30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Art Healing dan Seni Lukis Abstrak: Membaca Karya Putu Fajar Arcana

Made Susanta Dwitanaya by Made Susanta Dwitanaya
August 6, 2025
in Ulas Rupa
Art Healing dan Seni Lukis Abstrak: Membaca Karya Putu Fajar Arcana

A Fish In Lotus (2025) karya Putu Fajar Arcana

  • Artikel ini adalah catatan kuratorial paneran seni rupa “Buda Kecapi: Seni dan Penjelajahan ke Dalam Diri” serangkaian Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha Singaraja

SENI lukis abstrak memiliki potensi untuk menciptakan ruang persepsi tanpa representasi, sebagai ekspresi batiniah perupa maupun pemirsa. Ia menolak dikurung oleh bahasa dan melepaskan diri dari representasi citra. Seni abstrak juga memiliki aspek sebagai ruang penyembuhan (healing), bahkan spiritualitas. Pendekatan ini melampaui interpretasi logis yang sering membatasi ekspresi batin dan justru mendorong katarsis serta kontemplasi.

Dengan karakteristiknya sebagai seni yang menampakkan aspek nonrepresentasional, seni abstrak menempati posisi khas dalam art healing karena memungkinkan munculnya ekspresi emosi terdalam tanpa batasan citra.

Carl Gustav Jung(1964) dalam Man and His Symbols menyatakan bahwa ketika seseorang menyentuh alam bawah sadar, ia akan berurusan dengan bentuk-bentuk simbolik maupun abstrak yang “bukan produk rasional, melainkan realitas yang hidup, yang mengekspresikan dinamika jiwa.”¹

The Dragon In Your Heart (2025) karya Putu Fajar Arcana

Pandangan ini tercermin kuat dalam karya-karya Putu Fajar Arcana, terutama lukisan The Dragon in Your Heart, yang “secara ritmis ingin menangkap kelebat-kelebat naga yang hidup di dalam hati kita semuanya.”²

Naga, selain menjadi mahkluk mitologis dalam berbagai kebudayaan di dunia seperti dalam kebudayaan Tiongkok dan Bali, dalam karya Putu  menjadi simbol arketipal dari kekuatan batin yang bersemayam di ruang psikis terdalam. Naga adalah simbol energi batiniah yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh rasio, namun terasa hadir dan aktif dalam diri manusia.

Seni abstrak berpotensi sebagai art healing seperti yang  diungkapkan oleh Shaun McNiff (2004) , yang menyatakan bahwa “abstraksi mengundang citra dan sensasi penyembuhan untuk muncul.”³ Hal ini mengingatkan kita pada karya Putu Fajar Arcana berjudul Safe the Dragon, yang menampilkan abstraksi naga dengan gestur diagonal. Putu menyebutkan bahwa abstraksi naga ini bermanuver ke bumi sebagai pengingat akan perlunya menjaga keseimbangan batin di tengah arus kekuatan destruktif yang mengintai dari luar maupun dalam diri.⁴

Sedangkan dalam karya Dragon Fly, yang menghadirkan paduan warna hitam, putih, dan merah, hadir kekuatan simbolik dari mitos naga Tiongkok yang menggenggam bulan. Warna-warna tersebut dalam tradisi Bali adalah simbol Tri Datu, yang bermakna siklus kehidupan: Upti (penciptaan), Stiti (pemeliharaan), dan Pralina (peleburan).

Safe The Dragon (2025) karya Putu Fajar Arcana

Dragon Fly (2025) karya Putu Fajar Arcana

Melalui abstraksi warna dan gerak, memori kolektif itu disublimkan menjadi citra emosional yang membuka ruang penyembuhan baik kultural maupun personalbahwa segala yang terjadi di dunia ini digerakkan oleh tiga energi semesta yang tercermin dalam Tri Datu, representasi dari Tri Murti: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Rudolf Arnheim ( 1954) dalam Art and Visual Perception menegaskan bahwa unsur-unsur visual seperti warna dan ritme membangkitkan respons emosional mendalam.⁵ Karya Light in the Black Night menghadirkan kekuatan visual semacam ini. Teknik penuangan dan tiupan warna menciptakan impresi gerak yang seolah dihidupkan oleh napas. Berpadu dengan warna Tri Datu (merah, hitam, putih)  di atas latar gelap dan gestur tuangan cat yang ekspresif, karya ini memberikan sensasi tersendiri tentang gerak, tentang daya yang menggetarkan di tengah kegelapan.

Berbicara tentang diri berarti berbicara tentang tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan. Maka berbicara tentang healing atau penyembuhan diri berarti membicarakan tentang keselarasan keduanya. Dalam khazanah Bali, harmoni ini terangkum dalam lontar Buda Kecapi, yang menekankan hubungan antara aksara, tubuh, dan alam semesta.

