Buda Kecapi [Boda Kacapi][2] merupakan teks usada (pengetahuan pengobatan)yang mendapat banyak sorotan di kalangan penekun usada Bali. Teks ini bahkan diklaim sebagai satu dari tiga “peta utama” bagi seseorang yang ingin berkelana di belantara ilmu usada.
Ada banyak naskah Buda Kecapi, baik yang dikoleksi lembaga penyimpanan naskah formal maupun koleksi pribadi masyarakat. Kantor Dokumentasi Kebudayaan Bali di Denpasar misalnya, setidak-tidaknya mengoleksi tiga naskah alih aksara lontar Buda Kecapi. Ketiganya adalah Buda Kecapi [Kacapi] Cemeng (kode koleksi Tut 35/2-2), Buda Kecapi [Kacapi] Putih (kode koleksi Tut 36/1-2), dan Buda Kecapi Sastrasanga (kode koleksi Tut 36/3-3).
Buda Kecapi Cemeng dan Buda Kecapi Putih merupakan produk pengetikan ulang koleksi Gedong Kirtya-Singaraja yang diadakan pada tahun 1988. Buda Kecapi Cemeng diketik dari naskah Kirtya berkode IIId 1458/16 yang berasal dari Banjar (Buleleng). Sementara itu, Buda Kecapi Putih diketik dari naskah Kirtya berkode IIId 289/5. Sayangnya, tidak ada keterangan lebih lanjut tentang asal-muasal naskah Buda Kecapi Putih ini.
Latar belakang koleksi Buda Kecapi Sastrasanga di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali sedikit berbeda jika dibandingkan dengan dua naskah sebelumnya. Pada bagian kolofon dijelaskan bahwa naskah tersebut berasal dari naskah lontar milik Ida Wayan Gede asal Cakranagara, Lombok. Naskah ini selesai dialih aksara pada tanggal 14 Juni 1991 oleh I Ketut Sengod yang berasal dari Karangasem.
Tiga Teks Buda Kecapi
Buda Kecapi Cemeng berisi informasi tentang tata cara pengobatan yang wajib diketahui oleh balian pangusada (praktisi usada). Teks mengklaim dirinya sebagai ajaran untuk membaca tanda-tanda penyakit, kematian, dan kehidupan (iti tutur buda kacapi cěměng, nga, patěngěran lara, mwang pati-urip, kawěruhakěna iki, nga).
Naskah awal Buda Kecapi Putih terdiri atas 15 lembar lontar, kemudian diturunkan menjadi 14 halaman folio. Wacana dalam teks ini diawali dengan penuturan deskriptif tentang esensi teks tersebut. Setelah itu, wacana dituturkan melalui dialog antara tokoh bernama Sang Buda Kecapi dengan kedua muridnya yang bernama Sang Kalimosada dan Kalimosadi.
Satu wacana menarik yang patut direnungkan dalam teks ini adalah penjelasan tentang etik seorang balian pangusada. Dialog suntuk antara Sang Buda Kecapi dengan kedua muridnya menegaskan pemahaman manusia sebagai makhluk ekologis yang tidak bisa menentang alam. Sesakti-sakti (baca: mahir) seorang balian pangusada, ia tidak bisa menolak hukum alam (rta).
Pemahaman atas prinsip mati-hidup mengingatkan balian tentang esensi kehidupan manusia yang dibatasi oleh kala (waktu). Seorang balian wajib memahami kapan memulai dan mengakhiri pertolongannya. Balian yang memahami ajaran Buda Kecapi harustahu pasien yang bisa disembuhkan dan pasien yang tidak lagi bisa disembuhkan. Oleh karena itu, kemampuan diagnosis penyakit menjadi pijakan mendasar yang harus dikuasai oleh balian sebelum menapaki langkah penyembuhan lanjutan.
Ketika seorang balian mendiagnosis pasien, kemudian mendapati “cahaya kehidupan” yang bersemayam di antara kedua alis pasien meredup, serta bagian dalam telinganya dirasakan ada getaran “klatag-klutug”, Buda Kecapi Cemeng merekomendasikan balian untuk tidak melakukan tindakan lebih lanjut. Teks mengklaim pasien dengan tanda seperti itu akan meninggal. Kondisi ini terjadi karena Sang Hyang Mandiswara telah pergi (yan wong agring wus katon di selagan alisnia kurěm tan pateja, dak tinanya wong agring, yan karasa masriyěng tur klatag-klutug maring jroning karna, aywa sira ngusadanin, pějah palania wong agring, apan Sang Hyang Mandiswara wus matinggal, nga).
