25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Terasa Hari Raya di Kota Denpasar

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 10, 2025
in Esai
Tak Terasa Hari Raya di Kota Denpasar

Banjir di Denpasar | Foto: FB Denpasar Viral / @vikachrn

PAGERWESI, 10 September 2025 hari ini, yang semestinya dirayakan dengan penuh semangat, berubah menjadi air mata duka. Bencana banjir, untuk kesekian kalinya, merendam sebagian wilayah Denpasar (serta juga wilayah Badung dan kabupaten lain di Bali), menghanyutkan kendaraan, hingga bangunan ruko di tepi Tukad Badung yang ambruk dan roboh ditelan ganasnya air yang memenuhi sungai. Adakah ini sebuah kebetulan? Saya kira tidak.

Banjir di Kota Denpasar adalah kejadian berulang setiap hujan deras turun. Tata kota yang buruk, pelanggaran tata ruang yang marak terjadi (sementara aturan tak ditegakkan, termasuk hukuman bagi para pelanggar), persoalan sampah yang tak kunjung selesai, alih fungsi lahan yang sangat masif, di lain pihak angka pertumbuhan penduduk yang tinggi akibat migrasi penduduk—dengan konsekuensi budaya dan cara hidup yang berlainan—membuat Bali abad ke-21 tentu berbeda dengan Bali di masa lalu. Romantisme budaya perlu ditempatkan pada porsi dan tempat yang tepat.

Bali memang punya kearifan lokal termasuk tata kelola air. Namun itu terjadi saat Bali sebagian besar masih agraris. Kini? Bangunan terus bertumbuh; kos-kosan, vila, restoran, hotel, permukiman di tengah lahan yang dulunya sawah menghijau, membuat kita tersadarkan, Bali telah berubah! Dan kita hanya bisa bersenandung, “Kembalikan Baliku padaku”? Ayolah, mari bersikap realistis! Hal yang perlu diperbaiki adalah manajemen pulau dan kota/kabupaten yang tepat sasaran, dengan kajian secara holistik  Buat apa merancang konsep pembangunan Bali hingga 100 tahun mendatang, sementara hujan deras yang mengguyur kota agak lama saja sudah menimbulkan banjir?

Hari raya Pagerwesi sendiri memiliki makna yang dalam. Ia jatuh setelah Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan. Jika Saraswati adalah momen menerima anugerah ilmu, maka Pagerwesi adalah hari untuk membangun benteng diri, memperkuat wawasan, kebijaksanaan, dan keteguhan moral agar tidak mudah goyah oleh kegelapan. Pagerwesi, yang secara harfiah berarti “pagar dari besi”, adalah simbol pertahanan batin dan nalar. Dalam konteks ini, bencana banjir yang melanda Denpasar dan wilayah lain di Bali pada hari raya Pagerwesi tak ubahnya sebuah teguran keras, apakah kita benar-benar sudah membentengi diri dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam mengelola bumi Bali?

Air bah yang meluap di Tukad Badung dan menggerus bangunan di tepinya bukan hanya persoalan teknis. Ia cermin betapa rapuhnya tata ruang kita. Sungai yang dahulu menjadi nadi peradaban kini berubah menjadi saluran air yang tersumbat sampah plastik dan limbah rumah tangga. Pembangunan di sempadan sungai dibiarkan, bahkan kerap mendapat izin. Sawah yang dulunya berfungsi sebagai daerah resapan air hilang berganti beton. Seolah-olah kita sedang mengundang bencana dengan tangan sendiri.

Kejadian ini tentu bukan pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, Denpasar dan Badung selalu masuk berita ketika hujan deras turun lebih dari dua jam. Genangan terjadi di jalan-jalan protokol, pusat perbelanjaan, hingga permukiman warga. Kerugian materi jelas besar, tetapi yang lebih mahal adalah kerugian psikologis yakni rasa waswas masyarakat setiap hujan turun, rasa tidak aman tinggal di kota, dan yang lebih dalam lagi, lunturnya kepercayaan pada pemerintah daerah untuk memberi solusi nyata.

Di media sosial, netizen ramai membagikan video banjir terbaru. Ada yang menunjukkan mobil terjebak di Jalan Teuku Umar Barat, ada pula yang memperlihatkan aliran air deras di kawasan Ubung Kaja. Di Badung, kawasan Dalung, Kerobokan, hingga Kuta Selatan tergenang. Warga berkomentar getir, “Setiap tahun sama, pemerintah hanya datang foto-foto, lalu hilang.” Yang lain menulis, “Kota yang katanya modern, tapi hujan dua jam saja lumpuh.” Suara-suara seperti ini mencerminkan kekecewaan publik yang sudah lama dipendam.

