22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Kerja Rodi, DPR Bikin Komedi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 29, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

“KERJA rodi hilang, saat Belanda pergi dari Indonesia,” begitu kata guru saya waktu pelajaran sejarah di SMP dulu. Tapi apa betul demikian? Kalau kita coba lihat baik-baik, ternyata kerja rodi tidak benar-benar punah.

Ia hanya ganti kostum, dari todongan senapan kolonial menjadi todongan algoritma, ada juga yang berbentuk target dari kantor, dan ada juga berupa notifikasi aplikasi. Dari kerja paksa membangun Jalan Anyer–Panarukan, kini kita lembur membangun jalan raya digital, yang sama saja tanpa bayaran dan tanpa perlindungan. Selamat berjumpa lagi dengan wajah neo rodi di zaman now.

Jejak Rodi dari Jalan Raya Pos ke Jalan Raya Data

Dalam sejarah di zaman kompeni dulu, kerja rodi adalah kerja paksa tanpa upah. Rakyat Nusantara dipaksa untuk membangun infrastruktur demi kepentingan penjajah. Para pekerja membangun banyak fasilitas,  di bawah Daendels mereka membuat jalan pos, juga membangun perkebunan saat sistem tanam paksa diberlakukan.

Banyak yang meninggal, banyak pula yang kehilangan waktu untuk mengurus sawah dan keluarga. Sejarawan Jan Breman menyebut kerja rodi sebagai bentuk eksploitasi brutal di mana rakyat bahkan harus membawa bekal sendiri.

Tentu, seperti yang para pembaca tahu, ada cerita populer yang kini beredar di masyarakat bahwa sebagian pekerja rodi sebenarnya dibayar, tapi dana itu bocor di tangan bupati atau pejabat pribumi (Historia, 2018). Bisa jadi benar, tapi bukti kuatnya tipis.

Lepas dari perdebatan itu, tetap saja intinya jelas bahwa rakyat kerja keras, tapi tidak menikmati hasil. Untuk kita sekarang ini rupa-rupanya ada nuansa yang serupa. Bedanya, yang memaksa kita bukan lagi kompeni kolonial Belanda, tapi korporasi multinasional, startup ambisius, atau platform digital raksasa. Sepertinya di balik ini tetap kompeni sih, alias perusahaan.

Rodi Korporat, Lembur Gratis, Magang Tanpa Honor

Coba tanyakan pada para pekerja kantoran di Jakarta atau Bandung. Banyak yang lembur hingga larut malam, bahkan sampai Sabtu-Minggu, tapi tidak dihitung. Menurut aturan, lembur wajib dibayar, tapi pada praktiknya banyak perusahaan menutup mata. Ini bukan cerita fiksi distopia, itu realitas kapitalisme startup.

Bagaimana dengan magang? Sepertinya sama saja. Banyak mahasiswa magang diminta bekerja layaknya karyawan penuh seperti menyusun laporan, menghadiri rapat, bahkan meng-handle klien tanpa bayaran sepeser pun. Alasannya semua itu buat pengalaman, buat portofolio. Padahal pengalaman tidak bisa membayar kos, pulsa, atau makan siang. Ini bukan lagi belajar, tapi eksploitasi atas nama efisiensi.

Fenomena ini pas jika disebut rodi korporat. Bedanya dengan rodi kolonial adalah jika dulu ada cambuk dan senapan, sekarang ada jargon dari HRD, sebutlah passion, growth mindset, dan loyalty to company. Sama-sama menuntut kerja  dan sama-sama minim kompensasi. Garing, saudara.

Rodi Digital, Scroll, Like, Share, Kerja Gratis untuk Big Tech

Kalau rodi korporat masih terlihat di kantor, yang mengkonsep rodi digital jauh lebih licin. Ia bersembunyi di layar smartphone. Nah, setiap kali kita buka Instagram, TikTok, atau YouTube, kita sedang tanpa sadar bekerja untuk mereka. Data perilaku, perhatian, bahkan emosi kita diproses jadi komoditas untuk dijual ke pengiklan. Kita tidak merasa bekerja, tapi kapitalisme digital menyulap interaksi santai jadi profit miliaran dolar.

Fenomena ini sudah lama dibahas para akademisi. Christian Fuchs (2014) menyebutnya sebagai digital labor, tenaga kerja yang diberikan pengguna seperti konten, data, engagement tanpa bayaran, tapi menghasilkan nilai ekonomi besar.

