JIKA kita membaca dari sisi akademis, maka tidak dapat dipungkiri bahwa pergeseran, pengadopsian dan perubahan pada saat ini adalah merupakan jawaban bahwa perubahan itu abadi dan terjadi di setiap kelompok masyarakat mana pun, termasuk Suku Baduy. Pergeseran dan pengadopsian yang mereka lakukan tersebut juga merupakan upaya dan usaha mereka dalam menangani permasalahan yang sedang mereka hadapi, termasuk mengurangi ketimpangan-ketimpangan yang mereka rasakan.
Jadi pada posisi ini jelas tidak ada unsur terpaksa atau memaksakan untuk berubah, tapi mereka berubah memang tidak bisa mereka tolak. Ayah Mursid mempertegas sebagai berikut:
“Sabenerna, kami ti jauhna keneh geus waspada jeung sadar, yen jaman pasti rubah… tantangan keur masyarakat adat mingkin dieu mingkin beurat, ti berbagai sudut perkampungan perbatasan geus teu ka tadah ku kamajuan hirup… tapi kami tetep usaha satekah polah kudu teguh patuh keur ngalaksanakeun Amanat Wiwiwtan jeung kami tetep yakin Baduy tetep kudu ayeum tentrem nu penting ulah ngaganggu atawa diganggu jeung ulah ngarugikeun komo deui dirugikeun, kami siap kerjasama jeung sasaha oge tapi anu aya manfaat kana kasalametan hirup balarea, kami mah patuh kana hukum jeung kahayang alam nu diciptakeun kunu maha kawasa”.
Artinya, “Sebenarnya sejak awal kami sudah waspada dan menyadari, bahwa zaman pasti berubah, tantangan buat masyarakat adat semakin hari semakin berat, dari berbagai perkampungan perbatasan sudah tidak terbendung lagi oleh kemajuan pola/gaya hidup, tapi kami (warga Baduy) tetap berupaya sekuat tenaga untuk tetap teguh patuh untuk melaksanakan Amanat Wiwitan dan kami tetap meyakini bahwa Baduy tetap harus aman, yang penting jangan mengganggu atau diganggu dan jangan merugikan apalagi dirugikan, kami (Baduy) siap bekerja sama dengan siapapun tapi yang ada manfaat demi keselamatan hidup semua manusia, kami tetap akan patuh mengikuti hukum dan kehendak alam yang sudah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa”.
Penegasan Ayah Mursid beberapa tahun lalu yang sengaja penulis tulis berulang-ulang adalah untuk menegaskan dan atau sebagai bukti bahwa pergeseran, perubahan dan pengadopsian yang sekarang terjadi di suku Baduy dengan sadar sudah mereka baca atau perkirakan akan terjadi dan tidak bisa mereka hindari. Karena mereka sudah menganalisa secara akurat, maka yang mereka lakukan adalah bukan lagi menolak tetapi lebih pada menyeleksi hal-hal mana yang pantas dan bisa diadopsi, langkah-langkah dan persiapan apa yang mereka persiapkan agar ketika memilih suatu sikap tidak secara seporadis mengguncangkan tatanan hukum adat mereka.
Ayah Mursid lebih awal menempa diri untuk lebih dulu berpengetahuan dan berwawasan serta memiliki keterampilan komunikasi dengan dunia luar, walaupun sadar bahwa dirinya adalah anggota warga Baduy Dalam yang serba ketat aturannya, serba terbatas dan dibatasi (pendidikan), namun tidak menjadi penghambat bagi dirinya karena memang mereka butuh dan akhirnya Ayah Mursid menjadi salah satu generasi warga Baduy Dalam yang melek dan intelek dan kiprahnya sudah sangat mereka rasakan. Walau penulis sadar bahwa ke-melekan dan ke-intelekan seorang Ayah Mursid tidak serta merta akan menjamin masa depan Baduy lebih baik ketika melaksanakan ide dan gagasannya.
