23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Euforia Baleganjur Ngarap di Tengah Ekosistem Balaganjur Ngarap yang Tak Subur — Catatan dari Lomba HUT Kota Negara 2025

I Putu Adi Putra Kencana by I Putu Adi Putra Kencana
September 8, 2025
in Ulas Musik
Euforia Baleganjur Ngarap di Tengah Ekosistem Balaganjur Ngarap yang Tak Subur — Catatan dari Lomba HUT Kota Negara 2025

Penampilan STT Desa Adat Tegalcangkring | Foto: Koleksi pribadi Jayus

UNTUK pertama kalinya di Jembrana terselenggarakan lomba baleganjur ngarap tingkat Sekaa Teruna se-Kabupaten Jembrana. Penyelenggaranya adalah Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) serangkaian perayaan HUT ke-130 Kota Negara. 

Alasan adanya lomba baleganjur ngarap tingkat Sekaa Teruna se-Jembrana

Minggu, 7 September pukul 21.31 Wita saya menelepun I Putu Suardana, S.Sn via WA. Ia adalah salah satu pegawai di Disbud Jembrana. Saya mengajukan dua pertanyaan untuk melengkapi tulisan ini.

Pertanyaan saya yang pertama adalah: “Cong (nama sapaannya Rencong), aae alasan Disbud ngae lomba baleganjur ngarap?” (Cong, apa alasan disbud membuat lomba baleganjur ngarap?).

Pada intinya menurut Suardana, alasan Disbud membuat lomba baleganjur ngarap adalah untuk membuka kembali gerbang baleganjur tingkat SMA/SMK yang sempat tertutup sejak 2018, tepat setahun setelah Baleganjur Bandang SMA 1 Negara menerbangkan medali emas pada Lomba Baleganjur PKB ke Jembrana.

Baleganjur ngarap dipilih sebagai salah satu cabang lomba serangkaian HUT Kota Negara adalah dengan pertimbangan efektifitas. Efektifitas yang dimaksud, menurut Suardana, adalah karena penyajian pertunjukan lomba baleganjur ngarap tidak memerlukan koreografi yang berarti karena disajikan dengan menabuh duduk. Sehingga secara budgeting bisa lebih ditekan oleh masing-masing peserta.

Selain itu menurut Suardana pula, pertimbangan memilih lomba baleganjur ngarap adalah karena akhir-akhir ini baleganjur ngarap sedang booming dilombakan di Bali bagian tengah dan selatan, sehingga lomba baleganjur ngarap kali ini diharapkan bisa menggait lebih banyak minat sekaa teruna se-Jembrana untuk berpartisipasi.

Mendengar Suardana menjawab pertanyaan saya yang pertama, nyaris tidak ada tanggapan atau perdebatan yang berarti dari saya. Saya hanya merespon jawabannya dengan, “Ooo,,”, “Oke,,”, “Yaa,,”.

Karena sampai di sini, pertimbangan Disbud memilih lomba baleganjur ngarap tingkat sekaa teruna memang masuk akal.

Setelah Suardana selesai menjawab pertanyaan saya yang pertama, saya langsung melontarkan pertanyaan kedua padanya.“Men, mapo adi tingkat sekaa teruna yang dipilih, sing antar SMA/SMK?” (Terus, kenapa tingkat sekaa teruna yang dipilih, bukan antar SMA/SMK?).

Menurutnya, lomba ini memang didesainsebagai seleksi ke ajang lomba baleganjur PKB tahun 2026. Siapa yang memenangkan lomba baleganjur ngarap kali ini (juara satu), secara sistematis akan mewakili Jembrana di ajang lomba Baleganjur PKB ke-48 tahun 2026.

Karena acuannya ke PKB, yang mana salah satu kriterianya adalah harus menggunakan penabuh nyebun, penabuh dari satu  lingkup teritorial terkecil, dalam hal ini lingkup desa, maka dari itu lomba baleganjur ngarap diadakan setingkat sekaa teruna sedesa.

“Oke, masuk akal,” jawabku.

Review hari H

Nah, singkat cerita, lomba baleganjur ngarap itu memang mendapat perhatian antusias dari warga Jembrana.

