SENJA turun perlahan di Museum Buleleng ketika dua nama besar dunia literasi Indonesia berbagi panggung. Dee Lestari dan Valiant Budi Yogi hadir bukan hanya sebagai penulis, tetapi sebagai manusia yang membuka diri di hadapan pembaca. Diskusi buku bertajuk “Tanpa Rencana” dan “Marah-Marah Melulu” ini menjadi salah satu momen paling intim dalam rangkaian Singaraja Literary Festival (SLF), Sabtu, 25 Juli 2025.
Dengan tema besar Buda Kecapi yang menekankan energi penyembuhan semesta, sesi ini memantik kesadaran bahwa perjalanan sastra seringkali berkelindan dengan upaya manusia menyembuhkan dirinya sendiri.
“Menulis buku ini seperti bercermin pada luka-luka lama,” ujar Dee, penulis Tanpa Rencana yang merekam pergulatannya dalam menerima ketidakpastian hidup.
Valiant Budi, lewat Marah-Marah Melulu justru membedah sisi rapuhnya dengan humor getir, seolah mengajak pembaca berdamai dengan amarah yang kerap kita sembunyikan.

Valiant Budi Yogi, Dee Lestari, dan Nova Aryani saat bedah buku “Tanpa Rencana” dan “Marah Marah Melulu” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Diskusi mengalir ke pertanyaan lebih dalam: bagaimana tubuh dan jiwa manusia merespons tekanan, ego, serta ritme hidup yang tak selalu sesuai harapan?
Ari Dwijayanthi, akademisi yang juga hadir di sesi ini, menekankan bahwa kedua buku tersebut sejalan dengan filosofi Buda Kecapi yang memandang penyembuhan bukan sekadar urusan fisik, melainkan juga keseimbangan batin.
“Lontar-lontar pengobatan Bali mengajarkan bahwa penyakit sering muncul ketika manusia kehilangan harmoni dengan dirinya dan lingkungannya. Buku-buku ini adalah cara modern untuk menemukan kembali harmoni itu,” katanya.
Museum Buleleng, dengan dindingnya yang menyimpan jejak naskah-naskah kuno, seakan menjadi saksi percakapan lintas zaman. Di satu sisi, keropak berisi lontar Usadha mengajarkan penyembuhan berbasis alam dan spiritualitas; di sisi lain, karya Dee dan Valiant menjadi catatan kontemporer tentang bagaimana manusia modern mencoba mengobati luka-luka batinnya. Perjumpaan ini bukan kebetulan, melainkan esensi SLF itu sendiri: menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui sastra.

Tini Wahyuni, peserta bedah buku “Tanpa Rencana” dan “Marah Marah Melulu” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Para peserta diskusi—penulis muda, pelajar, seniman, hingga masyarakat umum—terlihat larut dalam percakapan. Tidak ada jarak antara panggung dan penonton; semua seakan diajak masuk ke ruang refleksi yang sama. Salah satu peserta, seorang mahasiswa sastra, berbisik lirih, “Ini bukan sekadar bedah buku. Ini seperti terapi kolektif.”
SLF 2025 menegaskan posisinya bukan hanya sebagai perayaan teks, tetapi juga perayaan manusia di balik teks itu. Dalam dunia yang kerap terjebak pada percepatan, festival ini mengingatkan bahwa menulis, membaca, dan mendengar adalah bagian dari proses penyembuhan.
“Kadang kita lupa bahwa sastra bukan hanya soal estetika, tapi juga cara kita merawat diri,” tutup Dee, disambut tepuk tangan hangat.
Ketika sesi usai, suasana museum tidak benar-benar berakhir. Kata-kata yang terucap seperti meninggalkan gema: bahwa setiap orang, dengan caranya sendiri, sedang dalam perjalanan penyembuhan. Dan Singaraja, dengan lontarnya, kembali menjadi rumah bagi pengetahuan yang mengalir, menyejukkan, sekaligus menyembuhkan.[T]
Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Jaswanto





























