Kawan yang baik,
Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya yang mengandung empati terhadap kaum bumiputra?”
Banyak, kawan. Tapi beberapa saja yang perlu kita ingat. Kita mulai dari karya-karya Willem van Hogendorp dan Dirk van Hogendorp. Selain empati kepada kaum pribumi, karya-karya penulis bapak-anak ini juga berisi kritik terhadap praktik perbudakan yang dilakukan orang-orang Belanda utamanya para fungsionaris VOC.
Willem van Hogendorp, ayah Dirk, adalah putra walikota Rotterdam yang datang ke Batavia pada tahun 1774. Ia sempat diangkat sebagai warga Rembang lalu menjadi administrator di Pulau Onrust hingga wafat tahun 1784 karena kapal yang ditumpanginya tenggelam dalam perjalanan pulang ke negeri Balanda.
Selama di Jawa konon dia suka mengunjungi tempat-tempat yang dia anggap menarik. Dia banyak menyaksikan perlakuan buruk orang Belanda kepada kaum pribumi sehingga terdorong menulis novel yang dia beri judul ”Kraspoekoel”.
Judul itu merupakan julukan untuk tokoh utamanya, yakni seorang nyonya besar Belanda yang suka berbuat kejam kepada pelayannya yang bernama Tjampaka (Cempaka).
Tentu ia menulis novel itu untuk menggugah orang-orang Belanda agar berlaku lebih manusiawi kepada kaum pribumi, karena jika kekejaman itu dilanjutkan maka pada saatnya kelak akan menimbulkan pembalasan yang setimpal.
Dan memang benar, akhirnya nyonya Kraspoekol tewas ditikam oleh lelaki pribumi yang tidak tahan menyaksikan penderitaan Cempaka.
Anak Willem, Dirk van Hoogendorp, kemudian menyadur novel bapaknya menjadi pentas teater yang pernah digelar di Den Haag. Berbeda dengan ayahnya, sang anak jauh lebih keras dalam menentang praktik perbudakan.
Tentu, para pembela VOC yang tinggal di kota itu menentang rencana pementasan teater yang mengangkat sejarah buruk perbudakan di Hindia Belanda. Tapi hal itu justru membuat orang penasaran dan penonton pun berduyun-duyun datang menyaksikan pementasan tersebut.
Dalam buku Rob Nieuwenhuys “Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia” terjemahan Dick Hartono, di halaman 35 terdapat gambaran sebagai berikut:
”Semenjak layar dibuka, para tuan dan orang-orang pembela VOC terus membunyikan sempritan dan terompet sehingga tak satu katapun yang dapat didengar dengan baik. Andaikata tuan-tuan itu diberi kesempatan, mereka pasti akan memadamkan lilin-lilin dalam gedung itu, sekadar untuk menutupi perbuatan mereka sendiri dan para leluhur yang memang tidak pantas dipertunjukkan di muka umum”.
Pementasan itu akhirnya dihentikan. Penentangan tokoh-tokoh pembela VOC itu juga dipicu oleh tulisan Dirk yang dimuat di sebuah media massa mengenai kondisi buruk kaum pribumi di daerah-daerah kekuasan VOC dan berbagai kebobrokan para pejabatnya dengan menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri.
Perlu dicatat bahwa Dirk memiliki anak bernama Carel Sirardus Willem van Hogendorp yang lahir di Benggala dan kemudian dibawa ke Batavia dan ketika dewasa sang anak sempat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1840-1841.
Anak Dirk dan cucu Willem ini pernah menulis prosa berjudul ”Soelatrie” dan sebuah buku tebal dalam bahasa Prancis berisi serbarupa alam dan kehidupan Hindia Belanda.
Berbeda dengan karya-karya ayah dan kakeknya, karya-karya Carel Sirardus justru cenderung memandang kaum pribumi melalui tokoh-tokoh tipologis khas orientalisik, misalnya pandangan tentang ulama muslim yang pasti fanatik dan alam pikiran rakyat Hindia Belanda yang dipenuhi tahayul.
Kawan yang baik,
Empati terhadap kaum pribumi ternyata juga muncul pada sebagian elite pemerintah, bahkan di antaranya Baron van der Capellen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa cukup lama (1816-1826). Ia juga pernah mengemukanan bahwa praktik kolonialisme harus diubah ke arah yang lebih baik dan ”adil”.
