LANGIT siang di Denpasar mendung, seolah ikut menahan nafas. Di sebuah kedai kecil yang hangat dan familiar, aroma kopi Bali dan alunan nostalgia dari lagu-lagu DEWA menyatu dalam suasana keakraban. Dua porsi ayam lalapan terhidang di atas meja kayu, menjadi pembuka dialog antara saya dan sahabat lama, Moch Satrio Welang. Sosok yang kini menyandang banyak peran, yakni penyair, cerpenis, sutradara, aktor teater, MC, dan tentu saja, pekerja kapal pesiar.
Baru saja kembali ke Bali setelah enam bulan berlayar di tengah samudra, tatapannya memancarkan kelegaan dan keteguhan. “Lega bisa pulang,” katanya lirih, seperti menghembuskan beban yang selama ini tertahan oleh gemuruh ombak dan lapisan baja kapal.
Perjalanan hidup Moch, begitu ia akrab disapa, adalah tentang bagaimana kita menanggalkan peran untuk menemukan diri. Di atas kapal, ia tidak lagi “Moch Satrio Welang, sang seniman.” Tidak ada perhatian pada identitas itu. Sebaliknya, ia mendapatkan “identitas baru”, sebuah kebebasan untuk menjelajah, tanpa topeng.

Moch Satrio Welang saat berlayar | Foto: Dok. pribadi
“Di kapal, aku meninggalkan identitas kesenimanan. Orang nggak peduli aku siapa. Itu memberi aku identitas baru,” ujarnya. Bahkan saat suatu ketika mesin kapal meledak, kesadaran manusia tentang kematian terasa sangat nyata, 2 cm dari kekekalan. Di tengah laut yang luas, manusia hanya setitik, kecil dan rapuh.
Pekerjaan sebagai fotografer kapal pesiar ternyata “toksik.” Ia harus menghadap tamu setiap hari, menghadapi tuntutan dan kelelahan mental hingga pernah merasa “nggak suka sama manusia.” Di era media sosial dan arus informasi deras, “orang gampang tersulut emosi,” dan jika tak kuat menyaringnya, kita bisa tergerus. Itulah pandangan Moch yang semakin tajam.
Usia kepala empat membawa perubahan cara pandang. “Dulu gradag-grudug, sekarang lebih memilah ambisi,” ujarnya. Dulu, ia rela “membakar” uang pribadi demi menyelenggarakan acara seni, sebuah fanatisme yang kini berganti selektivitas yang matang.
Lingkaran pertemanan menyusut. Banyak kawan lama sudah sibuk dengan keluarga, anak, dan tanggung jawab. Beberapa hal yang dulu terasa asing, seperti membeli rumah atau menikah, sekarang harus dipikirkan. Tapi Moch menegaskan bahwa orientasi seksualnya tidak mengundang pernikahan dalam hidupnya. Ia memilih melepas kemelekatan, meski ambisi tetap ada.
Profesi MC pernikahan yang dulu mendominasi pun kini sulit dijalani karena jadwal kapal. Dahulu, ia pernah menjadi stage crew dengan kerja fisik yang berat, membangun panggung dari besi dan kain. Kini, di kapal, fisiknya lebih ringan, namun mentalnya lebih diuji.
Dari Teater Orok ke Panggung Dunia
Jejak seni Moch Satrio Welang bermula pada 2003. Lulus SMA tanpa biaya kuliah, ia terseret festival drama di Universitas Udayana. Di sanalah ia kenal Teater Orok dan memutuskan melanjutkan studi di jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Udayana, supaya bisa aktif di dunia teater. Tahun berikutnya, ia sempat berproses kreatif bersama Kelompok 108 pimpinan Giri Ratomo.

