25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 6, 2025
in Esai
“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Ilustrasi tatkala.co | Gambar patung difoto dari pameran mahasiswa di Undiksha Singaraja

Kawan yang baik,

Setelah ngobrol tentang gerakan “avant-garde” dalam seni, baiklah kita lanjutkan dengan topik jadul yang tak habis-habis diperdebatkan, yakni pertentangan antara “seni untuk seni” versus “seni untuk masyarakat”, antara estetika ekspresivistik dan formalis vis a vis estetika sosial (istik).

Dalam bentuknya yang ekstrem, dari sudut pandang lensa sebelah “kiri”, semboyan “seni untuk seni” dapat dilihat sebagai manifestasi pembusukan budaya kapitalisme lanjut di mana kaum seniman “borjuis” tidak berdaya menghadapi kemerosotan dan bahkan kekosongan seni dari tujuan-tujuan kolektif.

Kaum ekspresivis atau seniman penganut “avant-garde pemurnian” dianggap telah melenyapkan aspek fungsional dan sosial seni lalu menggunakan seni tersebut sebagai jalan realisasi diri sekaligus wahana pembebasan individu dari segala daya impersonal yang mengungkung. Atau seni semata-mata sebagai wahana mencipta kenyataan “subjektif”yang unik dan “tak terjelaskan” sekaligus sebagai medan penciptaan untuk mengejar penemuan-penemuan estetika baru.

Maka diperlukan alternatif dari kehampaan seni semacam itu. Dan upaya yang paling masuk akal adalah dengan mendorong seni sebagai wahana mencipta, mereproduksi dan jika perlu mengubah “kenyataan” sebagaimana dulu pernah digelorakan oleh kaum “avant-garde sosial-heroik” pada pertengahan abad ke-19.

Agar seni memiliki kekuatan semacam itu, maka ia harus mampu menjangkau khalayak seluas-luasnya sekaligus dapat memberi pendasaran evaluatif terhadap kehidupan sosial.

Sebagian orang mengatakan bahwa jalan buntu akibat benturan, pertentangan dan bahkan antagonisme antara seni sebagai pemenuhan tujuan-tujuan individual, antara “kebenaran” seni pada dirinya sendiri versus “kebenaran” nilai-nilai sosial, pada titik tertentu adalah cerminan dari simptom dan bahkan krisis dalam kebudayaan modern.

Ketika orang memilih berdiri pada satu posisi, semakin lama ia akan merasa “termutilasi” karena sungguh muskil menenggelamkan diri secara penuh dalam posisi tersebut.

Jika dikatakan bahwa kaum seniman dalam masyarakat modern ternyata hanya dapat memainkan peran marjinal, hal itu tidak berarti bahwa seni modern secara intrinsik cacat. Sebliknya jika dikatakan bahwa kaum “kanan”, misalnya kaum “formalis” maupun “abstrak-ekspresionis”, telah terjebak dalam lingkaran estetik yang kosong dan tanpa tujuan, hal itu tidak berarti bahwa masyarakat modern telah benar-benar memisahkan seni dari tujuan-tujuan di luarnya.

Pun jika dikatakan bahwa kaum “kiri” yang berbasis pada nilai sosial telah berupaya keras melenyapkan atau meminimalisir otonomi (ilusif) yang diyakini sebagai wahana kebebasan sekaligus upaya realisasi diri yang otentik, itu bukan berarti seni yang dihasilkannya telah menghapuskan secara total keberadaan individu.

Kawan yang baik,

Sampai di sini, mau tak mau kita harus mengusut kembali akar masalahnya, yakni kian merosotnya kepercayaan individu terhadap nilai-nilai modern itu sendiri. Kandati kaum “kiri” percaya bahwa pencapaian tertinggi suatu seni hanya dapat terwujud melalui nilai-nilai kemasyarakatan, tapi celakanya justru kehidupan modern itu sendirilah yang justru telah melenyapkan dasar-dasar kepercayaan atas nilai-nilai dimaksud.

Individualisme maupun kolektivisme (radikal) dalam bentuk apapun ternyata tidak sepenuhnya dapat merestorasi kepercayaan terhadap nilai-nilai dasar yang melekat pada dirinya. Individualisme tidak dapat menyelamatkan dirinya dengan cara menolak komunalitas secara total, dan sebaliknya kolektivisme tidak sepenuhnya kebal terhadap gejala eksklusi personal berikut utopia ekspresi “murni” swa-acu yang lahir dari eksklusi tersebut, termasuk gugatan tanpa akhir terhadap materialisme maupun daya-daya impersonal yang mengepungnya.