Kita kutip kembali buku Nieuwenhuys, halaman 55, yang berisi pandangan sang Gubernur Jenderal: ”Saat ini sasarannya bukan mendapatkan bahan-bahan dengan harga semurah mungkin, tapi bagaimana memberi kemakmuran kepada rakyat dan mengangkatnya dari taraf yang hina dan terbelakang. Bahwa yang dinamakan dengan istilah liberalisme, ternyata hal itu semata-mata melindungi dan meng-anak-emaskan tuan-tuan tanah keturunan Eropa dengan merugikan penduduk pribumi. Ini liberalisme yang dalam pelaksanaannya sangat tidak liberal” .
Pandangan sang Gubernur Jenderal dapat dikatakan keluar jalur karena secara politik ia termasuk golongan konservatif dan tidak benar-benar liberal. Ketika datang ke Hindia Belanda, perekonomian negeri Belanda sendiri sedang merosot dan selama sepuluh tahun lebih menjadi Gubernur Jenderal ia tak dapat memberi kontribusi signifikan kepada negaranya. Akibatnya ia dikecam banyak pihak, terutama para pejabat pemerintah Belanda.
Dan setelah van der Capellen pergi, di Hindia Belanda justru diberlakukan program tanam paksa oleh Gubernur Jenderal van den Bosch, sementara apa yang ia sebut sebagai skema perekonomian liberal baru diterapkan sekitar 45 tahun kemudian.
Selain itu ada penulis J.F.G. Brumund, seorang pendeta yang memiliki empati mendalam kepada kaum pribumi. Di antara karyanya adalah prosa berjudul ”Garsia, Si Ronggeng” yang menggambarkan perjalanan hidup seorang penari Jawa. Juga beberapa tulisan mengenai Pangeran Diponegoro yang ia gambarkan sebagai pahlawan pribumi yang seharusnya dapat hidup nyaman di lingkungan keraton tapi justru memilih memperjuangkan kepentingan bangsanya.
Pendeta lain yang menuliskan empati serupa adalah van Hoevell yang menjalankan tugas rohaniahnya di beberapa tempat di Jawa. Karena tulisan-tulisannya ia dipersona-non-grata oleh pemerintah kolonial. Lalu penulis Herman Neubronner van der Tuuk yang lahir di Malaka dari ayah Belanda dan ibu peranakan Tionghoa, lalu belajar di Universitas Groningan dan kemudian di Universitas Leiden.
Pada zamannya ia adalah salah satu ahli terbesar bahasa-bahasa Nusantara. Ia datang ke Hindia Belanda untuk meneliti bahasa dan adat istiadat serta seluk-beluk kehidupan masyarakat Batak. Ia kemudian menulis tentang bahasa Jawa kuno dan bahasa Bali.
van der Tuuk getol mendorong pejabat pemerintah kolonial agar menggunakan bahasa asli pribumi dan menerbitkan kamus-kamus dan tata bahasa-bahasa daerah Nusantara agar dapat “menyapa hati” kaum pribumi. Setekah meninggal, Tuan van der Tuuk ini dimakamkan di Surabaya, kawan.
Setelah itu muncul karya-karya yang ditulis dari sudut pandang orang pribumi, di antaranya karya-karya M.C. van Zeggelen, perempuan penulis yang pernah tinggal di daerah terpencil di Sulawesi dan banyak menulis cerita anak-anak, salah satunya novel ”Keris Emas” dengan tokoh anak-anak Bugis di mana orang-orang Belanda ditampilkan sebagai kaum raksasa jahat musuh mereka.
Dan ketika tinggal di Aceh ia menulis novel ”Kemuliaan Masa Silam” yang berlatar sejarah Aceh pada saat kedatangan bangsa Portugis, Inggris dan Belanda. Pada masa akhir hidupnya ia menulis novel tentang R.A. Kartini. Ada juga perempuan penulis Madelon Hermina Lulofs, anak seorang pegawai pemerintah kolonial (Binnenlandsch Bestuur) yang bertugas di Sumatra.
Ia menikah dua kali dengan orang perkebunan. Suaminya yang kedua adalah orang Hungaria, L. Szekely. Ia terkenal dengan novel-novelnya yang mengangkat kisah kehidupan orang-orang perkebunan, terutama para kuli. Dalam novel ”Rubber” misalnya, dengan bahasa yang polos ia membuat gambaran rinci tentang kehidupan orang-orang Eropa dan kaum kuli perkebunan di Deli.
