13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Kerja Rodi, DPR Bikin Komedi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 29, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

“KERJA rodi hilang, saat Belanda pergi dari Indonesia,” begitu kata guru saya waktu pelajaran sejarah di SMP dulu. Tapi apa betul demikian? Kalau kita coba lihat baik-baik, ternyata kerja rodi tidak benar-benar punah.

Ia hanya ganti kostum, dari todongan senapan kolonial menjadi todongan algoritma, ada juga yang berbentuk target dari kantor, dan ada juga berupa notifikasi aplikasi. Dari kerja paksa membangun Jalan Anyer–Panarukan, kini kita lembur membangun jalan raya digital, yang sama saja tanpa bayaran dan tanpa perlindungan. Selamat berjumpa lagi dengan wajah neo rodi di zaman now.

Jejak Rodi dari Jalan Raya Pos ke Jalan Raya Data

Dalam sejarah di zaman kompeni dulu, kerja rodi adalah kerja paksa tanpa upah. Rakyat Nusantara dipaksa untuk membangun infrastruktur demi kepentingan penjajah. Para pekerja membangun banyak fasilitas,  di bawah Daendels mereka membuat jalan pos, juga membangun perkebunan saat sistem tanam paksa diberlakukan.

Banyak yang meninggal, banyak pula yang kehilangan waktu untuk mengurus sawah dan keluarga. Sejarawan Jan Breman menyebut kerja rodi sebagai bentuk eksploitasi brutal di mana rakyat bahkan harus membawa bekal sendiri.

Tentu, seperti yang para pembaca tahu, ada cerita populer yang kini beredar di masyarakat bahwa sebagian pekerja rodi sebenarnya dibayar, tapi dana itu bocor di tangan bupati atau pejabat pribumi (Historia, 2018). Bisa jadi benar, tapi bukti kuatnya tipis.

Lepas dari perdebatan itu, tetap saja intinya jelas bahwa rakyat kerja keras, tapi tidak menikmati hasil. Untuk kita sekarang ini rupa-rupanya ada nuansa yang serupa. Bedanya, yang memaksa kita bukan lagi kompeni kolonial Belanda, tapi korporasi multinasional, startup ambisius, atau platform digital raksasa. Sepertinya di balik ini tetap kompeni sih, alias perusahaan.

Rodi Korporat, Lembur Gratis, Magang Tanpa Honor

Coba tanyakan pada para pekerja kantoran di Jakarta atau Bandung. Banyak yang lembur hingga larut malam, bahkan sampai Sabtu-Minggu, tapi tidak dihitung. Menurut aturan, lembur wajib dibayar, tapi pada praktiknya banyak perusahaan menutup mata. Ini bukan cerita fiksi distopia, itu realitas kapitalisme startup.

Bagaimana dengan magang? Sepertinya sama saja. Banyak mahasiswa magang diminta bekerja layaknya karyawan penuh seperti menyusun laporan, menghadiri rapat, bahkan meng-handle klien tanpa bayaran sepeser pun. Alasannya semua itu buat pengalaman, buat portofolio. Padahal pengalaman tidak bisa membayar kos, pulsa, atau makan siang. Ini bukan lagi belajar, tapi eksploitasi atas nama efisiensi.

Fenomena ini pas jika disebut rodi korporat. Bedanya dengan rodi kolonial adalah jika dulu ada cambuk dan senapan, sekarang ada jargon dari HRD, sebutlah passion, growth mindset, dan loyalty to company. Sama-sama menuntut kerja  dan sama-sama minim kompensasi. Garing, saudara.

Rodi Digital, Scroll, Like, Share, Kerja Gratis untuk Big Tech

Kalau rodi korporat masih terlihat di kantor, yang mengkonsep rodi digital jauh lebih licin. Ia bersembunyi di layar smartphone. Nah, setiap kali kita buka Instagram, TikTok, atau YouTube, kita sedang tanpa sadar bekerja untuk mereka. Data perilaku, perhatian, bahkan emosi kita diproses jadi komoditas untuk dijual ke pengiklan. Kita tidak merasa bekerja, tapi kapitalisme digital menyulap interaksi santai jadi profit miliaran dolar.

Fenomena ini sudah lama dibahas para akademisi. Christian Fuchs (2014) menyebutnya sebagai digital labor, tenaga kerja yang diberikan pengguna seperti konten, data, engagement tanpa bayaran, tapi menghasilkan nilai ekonomi besar.

