23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Kerja Rodi, DPR Bikin Komedi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 29, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

“KERJA rodi hilang, saat Belanda pergi dari Indonesia,” begitu kata guru saya waktu pelajaran sejarah di SMP dulu. Tapi apa betul demikian? Kalau kita coba lihat baik-baik, ternyata kerja rodi tidak benar-benar punah.

Ia hanya ganti kostum, dari todongan senapan kolonial menjadi todongan algoritma, ada juga yang berbentuk target dari kantor, dan ada juga berupa notifikasi aplikasi. Dari kerja paksa membangun Jalan Anyer–Panarukan, kini kita lembur membangun jalan raya digital, yang sama saja tanpa bayaran dan tanpa perlindungan. Selamat berjumpa lagi dengan wajah neo rodi di zaman now.

Jejak Rodi dari Jalan Raya Pos ke Jalan Raya Data

Dalam sejarah di zaman kompeni dulu, kerja rodi adalah kerja paksa tanpa upah. Rakyat Nusantara dipaksa untuk membangun infrastruktur demi kepentingan penjajah. Para pekerja membangun banyak fasilitas,  di bawah Daendels mereka membuat jalan pos, juga membangun perkebunan saat sistem tanam paksa diberlakukan.

Banyak yang meninggal, banyak pula yang kehilangan waktu untuk mengurus sawah dan keluarga. Sejarawan Jan Breman menyebut kerja rodi sebagai bentuk eksploitasi brutal di mana rakyat bahkan harus membawa bekal sendiri.

Tentu, seperti yang para pembaca tahu, ada cerita populer yang kini beredar di masyarakat bahwa sebagian pekerja rodi sebenarnya dibayar, tapi dana itu bocor di tangan bupati atau pejabat pribumi (Historia, 2018). Bisa jadi benar, tapi bukti kuatnya tipis.

Lepas dari perdebatan itu, tetap saja intinya jelas bahwa rakyat kerja keras, tapi tidak menikmati hasil. Untuk kita sekarang ini rupa-rupanya ada nuansa yang serupa. Bedanya, yang memaksa kita bukan lagi kompeni kolonial Belanda, tapi korporasi multinasional, startup ambisius, atau platform digital raksasa. Sepertinya di balik ini tetap kompeni sih, alias perusahaan.

Rodi Korporat, Lembur Gratis, Magang Tanpa Honor

Coba tanyakan pada para pekerja kantoran di Jakarta atau Bandung. Banyak yang lembur hingga larut malam, bahkan sampai Sabtu-Minggu, tapi tidak dihitung. Menurut aturan, lembur wajib dibayar, tapi pada praktiknya banyak perusahaan menutup mata. Ini bukan cerita fiksi distopia, itu realitas kapitalisme startup.

Bagaimana dengan magang? Sepertinya sama saja. Banyak mahasiswa magang diminta bekerja layaknya karyawan penuh seperti menyusun laporan, menghadiri rapat, bahkan meng-handle klien tanpa bayaran sepeser pun. Alasannya semua itu buat pengalaman, buat portofolio. Padahal pengalaman tidak bisa membayar kos, pulsa, atau makan siang. Ini bukan lagi belajar, tapi eksploitasi atas nama efisiensi.

Fenomena ini pas jika disebut rodi korporat. Bedanya dengan rodi kolonial adalah jika dulu ada cambuk dan senapan, sekarang ada jargon dari HRD, sebutlah passion, growth mindset, dan loyalty to company. Sama-sama menuntut kerja  dan sama-sama minim kompensasi. Garing, saudara.

Rodi Digital, Scroll, Like, Share, Kerja Gratis untuk Big Tech

Kalau rodi korporat masih terlihat di kantor, yang mengkonsep rodi digital jauh lebih licin. Ia bersembunyi di layar smartphone. Nah, setiap kali kita buka Instagram, TikTok, atau YouTube, kita sedang tanpa sadar bekerja untuk mereka. Data perilaku, perhatian, bahkan emosi kita diproses jadi komoditas untuk dijual ke pengiklan. Kita tidak merasa bekerja, tapi kapitalisme digital menyulap interaksi santai jadi profit miliaran dolar.

Fenomena ini sudah lama dibahas para akademisi. Christian Fuchs (2014) menyebutnya sebagai digital labor, tenaga kerja yang diberikan pengguna seperti konten, data, engagement tanpa bayaran, tapi menghasilkan nilai ekonomi besar.