Jadi, kengerian atau kekhawatiran kita tentang akibat negatif mereka bergeser, berubah dan meniru berbagai pola dan nilai budaya luar (modern) tentu karena kita terlalu mencintai mereka, terlalu sayang pada mereka, atau terlalu menganggap bahwa ketika mereka berubah akan merugikan kehidupan mereka, padahal secara nyata mereka mebutuhkan bahkan sedang mencari bentuk perubahan yang cocok untuk komunitas adat mereka.
Kita tidak juga bisa ngotot agar mereka tetap alami seperti zaman dulu, atau di balik kita ngotot ingin mengubah mereka lebih maju dan bermartabat sesuai persepsi kita. Mereka punya rambu-rambu dan batasan-batasan tertentu aspek dan nilai mana yang harus bergeser, mana yang perlu diubah dan mana yang pantas diadopsi bagi kehidupan mereka dengan segala resiko yang akan mereka hadapi.
Jaro Tangtu Cibeo (Jaro Sami) hari Kamis tanggal 14 Januari 2016 di rumah penulis mempertegas sekaligus memberikan penjelasan bahwa menurut cerita dan pesan leluhurnya : “Dina hiji mangsa atawa zaman, Baduy bakal ngalaman ruksak, ruksakna teh lain ku bangsa luar tapi ku anu ngeusianana..tapi henteu nepika ancur komo leungit mah..”. Artinya “ pada saat atau zaman tertentu, Baduy akan mengalami keruksakan bukan oleh orang luar tapi oleh yang mengisinya (warga Baduy sendiri) tapi tidak sampai hancur atau musnah“
Kemudian dipertegas lagi dengan kalimat yang luar biasa tegasnya bahwa “…zaman ayeuna teu saeutik urang Baduy nu geus lain jiga urang Baduy deui, jeung teu mustahil aya urang luar tapi sabenerna urang Baduy ..”. Artinya pada zaman sekarang tidak sedikit orang Baduy yang sebenernya sudah bukan seperti orang Baduy lagi, tetapi tidak mustahil ada orang luar tapi sebenarnya orang Baduy.”
Dinamisasi Berpikir Orang Baduy.
Pada acara Seba 2015 di pendopo Gubernuran Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra juga dengan gamblang memberikan penjelasan saat diwawancarai oleh seorang Jurnalis Kompas TV perihal terjadinya perubahan perilaku warga Baduy yang lebih mendekati pada menerima pola-pola hidup modern.
Salah satu penjelasan beliau yang amat menarik dan dinamis sekali adalah: “Bahwa jika sekarang warga Baduy banyak memiliki dan menggunakan HP bukan karena itu melanggar adat, dulu dilarang karena memang HP-nya belum ada, sekarang ada dan bermanfaat untuk mempermudah komunikasi jarak jauh, jadi jelas sekali HP bermanfaat dan dibutuhkan oleh masyarakat kami… masa iyah sudah ada HP kita tetap harus selalu jalan kaki untuk menyampaikan informasi, sementara ada alat yang bisa membantu dengan cepat dan efisien, jadi Baduy pun harus dinamis mengikuti zaman jangan ketinggalan tapi tetap tidak jor-joran .”
Pandangan dan persepsi masyarakat Baduy Dalam yang dulu meyakini untuk tetap tidak mau menerima bantuan dan menutup diri dengan warga luar setelah dibukanya program Wisata Budaya Baduy yang awalnya hanya membolehkan wisatawan masuk Baduy Dalam Cibeo saja. Setelah memperhatikan dan menyaksikan warga Baduy Cibeo mendapatkan penghasilan dan banyak dikunjungi oleh para pejabat dan sering mendapat bantuan, maka kini di bagian selatan, tepatnya di kampung Cijahe dibuka pula posko 2 dan di Binong Raya posko 3 sebagai areal pelayanan untuk para wisatawan yang ingin berkunjung ke Baduy Dalam Cikeusik, Cikartawana dan Cibeo dengan alasan lebih dekat jarak tempuhnya. Pembukaan posko 2 dan 3 sebagai tempat alternatif kunjungan wisata para wisatawan di Cijahe dan Binong Raya adalah bukti kongkrit bahwa mereka mengalami “dinamisasi berpikir.”