Pertanyaannya, sampai kapan ini dibiarkan? Apakah kita hanya menunggu hujan reda, banjir surut, lalu melanjutkan hidup seperti biasa? Jika iya, maka banjir berikutnya hanyalah soal waktu.

Seharusnya, pemerintah kota dan kabupaten menjadikan banjir sebagai isu prioritas. Perlu keberanian menertibkan bangunan yang melanggar tata ruang, menata ulang drainase kota, memperluas ruang terbuka hijau, serta memastikan sungai-sungai kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Persoalan sampah juga tidak boleh dipandang sepele. Program-program pengelolaan sampah yang selama ini lebih banyak berhenti di tataran slogan perlu benar-benar dijalankan hingga ke akar rumput.

Namun tanggung jawab ini bukan hanya milik pemerintah. Masyarakat pun harus bercermin. Betapa banyak kita masih seenaknya membuang sampah ke selokan, menutup saluran air dengan paving atau bangunan, atau membiarkan sungai dijadikan tempat pembuangan. Inilah titik di mana Pagerwesi kembali relevan. Hari raya ini mengingatkan kita bahwa pagar diri bukan sekadar ritual di pura, melainkan juga perilaku sehari-hari. Membentengi diri berarti berdisiplin, peduli, dan bertanggung jawab, baik terhadap lingkungan maupun sesama.

Dulu, saat Bali masih sangat agraris, tata kelola air diatur lewat subak. Subak bukan hanya sistem irigasi, tetapi juga kesepakatan sosial yang menjaga keseimbangan air untuk sawah dan desa. Sungai dihormati, bukan ditaklukkan. Air dipandang sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar saluran buangan. Kini, kesepakatan kolektif itu nyaris hilang, tergantikan oleh logika individualisme kota, yakni, siapa cepat membangun, dia dapat.

Sayangnya, pemimpin kita sering lebih sibuk berbicara tentang konsep besar—“Bali 100 tahun mendatang”, “Green Province”, “Smart City”—tetapi abai pada realitas di depan mata. Sebuah visi tidak ada artinya jika genangan air setinggi lutut saja tidak bisa diatasi. Masyarakat tentu membutuhkan mimpi, tetapi lebih dari itu, mereka butuh solusi nyata hari ini.

Fenomena banjir di Denpasar dan Badung di hari Pagerwesi semestinya membuka mata kita, bahwa jangan-jangan kita terlalu sering memaknai hari raya sebatas upacara, sesajen, dan ritual, tetapi lupa pada substansinya. Ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang diajarkan Saraswati dan Pagerwesi mestinya menjelma menjadi kebijakan yang berani, tata kelola yang bersih, serta tindakan nyata yang berpihak pada kelestarian lingkungan.

Di tengah iring-iringan banjir, suara doa Pagerwesi terdengar sayup, seakan-akan bertanya, apakah pagar besi kita masih kokoh, atau justru sudah keropos dimakan ambisi dan kelalaian?

Bali kini berdiri di persimpangan. Kita bisa terus menutup mata, membiarkan pembangunan berjalan tanpa kendali, hingga suatu saat bukan hanya Denpasar dan Badung yang terendam, tetapi seluruh Bali yang kita cintai. Atau, kita bisa menjadikan bencana ini sebagai momentum untuk berbenah, menata kembali tata ruang, menegakkan aturan, dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang pernah membuat Bali selaras dengan alam.

Pagerwesi mengajarkan, benteng diri yang sejati adalah ilmu dan kebijaksanaan. Jika pemimpin Bali sungguh-sungguh mau mendengar pesan ini, mereka akan memahami bahwa pembangunan sejati bukan soal berapa banyak vila dan hotel yang berdiri, tetapi seberapa aman, lestari, dan berkelanjutan bumi Bali ini untuk generasi mendatang.

Dan bagi kita, warga biasa, benteng itu dimulai dari hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, peduli pada lingkungan sekitar, berani menegur pelanggaran tata ruang, serta konsisten menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian alam.

Hari Pagerwesi ini mungkin tak terasa sebagai hari raya di Kota Denpasar, sebab air bah telah merenggut sukacita yang mestinya kita rayakan. Tetapi jika kita mau merenungkan maknanya, justru di sinilah letak pesan paling dalam. Bahwa benteng diri tak dibangun dengan doa saja, melainkan juga dengan tindakan nyata. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirdenpasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Luh Mas Sri Diana Wati, Merawat Prestasi dengan Dendam, Meraih Medali Emas Muaythai Porprov Bali 2025

Next Post

I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

I Gede Wahyu Surya Wiguna, Atlet Angkat Berat Buleleng: Bonus Emas Porprov Bali untuk Modal ke Ajang Dunia di Dubai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co