6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ladang Singkong di Lereng Semeru | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
July 19, 2025
in Cerpen
Ladang Singkong di Lereng Semeru | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

MAHAMERU adalah tempat bersemayamnya para dewa. Di sana terdapat tangga-tangga langit yang tak kasat mata untuk menuju ke puncaknya. Hanya manusia berhati suci lagi bersih yang mampu melihatnya. Lalu, di puncaknya terdapat semacam tempat thawaf, tempat bagi para dewa bersemedi dan berkumpul untuk mendengarkan wejangan Sang Hyang Widi. Konon, menurut cerita orang tua-tua dulu, kawah Mahameru itu menembus langit ke tujuh layaknya di Ka’bah. Semua doa akan sampai dan langsung didengar oleh Tuhan, lalu tanpa menunggu waktu langsung diijabah oleh Tuhan. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Mak Taram, seorang pria sepuh yang selama ini tinggal menyendiri di hutan dan membiarkan dirinya terisolasi dari masyarakat.

Mak Taram tinggal di sebuah hutan yang berbatasan dengan dua gunung besar dekat pantai selatan itu. Di sebuah gubuk tua berdinding kayu yang berdiri di tepi sebuah jurang yang menganga. Ia tinggal berdua dengan cucu semata wayangnya yang bernama Ujang. Mak Taram sangat keras dalam mendidik cucu lelakinya itu. Tidak hanya melatihnya berkelahi dengan menggunakan pisau, tapi juga melatihnya berlari dengan menggunakan gelang besi seberat satu ton. Seperti halnya pagi itu. Setelah sarapan dengan ubi rebus dan kopi seduhan daun kopi, Mak Taram melatih Ujang menggunakan pisau. Remaja tanggung itu dengan tangkas bisa mengelak serangan dari kakeknya.

“Untuk latihan pagi ini kurasa sudah cukup, Ujang,” kata lelaki tua itu kepada cucunya. “Hanya tinggal selangkah lagi kamu akan menguasai serangan yang terakhir. Setelah itu, aku bisa pergi selamanya dengan tenang.”

“Mak Taram pasti sehat,” ujar Ujang dengan nada optimis kepada kakeknya. Ia terlihat sangat sedih setiap kali Msk Taram mengatakan seperti itu.

“Ujang, setiap hari, manusia ada yang lahir dan ada pula yang harus pergi. Begitu juga dengan aku. Usiaku sudah tidak muda lagi. Sudah saatnya kamu yang menggantikan aku untuk membinasakan kejahatan yang ada di atas muka bumi ini,” ucap Mak Taram menepuk pundak cucunya.

“Akan tetapi, jika Mak Taram pergi, maka aku akan tinggal dengan siapa?” tanya Ujang sambil menitikkan air mata.

“Kamu akan menentukan hidupmu sendiri, Ujang. Kamu tidak akan selamanya tinggal di tengah hutan ini sendirian,” kata Mak Taram menyemangati.

Sejak bayi, Ujang telah diasuh oleh Mak Taram bersama istrinya. Kedua orangtuanya telah lama meninggal dunia. Menurut cerita dari Mak Taram, ayah dan ibunya meninggal karena menjadi korban kebakaran yang disengaja. Dulu, mereka tinggal di desa sebelah. Akan tetapi, pada malam itu, ada sekelompok orang yang dengan sengaja membakar perkampungan tersebut. Seluruh rumah terbakar berserta dengan isinya. Tidak ada satu pun yang tersisa, termasuk penghuninya. Adalah yang selamat hanyalah Mak Taram, istrinya dan Ujang. Sebab saat itu mereka sedang keluar dari perkampungan menuju ibu kota kecamatan. Melihat perkampungan dan hunian mereka telah menjadi abu, lantas Mak Taram bersama keluarganya mengungsi ke tengah hutan yang tidak pernah terendus oleh manusia. Sayang, istri Mak Taram meninggal dunia ketika Ujang baru berumur 5 bulan. Sejak itu, Mak Taram mengasuh dan merawat Ujang seorang diri.

Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, Mak Taram menebang pohon lalu dicacahnya menjadi bagian kecil-kecil. Setelah itu, ia menjualnya di pasar ibu kota kabupaten. Selain menjual kayu bakar, kadang Mak Taram menjual madu murni yang ia panen dari puncak pepohonan yang tinggi. Kadang pula ia mengambil air pohon aren, kemudian dijualnya.

Seperti halnya siang itu. Ia mengajak Ujang mengambil madu yang ada di pohon kesambi. Ribuan tawon mendengung di dekat sarangnya. Lantas, ia menyuruh Ujang agar naik ke pohon tersebut. Ia juga memberikan apa yang sudah ia persiapkan termasuk api dan timba untuk menampung madu serta sarangnya. Lalu, seperti seekor monyet yang sudah terlatih, dengan lincah pemuda itu merayapi pohon kesambi hingga sampai di tempat sarang madu itu berada. Lalu, ia menyalakan kayu yang dibalut dengan kain sehingga keluar asap. Ia pun mengarahkannya di dekat sarang madu sehingga tawon-tawon itu kalang kabut dan kabur. Setelah itu, dengan mudah ia pun memanen madu untuk dijual esok di pasar.