Hal serupa juga muncul dalam novel ”Koeli”. Novelnya yang lain adalah ”Kelana Kelaparan” yang berisi kisah perlawanan orang-orang Aceh terhadap Belanda. Hal itu ia lanjutkan dengan novel ”Cut Nyak Dien”.
PASURUAN DAN LABUWANGI
Kawan yang baik,
Beberapa kali aku lewat Pasuruan, Jawa Timur. Tentu saat itu aku teringat novel “Hidden Force” atawa “Alam Gaib” karya Louis Couperus (1863-1923) yang menggambarkan kompleksitas kehidupan orang Belanda dan Eropa di Hindia Belanda serta hubungan ”intim” mereka dengan kaum pribumi.
Sebelum datang ke Batavia Meneer Couperus ini sudah punya nama besar di negerinya dengan buku-buku berlatar sejarah epik zaman klasik Eropa di mana kebudayaan masa silam ditampilkan dalam suasana yang mengarah pada ikatan pelik dan nyaris tak terjelaskan antara kemegahan dan kejahatan, kebajikan dan kegilaan nyang diramu dalam gaya personal terhadap ekspresi manusia-manusia agung tapi sekaligus rapuh berikut dramatisasi sejarah dan segala bentuk aristokrasi dan dogma-dogma penyangganya.
Penulis ini suka menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mengejar keabadian bukan untuk mendapatkan “firdaus” melainkan karena didorong oleh egosentrisme dan ketamakan nafsu serta impuls-impuls negatif yang nyaris tak terkendali. Ia sering menyambangi kerabatnya yang menetap di Pasuruan, Jawa Timur.
Novel “Hidden Force” atawa “Alam Gaib” itu pun ia tulis di Pasuruan. Dalam novel tersebut tergambar jalinan kultural dan sosial yang rumit antara sesama orang Belanda maupun hubungan mereka dengan kaum pribumi yang terkadang tampak mengambang tapi di baliknya tersimpan hasrat untuk mengurai ikatan samar-samar dari dua ras yang saling membenci tapi sekaligus mencintai.
Hubungan yang pelik itu kemudian menimbulkan dampak psikologis yang sangat dalam, terutama pada individu-individu yang mengalami perubahan mental ketika menghadapi situasi-situasi buruk dan krusial di Hindia Belanda. Di dalamnya juga terdapat adegan-adegan melodramatis dalam balutan kultur feodal.
Kerumitan hubungan tokoh-tokoh ceritanya dalam ikatan problematik orang Belanda dengan adat Jawa itu diramu dengan peristiwa-peristiwa gaib dalam suasana mistik di sana-sini.
Dalam novel tersebut, nama kota Pasuruan ia ganti dengan Labuwangi. Tokoh-tokoh ceritanya pun terinspirasi orang-orang dekat si penulis: Nyonya Eldersma yang bergiat di bidang seni-budaya ternyata adalah adik Couperus sendiri, keluarga De Luce sebenarnya adalah keluarga Desentjé, seorang perwira Prancis yang menikahi putri kraton Surakarta.
Oleh raja Surakarta Tuan Desentjé ini “dihadiahi” tanah luas di daerah Boyolali dan menjadi kaya raya karena memiliki pabrik gula di Jawa Tengah. Salah satu keturunannya, Ernest Desentjé, kelak menjadi pelukis terkenal yang hidup hingga masa Presiden Sukarno.
Selain Mener Couperus, ada Thérèsa Hoven. Boleh jadi dia ini adalah perempuan penulis paling sukses pada akhir abad XIX. Ia menulis dengan nama samaran “Adinda”. Karya-karyanya banyak mengangkat kisah kaum perempuan dan golongan Indo-Belanda di negeri jajahan, di antaranya novel “Kesengsaraan Perempuan di Negeri Tropis” dan “Pekerja yang Mulia”.
Di situ ia menggambarkan kehidupan kaum perempuan Belanda dan Indo-Belanda yang terjebak dalam situasi buruk dan harus menjalani kehidupan yang lebih berat ketimbang di negeri Belanda. Sedangkan kaum perempuan pribumi cenderung ia gambarkan sebagai makhluk yang sangat kuat meski rata-rata menikah di usia muda.