Di Indonesia, penelitian UGM (Novianto, 2017) menunjukkan kerja media sosial seringkali tak terlihat dan menimbulkan alienasi. Kita seperti pekerja pabrik abad 19, hanya saja pabriknya adalah feed media sosial. Istilah keren untuk hal ini, rodi digital. Anda tidak dipaksa secara fisik, tapi dipaksa oleh desain algoritma, dopamine rush dari like, dan fear of missing out (FOMO). Bedanya tipis dengan rodi kolonial, karena sama-sama kerja tanpa upah, hanya saja sekarang kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedang bekerja atau dipekerjakan.

Kesamaan yang Menggelitik

Kalau kita tarik suatu benang merah, maka dapat kita melihat di mana dulu rodi kolonial mengeksploitasi tenaga rakyat lewat kerja paksa tanpa upah. Sekarang lalu muncul rodi korporat yang mengeksploitasi pekerja modern lewat lembur tak dibayar, magang gratis, serta relawan yang dipakai seperti buruh.

Ada juga rodi digital yang mengeksploitasi waktu luang dan atensi pengguna, yang berubah jadi komoditas tanpa kompensasi. Nah, tiga-tiganya menunjukkan satu hal bahwa kekuasaan selalu menemukan cara untuk memeras tenaga manusia semurah mungkin. Dulu pakai cambuk yang menyakiti secara fisik, sekarang pakai kontrak dan algoritma.

Ini masalah serius karena neo-rodi ini merusak hak pekerja. Hukum ketenagakerjaan mengatur upah lembur, tapi pelanggarannya malah makin meluas. Negara sendiri lebih sering diam. Rodi modern ini dengan cerdik menyamarkan eksploitasi. Magang, relawan, bahkan aktivitas online sering diberi label positif yang sebenarnya esensinya adalah kerja gratis.

Akhirnya, hal ini memperlebar kesenjangan dalam struktur masyarakat. Di satu sisi korporasi dan platform digital meraup keuntungan besar, sementarai sisi lain pekerja dan pengguna tetap miskin waktu, miskin upah, miskin pula kesehatan mental.

Neo Rodi Zaman Now

Apakah ini berarti kita hidup dalam era baru kerja paksa? Dari bau-baunya sepertinya iya, tapi dengan gaya berbeda. Kalau dulu tubuh kita diperas di Jalan Anyer–Panarukan, sekarang pikiran dan waktu kita diperas di kantor open space dan timeline Instagram. Mungkin sudah waktunya kita berhenti menyebutnya sebagai sekadar efisiensi atau belajar kerja nyata.

Mari sebut saja terus terang dengan nama aslinya, yaitu rodi korporat dan rodi digital. Nama yang tidak nyaman, tapi jujur, dan tetap membuat kita tetap sadar. Karena kalau kita tidak berani menamai sesuai aslinya, kita akan terus menjadi pekerja rodi gaya baru, tertawa saat scroll, bangga saat lembur, tapi tetap pulang dengan dompet tipis dan waktu yang selalu habis. Di luar bisa tertawa, di dalam terasa nelangsa.

Ironi Wakil Rakyat Kini

Sidang pembaca yang budiman, di tengah rakyat yang masih berjuang dalam jebakan neo rodi ini, kita menyaksikan para wakil rakyat dengan tenangnya menaikkan gaji dan tunjangan mereka. Suatu ironi manakala rakyat kerja rodi, DPR malah bikin komedi. Jangan bandingkan kami dengan rakyat jelata, kata salah seorang politisi. Sesat logika katanya. Tak heran bila tagar #IndonesiaGelap sempat menggema beberapa saat lalu di media sosial, di mana hal ini mencerminkan kekecewaan kolektif terhadap wajah demokrasi kita yang buram.

Kalau dulu penderitaan datang dari cambuk kolonial, kini datang dari paradoks demokrasi. Pemegang mandat kekuasaan yang seharusnya membela rakyat malah justru menambah jarak sosial dengan kleptokrasi. Di tengah situasi ini, logis bila mahasiswa kembali turun ke jalan, mengibarkan bendera kekinian One Piece, membalut peran klasik mereka sebagai agent of change. Mereka dengan lantang menyuarakan akal sehat yang terancam punah, sembari menyeruak masuk ke dalam gedung parlemen.

Kira-kira sampai kapan rakyat harus terus memikul beban ini? Ibarat para elite tergelak tertawa dalam gempita gemerlapnya panggung, sementara di bawah, rakyat hanya mendapat sisa sorot lampu yang temaram. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: digitalDPRrakyatrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketua DPRD Ngurah Arya Sambut Positif Program Rekognisi Pembelajaran Lampau untuk Kemajuan Pendidikan di Buleleng

Next Post

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co