24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Made Chandra by Made Chandra
July 15, 2025
in Esai
Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Performance by Nyoman Erawan, 30th Anniversary of SDI, Art Center Denpasar, 2000 | Foto: Documentation of Sika Gallery

PERTANYAAN menyoal posisi Bali dalam percaturan Seni Rupa Indonesia selalu menjadi topik yang tak kunjung bosan untuk dibicarakan. Ia yang menjadi anomali, tumbuh dengan pergulatan sosial dan wacana yang berdiri paralel seakan tak linear dengan apa yang selalu dinarasikan tentang Seni Rupa Indonesia.

Melihat Skena under 2000-an

Tahun 30-an manifesto jiwo ketok S. Sudjojono mulai diluncurkan—merangsek untuk mengambil alih kemudi untuk menentukan arah seni rupa Indonesia selanjutnya. Bersamaan dengan itu, di pulau seberang, organisasi yang membawa misi besar dengan bernahkodakan dua orang pelukis asing, Walter Spies dan Rudolf Bonnet berdiri dengan julukan Pita Maha.

Sebuah organisasi atas patronisasi Kolonial dan Kerajaan mencoba membawa angin baru bagi prilaku artistik para pelukis Bali pada era itu, struktur anatomis dan pencahayaan ala Barat mulai menghinggapi sebagian besar pelukis-pelukis tradisi, terutama yang berdiam di Ubud dan sekitarnya.

Rudolf Bonnet | Foto: Documentation of Troopen Museum at www.sejarahbali.com.

Lompat ke tahun 70-an, muncul beberapa seniman muda berbekal pendidikan akademis yang mendirikan salah satu kelompok besar bernama Sanggar Dewata Indonesia, yang  sejak kemunculannya memberikan pengaruh yang cukup dominan pada cara pandang dalam melihat seniman dan arah Seni Rupa Bali era itu.

Kelompok yang digawangi oleh 3 pembesarnya yakni I Wayan Sika, Made Wianta, dan I Nyoman Gunarsa mencoba menawarkan sebuah gagasan baru tentang seni lukis modern yang bernafaskan tradisi Bali.

Ketiga seniman ini merintis ruang penting bagi para mahasiswa seni asal Bali, khususnya mereka yang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Melalui upaya mereka, terjadi alih pengetahuan seni modern Barat yang melibatkan dua kecenderungan utama: kecenderungan ‘formalis’ kuasi-abstrak yang dibubuhi simbol-simbol budaya, dan pendekatan yang lebih ‘dekoratif-naif’—yang keduanya sering kali saling bertautan dalam praktiknya.

Pengaruh SDI melahirkan varian seni rupa modernis yang khas Bali, yang berkembang dengan irama dan lintasannya sendiri. Dengan berpindah ke Jawa, banyak seniman muda Bali—kebanyakan berasal dari latar budaya agraris dan lokal—mengalami keterputusan budaya yang mendalam.

Bali, yang sebelumnya dipandang sebagai pusar bhuwana (pusat dunia), kini terasa seperti hanya serpihan kecil di peta Indonesia, bahkan hanya titik pada panggung global. Identitas kebalian mereka pun bergeser dari pengalaman yang naluriah dan menyatu, menjadi sikap yang lebih reflektif—yang didefinisikan dalam relasi, dan kerap dalam kontras, dengan kelompok etnis lain.

Pengaruh SDI tidak hanya pada kehadirannya di pulau Jawa, para punggawanya yang memilih untuk tinggal di Bali, menjadi semacam hegemoni yang menjamuri segala praktik artsitik berkulit modernis Barat.

Masuknya wacana post-modern ke Bali pun seakan larut dengan senyap, hingga lompatannya dalam praktik era kontemporer pada tahun 90-an, dengan diawali oleh munculnya galeri seni kontemporer pertama di Bali, yakni Sika Contemporary Art Gallery yang tentu dimiliki oleh I Wayan Sika yang sadar bahwa gelombang wacana kontemporer telah merambah ke segala lini perbincangan di antara pegiat seni.

