunan sejati bukan soal berapa banyak vila dan hotel yang berdiri, tetapi seberapa aman, lestari, dan berkelanjutan bumi Bali ini untuk generasi mendatang.

Dan bagi kita, warga biasa, benteng itu dimulai dari hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, peduli pada lingkungan sekitar, berani menegur pelanggaran tata ruang, serta konsisten menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian alam.

Hari Pagerwesi ini mungkin tak terasa sebagai hari raya di Kota Denpasar, sebab air bah telah merenggut sukacita yang mestinya kita rayakan. Tetapi jika kita mau merenungkan maknanya, justru di sinilah letak pesan paling dalam. Bahwa benteng diri tak dibangun dengan doa saja, melainkan juga dengan tindakan nyata. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirdenpasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Luh Mas Sri Diana Wati, Merawat Prestasi dengan Dendam, Meraih Medali Emas Muaythai Porprov Bali 2025

Next Post

I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co