Daniel Bell, Sosiolog Amerika tahun 1960-an pernah megatakan bahwa internalisasi nilai-nilai atau sebaliknya gerakan “anti-nilai”, apapun modus operandinya, ternyata tidak mewujud dalam unit-unit masyarakat, kelompok, komunitas, serikat, suku, atau bahkan kota, namun terjadi pada orang per orang, pribadi ke pribadi, jiwa ke jiwa.

Apa boleh buat. Kepekaan artistik individual yang sangat khusus itu harus dilhat dalam kaitan imbal-balik dengan kepekaan sosial yang bersifat umum.

Dulu pada zaman Yunani Klasik maupun dalam seni tradisional di Nuasantara orang yakin bahwa salah satu fungsi seni adalah sebagai wahana menyampaikan ajaran moral sehingga terbangun tata sosial yang lebih baik. Seni tak hanya dilihat sebagai fenomena artistik belaka dan kualitasnya tidak melulu diukur berdasarkan kaidah-kaidah estetik khusus tapi juga harus dapat dievaluasi secara sosial.

Seni yang baik adalah seni yang berguna. Dan sebagaimana telah kita bicarakan sebelumnya bahwa di Eropa kemudian muncul “avant-garde pemurnian” (romantik) yang berhasrat melepaskan praksis seni dari variabel-variabel di luarnya, termasuk tuntutan seni sebagai sesuatu yang memiliki nilai guna.

Karya seni yang baik adalah karya yang indah dalam kerangka pemahaman “tanpa pamrih” (disinterested). (Mengutip Immanuel Kant, hanya dengan status dan posisi “disinterested” itulah seni dapat menjadi “rasional”).

Sekali lagi, sebagai bagian dari kritik diri terhadap modernitas, seni harus dipisahkan dari segala daya impersonal apapun sehingga menjadi bidang kerja yang sepenuhnya otonom. Sementara di kutub seberangnya terdapat kaum “realis” yang hendak mempertahankan nilai seni berdasarkan kegunaan sosialnya. Ya, seni tidak dapat dipisahkan dari kenyataan sosial karena hanya dengan begitu ia akan beroleh kepenuhan artistiknya.

Sebagai jalan tengah dari ketegangan dan bahkan pertentangan dua kutub itu, dulu orang kembali pada pertanyaan kuno lainnya: seberapa jauh manusia dapat menciptakan wahana atau cara menyeimbangkan dorongan subjektif dan hasrat kebebasan individu dengan tuntutan moralitas kemasyarakatan.

Membayangkan estetika yang berpangkal sekaligus bermuara pada hasrat maupun tujuan eksklusi diri individual secara total sama mustahilnya dengan memimpikan estetika yang meniadakan relasi seni dengan masyarakat maupun estetika yang sepenuhnya melayani tujuan-tujuan di luarnya.

Faktanya, totalisme semacam itu tidak pernah ada. Jikalaupun “di-ada-adakan”, ia tidak akan terjadi secara permanen. Mustahil membayangkan totalisme yang sempurna. Sekecil apapun akan terbuka kemungkinan terjadinya osmosis, percampuran, persilangan atau interseksi pada dimensi-dimensi tertentu.

Begitulah, kawan.

Baiklah kita berputar lagi. Dulu, pada umumnya, makna “keindahan” dalam seni dianggap hanya dapat diukur berdasarkan kaidah-kaidah khusus yang berlaku dalam dunia seni itu sendiri. Proses penciptaan karya yang dilakukan seniman biasanya merujuk pada pengalaman estetik yang bersifat personal dan sering dikaitkan dengan “ilham” yang diperoleh sang seniman pencipta sebagai individu genius.

Sedangkan hubungan antara karya dengan pemirsanya sebagai proses resepsi, juga berada dalam kerangka kekhususan kaidah yang berpusat pada sumber keindahan yang dipancarkan karya. Sang pemirsa adalah pihak luar yang hendak menyelami keindahan karya sebagai wilayah yang nyaris tak terjangkau. Penonton seni adalah orang dari luar pagar yang hendak mengutil atau mengutip secuil makna dari karya yang diselubungi aura artistik yang khusus itu.

Dari proses resepsi semacam itu akan muncul pengalaman estetis melalui proses pencerapan yang dibayangkan tanpa pamrih sehingga penyerapan karya seni hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kualitas khusus dengan standar pengetahuan yang melebihi kemampuan orang biasa. Walah, walah. Seni akhirnya akan menjadi urusan kaum “elite” saja.