Selain itu juga ada karya-karya Bas Veth, seorang penulis yang piawai melukis dan pernah menjadi wartawan, di antaranya selama 12 tahun di Surabaya dan beberapa tahun di Padang serta Makassar. Karya-karyanya mengandung kritik pedas terhadap kehidupan sosial orang Eropa di Hindia Belanda.
Salah satu novelnya yang terkenal adalah “Kehidupan di Netherland Indiё”, sebuah prosa semi reportase tentang kehidupan orang-orang Belanda di negeri jajahan yang ia anggap telah mengalami degradasi atau pembusukan moral dan karakter. Baginya, masyarakat kolonial adalah semacam neraka moral.
Tentu, selain itu terdapat karya-karya yang berkisah tentang hubungan ”intim” di ranah yang sangat personal dan biasanya memang bertolak dari pengalaman hidup sang penulis sendiri. Sebagian di antaranya berisi gambaran liar hasrat libidinal yang ”melabrak” dan bahkan bertentangan dengan moralitas umum.
Kawan yang baik,
Dalam hal hubungan ”intim” lelaki Belanda dengan kaum perempuan pribumi, sebagian kritikus membandingkannya dengan hubungan antara perempuan Afro-Amerika dengan lelaki kulit putih yang membawa pengaruh mendalam pada pihak kulit putih. Mula-mula, hubungan itu terepresentasikan pada sosok “nyai” sebagai tema yang banyak muncul dalam karya sastra kolonial abad XIX. Kemudian sosok “babu”, yakni perempuan pembantu yang mengasuh anak-anak Belanda, terutama anak-anak Indo. Seringkali sang anak lebih intim dengan sang “babu” ketimbang dengan ibunya sendiri.
Mereka bahkan menganggap pengasuhnya itu sebagai ibu kedua. Para “babu” biasa menggendong anak-anak majikannya sembari meninabobokan dengan menceritakan dongeng-dongeng tradisional, termasuk kisah-kisah tentang makhluk halus dan dunia gaib.
Kehadiran sang “babu” dan dongeng-dongeng tersebut merasuk dalam memori hingga anak-anak itu menjadi dewasa. Penyair dan sejarawan Gertrudes Johannes Resink (GJ Resink) misalnya, pernah menulis puisi tentang pengasuhnya yang ia gambarkan sebagai cinta pertamanya
E. Breton De Nijs – nama samaran Rob Nieuwenhuys, penulis esai sekaligus pengggubah novel “Bayangan Memudar” yang lahir di Semarang dari ayah Belanda totok dan ibu Jawa – seumur hidupnya tak dapat melupakan harum daun sirih, gambir dan pinang, pun aroma tubuh dan pakaian perempuan pribumi pengasuhnya. Memori itu menjadi bagian penting pada fase pertumbuhan pra-erotik di masa kanak-kanak mereka.
Sebagaimana kita ketahui bahwa tema “nyai” dan “babu” itu muncul bersamaan dengan tema kawin campur atau tema hubungan cinta antara lelaki Belanda (yang totok maupun Indo) dengan perempuan pribumi, atau hubungan antara perempuan Indo-Belanda dengan lelaki pribumi.
Salah satu prosa yang sangat terkenal tentang tema ini adalah novel “Busa Emas” karya J. Treffers yang berkisah tentang hubungan seksual seorang perempuan Indo bernama Ria van Henegouwen dengan lelaki pribumi tukang kebunnya yang bertubuh liat kehitaman.
Novel ini memicu kontroversi karena terdapat penggambaran adegan seks yang sangat rinci dan blak-blakan, liar dan bahkan “vulgar”. Pemerintah kolonial akhirnya melarang novel tersebut sementara sang penulis dipecat dari pekerjaannya sebagai guru lalu dijebloskan ke penjara.
Begitulah sekilas cerita tentang prosa zaman dulu, kawan. Lain kali kita perlu tengok lagi jejak-jejak mereka untuk mengingat kisah-kisah yang cukup menarik di masa silam itu.
Salam dari Surabaya. [T]
Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole







![Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin2-1-360x180.jpg)
![Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin-360x180.jpeg)


















