14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
August 29, 2025
in Persona
I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

I Ketut Bagiana

KEPULAN asap kretek berembus dari mulutnya. Ia duduk bersila di teras rumahnya. Namanya I Ketut Bagiana (48), tapi sehari-hari ia kerap disapa Bli Toet. “Itu maksudnya Bli Tut,” ia menjelaskan arti di balik panggilan “Bli Toet”.

Bli Toet merupakan penari Hanoman yang andal. Ia tampil bersama Tari Kecak yang dipentaskan setiap hari di Pantai Melasti, Ungasan. Sebelumnya, menurut Bli Toet, biasanya hanya hari Jumat saja pementasan Kecak ramai penonton. Tapi sekarang hampir setiap hari selalu ramai seiring pamor Pantai Melasti yang semakin terkenal—apalagi saat musim liburan tiba, tamu domestik maupun mancanegara berbondong-bondong untuk menonton.

Sambil duduk bersila Bli Toet bercerita. Dulu, ia menari setiap hari; tetapi karena sendiri, ia merasa tidak kuat. “Saya perlu istirahat,” katanya. Sekarang ia hanya menari lima kali dalam seminggu. Bli Toet sangat menyukai profesi ini. Tapi ia mengaku tidak pernah menari di Pura Uluwatu. Ia hanya pernah ngayah di kesenian balaganjur, megambel.

Selain menjadi penari, lelaki asal Desa Ungasan, Kuta Selatan ini juga memiliki hobi menyanyi. Ia sering mengisi hiburan di acara-acara resepsi pernikahan dan ulang tahun. Selain itu ia juga bekerja di bagian operator mesin New Kuta Golf. Ini membuktikan bahwa Bli Toet termasuk orang yang produktif.

I Ketut Bagiana saat diwawancarai di rumahnya | Foto: tatkala.co/Sariasih

Ada saat di mana ia mengisi acara pernikahan pada malam hari, pukul 6 pagi bekerja sampai pukul 2 siang, lalu sore harinya ia sudah menari sebagai Hanoman saat Tari Kecak tampil di Pantai Melasti.

Namun, ada saat di mana ia merasa juga harus memilih salah satu antara memenuhi undangan pernikahan atau menari Hanoman. “Terkadang jika waktunya mepet dengan undangan mengisi pesta pernikahan, saya cari pengganti untuk nari Hanoman. Tapi kalau badan tidak fit dan lelah, saya izin tidak menari,” terangnya. “Itu cukup menguras energi,” sambungnya. Untuk menjaga stamina, ia mengonsumsi loloh (jamu) kayu manis, supaya perut tidak panas, katanya. Loloh itu bisa diselingi dengan minum susu sapi murni.

I Ketut Bagiana lahir dari keluarga yang, katakanlah, kurang mampu. Dulu, sejak kelas 3 SD ia sekolah tanpa sepatu, celananya ditambal kain, bajunya tidak pernah disetrika. Ketika kancing bajunya lepas, terpaksa pakai peniti. Bahkan sisir saja ia tidak punya. Kalau merampikan rambut, ia pakai minyak bali asli, lalu sekolah jalan kaki tanpa sarapan dengan bekal lima rupiah, itu pun kalau ada.

“Paling banyak bekal 25 rupiah. Itu bisa dapat pisang goreng 2 ditambah permen, kalau nasi 35 rupiah, banyak dapat!” Bli Toet bercerita dengan antusias.

I Ketut Bagiana saat menarikan Hanoman | Foto: Dok. Bagiana

Keluarga Bli Toet dulu makan dari hasil kebun. Ia biasanya makan singkong, jagung, dan kedelai. Makan beras jarang-jarang. Kalau pun ada biasanya dicampur dengan singkong atau jagung.

Waktu kecil ia sering mencari kayu bakar—atau biasa disebut saang—untuk memasak dan mencari pakan sapi, ngarit di ladang. Tapi sekarang ladang-ladang itu sudah menjadi beton. “Kalau banyak dapat kayu kering, setengahnya bisa dijual,” kenangnya.

Pendidikan Bli Toet hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia memilih bekerja di New Kuta Golf untuk membantu perekonomian keluarga. “Ingin lanjut sekolah, tapi tidak bisa karena ekonomi,” tambahnya. Sembari bekerja di New Kuta Golf, ia menjadi penari Hanoman yang pentas di hotel-hotel di Bali.

***

Lelaki kelahiran 1977 itu begitu tertarik dengan karakter Hanoman—kera putih dalam epos Ramayana. Karakter itulah yang memotivasinya untuk menjadi penari Hanoman dalam Tari Kecak. Ia menyampaikan, di dekat tempat tinggalnya pernah ada Tari Kecak. Dari situlah ia mulai tertarik ingin menari sebagai Hanoman. Dan ia pertama kali menari dari hotel ke hotel.

“Karena terlalu suka, dulu, walaupun jauh, misalnya pentas di hotel-hotel di Nusa Dua, atau hotel-hotel di Jimbaran, saya datangi, bawa motor sendiri, beli minyak sendiri, beli kamen [kain Bali] sendiri,” aku Bli Toet mengenang masa lalu.

