AWAL November tahun 2024, I Wayan Diana Putra – penggerak segmen Macandetan Janahita Mandala Ubud yang juga Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Bali,mengabarkan bahwa dirinya terlibat bersama Bhumi Bajra pada sebuah performance dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, pada 29 November 2024. Mendengar kabar tersebut tentu saya menyambut baik dan bergembira sekaligus merespon cepat dengan kalimat“semangat na, tyang usahakan hadir!”.
Jelang penghujung November 2024, sesungguhnya kegiatan Janahita Mandala Ubud cukup padat dengan kosentrasi lebih meninggi, mengingat puncak Acara Ubud Campuhan Budaya 2024 akan berlangsung tanggal 13-14 Desember 2024. Namun di tengah beragam kesibukan dan padatnya agenda ke depan, saya yakin Diana Putra adalah pribadi yang teguh dalam mengatur waktu serta komitmennya.
Selama ini tampaknya ia selalu konsisten dalam menjalankan perannya sebagai pendidik di kampus, menyempatkan diri terlibat dalam pembinaan pemuda di desanya, selalu gigih menggerakkan segmen berkala Macandetan, menjalankan fungsinya sebagai editor buku Macandetan, aktif merancang program Festival Ubud Campuhan Budaya, dan tentunya ke depan disibukkan dengan latihan jelang pementasannya bersama Bhumi Bajra yang berjudul Sanglad.
Akhirnya malam hari, 29 November 2024 – tanggal yang sungguh penting bagi saya manakala di hari tersebut merupakan tepat tuntasnya lima tahun masa bhakti sebagai Pengurus Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud, saya lantas menepati janji datang ke lokasi pementasan. Seingat saya setibanya di tempat acara, saya diarahkan menuju sebuah bangunan dan naik menuju lantai atas – tempat Sanglad dipentaskan.

Performance “Senglad” dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, 29 November 2024 | Foto: Ist
Beberapa orang memilih duduk di lantai bawah menyatu dengan para penampil dan sisanya menempati beberapa kursi di belakang yang telah disiapkan panitia. Saya berada tak jauh dari istri Diana yang menonton dengan beberapa kerabat dan keluarganya.
Saatnya tiba, pemandu acara memberi sinyal bahwa pementasan akan segera dimulai. Nyala lampu pun mulai meredup dan berubah dari semula. Sesekali suasana ruang pentas dibuat membiru. Dua wanita muda berpakaian Bali yang anggun mengolah tubuh dikelilingi seorang anak perempuan yang tampak lincah mengelilingi sembari mengucap “manggali”.
Pegiat sastra – Ari Dwijayanthi terlihat mengumandangkan beberapa sajak yang menambah kesan tersendiri dari pertunjukan tersebut. Di antara para penampil dan property yang tampak di hadap penonton, suara vokal Diana Putra dan Dayu Nyoman Diana Pani tak pernah putus bersautan saling mengisi memberi penajaman yang material dari keseluruhan karya tersebut.
Pementasan tersebut menuai riuh tepuk tangan para penikmat yang kagum dengan kolaborasi lintas generasi. Terselip tidak saja estetika sastra dalam balutan seni pertunjukan, namun juga tampak ekspresi solidaritas penuh simpati dan rasa hormat para penggagas serta penampil yang memiliki kedekatan emosional dengan mediang Cok Sawitri.