Tapi, kita juga dapat membayangkan bahwa praksis seni tidak melulu dipahami dalam konteks pengalaman khusus, melainkan sebagai bagian dari inter-relasi individu dalam hubungan-hubungan sosial sehingga kemungkinan pemaknaannya pun akan tergantung pada lingkungan tempat seni tersebut diproduksi dan disebar luaskan. Karya seni berikut moda penciptaannya hanyalah bagian dari konstelasi atau hubungan-hubungan sosio-kultural pembentuknya.

Hubungan antara wilayah penciptaan khusus dengan daya-daya pembentuknya boleh jadi juga berlangsung secara dialektik sehingga setiap wahana artistik adalah hasil dari perkembangan sejarah sosial maupun sejarah estetik pembentuknya. Jika dilihat dengan cara seperti itu maka tidak tampak lagi dikotomi atau bahkan pertentangan antara “bentuk” dan “isi”.

Artinya, seni yang bermutu secara estetik dengan sendirinya akan mengandung dimensi-dimensi sosial yang juga bermutu. Bahkan bisa mengandung aspek emansipatoris tertentu. Atau, seni dengan kualitas estetik individul yang bermutu akan mengandung dimensi nilai dan pemaknaan individual yang bermutu pula.

Kawan yang baik,

Hal lain yang perlu dicatat adalah terjadinya pergeseran proses pemaknaan seni akibat perkembangan ilmu dan teknologi. Pesatnya kemajuan teknologi telah memungkinkan produksi dan reproduksi seni secara mekanis. Teknologi telah medesakralisasi proses penciptaan karya yang semula diselubungi aura misterius yang seolah-olah tak terjangkau oleh orang biasa.

Pada dekade 1930, pemikir kebudayaan Walter Benjamin mengemukakan bahwa hilangnya aura seni tersebut justru akan memperluas akses bagi masyarakat terhadap pengalaman estetik sekaligus terjadinya perluasan distribusi seni itu sendiri. Demistifikasi benda seni telah menghapus status elitisnya sehingga proses penciptaannya dapat disetarakan dengan proses produksi benda-benda lain.

Bidang kerja seniman sama belaka dengan pekerjaan di bidang-bidang lain yang sama-sama membutuhkan keahlian khusus. Status karya seni tidak melulu bertumpu pada singularitas dan kesubliman artistik, melainkan pada sistem distribusi kerja yang memungkinkan produksi benda tersebut terjadi.

Di sinilah kita dapat menempatkan konteks dari ungkapan: “Keindahan karya seni adalah relatif”.

Tentu hal itu berbeda dengan “relativisme” yang sering tampak dalam salah kaprah ungkapan: “Karena relatif, maka seribu kepala akan muncul seribu tafsir . Maka suka-suka gua. Jangan paksa gua punya tafsir yang sama”. Waduh, jika tidak hati-hati, merujuk “relativisme” semacam itu memang bisa runyam. Bisa “salah kadaden”.

Baiklah. Kita bisa melihat nilai dan makna seni dari konteks yang lain lagi. Beberapa pemikir seni dekade 1970 seperti Arthur Danto misalnya, menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai status dan kualitas seni sangat tergantung pada konsensus di dalam “art world” penopangnya seperti jaringan seniman, kurator, pemilik galeri, kritikus, kolektor dan institusi-institusi lainnya. Merekalah yang kemudian memberi legitimasi terhadap karya.

Artinya, nilai dan mutu seni tercipta melalui hubungan-hubungan konsensual yang berlangsung dalam lingkup tertentu untuk memutuskan atau membaptis suatu benda atau peristiwa sebagai karya seni. Apa yang disebut karya seni merupakan hasil akumulasi nilai yang terbentuk di luar karya, yaitu semacam relasi sosial di balik wujud fisiknya. Bahkan sebuah jamban porselin karya Marcel Duchamp dan kotak kardus bekas “Brillo” karya Andy Warhol misalnya, dapat dinobatkan sebagai karya seni selama para pemangku kepentingan di “art world” bersepakat bahwa benda itu mengandung nilai estetik.

Itulah pandangan “institusional” di mana status, nilai dan makna seni ditentukan oleh relasi antar pemangku kepentingan terpenting. Inilah konteks lain dari ungkapan: “Keindahan karya seni adalah relatif”.

Kawan yang baik,

Hal lain yang perlu kita camkan adalah penjelasan lama tentang seni yang bertumpu pada aspek formal-materialnya sehingga terdapat dikotomi antara “bentuk” dan “isi”, antara aspek intrinsik dan ekstrinsik.