Buda Kecapi Putih adalah teks paling pendek dibandingkan dua teks lainnya. Teks ini hanya digurat dalam 10 lembar lontar, yang kemudian menghasilkan naskah alih aksara berjumlah 9 halaman folio. Meskipun demikian, Buda Kecapi Putih memuat informasi yang sangat penting, terutama terkait esensi aksara.
Buda Kecapi Putih menjelaskan diri sebagai ajaran unggul “sang mangiwa”. Teks ini memuat filsafat dewata yang berakar pada pengetahuan atas Tri Aksara dan Rwa Bhineda. Apabila seorang memahami hakikat ajaran ini, ia akan mendapat kewibawaan di dunia fisik maupun dunia rohani; dimuliakan dunia; dikasihi para dewa; bahkan semua makhluk hidup akan berbakti padanya (nihan kotamaning sang mangiwa, den wruhěn rumhun, kagělaraning dewatatwa, mwang panunggalaning triaksara, těkeng rwabineda, apan wěkasing wěkas utamahakěna, sakala niskala kawibawan, kinatwangan dening rat kabeh, kinasihan dening dewa bhatara, mwah kinabaktya dening sarwa bhuta-bhuti).
Buda Kecapi Putih menyoroti hakikat tubuh besar dan tubuh kecil (bhuwana agung-bhuwana alit) yang pada prinsipnya terhubung. Teks membicarakan secara intensif tentang bija aksara Ongkara, khususnya Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang. Ajaran lainnya adalah esensi tentang hidup-mati, spirit energi Tuhan sebagai Sanghyang Tiga, hingga filosofi air kehidupan (banyu mahapawitra, tirtha kamandalu).
Buda Kecapi Putih secara meyakinkan menjelaskan konsep buda kecapi. Buda kecapi [boda kacapi] dijelaskan berasal dari tiga frase, yakni buda, kaca, dan pi. Boda berarti budi ‘budi’; idep ‘pikiran’; idup dan urip ‘kehidupan’; dan aturu ‘terjaga’. Kacaberarti meka ‘cermin’; mata ‘mata’; mati ‘mati’; manon ‘mahatahu’; dan awas ‘awas’. Sementara itu, piberarti pitara ‘leluhur: esensi roh’ yang kemudian dijelaskan sebagai atma ‘roh; energi hidup’.
Buda Kecapi Putih juga menjelaskan konsep sastrasanga—konsep yang menjadi judul teksketiga. Menurut teks ini, sastrasanga disusun oleh empat frase, yakni sas, tra, sa, dan nga. Sas berarti tingal ‘terlihat’. Tramerujuk pada bayu ‘energi hidup’, sabda ‘energi suara’, dan idep ‘nalar; pikiran’ yang merupakan tubuh dari Sanghyang Tiga. Samerujuk kata swara ‘suara’ dan sawa yang sama dengan pati ‘kematian’. Sementara itu, frase ngadiartikan sebagai raga ‘tubuh’, putus ‘putus’, dan lepas ‘terbebas’. Dalam hal ini, Buda Kecapi Putih menerjemahkan konsep sastrasanga sebagai pemahaman dalam melihat Sang Hyang Tiga berbasis suara kematian tubuh hingga terbebas dari keduniawian (tingalakěna Sanghyang Tiga, dening sabda amati raga, terusakěna těkaning lěpas, ika ngaranya sastra sanga).
Seperti dua teks Buda Kecapi sebelumnya, Buda Kecapi Sastrasanga pun menjelaskan dirinya secara tersurat. Teks ini mengklaim diri sebagai pengetahuan yang sangat rahasia, sehingga tidak disarankan untuk dipelajari tanpa kesiapan dari sang murid (iki aksara dahating utama, kawruhakěna den prětyaksa, Budakacapi Sastrasanga, genta pinara pitu, yan sira nora wěruh ring aksara iki saja sira aněndanana aksara iki, jah tasmat).