Minggu, 24 Agustus 2025 malam pukul 19.00 Wita, stage terbuka Pura jagatnatha menjadi saksi sejarah lomba baleganjur ngarap pertama di Jembrana. Mulai sore hari, bangku penonton sudah mulai dipadati oleh warga dan kawula muda untuk menyaksikan teman-teman, kakak, adik, anak, cucu, dan para pacarnya berlaga di atas panggung. Ya, mereka adalah suporter masing-masing sekaa yang tampil.

Untuk lomba ini, ada 10 sekaa yang berpartisipasi, yakni Sekaa Teruna (ST) Desa Adat Nusasari, ST Desa Adat Banyubiru, ST Desa Adat Kaliakah, ST Desa Adat Satria, ST Desa Adat Batuagung, ST Desa Adat Tegalcangkring, ST Desa Adat Penyaringan, ST Desa Adat Yehmbang Kangin, ST Desa Adat Yehsumbul, dan ST Desa Adat Pekutatan. 

Penampilan STTDesa Adat Kaliakah | Foto: Koleksi pribadi I Gede Adi Artika

Saya tidak ingat secara persis urutan penampilan dari yang pertama hingga terakhir. Namun yang bisa saya sebutkan  yang pertama kali tampil adalah ST Desa Adat Kaliakah dengan garapan berjudul Mebayu Besik, kemudian ditutup dengan penampilan dari ST Desa Adat Satria dengan garapan yang berjudul Sekar Ura.

Pada intinya, seluruh peserta tampil dengan apik dan menunjukkan hasil proses secara maksimal di atas panggung. Namun dari kesepuluh peserta, ada dua peserta yang mencuri perhatian saya, yakni penampilan dari ST Desa Adat Nusasari dan ST Desa Adat Banyubiru.

Dengan garapan berjudul “Ugal Agil”, ST Desa Adat Nusasari yang dimotori kreator Raja Buduh yakni I Kadek Widiawan dan Yogi Sukawiadnyana tampil dengan teknik penabuh yang sangat mencolok dibanding dua peserta sebelumnya.

Meskipun ada tujuh peserta yang belum tampil saat itu, namun saya bisa memprediksi 95% mereka akan menjuarai perlombaan kali ini. Karena sejujurnya saya sempat menyaksikan proses gladi beberapa peserta baleganjur ngarap di malam sebelumnya, Sabtu, 23 Agustus. Hampir semua peserta melakukan gladi, kecuali Desa Adat Nusasari dan Desa Adat Banyubiru.

Alasan saya menempatkan mereka (ST Desa Adat Nusasari) sebagai calon kuat juara pada perlombaan kali itu bukanlah tanpa dasar. Saya adalah alumnus ISI Denpasar 2017 (sekarang ISI Bali). Latar belakang pendidikan saya adalah Seni Karawitan. Saya juga lumayan sering berkecimpung dalam dunia seni karawitan, baik sebagai penabuh, composer, maupun sekadar memberikan apresiasi di luar meja juri.

Jadi, untuk membandingkan teknik penabuh yang satu dan yang lainnya bukan sesuatu yang awam bagi saya. Apalagi malam itu, mereka tampil dengan teknik menabuhyang sangat mencolok, lumayan jauh lebih tinggi dari peserta lainnya.

Selain itu, terlintas juga kabar bahwa pasukan ini sudah sempat mengikuti lomba baleganjur ngarap se-Bali di GWK (Garuda Wisnu Kencana) pada tahun 2022 dan berhasil menyabet juara harapan satu. Itu sangar luar biasa.

Kemudian yang kedua, yang mencuri perhatian saya adalah ST Desa Adat Banyubiru. Mereka tampil nomor undi delapan, dengan garapan yang berjudul “Kekitir” dan dimotori oleh komposer muda bertalenta asal Banyubiru yakni Bagas Suradinata (24). Mereka tampil dengan apik dengan kualitas teknik yang tinggi pula, hampir mengimbangi ST Nusasari secara teknik.

Penampilan STT Desa Adat Tegalcangkring | Foto: Koleksi pribadi Jayus

Namun tak hanya dari kualitas teknik dan komposisi gendingnya yang saya perhatikan, melainkan dari sisi mentalitas mereka di atas panggung yang sangat luar biasa.