Light In The Black Night (2025) karya Putu Fajar Arcana

A Fish In Lotus (2025) karya Putu Fajar Arcana

A Fish In Lotus (2025) karya Putu Fajar Arcana

Aksara bukan hanya bentuk visual, tetapi juga energi suara dan kesadaran. Seperti dikatakan oleh Dewa Purwita, “Buda Kecapi menguraikan panjang lebar tentang berbagai aksara-aksara suci yang bersemayam di dalam organ-organ tubuh manusia, relasi antara tubuh manusia dengan alam semesta dalam teori mandala.”⁶

Dalam konteks estetika, suara adalah elemen dalam musik; sedangkan dalam seni rupa abstrak, Wassily Kandinsky (1911) tokoh seni lukis, menganggap warna dan bentuk memiliki muatan musikal dan spiritual. Ia menulis: “Color is the keyboard, the eyes are the harmonies, the soul is the piano with many strings.”⁷ Maka tiap elemen visual dan bagaimana proses perupa mengartikulasikannya menjadi bagian dari proses penyembuhan dan pembangkitan kesadaran tentang daya hidup dalam diri.

Karya Angel in Your Mind menjelma seperti partitur kesadaran yang terpecah-pecah. Panel-panel yang terpecah seolah mewakili bagian jiwa yang tercerai-berai karena konflik batin, trauma, atau kegamangan pikiran. Namun, di sanalah letak proses penyembuhan itu dimulai: saat seseorang bersedia menyusun kembali serpihannya dengan kejernihan dan kesadaran sebagai “malaikat penyelamat.” “Keterbukaan pikiran dan kejernihan dalam mengambil keputusan akan membebaskan dari keterpecahan.”⁸

Putu menempatkan karyanya ini bukan hanya sebagai karya individual, tetapi juga interaktif. Ia menawarkan pengalaman batin kepada audiens melalui aktivitas merangkai keping-keping puzzle karyanya, mengajak mereka untuk larut dalam aktivitas tersebut dan menyusun kembali kepingan kepingan jiwa masing-masing.

Circle Of Love (2025) karya Putu Fajar Arcana

A Wild Of Love (2025) karya Putu Fajar Arcana

Dalam karya A Fish in Lotus Flower dan Circle of Love, Arcana mengangkat simbol lotus sebagai padma kebijaksanaan dan cinta. “Keping-keping bunga dan daunnya membentuk lingkaran yang menyerupai mandala.”⁹ Dalam A Wild of Love, mawar menjadi simbol cinta yang “penuh duri, yang bisa melukai siapa saja yang lalai dan tergesa-gesa.”¹⁰ melalui karya ini seperti mengingatkan kita tentang  kewaspadaan, mencintai dengan kehadiran, bukan dengan kelengahan dan pengabaian.

Melalui karya-karya yang dihadirkan Putu Fajar Arcana kita dapat melihat bagaimana seni lukis abstrak/abstraksi tidak kehilangan makna hanya karena karakteristiknya yang kian menjauh dari image–image representasional, dengan warna, komposisi, teknik , hingga simbol yang dihadirkan melalui abstraksi, justru memperluas cakrawala persepsi kita terhadap emosi, dan penyembuhan batiniah.

Putu Fajar Arcana mengabstraksi memori kolektif tentang mitologi, simbol, hingga ekspresi personal,  menjadi irama visual yang menggetarkan secara batiniah, namun tetap puitis secara visual. Dalam konteks karya karya Putu Fajar Arcana, seni abstrak tidak cukup lagi diurai dari aspek formalnya, bukan pula berhenti pada analisis atas style dari sekian banyak style dalam karya abstrak , tetapi jalan menuju pengenalan diri, pengobatan luka, dan penguatan jiwa.[T]

Notes:

1. Carl G. Jung, Man and His Symbols, Dell Publishing, 1964, hlm. 105.

2. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya The Dragon in Your Heart, 2025.

3. Shaun McNiff, Art Heals: How Creativity Cures the Soul, Shambhala Publications, 2004, hlm. 87.

4. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya Safe the Dragon, 2025.

5. Rudolf Arnheim, Art and Visual Perception: A Psychology of the Creative Eye, University of California Press, 1954, hlm. 125–132.

6. Dewa Purwita,  dalam Budakacapi,  Katalogus Pameran SLF 2025.  Buda Kecapi, Penjelajahan Kedalam Diri. Chapter 1.

7. Wassily Kandinsky, Concerning the Spiritual in Art, Dover Publications, 1911, hlm. 25.

8. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya Angel in Your Mind, 2025.

9. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk  karya Circle of Love, 2025.

10. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya A Wild of Love, 2025.

Penulis: I Made Susanta Dwitanaya
Editor: Jaswanto

Titik dan Garis Ni Nyoman Sani
Psikologi Humanistik Polenk
Buda Kecapi sebagai Metode Art Therapy
Buda Kecapi: Muara yang Kembali pada Hulu
Tags: KuratorialPameran Seni RupaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Titik dan Garis Ni Nyoman Sani

Next Post

Di Garis Finish Mereka Disambut Seperti Pejuang — Cerita Lomba Gerak Jalan 17 KM Putri di Singaraja

Made Susanta Dwitanaya

Made Susanta Dwitanaya

Penulis dan kurator seni rupa. Lahir dan tinggal di Tampaksiring, Gianyar

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Di Garis Finish Mereka Disambut Seperti Pejuang — Cerita Lomba Gerak Jalan 17 KM Putri di Singaraja

Di Garis Finish Mereka Disambut Seperti Pejuang -- Cerita Lomba Gerak Jalan 17 KM Putri di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co