UPACARA KELAHIRAN (1)
itu matahari
menanjak sampai ke puncak meru
di padang kuru
lahir bayang anak lanang
menunggang kuda dewa
nembang puisi
sendiri
UPACARA KELAHIRAN (2)
kau dengar riak buih
yang melintas di sisi sampanku?
menggemericik isyaratkan surut akan tiba
bersiaplah
laut di detak jantungku
tak lagi meronta
layar sudah digulung
untuk kemudian merapat
mencari pesisir hening
tempat persinggahanku
menambatkan rindu
wajah letih dan keruh
penuh guratan kerut
menempuh waktu
perjalanan panjang di akhir musim
sia-sia
tak ada oleh-oleh
yang bisa kubawa pulang ke rumah ibu
jangan tanya
sudah berapa lama aku mengayuh sampan
menyusuri pasang surut air payau
yang mengalir di detak jantung
tak henti
mencari pesisir hening
mencari rumah ibu
buat menepi menambatkan sampan
di surut air pesisir luka nadiku
di teragtag rumah panggung
tak ada anak-anak memanggil-manggil angin
layang-layang yang terbuat dari tulang rusuk
dilepas jauh ke langit mendung
gerimis perlahan menjadi kabut
menyambut pulangku ke rumah ibu
UPACARA KELAHIRAN (3)
melintasi padang sunyi
matahari tegak lurus di ubun-ubun
lepas bayangku entah kemana
“sudah berapa jauh kembaramu meramu hari
buat bekal pulang ke rumah ibu?”
MENGUPACARAI KELAHIRAN (4)
ini hari
buik rajah ni dirah
menguasai kalangan
setiap lekuk di tubuhnya
penuh kilatan api
tak ada yang berani mendekat
ini perang tanding untuk hidup atau mati
sihir ni dirah
merambat ke semua penjuru mata angin
menyusup ke akar-akar nadi
layu pepohonan ditadah bara
“jangan ada yang mendekat
sebelum kabut terkuak!”
begitu para balian mengingatkan
saat matahari bergerak tegak lurus
mengitari ubun-ubun si peladang garam
suruh pakembar datang
buat melepas brumbun sangkur
penawar mantra hitam ni dirah
orang-orang menari-nari
dengan menenggak berbumbung-bumbung tuak
melingkari bara api
nyanyinya sumbang
mata sayu setengah mabuk
sambil memeluk tubuh-tubuh perempuan
soraknya riuh menggema
mengusung gerhana di puncak bukit
bergetar denyut jantung
buik rajah ni dirah
terbang mengitari kalangan
merobek-robek kabut
jampi-jampinya menyusup
sampai membatu
pada satu loncatan
tajian temberang brumbun sangkur
menancap di jantung gerhana
berjatuhan percikan api
buik rajah ni dirah
terkapar
orang-orang membisu beku
timpakan kutuk
pada lelaki tua
yang sudah berjalan jauh mencari sunyi
penuh dengan kesia-siaannya
gurat nasib di telapak tangan
tersurat dalam lontar para dewa
selalu berakhir sebagai pecundang
dalam pergumulan waktu
begitulah aku senantiasa
dalam hening semadi
mencari diri
mengupacarai kelahiran
*
Penulis: Gm. Sukawidana
Editor: Adnyana Ole



