Ada kejadian yang mendasari saya menilai seperti itu. Jadi, ada momen di mana panggul bende  yang dimainkan oleh Bagas sendiri, tiba-tiba patah di tengah-tengah pertunjukan. Sebagai gambaran, panggul yang digunakan memainkan instrumen bende adalah sepasang panggul gangsa.

Pada bagian batel munggah layon komposisi mereka, kepala panggul yang di tangan kiri tiba-tiba lepas dari katik-nya (tangkainya). Kemudian tak lama setelahnya, tepatnya pada bagian batel ngancit komposisi mereka, hal yang sama terjadi pada panggul bende yang di tangan kanan.

Jadi dari batel ngancit sampai menyelesaikan komposisi ini, Bagas (penabuh bende) hanya menggunakan sepasang panggul tanpa “kepala” (hanya memakai katik-nya saja).

Merujuk kepada surat kriteria yang beredar, adapun struktur dari baleganjur ngarap yang dilombakan adalah terdiri dari pengawit, batel layon munggah, batel ngarap (ngancit), gending pejalan arak-arakan bade/lembu, gending pola ngocel (jaipong) pengunda bayu dan batel ngider/batel keras.

Jadi bisa dikatakan, tragedi itu terjadi belum sampai setengah perjalanan komposisi “Kekitir” dimainkan. Sementara peran instrumen bende dalam garapan baleganjur ngarap kususnya komposisi “Kekitir” ini memiliki peran yang sangat penting.

Bende menjadi intrumen yang berperan dalam memperkuat hentakan-hentakan ritme dari permainan intrumen lainnya. Tak hanya itu, dalam garapan mereka, beberapa kali permainan bende menjadi penghubung antar kalimat lagu dan antar bagian.

Jadi, dengan terjadinya tragedi tersebut, sudah pasti sangat mempengaruhi keutuhan suarayang ingin disampaikan. Apalagi ini terjadi dalam konteks baleganjur ngarap, kesemarakan, kehebohan, membangkitkan semangat juru sandang (juru angkat bade), bende sangat memiliki peranan penting.

Namun apa yang terjadi setelah tragedi itu menimpa mereka, khususnya Bagas sendiri? Yang saya amati dari penampilan mereka untuk menyelesaikan komposisi ini adalah, tampaknya mereka tidak terpengaruh sama sekali dengan apa yang menimpa pemain bende mereka. Mereka tetap enjoy di panggung, terutama Bagas.

Banyak seruan-seruan empati dari bangku penonton “Mihhh, pedalem nak e” (Aduh, kasian dia).

 “Semangat, Gasssss,” seru saya di kursi penonton untuk menyamangati Bagas yang saya yakin dia sendiri tidak mendengarnya.

Dan yang saya amati komposisi mereka tetap utuh terjaga walaupun hanya menggunakan sepasang katik panggul bende tanpa “kepala”.  

Dengan dipimpin Cak Lanang di posisi kendang, mereka tampil asyik di atas panggung hingga komposisi ini terselesaiakan.

Kalian masih ingatkah Cak Lanang, atau King Lanang? Iya, dia adalah juru ceng-ceng yang viral pada garapan baleganjur Raja Buduh di PKB 2024 lalu.

Penampilan STT Desa Adat Banyubiru | Foto: Koleksi pribadi Bagas Suradinata

Maka di akhir pementasan, saya bergumam dalam hati “mentalitas tim ini sangat luar biasa”. Bagaimana tak luar biasa, teman-teman penabuh Banyubiru yang saya kenali adalah teman-teman penabuh yang sudah melanglang buana dari panggung satu ke panggung lainnya, dari panggung kecil hingga panggung besar dalam tampil sebagai penyaji atau penabuh karawitan Bali, terutama Bagas sendiri.

Bisa dibayangkan jika itu terjadi kepada penabuh yang baru pertama kali pentas, bisa kencing di panggung mereka. Hehe… (hanya guyonan)

Pengumuman hasil kejuaraan

Kamis, 28 Agustus 2025, berbarengan dengan pementasan ulang Gong Kebyar Wanita dan Anak-anak Duta Kabupaten Jembrana di stage terbuka Pura Jagatnatha, dilakukan penguman hasil kejuaraan lomba gong kebyar antar kecamatan, baleganjur tingkat SD dan SMP serta lomba baleganjur ngarap.

