6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka dalam Bayang Semu, Padahal Kita Merdeka karena Bersatu

Reja by Reja
August 11, 2025
in Esai
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Reja

SEBAGAI seorang Indonesia, lahir dan besar di tanah air tercinta, memiliki rasa nasionalisme semata tidaklah cukup. Kita wajib memiliki jiwa patriotisme, bukan hanya sekadar merasakannya tetapi mempraktikkan nasionalisme kita dengan semangat bela negara. Hal ini sama halnya dengan bersimpati semata tidaklah cukup, seorang dengan jiwa kesatria harus memiliki empati untuk mencapai rasa tepa selira—istilah ini merujuk pada sikap akhir untuk saling menghargai, memahami, dan berempati terhadap perasaan dan keadaan orang lain di sekitarnya. Di situlah letak makna kemerdekaan sesungguhnya.

Pernyataan “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa” merupakan bagian dari pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap bangsa di dunia memiliki hak untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri. Filosofi Indonesia sangat mendalam, khususnya ketika memaknai kemerdekaan bangsa. Negeri ini bukan lahir dari rangkaian kata-kata indah semata, namun juga semangat bersatu tanpa membedakan kasta.

Dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, kita wajib memeluk nilai-nilai dalam 4 (empat) pilar kebangsaan, mulai dari Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar kebangsaan ini saling terkait dan berfungsi sebagai fondasi dalam membangun identitas dan karakter bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar ideologi, UUD 1945 sebagai landasan hukum, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan, semuanya berperan penting dalam menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa Indonesia.

Namun, kini, apa yang terjadi dengan bangsa kita? Apakah merayakan kemerdekaan Indonesia cukup hanya dengan semangat upacara, atau pengadaan festival dan lomba-lomba? Atau sebenarnya perayaan tersebut hanya sekadar menggugurkan kewajiban sebagai orang Indonesia atau cuma “setor muka”pada atasan. Di dalam negeri, kita lebih mem-viralkan hal-hal yang tidak punya nilai kebangsaan. Nilai-nilai tersebut terasa pudar dan samar-samar terdengar, hanya sekadar ditunaikan tapi secara moral gagal dipertanggungjawabkan.

Bayangkan saja, ketika ada sebuah kecurangan berbentuk dinasti politik di bangsa ini, kecurangan tersebut dapat meraih kemenangan. Kita tak lagi seperti orang tua kita pada zaman dahulu, berani maju bersatu, tanpa rasa takut untuk mati. Kini banyak yang berbicara, namun hanya sebatas berani berkomentar menjadi netizentanpa foto profil di media sosial. Padahal sebuah kecaman terhadap bentuk kecurangan negara dapat diselesaikan dengan cara yang intelektual pula, yakni dengan menulis.

Namun, ke mana para cendekiawan Indonesia? Mereka yang berani bersuara “kemarin” sepertinya hanya didominasi akademisi senior dari berbagai universitas Tanah Air, tapi sisanya, ke mana kita? Hanya berkoar? Tapi bukan bersuara.

***

Seorang diaspora profesional Indonesia di Malaysia, Tom, mengaku bingung tentang makna kemerdekaan. Awalnya, dirinya mengira bahwa perasaan cinta tanah air cukup untuk mengatakan bahwa diri kita sudah merdeka. Merdeka sebatas bangga dengan pakaian adat, ikut upacara di luar negeri, atau sekadar hapal nilai-nilai 4 (empat) pilar. Tapi semakin lama dia meninggalkan Indonesia, dia semakin sadar bahwa peduli dengan apa yang menjadi masalah dunia juga merupakan aplikasi terhadap perasaan kemerdekaan.

“Karena dari umur 13 tahun saya sudah tinggal dan sekolah di berbagai negara, banyak orang asing yang rela tidak makan demi membantu para pengungsi negara lain yang kelaparan, dan bagi mereka, membantu bangsa lain juga merupakan bentuk kemerdekaan dirinya sebagai warga negara suatu bangsa,” tegas Tom.

Orang Indonesia di luar negeri dengan diasporanya terus mencanangkan persatuan dan kesatuan Tanah Air, terus menyerukan NKRI harga mati, tapi apa? Semboyan dan teriakan itu terasa semu. Karena, banyak permasalahan diaspora di luar negeri yang diselesaikan sendiri-sendiri, para pekerja migran Indonesia menghadapi ujiannya masing-masing bahkan tak jarang tanpa diketahui oleh perwakilan kita di sana.

