2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Kerja Rodi, DPR Bikin Komedi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 29, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

“KERJA rodi hilang, saat Belanda pergi dari Indonesia,” begitu kata guru saya waktu pelajaran sejarah di SMP dulu. Tapi apa betul demikian? Kalau kita coba lihat baik-baik, ternyata kerja rodi tidak benar-benar punah.

Ia hanya ganti kostum, dari todongan senapan kolonial menjadi todongan algoritma, ada juga yang berbentuk target dari kantor, dan ada juga berupa notifikasi aplikasi. Dari kerja paksa membangun Jalan Anyer–Panarukan, kini kita lembur membangun jalan raya digital, yang sama saja tanpa bayaran dan tanpa perlindungan. Selamat berjumpa lagi dengan wajah neo rodi di zaman now.

Jejak Rodi dari Jalan Raya Pos ke Jalan Raya Data

Dalam sejarah di zaman kompeni dulu, kerja rodi adalah kerja paksa tanpa upah. Rakyat Nusantara dipaksa untuk membangun infrastruktur demi kepentingan penjajah. Para pekerja membangun banyak fasilitas,  di bawah Daendels mereka membuat jalan pos, juga membangun perkebunan saat sistem tanam paksa diberlakukan.

Banyak yang meninggal, banyak pula yang kehilangan waktu untuk mengurus sawah dan keluarga. Sejarawan Jan Breman menyebut kerja rodi sebagai bentuk eksploitasi brutal di mana rakyat bahkan harus membawa bekal sendiri.

Tentu, seperti yang para pembaca tahu, ada cerita populer yang kini beredar di masyarakat bahwa sebagian pekerja rodi sebenarnya dibayar, tapi dana itu bocor di tangan bupati atau pejabat pribumi (Historia, 2018). Bisa jadi benar, tapi bukti kuatnya tipis.

Lepas dari perdebatan itu, tetap saja intinya jelas bahwa rakyat kerja keras, tapi tidak menikmati hasil. Untuk kita sekarang ini rupa-rupanya ada nuansa yang serupa. Bedanya, yang memaksa kita bukan lagi kompeni kolonial Belanda, tapi korporasi multinasional, startup ambisius, atau platform digital raksasa. Sepertinya di balik ini tetap kompeni sih, alias perusahaan.

Rodi Korporat, Lembur Gratis, Magang Tanpa Honor

Coba tanyakan pada para pekerja kantoran di Jakarta atau Bandung. Banyak yang lembur hingga larut malam, bahkan sampai Sabtu-Minggu, tapi tidak dihitung. Menurut aturan, lembur wajib dibayar, tapi pada praktiknya banyak perusahaan menutup mata. Ini bukan cerita fiksi distopia, itu realitas kapitalisme startup.

Bagaimana dengan magang? Sepertinya sama saja. Banyak mahasiswa magang diminta bekerja layaknya karyawan penuh seperti menyusun laporan, menghadiri rapat, bahkan meng-handle klien tanpa bayaran sepeser pun. Alasannya semua itu buat pengalaman, buat portofolio. Padahal pengalaman tidak bisa membayar kos, pulsa, atau makan siang. Ini bukan lagi belajar, tapi eksploitasi atas nama efisiensi.

Fenomena ini pas jika disebut rodi korporat. Bedanya dengan rodi kolonial adalah jika dulu ada cambuk dan senapan, sekarang ada jargon dari HRD, sebutlah passion, growth mindset, dan loyalty to company. Sama-sama menuntut kerja  dan sama-sama minim kompensasi. Garing, saudara.

Rodi Digital, Scroll, Like, Share, Kerja Gratis untuk Big Tech

Kalau rodi korporat masih terlihat di kantor, yang mengkonsep rodi digital jauh lebih licin. Ia bersembunyi di layar smartphone. Nah, setiap kali kita buka Instagram, TikTok, atau YouTube, kita sedang tanpa sadar bekerja untuk mereka. Data perilaku, perhatian, bahkan emosi kita diproses jadi komoditas untuk dijual ke pengiklan. Kita tidak merasa bekerja, tapi kapitalisme digital menyulap interaksi santai jadi profit miliaran dolar.

Fenomena ini sudah lama dibahas para akademisi. Christian Fuchs (2014) menyebutnya sebagai digital labor, tenaga kerja yang diberikan pengguna seperti konten, data, engagement tanpa bayaran, tapi menghasilkan nilai ekonomi besar.