Untuk baleganjur ngarap sendiri, seperti yang saya duga dan beberapa teman-teman juga prediksi adalah yang mendapatkan juara satu yakni ST Desa Adat Nusasari, tempat Baleganjur Raja Buduh terlahir.

Kemudian menyusul peringkat kedua adalah ST Desa Adat Banyubiru, tim dengan mentalitas yang luar biasa, kemudian disusul pada peringkat ketiga adalah ST Desa Adat Penyaringan.

Harapan I diperoleh ST Desa Adat Tegalcangkring, harapan II ST Desa Adat Yeh Sumbul, dan harapan III di peroleh oleh ST Desa Adat Batuagung.

Dengan menangnya ST Desa Adat Nusasari, maka sesuai sistem yang berlaku mereka akan mewakili Jembrana dalam perhelatan Baleganjur di ajang PKB tahun 2026.

Review dari juri

Untuk melengkapi tulisan ini, maka tidak enak rasanya jika saya tidak menguraikan catatan estetika  pementasan baleganjur ngarap itu dari juri.  Namun, dengan tidak mengurangi rasa hormat dan capaian tulisan ini, saya hanya melakukan obrolan singkat via WA pada tanggal 29 Agustus malam dengan salah satu juri, yakni I Wayan Banda.

Adapun menurut Banda sendiri, ia mengatakan secara umum peserta yang tampil sangat luar biasa, ia memberi apresiasi setinggi tingginya kepada peserta dan penyelenggara perhelatan ini karena telah mampu menyelenggarakan even semegah ini.

Percakapan di WA menggunakan bahasa Bali dan saya akan terjemahkan langsung dalam bahasa Indonesia.

Penampilan STT Desa Adat Satria | Foto: Koleksi pribadi Swanata

Begini kata Banda: “Saya sangat mengapresiasi ada lomba-lomba seperti ini. Karena di Gianyar (ia berasal dari Tampaksiring, Gianyar) pun  nggak bisa seperti di Jembrana, konsisten bisa mengadakan lomba (untuk) seleksi.”

“Dan saya sangat mengapresiasi juga dengan Disbudpar, teman-teman, serta pejabat semua karena masih bisa mengadakan lomba seperti ini. Minimal masih ada ruang untuk kita berkreativitas. Coba kita bayangkan, Pak, ketika tidak ada ruang untuk berkreativitas di Jembrana, akan seperti apa kesenian (di Jembrana), kan gitu jadinya. Itu apresiasi saya yang setinggi-tingginya.”

Demikian ujar Banda untuk mengapresiasi perhelatan ini.

Lalu  yang tidak kalah penting juga ia mengatakan bahwa, “Untuk bisa membicarakan baleganjur ngarap, kita harus mempunyai lingkungan baleganjur ngarap dulu.”

Saya menafsir makna yang mendalam pada pernyataan Banda itu. Karena memang benar, ekosistem baleganjur ngarap di Jembrana tidak sesubur seperti di daerahnya di Gianyar. Maka, untuk bisa berbicara lebih (termasuk berkarya), di lingkungan kita harus tumbuh dulu kehidupan baleganjur ngarap dalam tatanan sosial bermasyarakat.

Seperti yang dia katakan pula, bahwa seka teruna yang membawakan komposisi dengan nuansa ngarap yang sangat kental adalah ST Desa Adat Nusasari. Yang lainnya masih nampak seperti baleganjur kreasi, esensi dari baleganjur ngarap belum tampak.

Menyambung pernyataannya itu, kemudian saya melontarkan pertanyaan yang saya kira sangat penting bagi kami di Jembrana.

“Yan, sepemahaman saya, baleganjur ngarap itu kan musik baleganjur dalam konteks prosesi pengarakan bade  (menara mayat) ke kuburan, nah saya pun bingung ketika musik itu dibawa ke ranah seni pertunjukan, bagaimana caranya memilih tema atau judul, sementara baleganjur ngarap itu harus capaiannya bernuansa euforia, semarak, membangun semangat?”

