MAHAMERU adalah tempat bersemayamnya para dewa. Di sana terdapat tangga-tangga langit yang tak kasat mata untuk menuju ke puncaknya. Hanya manusia berhati suci lagi bersih yang mampu melihatnya. Lalu, di puncaknya terdapat semacam tempat thawaf, tempat bagi para dewa bersemedi dan berkumpul untuk mendengarkan wejangan Sang Hyang Widi. Konon, menurut cerita orang tua-tua dulu, kawah Mahameru itu menembus langit ke tujuh layaknya di Ka’bah. Semua doa akan sampai dan langsung didengar oleh Tuhan, lalu tanpa menunggu waktu langsung diijabah oleh Tuhan. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Mak Taram, seorang pria sepuh yang selama ini tinggal menyendiri di hutan dan membiarkan dirinya terisolasi dari masyarakat.
Mak Taram tinggal di sebuah hutan yang berbatasan dengan dua gunung besar dekat pantai selatan itu. Di sebuah gubuk tua berdinding kayu yang berdiri di tepi sebuah jurang yang menganga. Ia tinggal berdua dengan cucu semata wayangnya yang bernama Ujang. Mak Taram sangat keras dalam mendidik cucu lelakinya itu. Tidak hanya melatihnya berkelahi dengan menggunakan pisau, tapi juga melatihnya berlari dengan menggunakan gelang besi seberat satu ton. Seperti halnya pagi itu. Setelah sarapan dengan ubi rebus dan kopi seduhan daun kopi, Mak Taram melatih Ujang menggunakan pisau. Remaja tanggung itu dengan tangkas bisa mengelak serangan dari kakeknya.
“Untuk latihan pagi ini kurasa sudah cukup, Ujang,” kata lelaki tua itu kepada cucunya. “Hanya tinggal selangkah lagi kamu akan menguasai serangan yang terakhir. Setelah itu, aku bisa pergi selamanya dengan tenang.”
“Mak Taram pasti sehat,” ujar Ujang dengan nada optimis kepada kakeknya. Ia terlihat sangat sedih setiap kali Msk Taram mengatakan seperti itu.
“Ujang, setiap hari, manusia ada yang lahir dan ada pula yang harus pergi. Begitu juga dengan aku. Usiaku sudah tidak muda lagi. Sudah saatnya kamu yang menggantikan aku untuk membinasakan kejahatan yang ada di atas muka bumi ini,” ucap Mak Taram menepuk pundak cucunya.
“Akan tetapi, jika Mak Taram pergi, maka aku akan tinggal dengan siapa?” tanya Ujang sambil menitikkan air mata.
“Kamu akan menentukan hidupmu sendiri, Ujang. Kamu tidak akan selamanya tinggal di tengah hutan ini sendirian,” kata Mak Taram menyemangati.
Sejak bayi, Ujang telah diasuh oleh Mak Taram bersama istrinya. Kedua orangtuanya telah lama meninggal dunia. Menurut cerita dari Mak Taram, ayah dan ibunya meninggal karena menjadi korban kebakaran yang disengaja. Dulu, mereka tinggal di desa sebelah. Akan tetapi, pada malam itu, ada sekelompok orang yang dengan sengaja membakar perkampungan tersebut. Seluruh rumah terbakar berserta dengan isinya. Tidak ada satu pun yang tersisa, termasuk penghuninya. Adalah yang selamat hanyalah Mak Taram, istrinya dan Ujang. Sebab saat itu mereka sedang keluar dari perkampungan menuju ibu kota kecamatan. Melihat perkampungan dan hunian mereka telah menjadi abu, lantas Mak Taram bersama keluarganya mengungsi ke tengah hutan yang tidak pernah terendus oleh manusia. Sayang, istri Mak Taram meninggal dunia ketika Ujang baru berumur 5 bulan. Sejak itu, Mak Taram mengasuh dan merawat Ujang seorang diri.
Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, Mak Taram menebang pohon lalu dicacahnya menjadi bagian kecil-kecil. Setelah itu, ia menjualnya di pasar ibu kota kabupaten. Selain menjual kayu bakar, kadang Mak Taram menjual madu murni yang ia panen dari puncak pepohonan yang tinggi. Kadang pula ia mengambil air pohon aren, kemudian dijualnya.
Seperti halnya siang itu. Ia mengajak Ujang mengambil madu yang ada di pohon kesambi. Ribuan tawon mendengung di dekat sarangnya. Lantas, ia menyuruh Ujang agar naik ke pohon tersebut. Ia juga memberikan apa yang sudah ia persiapkan termasuk api dan timba untuk menampung madu serta sarangnya. Lalu, seperti seekor monyet yang sudah terlatih, dengan lincah pemuda itu merayapi pohon kesambi hingga sampai di tempat sarang madu itu berada. Lalu, ia menyalakan kayu yang dibalut dengan kain sehingga keluar asap. Ia pun mengarahkannya di dekat sarang madu sehingga tawon-tawon itu kalang kabut dan kabur. Setelah itu, dengan mudah ia pun memanen madu untuk dijual esok di pasar.