Di Indonesia, penelitian UGM (Novianto, 2017) menunjukkan kerja media sosial seringkali tak terlihat dan menimbulkan alienasi. Kita seperti pekerja pabrik abad 19, hanya saja pabriknya adalah feed media sosial. Istilah keren untuk hal ini, rodi digital. Anda tidak dipaksa secara fisik, tapi dipaksa oleh desain algoritma, dopamine rush dari like, dan fear of missing out (FOMO). Bedanya tipis dengan rodi kolonial, karena sama-sama kerja tanpa upah, hanya saja sekarang kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedang bekerja atau dipekerjakan.

Kesamaan yang Menggelitik

Kalau kita tarik suatu benang merah, maka dapat kita melihat di mana dulu rodi kolonial mengeksploitasi tenaga rakyat lewat kerja paksa tanpa upah. Sekarang lalu muncul rodi korporat yang mengeksploitasi pekerja modern lewat lembur tak dibayar, magang gratis, serta relawan yang dipakai seperti buruh.

Ada juga rodi digital yang mengeksploitasi waktu luang dan atensi pengguna, yang berubah jadi komoditas tanpa kompensasi. Nah, tiga-tiganya menunjukkan satu hal bahwa kekuasaan selalu menemukan cara untuk memeras tenaga manusia semurah mungkin. Dulu pakai cambuk yang menyakiti secara fisik, sekarang pakai kontrak dan algoritma.

Ini masalah serius karena neo-rodi ini merusak hak pekerja. Hukum ketenagakerjaan mengatur upah lembur, tapi pelanggarannya malah makin meluas. Negara sendiri lebih sering diam. Rodi modern ini dengan cerdik menyamarkan eksploitasi. Magang, relawan, bahkan aktivitas online sering diberi label positif yang sebenarnya esensinya adalah kerja gratis.

Akhirnya, hal ini memperlebar kesenjangan dalam struktur masyarakat. Di satu sisi korporasi dan platform digital meraup keuntungan besar, sementarai sisi lain pekerja dan pengguna tetap miskin waktu, miskin upah, miskin pula kesehatan mental.

Neo Rodi Zaman Now

Apakah ini berarti kita hidup dalam era baru kerja paksa? Dari bau-baunya sepertinya iya, tapi dengan gaya berbeda. Kalau dulu tubuh kita diperas di Jalan Anyer–Panarukan, sekarang pikiran dan waktu kita diperas di kantor open space dan timeline Instagram. Mungkin sudah waktunya kita berhenti menyebutnya sebagai sekadar efisiensi atau belajar kerja nyata.

Mari sebut saja terus terang dengan nama aslinya, yaitu rodi korporat dan rodi digital. Nama yang tidak nyaman, tapi jujur, dan tetap membuat kita tetap sadar. Karena kalau kita tidak berani menamai sesuai aslinya, kita akan terus menjadi pekerja rodi gaya baru, tertawa saat scroll, bangga saat lembur, tapi tetap pulang dengan dompet tipis dan waktu yang selalu habis. Di luar bisa tertawa, di dalam terasa nelangsa.

Ironi Wakil Rakyat Kini

Sidang pembaca yang budiman, di tengah rakyat yang masih berjuang dalam jebakan neo rodi ini, kita menyaksikan para wakil rakyat dengan tenangnya menaikkan gaji dan tunjangan mereka. Suatu ironi manakala rakyat kerja rodi, DPR malah bikin komedi. Jangan bandingkan kami dengan rakyat jelata, kata salah seorang politisi. Sesat logika katanya. Tak heran bila tagar #IndonesiaGelap sempat menggema beberapa saat lalu di media sosial, di mana hal ini mencerminkan kekecewaan kolektif terhadap wajah demokrasi kita yang buram.

Kalau dulu penderitaan datang dari cambuk kolonial, kini datang dari paradoks demokrasi. Pemegang mandat kekuasaan yang seharusnya membela rakyat malah justru menambah jarak sosial dengan kleptokrasi. Di tengah situasi ini, logis bila mahasiswa kembali turun ke jalan, mengibarkan bendera kekinian One Piece, membalut peran klasik mereka sebagai agent of change. Mereka dengan lantang menyuarakan akal sehat yang terancam punah, sembari menyeruak masuk ke dalam gedung parlemen.

Kira-kira sampai kapan rakyat harus terus memikul beban ini? Ibarat para elite tergelak tertawa dalam gempita gemerlapnya panggung, sementara di bawah, rakyat hanya mendapat sisa sorot lampu yang temaram. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: digitalDPRrakyatrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketua DPRD Ngurah Arya Sambut Positif Program Rekognisi Pembelajaran Lampau untuk Kemajuan Pendidikan di Buleleng

Next Post

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co