Anjay, pertanyanku sangat bodoh sekali, hehe…

Begini jawab Banda:“Terus tentang ide. Tips saya begini, Pak. Ketika mau memilih judul, maka carilah judul agar mengacu kepada prosesi ngarap itu. Misalnya Manggur Bayu, Angkep Seketi (menyatukan tenaga). Itu mungkin judul yang mendekati dari prosesi ngarap.”

Apa yang dikatakan Banda di sini sangat membuka cakrawala berpikir saya, dan mungkin setelah tulisan ini disiarkan, teman-teman di Jembrana juga mendapat inside baru dari pemikiran ini.

Memang benar, kami di Jembrana (saya kususnya) masih sangat awam dengan baleganjur ngarap. Kesulitaan dalam menentukan tema, kekosongan kerangka berpikir dan bingung mencapai nuansa musikalitas baleganjur ngarap yang diinginkan membuat kami (para komposer dan kreator) bingung dalam berkarya, terlebih saya sendiri.

Maka apa yang dikatakan Banda dalam hal menentukan ide gagasan untuk baleganjur ngarap adalah bagaimana kita bisa membayangkan, memaknai prosesi “ngarap bade” tersebut.

Arah berpikir kita harus mengacu pada bagaimana layon (mayat) tersebut dinaikkan ke bade, kemudian para pemikul bade mengangkat bade berjalan ke kuburan, lalu ngider (berputar) jika melewati perempatan, dan seterusnya.

Jadi tema-tema yang bisa kita pilih harusnya mengacu kepada peristiwa-peristiwa itu tadi, terlebih fokusnya kepada prosesi pengarakan, termasuk sandang atau orang yang mengangkat dan mengarak bade ke setra. Bukan malah memilih tema yang terlalu deskriptis (kata Banda), seperti Kekitir, Sekar Ura, termasuk Manuk Dewata, Tali Dandan dan lainnya.

Lalu percakapan singkat saya dengan Banda via voice not WA saya tutup dengan mengucapkan terimakasi padanya.

“Yan, terima kasih atas waktunya, sharing yang sangat menarik sekali dengamu. Saya banyak mendapatkan inside-inside (pemikiran) baru melalui percakapan ini. Kapan-kapan kalau ketemu mari kita lanjutkan bercakap sembari minum koopi. Sekarang saya sedang ada pementasan di Pura Jagatnata, terima kasih, Yan.”

Setelah mengakhiri diskusi via WA itu dengan Banda, saya kemudian harus masuk panggung karena pementasan ulang Gong Kebyar Dewasa duta Jembrana di ajang PKB lalu saat itu segera dimulai. Kebetulan saya ikut menari sebagai penari rakyat di fragmentari yang di garap oleh Agus Onet, si koreografer Raja Buduh. [T]

Penulis: I Putu Adi Putra Kencana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I PUTU ADI PUTRA KENCANA
Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara
Tags: baleganjur ngarapHUT Kota Negarakarawitan balilomba baleganjur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kerja, Kuliah, Organisasi, Begitulah Cara Mahasiswa NTT Berjuang Menjemput Mimpi di Pulau Dewata

Next Post

Stop di Silat, Sukses di Muaythai — Kadek Bayu Suteja Raih Medali Emas di Porprov Bali 2025

I Putu Adi Putra Kencana

I Putu Adi Putra Kencana

Biasa dipanggil dengan nama “Somat”. Lahir pada 29 Desember 1994 di Mengenuanyar, Jembrana Bali. Somat merupakan seorang seniman, komposer, pengajar tabuh yang berasal dari Jembrana. Ia mulai mengenal dunia megambel semenjak duduk di bangku SMP dan rutin mendapat kesempatan sebagai penabuh pada ajang PKB. Somat menimba ilmu di ISI Denpasar pada tahun 2013 dan berhasil mendapatkan gelar sarjananya ditahun 2017 dengan karya tugas akhir Sewagati. Selain bergelut di dunia seni, keseharian somat sekarang juga bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng sebagai Penyuluh Agama Hindu.

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Stop di Silat, Sukses di Muaythai — Kadek Bayu Suteja Raih Medali Emas di Porprov Bali 2025

Stop di Silat, Sukses di Muaythai -- Kadek Bayu Suteja Raih Medali Emas di Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co