Melihat cucunya berhasil memanen madu, Mak Taram pun tersenyum dengan bangga. Ia merasa bahwa didikannya selama ini tidak sia-sia. Keterampilan itu kelak akan menjadi bekal buat Ujang setelah dirinya tiada.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Mak Taram keluar hutan dengan membawa madu dan sarangnya untuk dijual ke pasar ibu kota kabupaten. Lelaki tua itu tidak membawa sepeda ontel atau sepeda motor. Di sana tidak ada sepeda. Kontur jalan pegunungan yang curam dan naik turun tidak memungkinkan dirinya agar naik sepeda. Tetapi, Mak Taram dulu pernah membawa mobil off-road yang memang khusus dikemudikan di hutan atau pegunungan. Ujang telah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Mak Taram ternyata jago mengemudikan mobil tersebut.

Sementara Mak Taram menjual madu hasil panennya, Ujang yang pagi itu selesai masak dan sarapan, segera melaksanakan tugas dari kakeknya yaitu membuat ramuan racun dari tanaman tertentu yang katanya mengandung racun yang sangat mematikan. Ia tidak pernah bertanya, untuk apa kakeknya itu menyuruhnya agar membuat racun. Pemuda itu pun langsung mencari dan menemukan tanaman mirip rumput tersebut, lalu dikumpulkannya. Seperti yang telah diarahkan oleh kakeknya. Pertama-tama, ia merebus daun tanaman tersebut dalam wadah yang tidak dipakai. Setelah menunggu beberapa menit, ia dengan hati-hati menyaring air yang telah bercampur dengan ekstrak daun beracun tersebut. Dan apabila sudah dingin, ia pun memasukkannya ke dalam botol kosong bekas.

***

“Malam ini kita ada misi suci, Ujang,” kata Mak Taram saat mereka berdua telah berada di atas mobil off road itu. Ujang sama sekali tidak tahu mau diajak ke mana dirinya oleh kakeknya itu. Ia menurut saja tanpa harus banyak tanya. “Apakah kamu tidak lupa membawa apa yang aku suruh?”

Ujang mengangguk. Tadi, sebelum pergi ia diminta oleh Mak Taram agar membawa botol bekas yang telah diisi dengan ramuan racun mematikan itu.

“Apakah kamu sudah siap?”

“Siap, Mak.”

“Bagus!”

Kemudian, Mak Taram mulai mengemudikan mobil itu menuju ke arah selatan. Mereka melewati perkampungan penduduk yang sudah sepi. Jalanan kampung itu menyala dengan lampu jalan yang temaram. Kadang mereka melewati hutan yang sunyi. Kondisi jalan yang membelah hutan itu sepi. Sama sekali tidak ada yang berani lewat. Akan tetapi, Mak Taram sama sekali tidak merasa takut.

Setelah melewati hutan, mereka mulai melewati jalanan yang menanjak dan meliuk. Kanan dan kiri jalan adalah hutan pinus dan cemara. Hawa dingin terasa mencucuk tulang. Mak Taram begitu hati-hati saat melewati jalanan itu. Ia tidak mau nyasar dan akhirnya masuk ke dalam jurang. Ujang mengenal tempat tersebut. Itu adalah jalan yang berada di bawah gunung Mahameru. Sebab dari bawah ia sudah bisa melihat puncak gunung tertinggi di Jawa Timur itu. Kabutnya yang tebal melingkari tubuh gunung seakan itu adalah jubah yang membalutnya saat tidur.

“Kita mau ke mana, Mak?” tanya Ujang penasaran.

“Kamu akan tahu sendiri.”

Mak Taram menambah laju mobilnya saat melewati hutan yang berada di lereng gunung tersebut. Tidak ada perkampungan di sini kecuali ribuan pepohonan yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Tidak ada penerangan di sini selain cahaya rembulan yang mengambang di langit malam. Setelah itu, mobil tersebut membelah sebuah Padang rumput yang lebat. Kondisi jalan yang tidak rata dan berbatu membuat penumpang mobil terpental. Untungnya Ujang sudah terbiasa dengan kebiasaan kakeknya setiap kali membawa mobil. Lalu, Mak Taram menghentikan mobil.

“Di depan sana ada sebuah perkampungan. Tapi yang ini bukan perkampungan penduduk biasa. Ini adalah areal terlarang bagi masyarakat biasa,” kata Mak Taram memberitahu. “Dan apakah kau tahu apa yang kumaksud?”

Ujang menggelengkan kepalanya.”

“Perkampungan ini tidak ada yang tahu kecuali orang-orang tertentu. Begitu pula dengan pejabat kabupaten, tidak ada yang tahu. Selain pejabat yang rakus dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.”

“Apa itu, Mak?”

“Di depan sana kita akan menemukan ladang ganja.”

