4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Terasa Hari Raya di Kota Denpasar

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 10, 2025
in Esai
Tak Terasa Hari Raya di Kota Denpasar

Banjir di Denpasar | Foto: FB Denpasar Viral / @vikachrn

PAGERWESI, 10 September 2025 hari ini, yang semestinya dirayakan dengan penuh semangat, berubah menjadi air mata duka. Bencana banjir, untuk kesekian kalinya, merendam sebagian wilayah Denpasar (serta juga wilayah Badung dan kabupaten lain di Bali), menghanyutkan kendaraan, hingga bangunan ruko di tepi Tukad Badung yang ambruk dan roboh ditelan ganasnya air yang memenuhi sungai. Adakah ini sebuah kebetulan? Saya kira tidak.

Banjir di Kota Denpasar adalah kejadian berulang setiap hujan deras turun. Tata kota yang buruk, pelanggaran tata ruang yang marak terjadi (sementara aturan tak ditegakkan, termasuk hukuman bagi para pelanggar), persoalan sampah yang tak kunjung selesai, alih fungsi lahan yang sangat masif, di lain pihak angka pertumbuhan penduduk yang tinggi akibat migrasi penduduk—dengan konsekuensi budaya dan cara hidup yang berlainan—membuat Bali abad ke-21 tentu berbeda dengan Bali di masa lalu. Romantisme budaya perlu ditempatkan pada porsi dan tempat yang tepat.

Bali memang punya kearifan lokal termasuk tata kelola air. Namun itu terjadi saat Bali sebagian besar masih agraris. Kini? Bangunan terus bertumbuh; kos-kosan, vila, restoran, hotel, permukiman di tengah lahan yang dulunya sawah menghijau, membuat kita tersadarkan, Bali telah berubah! Dan kita hanya bisa bersenandung, “Kembalikan Baliku padaku”? Ayolah, mari bersikap realistis! Hal yang perlu diperbaiki adalah manajemen pulau dan kota/kabupaten yang tepat sasaran, dengan kajian secara holistik  Buat apa merancang konsep pembangunan Bali hingga 100 tahun mendatang, sementara hujan deras yang mengguyur kota agak lama saja sudah menimbulkan banjir?

Hari raya Pagerwesi sendiri memiliki makna yang dalam. Ia jatuh setelah Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan. Jika Saraswati adalah momen menerima anugerah ilmu, maka Pagerwesi adalah hari untuk membangun benteng diri, memperkuat wawasan, kebijaksanaan, dan keteguhan moral agar tidak mudah goyah oleh kegelapan. Pagerwesi, yang secara harfiah berarti “pagar dari besi”, adalah simbol pertahanan batin dan nalar. Dalam konteks ini, bencana banjir yang melanda Denpasar dan wilayah lain di Bali pada hari raya Pagerwesi tak ubahnya sebuah teguran keras, apakah kita benar-benar sudah membentengi diri dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam mengelola bumi Bali?

Air bah yang meluap di Tukad Badung dan menggerus bangunan di tepinya bukan hanya persoalan teknis. Ia cermin betapa rapuhnya tata ruang kita. Sungai yang dahulu menjadi nadi peradaban kini berubah menjadi saluran air yang tersumbat sampah plastik dan limbah rumah tangga. Pembangunan di sempadan sungai dibiarkan, bahkan kerap mendapat izin. Sawah yang dulunya berfungsi sebagai daerah resapan air hilang berganti beton. Seolah-olah kita sedang mengundang bencana dengan tangan sendiri.

Kejadian ini tentu bukan pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, Denpasar dan Badung selalu masuk berita ketika hujan deras turun lebih dari dua jam. Genangan terjadi di jalan-jalan protokol, pusat perbelanjaan, hingga permukiman warga. Kerugian materi jelas besar, tetapi yang lebih mahal adalah kerugian psikologis yakni rasa waswas masyarakat setiap hujan turun, rasa tidak aman tinggal di kota, dan yang lebih dalam lagi, lunturnya kepercayaan pada pemerintah daerah untuk memberi solusi nyata.

Di media sosial, netizen ramai membagikan video banjir terbaru. Ada yang menunjukkan mobil terjebak di Jalan Teuku Umar Barat, ada pula yang memperlihatkan aliran air deras di kawasan Ubung Kaja. Di Badung, kawasan Dalung, Kerobokan, hingga Kuta Selatan tergenang. Warga berkomentar getir, “Setiap tahun sama, pemerintah hanya datang foto-foto, lalu hilang.” Yang lain menulis, “Kota yang katanya modern, tapi hujan dua jam saja lumpuh.” Suara-suara seperti ini mencerminkan kekecewaan publik yang sudah lama dipendam.