Melihat cucunya berhasil memanen madu, Mak Taram pun tersenyum dengan bangga. Ia merasa bahwa didikannya selama ini tidak sia-sia. Keterampilan itu kelak akan menjadi bekal buat Ujang setelah dirinya tiada.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Mak Taram keluar hutan dengan membawa madu dan sarangnya untuk dijual ke pasar ibu kota kabupaten. Lelaki tua itu tidak membawa sepeda ontel atau sepeda motor. Di sana tidak ada sepeda. Kontur jalan pegunungan yang curam dan naik turun tidak memungkinkan dirinya agar naik sepeda. Tetapi, Mak Taram dulu pernah membawa mobil off-road yang memang khusus dikemudikan di hutan atau pegunungan. Ujang telah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Mak Taram ternyata jago mengemudikan mobil tersebut.
Sementara Mak Taram menjual madu hasil panennya, Ujang yang pagi itu selesai masak dan sarapan, segera melaksanakan tugas dari kakeknya yaitu membuat ramuan racun dari tanaman tertentu yang katanya mengandung racun yang sangat mematikan. Ia tidak pernah bertanya, untuk apa kakeknya itu menyuruhnya agar membuat racun. Pemuda itu pun langsung mencari dan menemukan tanaman mirip rumput tersebut, lalu dikumpulkannya. Seperti yang telah diarahkan oleh kakeknya. Pertama-tama, ia merebus daun tanaman tersebut dalam wadah yang tidak dipakai. Setelah menunggu beberapa menit, ia dengan hati-hati menyaring air yang telah bercampur dengan ekstrak daun beracun tersebut. Dan apabila sudah dingin, ia pun memasukkannya ke dalam botol kosong bekas.
***
“Malam ini kita ada misi suci, Ujang,” kata Mak Taram saat mereka berdua telah berada di atas mobil off road itu. Ujang sama sekali tidak tahu mau diajak ke mana dirinya oleh kakeknya itu. Ia menurut saja tanpa harus banyak tanya. “Apakah kamu tidak lupa membawa apa yang aku suruh?”
Ujang mengangguk. Tadi, sebelum pergi ia diminta oleh Mak Taram agar membawa botol bekas yang telah diisi dengan ramuan racun mematikan itu.
“Apakah kamu sudah siap?”
“Siap, Mak.”
“Bagus!”
Kemudian, Mak Taram mulai mengemudikan mobil itu menuju ke arah selatan. Mereka melewati perkampungan penduduk yang sudah sepi. Jalanan kampung itu menyala dengan lampu jalan yang temaram. Kadang mereka melewati hutan yang sunyi. Kondisi jalan yang membelah hutan itu sepi. Sama sekali tidak ada yang berani lewat. Akan tetapi, Mak Taram sama sekali tidak merasa takut.
Setelah melewati hutan, mereka mulai melewati jalanan yang menanjak dan meliuk. Kanan dan kiri jalan adalah hutan pinus dan cemara. Hawa dingin terasa mencucuk tulang. Mak Taram begitu hati-hati saat melewati jalanan itu. Ia tidak mau nyasar dan akhirnya masuk ke dalam jurang. Ujang mengenal tempat tersebut. Itu adalah jalan yang berada di bawah gunung Mahameru. Sebab dari bawah ia sudah bisa melihat puncak gunung tertinggi di Jawa Timur itu. Kabutnya yang tebal melingkari tubuh gunung seakan itu adalah jubah yang membalutnya saat tidur.
“Kita mau ke mana, Mak?” tanya Ujang penasaran.
“Kamu akan tahu sendiri.”
Mak Taram menambah laju mobilnya saat melewati hutan yang berada di lereng gunung tersebut. Tidak ada perkampungan di sini kecuali ribuan pepohonan yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Tidak ada penerangan di sini selain cahaya rembulan yang mengambang di langit malam. Setelah itu, mobil tersebut membelah sebuah Padang rumput yang lebat. Kondisi jalan yang tidak rata dan berbatu membuat penumpang mobil terpental. Untungnya Ujang sudah terbiasa dengan kebiasaan kakeknya setiap kali membawa mobil. Lalu, Mak Taram menghentikan mobil.
“Di depan sana ada sebuah perkampungan. Tapi yang ini bukan perkampungan penduduk biasa. Ini adalah areal terlarang bagi masyarakat biasa,” kata Mak Taram memberitahu. “Dan apakah kau tahu apa yang kumaksud?”
Ujang menggelengkan kepalanya.”
“Perkampungan ini tidak ada yang tahu kecuali orang-orang tertentu. Begitu pula dengan pejabat kabupaten, tidak ada yang tahu. Selain pejabat yang rakus dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.”
“Apa itu, Mak?”
“Di depan sana kita akan menemukan ladang ganja.”
“Ladang ganja?” Dahi Ujang mengernyit.