Di Indonesia, penelitian UGM (Novianto, 2017) menunjukkan kerja media sosial seringkali tak terlihat dan menimbulkan alienasi. Kita seperti pekerja pabrik abad 19, hanya saja pabriknya adalah feed media sosial. Istilah keren untuk hal ini, rodi digital. Anda tidak dipaksa secara fisik, tapi dipaksa oleh desain algoritma, dopamine rush dari like, dan fear of missing out (FOMO). Bedanya tipis dengan rodi kolonial, karena sama-sama kerja tanpa upah, hanya saja sekarang kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedang bekerja atau dipekerjakan.

Kesamaan yang Menggelitik

Kalau kita tarik suatu benang merah, maka dapat kita melihat di mana dulu rodi kolonial mengeksploitasi tenaga rakyat lewat kerja paksa tanpa upah. Sekarang lalu muncul rodi korporat yang mengeksploitasi pekerja modern lewat lembur tak dibayar, magang gratis, serta relawan yang dipakai seperti buruh.

Ada juga rodi digital yang mengeksploitasi waktu luang dan atensi pengguna, yang berubah jadi komoditas tanpa kompensasi. Nah, tiga-tiganya menunjukkan satu hal bahwa kekuasaan selalu menemukan cara untuk memeras tenaga manusia semurah mungkin. Dulu pakai cambuk yang menyakiti secara fisik, sekarang pakai kontrak dan algoritma.

Ini masalah serius karena neo-rodi ini merusak hak pekerja. Hukum ketenagakerjaan mengatur upah lembur, tapi pelanggarannya malah makin meluas. Negara sendiri lebih sering diam. Rodi modern ini dengan cerdik menyamarkan eksploitasi. Magang, relawan, bahkan aktivitas online sering diberi label positif yang sebenarnya esensinya adalah kerja gratis.

Akhirnya, hal ini memperlebar kesenjangan dalam struktur masyarakat. Di satu sisi korporasi dan platform digital meraup keuntungan besar, sementarai sisi lain pekerja dan pengguna tetap miskin waktu, miskin upah, miskin pula kesehatan mental.

Neo Rodi Zaman Now

Apakah ini berarti kita hidup dalam era baru kerja paksa? Dari bau-baunya sepertinya iya, tapi dengan gaya berbeda. Kalau dulu tubuh kita diperas di Jalan Anyer–Panarukan, sekarang pikiran dan waktu kita diperas di kantor open space dan timeline Instagram. Mungkin sudah waktunya kita berhenti menyebutnya sebagai sekadar efisiensi atau belajar kerja nyata.

Mari sebut saja terus terang dengan nama aslinya, yaitu rodi korporat dan rodi digital. Nama yang tidak nyaman, tapi jujur, dan tetap membuat kita tetap sadar. Karena kalau kita tidak berani menamai sesuai aslinya, kita akan terus menjadi pekerja rodi gaya baru, tertawa saat scroll, bangga saat lembur, tapi tetap pulang dengan dompet tipis dan waktu yang selalu habis. Di luar bisa tertawa, di dalam terasa nelangsa.

Ironi Wakil Rakyat Kini

Sidang pembaca yang budiman, di tengah rakyat yang masih berjuang dalam jebakan neo rodi ini, kita menyaksikan para wakil rakyat dengan tenangnya menaikkan gaji dan tunjangan mereka. Suatu ironi manakala rakyat kerja rodi, DPR malah bikin komedi. Jangan bandingkan kami dengan rakyat jelata, kata salah seorang politisi. Sesat logika katanya. Tak heran bila tagar #IndonesiaGelap sempat menggema beberapa saat lalu di media sosial, di mana hal ini mencerminkan kekecewaan kolektif terhadap wajah demokrasi kita yang buram.

Kalau dulu penderitaan datang dari cambuk kolonial, kini datang dari paradoks demokrasi. Pemegang mandat kekuasaan yang seharusnya membela rakyat malah justru menambah jarak sosial dengan kleptokrasi. Di tengah situasi ini, logis bila mahasiswa kembali turun ke jalan, mengibarkan bendera kekinian One Piece, membalut peran klasik mereka sebagai agent of change. Mereka dengan lantang menyuarakan akal sehat yang terancam punah, sembari menyeruak masuk ke dalam gedung parlemen.

Kira-kira sampai kapan rakyat harus terus memikul beban ini? Ibarat para elite tergelak tertawa dalam gempita gemerlapnya panggung, sementara di bawah, rakyat hanya mendapat sisa sorot lampu yang temaram. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: digitalDPRrakyatrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketua DPRD Ngurah Arya Sambut Positif Program Rekognisi Pembelajaran Lampau untuk Kemajuan Pendidikan di Buleleng

Next Post

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co