Performance “Senglad” dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, 29 November 2024 | Foto: Ist
Berjumpa sesuai acara, Diana Putra menyampaikan bahwa Senglad adalah sebuah karya seni pertunjukan berbasis dari karawitan vokal khususnya tembang sinom. Tembang sinom diolah sesuai imaji Cok Sawitri dalam menafsir cengkok dari melodi tembang berpijak pada sistem guru lagu dan guru ding dong. Hasil penyajian ulang tembang sinom oleh Cok Sawitri kemudian disebut Sinom Senglad. Menurutnya, dinamai Sinom Senglad karena cengkok dan tata penyajian cengkoknya tidak biasa seperti konvensionalnya. Ketidakbiasaannya itulah yang kemudian dicitrakan sebagai Senglad yang bermakna unkonvensional.
Dari sinom yang tidak biasa kemudian memantik Diana Putra mewujudkannya dalam sebuah karya karawitan baru. Lebih lanjut dinyatakan oleh Diana Putra, bahwa tafsir dari Sinom Senglad hasil gubahan Cok Sawitri diambil pola tembangnya lalu ditata ujung frasa melodi lagunya. Penataan ujung frasa melodi diolah dengan memanjangkan ujung kalimat dengan teknik menaikkan register nada hingga batas ambang tinggi dan memberikan nafas pada frasa-frasa melodi.
Selain itu dalam karya ini pola ritmis kendang ditembangkan dengan teknik palawakya. Dengan gaya penembang palawakya, artikulasi pendek audial kendang dapat diperpanjang dengan teknis menyerupai legato. Audial dengan teknis menyerupai legato kemudian diolah dalam bentuk kilitan reyong. Kilitan reyong lantas ditata dengan memberikan reng yang lebih panjang. Panjangnya reng reyong melaui olahan jalinan menyebabkan terjadi audial berbenturan antar gema. Benturan gema dengan berbeda nada menghasilkan getaran harmoni dalam dimensi yang lebih tipis.
Karya Senglad pada saat itu juga didandani koreografi apik oleh Dayu Prihandari yang dibantu oleh Ni Komang Wahyuni. Koreografi sentuhan Dayu Prihandari yang dibantu oleh Ni Komang Wahyuni melengkapi formulasi musikal yang digarap oleh Diana. Antara audial dan koreografi terlihat “kawin”, hal ini rasanya menandakan bahwa terdapat persamaan kredo penciptaan antara Diana dan Dayu Prihandari. Persamaan kredo penciptaan ini adalah hal yang tidak dapat diwujudkan dalam jangka pendek, namun lahir dari proses kreatif panjang yang dilalui oleh kedua kreator tersebut.

Performance “Senglad” dalam rangka mengenang Sastrawan Cok Sawitri di acara Bali Performing Arts Meeting di Masa-Masa, Keramas, Gianyar, 29 November 2024 | Foto: Ist
Sepanjang pengetahuan saya Diana Putra dan Dayu Prihandari sering terlibat penciptaan karya seni untuk komunitas Bhumi Bajra dan juga Janahita Mandala Ubud. Terkhusus untuk komunitas Bumi Bajra yang menjadi ruang tumbuh Dayu Prihandari, belakangan Diana Putra juga aktif turut memberikan stimulus persamaan prinsip dalam berkarya. Persamaan prinsip ini kemudia mereka sepakati sebagai terjemahan dari konsep “ngigelin gending, ngendingin igel”.
Sebagai salah satu yang menonton malam itu, saya tentu menaruh rasa hormat dan turut bangga pada seluruh penampil khususnya Bhumi Bajra yang tak pernah kering dalam berkarya serta tak pernah lelah mengkader para pelanjut seni dan sastra. Tak lupa pula apresiasi dan rasa bangga saya kepada Diana Putra yang menunjukkan konsistensinya sebagai pribadi yang selalu terbuka dalam berkolaborasi dengan semua pihak.
Kelana imajinasi dan kreativitas berkeseniannya selalu mekar walau ditengah padatnya rutinitas administrative dan akademiknya. Semoga akan terlahir karya-karya lanjutan dari Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Bali ini yang juga salah satu keturunan Kaki Iwer – seorang dalang legendaris asal Padantegal Ubud yang dijamannya konsisten mengiringi kelompok mabebasan yang dikomandoi Rakawi Ubud – Ida Tjokorde Gde Ngoerah.
“Aksamang kirang langkung pet makeh iwang panyuratan, Duwenang Sareng” [T]
Penulis: Cokorda Gde Bayu Putra
Editor: Adnyana Ole



