“Iya. Ladang ganja. Ladang tersebut tidak ada yang tahu. Bahkan, polisi setempat tidak tahu. Bibit ganja tersebut dibawa dari Aceh, kemudian diselundupkan lewat truk atau apa menuju ke sini. Lalu, mereka menyuruh orang-orangnya agar membuka lahan dan menanami gunung ini dengan ganja tadi,” tutur Mak Taram menjelaskan.
“Jadi, tugas kita apa, Mak?”
“Tugas kita malam ini adalah membunuh para penjaga ladang ganja dan membakarnya hingga binasa. Karena itu, aku menyuruhmu agar membuat ramuan racun dari tanaman itu.”
“Membunuh?”
Mak Taram mengangguk.
“Bukankah membunuh manusia itu adalah dosa, Mak?”
“Membunuh orang yang tidak berdosa memang berdosa, Ujang, tapi membunuh orang yang hendak mencelakai orang lain dengan daun-daun singkong beracun itu sama sekali tidak berdosa.”
Kemudian, sesuai dengan arahan kakeknya, Ujang menyusup masuk menuju ladang ganja di bawah gunung Semeru itu. Di sana terdapat empat gubuk yang dikhususkan buat para penjaga ladang. Di bawah temaram cahaya rembulan, Ujang mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh mereka. Sebab para penjaga itu dilengkapi dengan senjata laras panjang. Atau mungkin memang sudah direncanakan oleh langit. Malam itu, para penjaga sedang bermain kartu remi di teras salah satu rumah sehingga Ujang dengan mudah masuk ke dalam salah satu dapur rumah tersebut. Setelah berhasil masuk, ia mengeluarkan botol yang berisi ramuan racun itu dan menuangkannya ke dalam ceret yang berisi air putih. Lalu, dengan cepat ia segera keluar dari rumah tersebut.
Dan benar saja, saat ia kembali bersembunyi di balik semak-semak daun ganja, ia mendengar langkah kaki yang menginjak lantai papan. Tampaknya orang itu akan mengambil ceret berisi air putih itu. Ujang yakin bahwa mereka tidak akan curiga dengan air putih yang telah dicampur dengan racun tersebut karena warnanya samar. Tak lama kemudian, ia mendengar suara orang yang muntah-muntah.
Untuk memastikan, ia pun keluar dari semak-semak itu dan berjingkat-jingkat di samping rumah. Tampak saat itu ia melihat ada empat orang penjaga yang sudah kaku macam kayu. Tubuh mereka sudah tak bernyawa. Sementara di rumah kedua, ia juga melihat ada tiga orang lagi yang sudah terkapar. Kini tinggal misi yang terakhir, yaitu membakar ladang ganja itu beserta rumahnya. Lantas, ia mencari minyak tanah di dalam rumah tersebut. Dan akhirnya ia menemukan solar.
Kemudian, ia menuangkan solar itu di lantai dan dinding rumah dan terakhir di ladang ganja. Saat ia berada di tepi jalan, ia menggesek korek api dan melemparkannya di atas ladang ganja itu. Dalam sekejap api langsung melahap tanaman singkong dan rumah itu, termasuk mayat yang mati karena keracunan.
***
Setelah misi itu, Mak Taram yang sakit parah karena dimakan usia membongkar sebuah rahasia yang selama ini ia jaga dari Ujang. Di atas tempat tidurnya, Mak Taram menggenggam tangan pemuda itu.
“Ujang, sebenarnya aku bukan kakekmu. Begitu juga dengan istriku bukan nenekmu,” kata Mak Taram yang membuat hati pemuda itu kecewa. “Kami merawat kamu karena orang tuamu meninggal saat kamu masih bayi. Dan tahukah kamu, bahwa kedua orangtuamu meninggal karena kasus yang sama. Ayah dan ibumu adalah penjaga ladang ganja yang berada di kawasan gunung Bromo. Dan akulah yang membunuh mereka berdua. Aku membakar pemukiman mereka beserta ladang singkong mematikan itu. Aku dan kawanku yang telah menghabisi nyawa orang tuamu. Tapi, aku membunuh mereka karena ada alasannya. Aku membunuh mereka sebelum mereka membunuh jutaan lebih nyawa yang mengonsumsi barang haram tersebut. Terserah kamu, apakah kamu mau memaafkan ku sebelum Malaikat Maut membawa nyawaku,” kata Mak Taram dengan bibir bergetar dan air mata mengalir di pelupuk matanya.
Ujang terdiam membisu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah ia akan memaafkan lelaki tua yang telah merawat dirinya yang juga ternyata adalah pembunuh kedua orangtuanya itu. Apakah ia akan merelakan semua kesalahan dan dosa lelaki tua yang telah mendidiknya untuk membinasakan orang-orang jahat di atas muka bumi ini? [T]
Probolinggo, Maret 2025
Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole



