Buda Kecapi Sastrasanga menjelaskan ajarannya sebagai raja pengetahuan tentang baik-buruk hari (rajadiwasa) yang mempengaruhi hidup dan mati, yang berbasis pada pembacaan tanda alam serta tubuh(kunang yan sira wruh ring rajadiwasa, aywa sumiliha rajadiwasa, urip kalawan pati, iku kawruhakěna den prětyaksa ring bhuwana agung miwah bhuwana alit). Hari baik yang dibahas dalam Buda Kecapi Sastrasanga diperoleh melalui pemahaman atas konsep wewaran.
Deretan Hari Baik untuk Menanam
Buda Kecapi Sastrasanga merekomendasikan sejumlah hari baik untuk menanam jenis tanaman tertentu. Hari baik tersebut diformulasikan melalui perhitungan rumit pertemuan unsur saptawara (pekan berjumlah tujuh hari), pancawara (pekan berjumlah lima hari), dan wuku (30 pekan dalam siklus 210 hari). Formula ketiga unsur itu menciptakan hari dengan karakter tertentu, yang dipandang tepat untuk menanam jenis tanaman tertentu.
Teks menyematkan nama-nama unik untuk merujuk formula hari tertentu. Nama-nama hari dengan karakter tersebut misalnya hari Cintamani, Kajeng Kawulu, Sri Bulus, Sripala Sanda, Sri Wedi, Banyu Pinda, Bajra Manak, dan Ratu Magelung.
Hari Cintamani merujuk pada Buda Kliwon Sinta. Buda (Rabu) merupakan hari keempat dalam hitungan saptawara; Kliwon adalah hari kelima dalam siklus pancawara; sedangkan Sinta adalah nama pekan pertama dalam siklus wewaran berjumlah 30 pekan (210 hari). Apabila dikaitkan dengan kehidupan religi orang Bali saat kini, Buda Kliwon Sinta juga dikenal sebagai hari suci Pagerwesi.
Buda Kecapi Sastrasanga mengklaim hari Cintamani sebagai hari baik untuk melakukan pernikahan serta menanam berbagai macam tanaman, baik yang dibudidayakan di sawah maupun di ladang. Meskipun demikian, untuk menjaga keseimbangan energi hidupnya, teks merekomendasikan pelaksanaan ritual persembahanberupa caru mancawarna (Bu, Ka, Sinta, pawiwahan ayu, sakancaning gaga mwah sawah, Cintamani, nga, kembang, kapas tinandur ayu, carunya mancawarna).
Apabila hendak menanam tanaman buah, tanamlah pada hari Kajeng Kawulu, Ratu Magambahan, atau Kala Jengking. Kajeng Kawulu jatuh pada Sukra (Jumat) Paing Sinta, Ratu Magambahan jatuh pada Redite (Minggu) Wage Landep, sedangkan Kala Jengking jatuh pada Anggara (Selasa) Kliwon Tambir. Apabila ingin menanam umbi-umbian, maka hari yang direkomendasikan adalah hari Sri Manampek yang jatuh pada Anggara (Selasa) Wage Pahang.
Buda Kecapi Sastrasanga menjelaskan dengan detail hari baik yang berkaitan dengan padi. Hari-hari yang berkaitan dengan siklus tanam-panen padi antara lain disebut Sri Teka, Sripala Sanda, Banyu Pinda, Ratu Mangerenteng, Sri Manampek, Panon Sidhi, dan Sri Kuli-kuli (Kajeng Dadi).
Hari Sri Teka yang jatuh pada Wrehaspati (Kamis) Pon Tambir adalah hari yang direkomendasikan untuk membenih padi. Hari Sripala Sanda (Soma [Senin] Umanis Sungsang), Ratu Mangerenteng (Wrehaspati [Kamis] Wage Sungsang), Banyu Pinda (Buda [Rabu] Kliwon Dungulan), Sri Manampek, dan Panon Sidhi (Sukra [Jumat] Kliwon Madangkungan) adalah hari yang direkomendasikan untuk menanam padi. Sementara itu, hari Sri Kuli-kuli atau Kajeng Dadi yang jatuh pada Saniscara (Sabtu) Pon Matal diklaim sebagai hari baik untuk menaikkan padi ke lumbung.
“Kala” Membuat Peralatan
Wacana lain yang disorot Buda Kecapi Sastrasanga adalah hari baik untuk membuat peralatan bertahan hidup. Hari-hari ini ditentukan oleh konsep ala-ayuning kala. Perhitungannya ditentukan menurut pertemuan saptawara dan wuku.