Namun jika kita memasukkan aspek relasi sosial di balik benda, maka dikotomi antara bentuk dan isi jadi relatif juga. Lantaran karya seni merupakan resultante atau hasil konsensus sosial tentang suatu benda, maka dimensi intrinsik benda tersebut adalah manifestasi dari aspek-aspek ekstrinsiknya. Suatu benda hanya dapat disebut sebagai karya seni selama berada di dalam relasi nilai sosio-kultural masyarakat maupun ekosistem penyangganya.

Tentu, setiap relasi tidak pernah steril dari dimensi-dimensi ideologis maupun interes-interes ekonomi dan sosio-kultural pembentuknya. Oleh karena itu, model evaluasi seni (termasuk penilaian berdasarkan aspek formalnya) perlu dikaitkan dengan matriks-matriks sosial yang melahirkan kaidah estetik yang digunakan.

Jadi, ketika karya seni disepakati sebagai bagian dari sistem relasi sosial, maka makna keindahannya juga sangat tergantung pada konsensus yang membentuk standar estetik di dalam masyarakat itu sendiri.

Akibatnya mutu suatu karya seni akan tergantung pada sejauh mana ia dapat memicu terciptanya nilai-nilai, makna, juga hubungan-hubungan sosial tertentu dan kualitas intrinsiknya pun tergantung pada sejauh mana karya tersebut mampu menghadirkan pengalaman estetik bersama.

Di sini kita juga dapat membayangkan pergeseran posisi seniman sebagai subjek kreator. Sebagaimana telah dikatakan bahwa dulu seorang seniman dipandang sebagai individu genius yang beroleh “ilham” dan dengan segenap kepekaan artistiknya mencipta karya-karya yang diselubungi aura misterius yang unik dan tak tergantikan.

Pada saat yang sama seniman ternyata juga bukan makhluk yang bekerja dalam ruang-ruang penciptaan yang terisolasi secara total, karena memang hal itu tidak mungkin, melainkan berada di kancah tarik-menarik aneka nilai dalam relasi sosial tempatnya berada, termasuk kesadaran untuk menciptakan makna yang bersumber pada akar kultural dalam medan seni itu sendiri.

Meminjam istilah sisiolog Thomas Luckmann dan Peter L Berger dalam bukunya “Sacred canopy”, proses pemaknaan seni di situ dengan sendirinya akan terkait dengan apa yang disebut sebagai “social construction of reality”. Yaitu makna yang terbentuk dari pengetahuan yang hidup dalam sistem kesadaran kolektif sebagai bagian dari konstruksi dan model-model tata sosial yang harus dijalankan dan bagaimana konstruksi-konstruksi tersebut tersusun sehingga melahirkan struktur makna terhadap “kenyataan-kenyataan” sosial yang terintegrasi secara langsung dengan pelaksanaan pengetahuan itu sendiri.

Artinya, seniman dan karya seni yang diciptakan senantiasa mengandung nilai dan makna pada tingkatan proses pemaknaan yang berbeda-beda, tergantung pada aspek formal estetik yang dimiliki. Penyerapan aspek formal seni non-representasional seperti seni “abstrak maupun “abstrak-ekspresionistik” tentu berbeda dengan aspek formal seni representasional. Konteks makna dan nilai seni abstrak niscaya berbeda dengan seni realistik.

Maka, “kanan” adalah “kanan” dan “kiri” adalah “kiri”. Yang satu tidak dapat meniadakan atau menggantikan yang lain, begitu juga sebaliknya. Masing-masing tidak dapat dipertukarkan atau dipertengkarkan.

Demikian, kawan. Salam dari Tawang Alun.

NB:

Ingatlah beberapa anekdot berikut ini:

– Seorang penyair selalu ditanya: “Tuan, untuk apa anda bikin puisi? Apa gunanya puisi?”. Karena jengkel dia menjawab: “Apa gunanya diciptakan kicau burung itu? Ha?”

– Juga ingatlah Jean-Paul Sartre yang pernah mengatakan bahwa seni dapat bicara tentang penderitaan manusia, tapi penderitaan toh akan tetap sebagai penderitaan. Atau Albert Camus yang pernah mengatakan bahwa setiap seniman dikutuk untuk tidak dapat menerima kenyataan, dan karena itu berkarya terus untuk menyempurnakannya.

– Tentu saja, setiap seniman niscaya gagal mencapai karya yang sempurna dan justru karena itu ia terus mencoba, mencipta dan mencipta, ujar Pak William Faulkner.

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair
Tags: sastraSeniSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co