Sejak saat itu muncul berbagai artis inisiatif ditambah dengan mahasiswa lulusan STSI Denpasar yang membentuk kelompok-kelompok kecil yang berenang dengan kaki kecil di tengah lautan pergulatan medan seni rupa.

Galang Kangin mungkin salah satunya yang menjadi wadah teman-teman muda di era tumbuhnya ruang-ruang baru saat itu, serta munculnya kelompok bernama Seniwati yang beranggotakan para seniman wanita yang semakin menambah riak dalam pertumbuhan ekosistem seni rupa di Bali.

Artists of Seniwati Gallery, circa 1990s | Foto: Documentation of Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

Skena Upper 2000-an

Sampai pada awal tahun 2000-an, pengaruh SDI dan meledaknnya boom seni rupa menjadi awal dari kemapanan sekaligus kemandekan bagi pergulatan wacana seni di Bali.

Ditengarai berbagai hal tersebutlah pada Februari tahun 2001 muncul sebuah gerakan “Mendobrak Hegemoni”, sebuah embrio yang melatari terbentuknya Klinik Seni Taxu yang hadir untuk mengisi kekosongan dalam pewacanaan Bali sebagai ekosistem seni rupa, dengan anggota yang terdiri dari berbagai disiplin, terutama didominasi oleh para mahasiswa seni rupa ISI Denpasar. Di antaranya adalah Seriyoga Parta, Mahendra yasa, Wayan Suja, Ngakan Ardana, Made Bayak, Dodit artawan, Ngurah Suryawan, Wayan Arsana, Moniarta dan beberapa eksponen lainnya pada waktu itu.

Kehadiran Taxu menjadi antitesis di antara gemerlapnya pasar dan hegemoni kuasi abstrak yang menjamur di sebagian seniman senior. Para angkatan muda ini didominasi oleh para seniman dan penulis, yang sebagian besar dihinggapi oleh ideologi realisme sosialis, mereka dalam tanda kutip menolak kuasi abstrak yang menggambarkan identitas Ke-Bali-an melalui simbol-simbol yang terkesan latah.

Taxu memilih jalan lain, yakni perubahan radikal dan mencari peta-peta pemikiran baru tentang kesenian dan kebudayaan Bali, terutama seni rupa itu sendiri.

Exhibition of Klinik Seni Taxu, ‘Cooking History’, 2004, at Cemeti Art House | Foto: Documentation of Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

Bagi mereka, untuk menjadi Bali tidaklah harus dengan latah memunculkan simbol-simbol yang lumrah dan berakhir pada eksotisme belaka. Hal yang terpenting bagi mereka adalah proses berbalik dan melihat berbagai permasalahan nyata yang hadir di Bali, baik peristiwa sosial hingga politik industri.

Selain berkarya, Taxu juga menyebar pemikirannya melalui sebuah buletin seni rupa yang dinamai KITSCH, yang mewadahi pemikiran alternatif di antara para anggota Kelompok Klinik Seni Taxu.

Di tengah-tengah itu juga hadir komunitas street art yang mulai lahir dari pergesekan tersebut, yaitu The Pojoks, sebuah komunitas yang berbasis di Denpasar dan telah melakukan banyak sekali pergerakan, salah satunya adalah Bali Yang Binal, sebuah acara street art movement yang berfokus untuk menjadi tandingan dan mengkritisi Bali Biennale (2005) yang dipandang terkesan elitis dan mapan.

Acara itu menjadi penting karena kehadirannya telah mencapai edisinya yang ke-9, berbanding terbalik dengan acara yang dikritisi yaitu Bali Biennale, yang hanya berlangsung pada gelaran pertamanya saja.

Berselang beberapa tahun eksistensi Taxu sebagai sebuah kelompok dan produser manifesto mulai kehilangan arah, hingga berujung pada kembali senyapnya ombak wacana di wilayah seni rupa. Gaungan tersebut mulai kembali terdengar pada tahun 2013, era yang cukup penting bagi ekosistem seni rupa Bali ke depannya.

