26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sagu, Papeda, Sopi, dan Tentang Makanan Pokok Kita

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 5, 2025
in Esai
Sagu, Papeda, Sopi, dan Tentang Makanan Pokok Kita

Pohon sagu

MESKI belum dapat dipastikan dari mana asal-usulnya, pohon sagu pernah menjadi bahan makanan utama di kawasan timur Indonesia, terutama di Papua dan kepulauan Maluku. Boleh jadi dulunya sagu juga menjadi bahan makanan orang-orang Nusantara sebelum datangnya padi, jagung, singkong dan palawija lainnya.

Kata “sego” atau “sega” dalam bahasa Jawa maupun “sangu” dalam bahasa Sunda tampaknya setarikan lidah dari kata “sagu” yang kemudian dipakai untuk menamai “nasi” yang berasal dari tanaman padi. Perlu dicatat bahwa selain sagu, dulunya umbi-umbian adalah makanan pokok orang-orang Melanesia.

Di antara orang Barat yang mula-mula mengenal sagu adalah Marco Polo dan Alfred R. Wallace. Ketika melawat ke Nusantara pada akhir abad ke-13, Pak Marco Polo ini sempat mencatat beberapa makanan dan kue berbahan sagu sedangkan Pak Wallace membawa olahan sagu sebagai bekal menjelajahi kepulauan Maluku dan Papua, termasuk ketika melakukan perjalanan laut dari kepulauan Raja Ampat menuju Kalimuri, Seram, tahun 1860.

Wah, wah, wah. Pak Wallace ini ternyata sudah gentayangan di Raja Ampat bahkan lebih 160 tahun silam, jauh sebelum turis domestik maupun mancanegara di era Republik. Pak Wallace mencatat bahwa selain burung cendrawasih dan kulit penyu, sagu juga dijadikan upeti warga setempat kepada kesultanan Tidore. Sagu pernah dijadikan investasi sosial sekaligus wahana ikatan politik pula.

Selain itu sangat masuk akal jika dikatakan bahwa era bahari Nusantara di abad-abad silam hanya mungkin terjadi karena persediaan makanan yang sesuai dengan budaya tersebut. Para pelaut Bugis dan Mandar misalnya, hanya bisa menjelajahi samudra hingga ke Madagaskar sana karena punya bekal makanan yang tahan lama dan cocok dengan kebutuhan selama perjalanan. Sementara orang-orang Papua dan Maluku, hanya dapat wira-wiri lalu lalang dari pulau ke pulau karena sagu dan umbi-umbian.

(Bagus juga jika makan pagi atau makan siang gratis untuk anak-anak setempat menggunakan bahan sagu dan umbi-umbian yang rendah gula itu, tentu untuk mengikis “beras oriented, diabetik”).

Tentu, salah satu masakan yang sangat populer di Papua, Maluku dan beberapa daerah di Sulawesi adalah “papeda”, yakni bubur sagu yang disantap dengan ikan laut beserta kuah kuningnya yang nyus nyus itu. Dalam bahasa Inanwatan atau bahasa Papua, “papeda” juga disebut “dao”. Selain itu ada pula “sagu bagea”, “sagu baruwa”, “sagu sinale” dan “leraping”.

Di kawasan danau Sentani, Balai Arkeologi Papua pernah menemukan tembikar dan perkakas batu untuk mengolah sagu yang merujuk pada zaman prasejarah. Papeda dulunya dimasak dengan alat gerabah sementara tradisi pembuatan gerabah di Papua sudah dikenal sejak 3.000 tahun silam.

Sementara dalam buku ”The Cyclopædia of India and of Eastern and Southern Asia” karya Edward Balfour (1885) terdapat uraian proses pengolahan aneka makanan berbahan sagu maupun makanan tahan lama lainnya termasuk kue yang mirip biskuit, salah satunya roti sagu kelapa yang disukai orang-orang Eropa pada masa itu.

Tentu, selain papeda, juga ada “sopi”, yakni minuman tradisional yang masyhur di kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur (Flores, pulau Timor dan sekitarnya). Boleh jadi nama “sopi” berasal dari kata Belanda kuno “zoopje” yang berarti “minuman ringan”.

Selain dari bahasa Belanda, terkait urusan makanan, di Maluku tampaknya banyak serapan kosa kata dari bahasa Portugis seperti patatas (kentang) dari kata “patatas”, batata (ubi) dari kata “batatas”, salero (garam) dari kata “salero” dan bubengka (kue bingka, lalu menjadi kue bika) dari kata “bibenka”.

Kembali ke sagu, pernah ada cerita menarik. Syahdan pada tanggal 19 Juli 1962 pasukan Republik mendarat di kampung Umerah di pulau Gebe dalam misi merebut Irian Barat (Papua) atas perintah Bung Karno. Pasukan itu kemudian bergerak ke pulau Waigeo melalui pulau Yu.

Setelah sampai di Waigeo terjadi baku tembak dengan pasukan Belanda. Pasukan Republik terperangkap di pulau itu sebulan lebih karena pihak Belanda melakukan patroli ketat dengan kapal perang mereka.

Ketatnya patroli Belanda tersebut menyebabkan menipisnya pasokan logistik sehingga tak ada cara lain bagi tentara Republik kecuali mengganyang sagu, termasuk menyantap ulatnya yang bergizi tinggi itu sebagai makanan sementara pada saat yang sama persediaan makanan pasukan Belanda justru kian menipis.

Ya, sagu turut menjadi faktor penting hingga tentara Republik dapat bertahan terhadap kepungan Belanda. Dan sebagaimana diketahui pada akhirnya Irian Jaya atau Papua barat kemudian menjadi bagian NKRI.

Tapi, saat ini sudah jarang pohon sagu di kampung halaman saya. Yang masih banyak adalah di Kepulauan Aru, tempat istri dan anak saya mencari ikan. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

Sredek, Makanan Pokok, dan Bagaimana Ia Nyaris Dilupakan
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Ubud Food Festival 2025 Merayakan Potensi Lokal: Made Masak dan Bili Wirawan Siapkan Kejutan
Tags: makanan pokokpapedasagusopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kohabitasi dalam Lanskap Komunikasi Politik

Next Post

Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
0
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

Read moreDetails

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co