“Simbuhh”, kata kakekku, seorang balin, kepada Bapak siang itu. Simbuh artinya disembur. Dan, badanku yang panas tinggi serta nyeri perut disembur ramuan dari kemiri dan minyak kelapa di dahi dan perut area pusar. Terasa dingin sesaat lalu hangat meresap dengan bau khas dari kemirinya.
Tubuhku terbujur sekitar tiga hari dengan makan minum dibantu Ibu. Di usia 6 tahun, aku tak tahu harus apa selain manut dengan nasehat kakek dan coba makan bubur buatan Ibu sebisa mungkin, karena badanku amat lemas.
Dinding tempat tidur dari daun kelapa yang sudah mengering yang biasanya terasa hangat lebih kurasa dingin dari biasanya. Lantai dari tanah di rumahku itu biasanya sangat mudah kulewati dengan berlari, namun saat itu aku tak bisa berjalan, terasa lantai itu mudah membuatku jatuh. Belakangan aku dikatakan mengalami tifoid. Saat itu, aku beruntung bisa selamat karena kata Bapak, dulu, pamanku yang mengalami hal yang sama dan meninggal di hari ketiga, setelah diare terus menerus dan keluar darah.
Kenangan itu aku ingat kembali ketika, saat menjadi dokter di rumah sakit, klinik, dan praktek mandiri, aku menemukan kasus tifoid. Saat kecil aku yang mengalami tifoid dirawat di rumah saja. Sementara pasien tifoid sekarang dirawat di rumah sakit atau dokter keluarga. Saat ini mereka beruntung cek darah, lalu keluar hasil dalam waktu kurang dari 6 jam. Setelah itu, akan mendapatkan pengobatan sesuai dengan pemeriksaan dokter. Rata-rata 3-7 hari klien sudah membaik.
Tentu saja bau semburan kemiri campur minyak kelapa di perut mereka tidak aku cium saat ini seperti saat aku kecil. Sampai saat ini, syukurnya, aku belum menemukan secara langsung ada warga meninggal karena penyakit ini lagi.
Aku tahu penyakit ini begitu mudah menular bila kebersihan tangan dan makanan kita terpapar bakteri Salmonella typhi, sehingga sangat penting mencegah sehingga tidak tertular. Yang membedakan tentu dulu berkat balian, aku bisa sembuh dengan berbagai macam pengobatan seperti metutuh, boreh, hingga disembur ramuan herbal. Saat ini dengan semakin majunya standar kesehatan dan tenaga medis sehingga bisa dibantu oleh dokter langsung, pemeriksaan laboratorium, hingga perawatan melalui obat modern maupun antibiotik khusus. Mungkinkah dokter dan balian sama atau berbeda?
Menurutku baik dokter dan balian memiliki niat yang sama yaitu untuk keselamatan dan kesehatan dari klien. Dokter dengan riset dan pengalaman belajar kemudian memberikan pengobatan baik yang dalam bentuk suntikan, tablet, salep, maupun bentuk lain seperti nasihat makanan dan minuman yang pas. Sedangkan balian melalui ilmu usada atau pengalaman belajar melalui aguron-guron sehingga memberikan obat dalam bentuk air suci, minyak, boreh, atau anjuran tertentu seperti menghaturkan banten maupun sesaji sesuai pemahaman dari balian. Ada juga yang pernah aku lihat waktu kecil diberikan dalam bentuk rerajahan, yang diukir dalam buah kelapa muda, maupun kain-kain tertentu untuk melindungi atau untuk membantu kesembuhan dari klien. Menarik bukan?
Pernah aku mendapatkan klien dewasa yang mengalami demam tinggi disertai kesurupan. Malam-malam kami dijemput oleh suaminya, digandeng sepeda motor dan cuaca hujan gerimis serta gelapnya pedesaaan membuat bulu kuduk merinding. Aku cek kondisinya dan aku berikan perawatan secara medis, terus terang saja bulu kudukku memang sudah merinding jauh sebelum tiba di rumahnya. Saat sampai di rumah klien pun kaki terasa berat, apalagi ada sesajen juga di depan rumah.
Kami suntik dan berikan obat sesuai pemeriksaan, aku sarankan juga konsultasi ke ahli supranatural seperti balian, mangku, maupun yang lainnya. Belakangan datang ke tempat praktek lagi dengan nyeri kepala, namun tidak dalam kondisi kesurupan. Kali ini kami bantu dengan ilmu massage dan akupresur. Fiuhh, kali ini syukur bulu kudukku tidak merinding. Terima kasih kolaborasinya balian, dan lain-lain. Dokter dan balian sama tapi berbeda, mari kolaborasi dan saling melengkapi. Semoga sehat fisik, psikis, sosial, dan spiritual. Salam rahayu. [T]
Penulis: dr. Putu Sukedana
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis dr. PUTU SUKEDANA


