“Ladang ganja?” Dahi Ujang mengernyit.

“Iya. Ladang ganja. Ladang tersebut tidak ada yang tahu. Bahkan, polisi setempat tidak tahu. Bibit ganja tersebut dibawa dari Aceh, kemudian diselundupkan lewat truk atau apa menuju ke sini. Lalu, mereka menyuruh orang-orangnya agar membuka lahan dan menanami gunung ini dengan ganja tadi,” tutur Mak Taram menjelaskan.

“Jadi, tugas kita apa, Mak?”

“Tugas kita malam ini adalah membunuh para penjaga ladang ganja dan membakarnya hingga binasa. Karena itu, aku menyuruhmu agar membuat ramuan racun dari tanaman itu.”

“Membunuh?”

Mak Taram mengangguk.

“Bukankah membunuh manusia itu adalah dosa, Mak?”

“Membunuh orang yang tidak berdosa memang berdosa, Ujang, tapi membunuh orang yang hendak mencelakai orang lain dengan daun-daun singkong beracun itu sama sekali tidak berdosa.”

Kemudian, sesuai dengan arahan kakeknya, Ujang menyusup masuk menuju ladang ganja di bawah gunung Semeru itu. Di sana terdapat empat gubuk yang dikhususkan buat para penjaga ladang. Di bawah temaram cahaya rembulan, Ujang mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh mereka. Sebab para penjaga itu dilengkapi dengan senjata laras panjang. Atau mungkin memang sudah direncanakan oleh langit. Malam itu, para penjaga sedang bermain kartu remi di teras salah satu rumah sehingga Ujang dengan mudah masuk ke dalam salah satu dapur rumah tersebut. Setelah berhasil masuk, ia mengeluarkan botol yang berisi ramuan racun itu dan menuangkannya ke dalam ceret yang berisi air putih. Lalu, dengan cepat ia segera keluar dari rumah tersebut.

Dan benar saja, saat ia kembali bersembunyi di balik semak-semak daun ganja, ia mendengar langkah kaki yang menginjak lantai papan. Tampaknya orang itu akan mengambil ceret berisi air putih itu. Ujang yakin bahwa mereka tidak akan curiga dengan air putih yang telah dicampur dengan racun tersebut karena warnanya samar. Tak lama kemudian, ia mendengar suara orang yang muntah-muntah.

Untuk memastikan, ia pun keluar dari semak-semak itu dan berjingkat-jingkat di samping rumah. Tampak saat itu ia melihat ada empat orang penjaga yang sudah kaku macam kayu. Tubuh mereka sudah tak bernyawa. Sementara di rumah kedua, ia juga melihat ada tiga orang lagi yang sudah terkapar. Kini tinggal misi yang terakhir, yaitu membakar ladang ganja itu beserta rumahnya. Lantas, ia mencari minyak tanah di dalam rumah tersebut. Dan akhirnya ia menemukan solar.

Kemudian, ia menuangkan solar itu di lantai dan dinding rumah dan terakhir di ladang ganja. Saat ia berada di tepi jalan, ia menggesek korek api dan melemparkannya di atas ladang ganja itu. Dalam sekejap api langsung melahap tanaman singkong dan rumah itu, termasuk mayat yang mati karena keracunan.

***

Setelah misi itu, Mak Taram yang sakit parah karena dimakan usia membongkar sebuah rahasia yang selama ini ia jaga dari Ujang. Di atas tempat tidurnya, Mak Taram menggenggam tangan pemuda itu.

“Ujang, sebenarnya aku bukan kakekmu. Begitu juga dengan istriku bukan nenekmu,” kata Mak Taram yang membuat hati pemuda itu kecewa. “Kami merawat kamu karena orang tuamu meninggal saat kamu masih bayi. Dan tahukah kamu, bahwa kedua orangtuamu meninggal karena kasus yang sama. Ayah dan ibumu adalah penjaga ladang ganja yang berada di kawasan gunung Bromo. Dan akulah yang membunuh mereka berdua. Aku membakar pemukiman mereka beserta ladang singkong mematikan itu. Aku dan kawanku yang telah menghabisi nyawa orang tuamu. Tapi, aku membunuh mereka karena ada alasannya. Aku membunuh mereka sebelum mereka membunuh jutaan lebih nyawa yang mengonsumsi barang haram tersebut. Terserah kamu, apakah kamu mau memaafkan ku sebelum Malaikat Maut membawa nyawaku,” kata Mak Taram dengan bibir bergetar dan air mata mengalir di pelupuk matanya.

Ujang terdiam membisu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah ia akan memaafkan lelaki tua yang telah merawat dirinya yang juga ternyata adalah pembunuh kedua orangtuanya itu. Apakah ia akan merelakan semua kesalahan dan dosa lelaki tua yang telah mendidiknya untuk membinasakan orang-orang jahat di atas muka bumi ini? [T]

Probolinggo, Maret 2025

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan di Mata Mak Kaeh | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gm. Sukawidana | Upacara Kelahiran

Next Post

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co