Sekalinya bergerombol, orang Indonesia sering membuat heboh masyarakat setempat, seperti apa yang terjadi di Jepang, banyak orang Indonesia dinilai “berisik”,meskipun ada juga yang dinilai penyayang tapi seharusnya label “berisik” tidak perlu ada. Tak sedikit dari orang Indonesia yang bangga terhadap budayanya, mempertunjukkan kebaya dan tarian-tarian tradisional di jalan-jalan umum di luar negeri, ini malah sebenarnya mengganggu ketertiban negara tersebut.

Banyak dari kita bangga terhadap budaya sendiri tapi tidak berempati untuk mengamalkan nilai-nilainya dengan cara yang baik dan di tempat yang tepat. Hal ini malah seakan-akan menunjukkan bangsa Indonesia haus validasi, haus pengakuan, seakan-akan bangsanya belum merdeka, padahal itu salah. Indonesia secara fisik sudah sangat merdeka, infrastruktur bangsa kita dapat diadu dengan bangsa maju lainnya. Bagaimana dengan mental?

Sebagai perbandingan, hal ini sangat berbeda dengan diaspora dari negeri tetangga yang juga negara pengirim tenaga kerja seperti diaspora Filipina. Mereka sering membuat advokasi sesama orang Filipina untuk bersatu, saling menjaga dan saling menguatkan di setiap negara. Drama pekerja migran Filipina hampir tidak pernah terjadi. Bahkan tak jarang, orang Filipina banyak menempati posisi-posisi tinggi dalam dunia profesional di belahan dunia mana pun. Padahal secara fisik, gaya berpakaian orang Filipina sangat “kebarat-baratan” tapi secara mental, mereka hadir untuk memerdekakan bangsanya di mana pun mereka berdiri.

Bayang semu kemerdekaan tidak hanya tampak dari warga negaranya, namun juga dalam kehidupan pemerintahan di Indonesia. Misalnya, pada rezim sebelumnya, banyak isu ego sektoral antara instansi yang satu dengan instansi yang lain dalam memproduksi data pemerintah. Saking egonya, banyak sektor publik mengeluarkan data secara masing-masing dan membuat bingung masyarakat sebagai penggunanya. Padahal data yang saling terintegrasi, mampu membuat kebijakan yang akurat bagi Indonesia.

Sikap egosentris bukanlah perwujudan kemerdekaan di pemerintahan. Padahal dari sisi pemerintahan, bangsa ini sangat besar, prestasi Indonesia tidak pernah main-main. Contohnya dalam skala makro ekonomi, inflasi Indonesia dikategorikan stabil sejak 2015 jika dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, sehingga harga-harga bahan pokok (meski naik terus) namun tidak pernah sampai menimbulkan kelaparan ekstrem. Orang Indonesia masih bisa membeli nasi uduk seharga Rp. 7000 per bungkusnya  (di bawah 1 dolar Amerika). Inilah nikmat yang harus disyukuri untuk menjadi negara yang merdeka.

Pada akhirnya, kita semua harus paham bahwa merdeka tidak hanya sekadar menjaga nilai-nilai yang ada, namun juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa ini harus terus belajar mengedepankan empati, bukan hanya menunjukkan simpati semata. Mekanisme punishments dan rewards hampir sulit didengar, tapi kita harus belajar memuji mereka yang mengamalkan nilai-nilai 4 (empat) pilar.

Tak hanya itu, kita juga harus berani mengoreksi atau mengkritisi secara konstruktif sebuah kesalahan. Bangsa ini tidak boleh sekadar bersembunyi di balik kata pembuat perubahan semata, namun berani berjuang didepan sebagai agen perubahan demi Indonesia yang merdeka tanpa kata semu.[T]

Reporter/Penulis: Reja
Editor: Jaswanto

Kemerdekaan yang Mendidik: Menyongsong Indonesia Emas dengan Jiwa Taman Siswa
Membangun Media yang Berkarakter Patriotik: Catatan Hari Kemerdekaan
Indonesia dan Kemerdekaan yang Ternoda
Tags: Hari Kemerdekaan RIpancasilaUUD 1945
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

JS Khairen, Membaca Adalah Bahan Bakar Menulis

Next Post

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Reja

Reja

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co