3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyimak “Senglad” di Malam yang Terlewat — Catatan Lepas atas Undangan I Wayan Diana Putra

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
July 9, 2025
in Ulas Pentas
Menyimak “Senglad” di Malam yang Terlewat — Catatan Lepas atas Undangan I Wayan Diana Putra

Performance "Senglad" dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, 29 November 2024 | Foto: Ist

AWAL November tahun 2024, I Wayan Diana Putra – penggerak segmen Macandetan Janahita Mandala Ubud yang juga Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Bali,mengabarkan bahwa dirinya terlibat bersama Bhumi Bajra pada sebuah performance dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, pada 29 November 2024. Mendengar kabar tersebut tentu saya menyambut baik dan bergembira sekaligus merespon cepat dengan kalimat“semangat na, tyang usahakan hadir!”.

Jelang penghujung November 2024, sesungguhnya kegiatan Janahita Mandala Ubud cukup padat dengan kosentrasi lebih meninggi, mengingat puncak Acara Ubud Campuhan Budaya 2024 akan berlangsung tanggal 13-14 Desember 2024. Namun di tengah beragam kesibukan dan padatnya agenda ke depan, saya yakin Diana Putra adalah pribadi yang teguh dalam mengatur waktu serta komitmennya.

Selama ini tampaknya ia selalu konsisten dalam menjalankan perannya sebagai pendidik di kampus, menyempatkan diri terlibat dalam pembinaan pemuda di desanya, selalu gigih menggerakkan segmen berkala Macandetan, menjalankan fungsinya sebagai editor buku Macandetan, aktif merancang program Festival Ubud Campuhan Budaya, dan tentunya ke depan disibukkan dengan latihan jelang pementasannya bersama Bhumi Bajra yang berjudul Sanglad.

Akhirnya malam hari, 29 November 2024 – tanggal yang sungguh penting bagi saya manakala di hari tersebut merupakan tepat tuntasnya lima tahun masa bhakti sebagai Pengurus Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud, saya lantas menepati janji datang ke lokasi pementasan. Seingat saya setibanya di tempat acara, saya diarahkan menuju sebuah bangunan dan naik menuju lantai atas – tempat Sanglad dipentaskan.

Performance “Senglad” dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, 29 November 2024 | Foto: Ist

Beberapa orang memilih duduk di lantai bawah menyatu dengan para penampil dan sisanya menempati beberapa kursi di belakang yang telah disiapkan panitia. Saya berada tak jauh dari istri Diana yang menonton dengan beberapa kerabat dan keluarganya.

Saatnya tiba, pemandu acara memberi sinyal bahwa pementasan akan segera dimulai. Nyala lampu pun mulai meredup dan berubah dari semula. Sesekali suasana ruang pentas dibuat membiru. Dua wanita muda berpakaian Bali yang anggun mengolah tubuh dikelilingi seorang anak perempuan yang tampak lincah mengelilingi sembari mengucap “manggali”.

Pegiat sastra – Ari Dwijayanthi terlihat mengumandangkan beberapa sajak yang menambah kesan tersendiri dari pertunjukan tersebut. Di antara para penampil dan property yang tampak di hadap penonton, suara vokal Diana Putra dan Dayu Nyoman Diana Pani tak pernah putus bersautan saling mengisi memberi penajaman yang material dari keseluruhan karya tersebut.

Pementasan tersebut menuai riuh tepuk tangan para penikmat yang kagum dengan kolaborasi lintas generasi. Terselip tidak saja estetika sastra dalam balutan seni pertunjukan, namun juga tampak ekspresi solidaritas penuh simpati dan rasa hormat para penggagas serta penampil yang memiliki kedekatan emosional dengan mediang Cok Sawitri.

Performance “Senglad” dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, 29 November 2024 | Foto: Ist

Berjumpa sesuai acara, Diana Putra menyampaikan bahwa Senglad adalah sebuah karya seni pertunjukan berbasis dari karawitan vokal khususnya tembang sinom. Tembang sinom diolah sesuai imaji Cok Sawitri dalam menafsir cengkok dari melodi tembang berpijak pada sistem guru lagu dan guru ding dong. Hasil penyajian ulang tembang sinom oleh Cok Sawitri kemudian disebut Sinom Senglad. Menurutnya, dinamai Sinom Senglad karena cengkok dan tata penyajian cengkoknya tidak biasa seperti konvensionalnya. Ketidakbiasaannya itulah yang kemudian dicitrakan sebagai Senglad yang bermakna unkonvensional.