“Tapi itu sulit, karena pakai biaya sendiri, upahnya juga sedikit. Hotel yang ngasih honor sekali pentas berapa, sih? Kalau sekarang, yang di Melasti ini kan dibayar berdasarkan persentase. Kalau tamunya banyak, kita ya dapat banyak. Pokonya penghasilannya lebih besar,” katanya membandingkan antara upahnya di hotel dengan pentas di Pantai Melasti. Ia mengatakan hal tersebut sembari tertawa.

Saya bertanya apakah ia pernah menari di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK)? Ia menjawab, “Aduh, sudah bosan, berapa tahun sudah itu. Belasan tahun menari di situ. Sebelumnya saya menari di hotel-hotel, dari Bali Jimbaran, Nusa Dua, sampai ke Pecatu. Makanya sudah berpuluh-puluh tahun Kecak di sini, dari zaman Hotel Bali Cliff  tahun 1993 berdiri.”

I Ketut Bagiana diajak foto para tamu | Foto: Dok. Bagiana

Sudah 32 tahun menari Hanoman, Bli Toet mengaku tetap was-was kakinya terbakar karena dalam pertunjukkan Tari Kecak ada adegan api ketika Hanoman dikepung oleh pasukan Rahwana. Itu ia anggap sebagai tantangan. Selain itu, tenaganya kini juga cepat terkuras karena adegan melompat-lompat.

Bli Toet bercerita, sebenarnya ia kesulitan menarikan Hanoman, kini. Menurutnya, sekarang lebih susah menari karena terasa lebih melelahkan. Ia merasa versi Kecak hari ini lain daripada yang dulu, ceritanya agak berbeda.

“Kalau dulu, Hanoman keluar di tengah-tengah pertunjukan—saat hendak menyelamatkan Dewi Sita. Misalnya satu jam pentas, pada menit ke tiga puluh itu Hanoman baru keluar. Tapi sekarang lain, satu jam pentas, dari awal sampai akhir, saya harus menari Hanoman,” kisah BlI Toet.

Dan itu menurutnya cukup melelahkan. Bli Toet juga bercerita bahwa Kecak zaman dulu tak ada agegan api. Sedangkan sekarang setiap hari ia harus berhadapan dengan kobaran api, sampai kakinya selalu menjadi taruhan, di kulitnya banyak bekas luka bakar.

“Sangat susah cari orang untuk jadi Hanoman—karena ada apinya itu, berisiko. Saya masih menari karena suka; karena keberanian juga, sih,” katanya sambil tertawa lagi.

Saat menari Hanoman, Bli Toet sering berinteraksi dengan penonton—interaksi yang hangat. Apalagi ketika ia mendekat ke bangku penonton. Walaupun tak jarang berteriak takut, beberapa penonton merasa senang dihampiri sosok Hanoman.

“Ada yang kaget, tetapi tidak ada yang memasang raut muka kesal. Penonton lokal maupun mancanegara suka,” katanya.

I Ketut Bagiana diajak foto para tamu | Foto: Dok. Bagiana

Dari sekian karakter dalam Tari Kecak, Hanoman merupakan sosok yang menyita perhatian. Sosok ini lebih banyak diminta atau diajak berfoto. “Sebanyak apa pun yang minta foto, saya layani. Buat penonton puas!” ucapnya dengan tegas.

Selain menari di Pantai Melasti, Bli Toet juga pernah menari di pura, terutama di pura desa dan pura segara. Ia menganggap pentas di pura sebagai wujud rasa syukur; sedangkan di Pantai Melasti sebagai bentuk menyambung hidup.

Ada banyak pengalaman menarik selama Bli Toet menari Hanoman. Salah satunya adalah ketika ia mendapat kekasih dari Jepang. Perempuan Jepang itu sudah ia anggap istri. Perempuan itu juga sangat menyukai karakter Hanoman dalam Tari Kecak. Namun sayang, perempuan dari Negeri Sakura itu bukan jodohnya. Akhirnya, Bli Toet, lelaki berambut tipis sebahu yang suka memakai kacamata hitam itu, kini sudah memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki, dari perempuan lain.

Saat saya tanya mengenai masa depan Kecak, Bli Toet menjawab dengan tegas. Menurutnya, Kecak masih menjanjikan di masa depan. “Dulu nggak banyak peminat, karena masih belum ramai. Sekarang karena sudah ramai, banyak yang ingin ikut ngecak. Tapi ya itu, ingin ikut karena tertarik upahnya, tidak benar-benar ingin berkesenian,” terangnya, menggebu-gebu.

Di akhir perbincangan, Bli Toet mengutarakan harapannya. Ia berharap anak keduanya, Kadek Dwik, bisa mewarisi dan meneruskan keahlianya dalam menarikan Hanoman, sebagaimana kakaknya, Luh Santika Putri, yang sudah menjadi penari.[T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Jaswanto

Tags: Desa UngasanHanomanI Ketut Bagianakecakkuta selatanPantai Melasti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rakyat Kerja Rodi, DPR Bikin Komedi

Next Post

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co