Moch Satrio Welang saat berlayar | Foto: Dok. pribadi
Pada 2009, Moch mendirikan penerbit Sastra Welang Pustaka, disusul setahun kemudian berdirinya Teater Sastra Welang. Dari wadah inilah ia menggagas Sawma Awards (Sastra Welang Monologue Awards) untuk pelaku teater di Bali, juga Sawtaka Nayyotama Awards dan Siwa Nataraja Awards, sayembara tahunan cipta cerpen dan puisi tingkat nasional.
Prestasinya diakui ketika ia meraih Aktor Terbaik 2010 dalam ajang Gelar Teater La Jose. Ia pernah tampil dalam berbagai pentas penting, mulai dari Caligula (Teater Orok, 2003), Death of A Salesman (Kelompok 108, TIM Jakarta 2004), Penislilin (2006), Perjuangan Suku Naga (2006), Tanah Air Mata (2007), Waktu antara Kau dan Aku (2007), Dance Theatre Samudra (2008), Hong (2008), Di Gaza Tahun Tak Berganti (2009), hingga Mama I am Sorry (2009). Ia juga tampil di Sanur Village Festival, Pesta Kesenian Bali (2005, 2012), Ubud Writers and Readers Festival (2006), dan pentas-pentas kolaborasi internasional.
Puncaknya, pada 2014 ia membawakan Tari Teaterikal Shri di kapal pesiar Amerika Serikat yang berlayar ke Amerika, Kanada, Brasil, Argentina, hingga Jepang, Korea, dan Asia Tenggara.
Titik balik emosional datang pada 2008, saat ibunya wafat. “Amarahku aku salurkan lewat puisi,” ucapnya. Dari luka itu lahir puisi-puisi dalam buku Keranda Emas, disusul Berjalan ke Utara (2010), Dendang Denpasar Nyiur Sanur (2012), Negeri Sembilan Matahari (2013), Langit Terbakar Saat Anak-Anak Itu Lapar (2013), Semangkuk Nasi dan Sang Presiden (2013), Di Tangkai Mawar Mana (2014), Penjara (2014), Saron (2018), Bandara dan Laba-Laba (2019), Tutur Batur (2019), hingga Jatuhnya Sepotong Bulan (2021).
Karya-karyanya dimuat di berbagai media, puisinya pernah diterjemahkan ke bahasa Prancis dalam Couleur Femme (2011), dan cerpennya Nini masuk antologi bilingual yang dipamerkan di Frankfurt Book Fair.
Tak hanya menulis, Moch juga merilis album musikalisasi puisi Taman Bunga (2013), Instalasi Bulan dan Matahari (2016), Danumaya (2020), serta Parfum Puisi Luminosa – The Poetry by Satrio Welang (2023). Ia kerap berkolaborasi dengan tokoh seni besar seperti Garin Nugroho, Happy Salma, Ayu Laksmi, dan Warih Wisatsana.
Meski telah melahirkan banyak karya kolaboratif, ia sampai kini belum menerbitkan buku tunggal prosa. “Teman-teman lain sudah menulis banyak buku, aku satu pun belum,” katanya pelan. Namun kini, ritmenya adalah “ritme kepala empat” yang tenang, matang, penuh pertimbangan.
Seni di Era Digital dan Pesan untuk Generasi Muda
Moch merasakan perubahan nyata dalam lanskap kesenian Bali. Hari-hari ketika ruang publik penuh gairah kian pudar. “Dunia digital bikin orang jadi mageran,” ujarnya. Interaksi tatap muka, pementasan, pembacaan puisi, semuanya bergantung pada inisiatif personal dan momentum.
Meski demikian, harapannya tetap menyala. Ia menaruh perhatian pada pelajar SMP dan SMA yang jatuh cinta pada teater. “Kalau suka teater, itu perayaan,” tegasnya.

Moch Satrio Welang dalam kegiatan sastra | Foto: Dok. pribadi
Teater menurutnya lebih dari sekadar panggung. Ini tentang kecerdasan sosial, empati, dan kualitas manusia. Ia berpesan agar teman-teman muda menggunakan seni sebagai bekal untuk kehidupan, baik dalam hubungan sosial, berumah tangga, atau di dunia kerja. “Teater mengasah empati. Mengasah diri lebih dalam lagi, menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya.
Kini, ia menjalani dua dunia, yakni panggung yang tak pernah padam di hatinya, dan geladak kapal yang membawanya berkelana dunia. Manusia, baginya, bukan garis lurus; ada detik-detik menepi untuk merenung sebelum melangkah lagi.
Bagi Moch, pulang ke Bali adalah kembali ke akar: suara gamelan, bau dupa, dan canda kawan yang mengerti bahwa seni bukan sekadar pelarian, tapi bagian dari napas kehidupan. Dan ketika ditanya kapan ia akan berhenti, ia menjawab dengan sederhana, “Selama aku masih bisa menulis, bermain, atau bercerita, aku tidak akan berhenti,” tukasnya menutup obrolan. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto
- BACA JUGA:



