Dipicu pasar seni rupa yang mulai surut, banyak seniman yang dahulu berjaya kini merintih dalam langkahnya yang terseok-seok. Di tengah kevakuman tersebutlah, menjelang akhir tahun 2013, diadakan satu inisiasi untuk mengupayakan satu pergerakan dalam mengatasi surutnya dunia seni rupa, inisasi tersebut bernama Bali Act (Art in Culture Tradition), sebuah even di mana kurang lebih 100 artspace mengadakan exhibition showcase, baik museum, gallery, establish studio, bahkan beberapa di antaranya diisi oleh ruang-ruang alternatif yang menjadi artist initiative.

Tak menjelang lama dari gelaran event tersebut, para punggawa yang berkutat pula dalam menggelar Bali Act, lalu membentuk satu komunitas yang kini sangat melekat di telinga kita hari ini, yaitu Gurat Institute. Sebuah komunitas yang sangat berperan penting dalam pembaharuan dalam memberikan angin segar bagi dunia seni rupa Bali, baik dari segi pewacanaan, peremajaan, dan penelitian berbasis riset yang komprehensif.

Komunitas ini dirikan oleh Seriyoga Parta, Susanta Dwitanaya, Dewa Purwita, dan Wayan Nuriarta. Ke empat founder tersebut hingga kini masih terus aktif dan mendorong dalam terbentuknya sebuah komunitas berbasis kolektif, hingga munculnya generasi baru yang kini ikut bergerak dalam kapal yang sama.

Di tahun yang sama secara paralel muncul pula sebuah kelompok yang diinisiasi oleh beberapa seniman yang berfokus pada penggalian kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni lukis Bali, kelompok tersebut bernama Neo-Pitamaha. Seniman yang terlibat dalam kelompok ini adalah Mahendra Yasa, Kemalezedine, Moniarta, dan Tang Adimawan.

Dengan mengusung nama Neo-Pitamaha, gagasan awal terbentuknya kelompok yang bermuara menjadi gerakan ini adalah bayangan akan bagaimana seni lukis Bali jika dilihat tidak melalui alur yang bersinggungan dengan Pita Maha, yang digagas oleh Rudolf Bonnet dan Walter spies.

Mereka berbalik dan mulai melihat seni rupa tradisional Bali, yang memiliki berbagai kemungkinan dalam menghadirkan kredo estetik drawing sebagai upaya mereka dalam memunculkan paradigma baru dalam melihat seni rupa tradisi. Usaha mereka dalam mengagas pemikiran tersebut, membawa mereka ke berbagai ruang presentasi, bahkan hingga di luar Bali sekalipun.

Exhibition of Neo-Pitamaha, Platform 3, Bandung, 2015. Left to right: Tang Adimawan, Agung Hujatinika, Rizki Zaelani, Mahendra Yasa, Kemal Ezedine, Asmudjo Jono Irianto, Rifky Effendy, Ketut Moniarta

Pandemi dan Inkubasi Kreativitas

Tumbuhnya ruang dan pemikiran-pemikiran baru terkait seni rupa Bali, mengawali sebuah perjumpaan dengan titik balik perkembangan Bali sebagai sebuah ekosistem yang mandiri, hingga hal tersebut berlanjut pada tahun-tahun berikutnya sampai kemudian pandemi Covid-19 meguncang dunia, tak terkecuali Bali sebagai melting pot para wisatawan asing.

Art Bali yang digagas sebagai perpanjangan Artjog kandas pada perhelatan keduanya setelah dihempas oleh badai pandemi pada akhir 2019.

Pandemi ini menjadi pukulan telak bagi segala industri terutama industri kreatif. Banyak mahasiswa asal Bali yang akhirnya pulang akibat kebimbangan situasi dunia, pandemi layaknya ruang inkubasi yang memaksa kita untuk tiarap.