Dari sinom yang tidak biasa kemudian memantik Diana Putra mewujudkannya dalam sebuah karya karawitan baru. Lebih lanjut dinyatakan oleh Diana Putra, bahwa tafsir dari Sinom Senglad hasil gubahan Cok Sawitri diambil pola tembangnya lalu ditata ujung frasa melodi lagunya. Penataan ujung frasa melodi diolah dengan memanjangkan ujung kalimat dengan teknik menaikkan register nada hingga batas ambang tinggi dan memberikan nafas pada frasa-frasa melodi.

Selain itu dalam karya ini pola ritmis kendang ditembangkan dengan teknik palawakya. Dengan gaya penembang palawakya, artikulasi pendek audial kendang dapat diperpanjang dengan teknis menyerupai legato. Audial dengan teknis menyerupai legato kemudian diolah dalam bentuk kilitan reyong. Kilitan reyong lantas ditata dengan memberikan reng yang lebih panjang. Panjangnya reng reyong melaui olahan jalinan menyebabkan terjadi audial berbenturan antar gema. Benturan gema dengan berbeda nada menghasilkan getaran harmoni dalam dimensi yang lebih tipis.

Karya Senglad pada saat itu juga didandani koreografi apik oleh Dayu Prihandari yang dibantu oleh Ni Komang Wahyuni. Koreografi sentuhan Dayu Prihandari yang dibantu oleh Ni Komang Wahyuni melengkapi formulasi musikal yang digarap oleh Diana. Antara audial dan koreografi terlihat “kawin”, hal ini rasanya menandakan bahwa terdapat persamaan kredo penciptaan antara Diana dan Dayu Prihandari. Persamaan kredo penciptaan ini adalah hal yang tidak dapat diwujudkan dalam jangka pendek, namun lahir dari proses kreatif panjang yang dilalui oleh kedua kreator tersebut.

Performance “Senglad” dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, 29 November 2024 | Foto: Ist

Sepanjang pengetahuan saya Diana Putra dan Dayu Prihandari sering terlibat penciptaan karya seni untuk komunitas Bhumi Bajra dan juga Janahita Mandala Ubud. Terkhusus untuk komunitas Bumi Bajra yang menjadi ruang tumbuh Dayu Prihandari, belakangan Diana Putra juga aktif turut memberikan stimulus persamaan prinsip dalam berkarya. Persamaan prinsip ini kemudia mereka sepakati sebagai terjemahan dari konsep “ngigelin gending, ngendingin igel”.

Sebagai salah satu yang menonton malam itu, saya tentu menaruh rasa hormat dan turut bangga pada seluruh penampil khususnya Bhumi Bajra yang tak pernah kering dalam berkarya serta tak pernah lelah mengkader para pelanjut seni dan sastra. Tak lupa pula apresiasi dan rasa bangga saya kepada Diana Putra yang menunjukkan konsistensinya sebagai pribadi yang selalu terbuka dalam berkolaborasi dengan semua pihak.

Kelana imajinasi dan kreativitas berkeseniannya selalu mekar walau ditengah padatnya rutinitas administrative dan akademiknya. Semoga akan terlahir karya-karya lanjutan dari Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Bali ini yang juga salah satu keturunan Kaki Iwer – seorang dalang legendaris asal Padantegal Ubud yang dijamannya konsisten mengiringi kelompok mabebasan yang dikomandoi Rakawi Ubud – Ida Tjokorde Gde Ngoerah.

“Aksamang kirang langkung pet makeh iwang panyuratan, Duwenang Sareng” [T]

Penulis: Cokorda Gde Bayu Putra
Editor: Adnyana Ole

“Tamasya Tak Biasa”, Mengenang Kepergian Cok Sawitri dengan Pentas Seni Tak Biasa
Baleganjur Kehilangan Hak Audialnya — Catatan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali 2025
Perjalanan Dari Jantung Ubud Menuju Setra Dalem Puri Pada Puncak Pelebon Puri Agung Ubud
Tags: Cok SawitriGianyarkesenian balisastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karya Maestro I Wayan Begeg Dimainkan Sekaa Gong Taruna Mekar Tunjuk-Tabanan di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Laki-Laki dan Air Mata

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Laki-Laki dan Air Mata

Laki-Laki dan Air Mata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co