Pertanyaannya, sampai kapan ini dibiarkan? Apakah kita hanya menunggu hujan reda, banjir surut, lalu melanjutkan hidup seperti biasa? Jika iya, maka banjir berikutnya hanyalah soal waktu.

Seharusnya, pemerintah kota dan kabupaten menjadikan banjir sebagai isu prioritas. Perlu keberanian menertibkan bangunan yang melanggar tata ruang, menata ulang drainase kota, memperluas ruang terbuka hijau, serta memastikan sungai-sungai kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Persoalan sampah juga tidak boleh dipandang sepele. Program-program pengelolaan sampah yang selama ini lebih banyak berhenti di tataran slogan perlu benar-benar dijalankan hingga ke akar rumput.

Namun tanggung jawab ini bukan hanya milik pemerintah. Masyarakat pun harus bercermin. Betapa banyak kita masih seenaknya membuang sampah ke selokan, menutup saluran air dengan paving atau bangunan, atau membiarkan sungai dijadikan tempat pembuangan. Inilah titik di mana Pagerwesi kembali relevan. Hari raya ini mengingatkan kita bahwa pagar diri bukan sekadar ritual di pura, melainkan juga perilaku sehari-hari. Membentengi diri berarti berdisiplin, peduli, dan bertanggung jawab, baik terhadap lingkungan maupun sesama.

Dulu, saat Bali masih sangat agraris, tata kelola air diatur lewat subak. Subak bukan hanya sistem irigasi, tetapi juga kesepakatan sosial yang menjaga keseimbangan air untuk sawah dan desa. Sungai dihormati, bukan ditaklukkan. Air dipandang sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar saluran buangan. Kini, kesepakatan kolektif itu nyaris hilang, tergantikan oleh logika individualisme kota, yakni, siapa cepat membangun, dia dapat.

Sayangnya, pemimpin kita sering lebih sibuk berbicara tentang konsep besar—“Bali 100 tahun mendatang”, “Green Province”, “Smart City”—tetapi abai pada realitas di depan mata. Sebuah visi tidak ada artinya jika genangan air setinggi lutut saja tidak bisa diatasi. Masyarakat tentu membutuhkan mimpi, tetapi lebih dari itu, mereka butuh solusi nyata hari ini.

Fenomena banjir di Denpasar dan Badung di hari Pagerwesi semestinya membuka mata kita, bahwa jangan-jangan kita terlalu sering memaknai hari raya sebatas upacara, sesajen, dan ritual, tetapi lupa pada substansinya. Ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang diajarkan Saraswati dan Pagerwesi mestinya menjelma menjadi kebijakan yang berani, tata kelola yang bersih, serta tindakan nyata yang berpihak pada kelestarian lingkungan.

Di tengah iring-iringan banjir, suara doa Pagerwesi terdengar sayup, seakan-akan bertanya, apakah pagar besi kita masih kokoh, atau justru sudah keropos dimakan ambisi dan kelalaian?

Bali kini berdiri di persimpangan. Kita bisa terus menutup mata, membiarkan pembangunan berjalan tanpa kendali, hingga suatu saat bukan hanya Denpasar dan Badung yang terendam, tetapi seluruh Bali yang kita cintai. Atau, kita bisa menjadikan bencana ini sebagai momentum untuk berbenah, menata kembali tata ruang, menegakkan aturan, dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang pernah membuat Bali selaras dengan alam.

Pagerwesi mengajarkan, benteng diri yang sejati adalah ilmu dan kebijaksanaan. Jika pemimpin Bali sungguh-sungguh mau mendengar pesan ini, mereka akan memahami bahwa pembangunan sejati bukan soal berapa banyak vila dan hotel yang berdiri, tetapi seberapa aman, lestari, dan berkelanjutan bumi Bali ini untuk generasi mendatang.

Dan bagi kita, warga biasa, benteng itu dimulai dari hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, peduli pada lingkungan sekitar, berani menegur pelanggaran tata ruang, serta konsisten menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian alam.

Hari Pagerwesi ini mungkin tak terasa sebagai hari raya di Kota Denpasar, sebab air bah telah merenggut sukacita yang mestinya kita rayakan. Tetapi jika kita mau merenungkan maknanya, justru di sinilah letak pesan paling dalam. Bahwa benteng diri tak dibangun dengan doa saja, melainkan juga dengan tindakan nyata. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirdenpasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Luh Mas Sri Diana Wati, Merawat Prestasi dengan Dendam, Meraih Medali Emas Muaythai Porprov Bali 2025

Next Post

I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co