Namun di tengah situasi tersebut, ternyata muncul semangat baru akan reflektivitas berkesenian dengan munculnya sebuah ruang insiatif kolektif bernama Suksma Bali yang digagas oleh Ketut Nugi, sebuah geliat yang tumbuh akibat kurangnya saluran yang hadir pada masa pandemi.

Semangat baru itu menghadirkan berbagai acara di sepanjang era pandemi seperti Graffiti kepupungan, Megibung, hingga (Se)Pekan Grafis Bali yang hadir oleh inisiasi con-temporary Gallery, sebuah ruang temporer inklusif yang memunculkan dan memamerkan berbagai praktik seni dari berbagai lintas disiplin baik skena street art, grafis hingga Komunitas prasi.

Kolektif temporer ini mencoba membawa percakapan seni sebagai buah perlawanan dari pandemi yang telah mengurung aktivitas dunia hari itu dan menjadi salah satu titik balik ruang baur antarberbagai lapisan elemen generasi muda, baik yang berdiam di Bali mapun luar Bali.

Suksma Bali  on Temporary Gallery, Discovery Mall, Kuta 2022 \ Foto: Documentation of Suksma Bali.

Hingga sampai pada post-pandemic yang menjadi masa di mana generasi baru mulai muncul dengan semangat dan gagasan baru. Luapan kreativitas bermuara pada terbitnya para seniman, penulis, serta kurator muda baru yang mengisi relung-relung dan celah pada ekosistem seni rupa Bali selanjutnya.

Inisiatif seperti Bali Emerging Artist oleh Sika Gallery serta residensi penulisan dan kuratorial pada Acara DenPasar oleh Cush-cush Gallery memberi ruang tumbuh bagi para stakeholder baru yang akan mengisi kekosongan peran pada pewacanaan seni rupa Bali beberapa tahun ke belakang.

Kini, kesadaran berkesenian para perupa muda mulai memunculkan arus perkembangan pada melihat kembali praktik tradisi sebagai media olah tanpa batas di tengah era kontemporer global estetik hari ini.

Hal itu dipertebal dengan kehadiran Lano Art Project dengan wacananya Post-Tradisi yang mencoba melihat kembali singgungan antara modernitas yang masih membawa nilai-nilai tradisi di dalamnya. Kecenderungan ini menjadi perluasan dalam melihat arah praktik seni rupa yang berkembang di Bali ke depannya.

Pada akhirnya, melihat berbagai lapisan yang terjadi dalam pergulatan skena seni rupa Bali seakan menampik anggapan bahwa Bali tak punya arah yang jelas dalam pembacaan seni rupa Indonesia.

Menyadari hal tersebut mungkin kita tak perlu selalu menitik-beratkan pembacaan linear pada berbagai kecenderungan Seni Rupa Indonesia hari ini. Kompleksitas yang dihadirkan Bali sebagai sebuah ekosistem seni rupa, menjadi bukti bahwa semua tempat dapat menjadi pusat pada kelokalannya msing-masing. Mungkin tak seperti linearitas yang membentang seperti garis lurus, namun boleh jadi bejajar paralel dan memperkaya keluwesan seni rupa Indonesia kita hari ini.

Panjang umur seni rupa![T]

NB: Tulisan ini bersumber pada riset dan penulisan “Legacies in Flux: Timeline In progress”  yang dikompilasi oleh Farah Wardani dan Made Chandra. Pada perhelatan event seni rupa Ubud Art Ground yang masih berlangsung dari tanggal 12 Juni hingga 10 Agustus 2025.

Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik
Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Post Tradisi : Upaya untuk Meletakkan Bali dalam Pembacaan Seni Rupa Indonesia
Tags: Gurat InstituteRudolf BonnetSeni Rupaseni rupa Baliseni rupa IndonesiaWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Isaura Henin Serafina: Terbang Tinggi ke Jepang dengan Semangat Rajawali-Elang 

Next Post

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co