Nama-nama hari menurut perhitungan ala-ayuning kala, antara lain Kala Mangunu, Kala Wisesa, Kala Pacekan, Kala Keciran, Kala Geger, Kala Mina, Kala Jengking, Kala Kuncang-kancing, Kala Ulah-alih, dan Kala Pegat. Selanjutnya ada Kala Macan, Kala Mrecu, Kala Caplokan, Kala Ngadeg, Kala Atat, Kala Gacokan, Kala Tukaran, Kala Empas, Kala Cakra, Kala Angin, Kala Rebutan, Kala Lunglung, Kala Sapu Awu, dan Kala Busah.
Peternak lebah direkomendasikan menaikkan kungkungan (sarang lebah) pada Kala Mangunu yang jatuh pada Radite (Minggu) Ukir atau pada Kala Rebutan yang jatuh pada Soma (Senin) Ugu.Jika ingin membuat kandang, pilihlah hari Kala Kuncang-kancing yang jatuh pada Redite (Minggu) Dungulan. Apabila ingin melatih sapi, Kala Angin yang jatuh pada Redite (Minggu) Bala adalah hari yang dipandang tepat.
Orang-orang yang senang memelihara ayam dapat memperhatikan hari Kala Jengking (Saniscara [Sabtu] Julungwangi) dan Kala Busah (Sukra [Jumat] Watugunung) untuk menangkap ayam. Apabila akan membuat guwungan (sangkar ayam) pilihlah hari Kala Cakra yang jatuh setiap Saniscara (Sabtu) Menail. Apabila senang mengadu ayam, buatlah taji pada Kala Pacekan yang jatuh pada Anggara (Selasa) Tolu atau pada Kala Tukaran yang jatuh pada Wrehaspati (Kamis) Matal.
Orang yang berprofesi di bidang perikanan dapat memilih Kala Atat yang jatuh setiap Soma (Senin) Merakih untuk membuat tali pancing. Jika belum memiliki pancing, buatlah saat Kala Caplokan yang jatuh pada Sukra (Jumat) Pujut. Namun, jika ingin menjala ikan, pilihlah Kala Mina untuk buatlah jala. Kala Mina yang jatuh setiap Sukra (Jumat) Warigadean.
Membuat senjata tajam juga perlu memperhatikan hari. Apabila ingin membuat tombak, Buda Kecapi Sastrasanga merekomendasikan Kala Lunglung yang jatuh setiap Anggara (Selasa) Wayang sebagai hari baiknya. Jika ingin membuat pisau iris (pangiris), buatlah pada Kala Kecitan yang jatuh setiap Buda (Rabu) Gumbreg. Buatlah sungga (perangkap) pada Kala Gacokan (Anggara [Selasa] Tambir), sedangkan jika ingin membuat alat sodok tanah (tulud), pilihlah Kala Sapu Awu yang jatuh pada Wrehaspati (Kamis) Dukut.
Kala Geger dan Kala Macan adalah dua hari yang direkomendasikan membuat kentongan atau benda-benda yang mengeluarkan suara. Kala Geger jatuh setiap Wrehaspati (Kamis) Wariga sedangkan Kala Macan jatuh pada Wrehaspati (Kamis) Langkir.
Tunduk pada Cara Kerja Alam
Buda Kecapi pada prinsipnya berupaya mewacanakan hakikat manusia sebagai mahkluk ekologis yang tidak bisa terlepas dengan alam. Buda Kecapi menegaskan manusia sebagai bagian alam yang tunduk pada hukum alam (rta). Artinya, jika ingin bertahan hidup, pilihannya adalah beradaptasi dan mengikuti cara kerja alam.
Buda Kecapi Sastrasanga merupakan wujud dari adaptasi manusia terhadap siklus alam semesta. Hakikat teks adalah mengelola alam menurut waktunya. Apabila berani menentang cara kerja alam, teks mengklaim upaya itu tidak akan berhasil, bahkan bisa menimbulkan bencana. Tumbuhan yang ditanam tidak akan menghasilkan hasil yang diharapkan. Peralatan hidup yang diharapkan dapat meringankan pekerjaan bisa berbalik tidak berguna, bahkan bisa melukai diri sendiri.