Di Indonesia, penelitian UGM (Novianto, 2017) menunjukkan kerja media sosial seringkali tak terlihat dan menimbulkan alienasi. Kita seperti pekerja pabrik abad 19, hanya saja pabriknya adalah feed media sosial. Istilah keren untuk hal ini, rodi digital. Anda tidak dipaksa secara fisik, tapi dipaksa oleh desain algoritma, dopamine rush dari like, dan fear of missing out (FOMO). Bedanya tipis dengan rodi kolonial, karena sama-sama kerja tanpa upah, hanya saja sekarang kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedang bekerja atau dipekerjakan.

Kesamaan yang Menggelitik

Kalau kita tarik suatu benang merah, maka dapat kita melihat di mana dulu rodi kolonial mengeksploitasi tenaga rakyat lewat kerja paksa tanpa upah. Sekarang lalu muncul rodi korporat yang mengeksploitasi pekerja modern lewat lembur tak dibayar, magang gratis, serta relawan yang dipakai seperti buruh.

Ada juga rodi digital yang mengeksploitasi waktu luang dan atensi pengguna, yang berubah jadi komoditas tanpa kompensasi. Nah, tiga-tiganya menunjukkan satu hal bahwa kekuasaan selalu menemukan cara untuk memeras tenaga manusia semurah mungkin. Dulu pakai cambuk yang menyakiti secara fisik, sekarang pakai kontrak dan algoritma.

Ini masalah serius karena neo-rodi ini merusak hak pekerja. Hukum ketenagakerjaan mengatur upah lembur, tapi pelanggarannya malah makin meluas. Negara sendiri lebih sering diam. Rodi modern ini dengan cerdik menyamarkan eksploitasi. Magang, relawan, bahkan aktivitas online sering diberi label positif yang sebenarnya esensinya adalah kerja gratis.

Akhirnya, hal ini memperlebar kesenjangan dalam struktur masyarakat. Di satu sisi korporasi dan platform digital meraup keuntungan besar, sementarai sisi lain pekerja dan pengguna tetap miskin waktu, miskin upah, miskin pula kesehatan mental.

Neo Rodi Zaman Now

Apakah ini berarti kita hidup dalam era baru kerja paksa? Dari bau-baunya sepertinya iya, tapi dengan gaya berbeda. Kalau dulu tubuh kita diperas di Jalan Anyer–Panarukan, sekarang pikiran dan waktu kita diperas di kantor open space dan timeline Instagram. Mungkin sudah waktunya kita berhenti menyebutnya sebagai sekadar efisiensi atau belajar kerja nyata.

Mari sebut saja terus terang dengan nama aslinya, yaitu rodi korporat dan rodi digital. Nama yang tidak nyaman, tapi jujur, dan tetap membuat kita tetap sadar. Karena kalau kita tidak berani menamai sesuai aslinya, kita akan terus menjadi pekerja rodi gaya baru, tertawa saat scroll, bangga saat lembur, tapi tetap pulang dengan dompet tipis dan waktu yang selalu habis. Di luar bisa tertawa, di dalam terasa nelangsa.

Ironi Wakil Rakyat Kini

Sidang pembaca yang budiman, di tengah rakyat yang masih berjuang dalam jebakan neo rodi ini, kita menyaksikan para wakil rakyat dengan tenangnya menaikkan gaji dan tunjangan mereka. Suatu ironi manakala rakyat kerja rodi, DPR malah bikin komedi. Jangan bandingkan kami dengan rakyat jelata, kata salah seorang politisi. Sesat logika katanya. Tak heran bila tagar #IndonesiaGelap sempat menggema beberapa saat lalu di media sosial, di mana hal ini mencerminkan kekecewaan kolektif terhadap wajah demokrasi kita yang buram.

Kalau dulu penderitaan datang dari cambuk kolonial, kini datang dari paradoks demokrasi. Pemegang mandat kekuasaan yang seharusnya membela rakyat malah justru menambah jarak sosial dengan kleptokrasi. Di tengah situasi ini, logis bila mahasiswa kembali turun ke jalan, mengibarkan bendera kekinian One Piece, membalut peran klasik mereka sebagai agent of change. Mereka dengan lantang menyuarakan akal sehat yang terancam punah, sembari menyeruak masuk ke dalam gedung parlemen.

Kira-kira sampai kapan rakyat harus terus memikul beban ini? Ibarat para elite tergelak tertawa dalam gempita gemerlapnya panggung, sementara di bawah, rakyat hanya mendapat sisa sorot lampu yang temaram. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: digitalDPRrakyatrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketua DPRD Ngurah Arya Sambut Positif Program Rekognisi Pembelajaran Lampau untuk Kemajuan Pendidikan di Buleleng

Next Post

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co