Gagasan hidup selaras dengan alam sejatinya bukan narasi baru dalam khazanah susastra Jawa Kuno. Teks Kala Tattwa dan Kakawin Purwaning Gunung Agung telah mengingatkan pembacanya untuk berhati-hati berhadapan dengan waktu. Pada dua teks tersebut, waktu direpresentasikan sebagai Sang Kala, yang merupakan simbol energi disrupsi Bhatara Siwa. Orang yang beraktivitas pada waktu yang tidak tepat—seperti tengah hari atau senja (sandikala)—dibenarkan untuk “dimakan” Kala. Kala tentu tidak serta merta merujuk makhluk seram bertaring runcing, tetapi mungkin saja adalah simbol energi alam (cuaca, iklim, dsb.) hingga mikroorganisme.
Buda Kecapi Sastrasanga telah mengenalkan keragaman sumber pangan. Meskipun sorotan tentang padi lebih dominan, tanaman pangan lain seperti palawija, buah-buahan, dan umbi-umbian telah diperhitungkan dengan baik. Teks juga menyorot teknologi perikanan, budidaya lebah—dan serangga lainnya, hingga peternakan.
Pada titik ini, Buda Kecapi Sastrasanga telah memberi refleksi bahwa sumber pangan sangat beragam, bukan hanya beras. Oleh karena itu, ketahanan pangan bisa diupayakan dengan menjaga dan mengembangkan sumber pangan yang beragam sebagaimana dinyatakan oleh teks.
Konsep hari baik juga mengajarkan tata kelola lahan yang berkeadilan untuk lingkungan. Buda Kecapi Sastrasanga setidak-tidaknya memberi gambaran pengelolaan lahan menurut siklus hidup tumbuhan tertentu. Lahan juga diberi waktu untuk memulihkan diri melalui waktu-waktu yang dianggap tidak baik untuk melakukan proses cocok-tanam.
Gagasan tersebut dapat mengoreksi cara kita dalam memperlakukan lahan yang seolah-olah tidak memberi kesempatan untuk memulihkan diri secara alami. Atas nama produksi dan keuntungan kapital, kita acapkali abai pada daya lenting tanah, yang akhirnya bermuara pada penurunan mutu tanah hingga pencemaran.
Membaca Buda Kecapi Sastrasanga pada periode waktu yang berbeda dengan masa penulisannya tidak menghindarkan kita pada “benturan” imaji dan realitas. Apa yang disampaikan Buda Kecapi Sastrasanga mau tidak mau akan berhadapan langsung dengan realitas perubahan iklim. Para pakar lingkungan telah merilis anomali cuaca, kepunahan banyak spesies, hingga peluang munculnya wabah baru akibat pemanasan global.
Dalam kekacauan ekologis ini, akurasi wacana Buda Kecapi Sastrasanga mungkin banyak dipertanyakan. Hari yang direkomendasi baik untuk menanam, mungkin tidak lagi baik. Demikian pula sebaliknya. Pada situasi inilah kita perlu mencari keseimbangan baru.
Tokoh Kalimosada dan Kalimosadi boleh jadi merupakan cerminan bangsa sapiens yang sedang bingung mencari keseimbangan baru. Bangsa sapiens yang “mengklaim diri” telah menguasi mayoritas pengetahuan, perlu kembali ke konsep ekologis paling mendasar. Di dalam Buda Kecapi, setelah gagal menyelamatkan seorang pasien, Kalimosada dan Kalimosadi memutuskan untuk berguru ke Sang Buda Kecapi, figur yang tidak hanya telah selesai pada “setra” semesta dan tubuh, tetapi memahami keterikatan keduanya. Lalu, pada era ini kepada siapa bangsa sapiens perlu belajar?
[1] Tulisan ini merupakan tulisan pascapanel diskusi “Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” Singaraja Literary Festival tahun 2025, tanggal 25 Juli 2025.
[2] Studi tentang Buda Kecapi secara komprehensif telah dilakukan oleh Dr. I Ketut Jirnaya, M.S., seorang dosen purnabhakti di Prodi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana yang adalah guru saya. Maka dari itu, tulisan ini juga dipersembahkan khusus sebagai tarpana sastra kepada sang guru.
Penulis: Jero Penyarikan Duuran Batur [IK Eriadi Ariana]
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