Dinamisasi berfikir tersebut sesungguhnya sebagai jawaban dan pengambilan sikap dari kegalauan (dilema) mereka ketika melihat perubahan yang terjadi pada kawan dan saudara se-Baduy-nya yang berubah menuju sejahtera dan mudah mendapat uang, sedangkan warga mereka merasa akan kerugian dan tertinggal bila tidak mengikuti tren perubahan sikap kawannya.
Kesadaran berfikir yang muncul dari pengalaman melihat bahwa warga kampung Baduy lain yang mulai maju karena berinteraksi dan mau menerima pola hidup modern terutama warga Baduy Luar maka ”warga Baduy Dalam yang dulunya menghindar untuk bertemu orang asing (baca : tamu) kini berubah menjadi menjemput tamu bahkan aktif menemui dan mencari tamu. ”
Program Wisata Budaya Baduy yang sudah dibuka sejak 1994 lalu dan diubah atau diperhalus dengan diksi Saba Budaya Baduy tahun 2015 adalah bukti nyata bahwa mereka sudah melonggarkan dan membuka diri untuk mulai berinteraksi, berkomunikasi dan bertransaksi dengan dunia luar yang modern. Walau dari sudut pandang kita sebagai orang luar tidak dipungkiri bahwa selain kebermanfaatan yang sudah mereka rasakan (baca: secara finansial) akan tetapi banyak pula dampak negatif yang muncul atau hal kurang baik terhadap keajegan mempertahankan budaya dan keadatan mereka.
Pada akhirnya Program Wisata Budaya Baduy itu menjadi simalakama sendiri bagi mereka. Ibarat dua sisi pisau yang sama tajamnya. Satu sisi memberikan efek peningkatan kesejahteraan yang cukup signifikan, dan pada saat yang sama mengakibatkan mereka tergerus pada pengadopsian pola tingkah laku berbau modern tanpa bisa mereka tahan.
Sikon yang terjepit oleh dua keadaan antara kemudahan pemenuhan kebutuhan pokok dan mendasar yaitu uang melalui para pengunjung wisata dengan efek negatif (polusi mental) yang mereka rasakan secara sadar menjadi problematika dan dilema besar bagi kesukuan mereka. Dengan melihat perubahan di atas penulis khawatir pada 2-5 tahun ke depan kawasan Tanah Ulayat Baduy bisa saja menjadi objek pariwisata murni tanpa batasan. Apalagi dengan digulirkannya program destinasi wisata yang menjadi program andalan dan favoritnya pemerintah daerah Lebak dan pemerintah Provinsi Banten, semakin khawatir membesarnya tingkat problematika dan dilema kesukuan mereka.
Mereka pasti akan merasakan dilema di awal kejadian saat ada tatanan baru yang mereka lihat. Mereka pasti dilema ketika harus memilih diantara dua situasi yang berbeda tapi sama sama penting dan diperlukan. Mereka pasti dilema di saat harus memilih melanggar adat demi memenuhi kebutuhan ataukah tetap patuh dan taat pada hukum adat, tetapi harus menderita dan kesusahan, dan mereka juga pasti dilema ketika ada program pemerintah yang harus diterapkan di kesukuan mereka. Sementara hukum adat mereka belum membolehkan, sedangkan program tersebut sangat dibutuhkan dan bisa bermanfaat bagi warganya, serta mereka akan terus menemukan dilema dilema berikutnya sesuai dengan perubahan yang dituntun alam dan kemajuan-kemajuan yang terus diciptakan oleh modernisasi dan globalisasi.
Mereka harus mampu menyelesaikan dilema-dilema yang mereka harus alami sesuai dengan rentang waktu dan kesempatan. Jika ada aspek-aspek yang meredup bahkan menghilang dari tatanan kehidupan sekalipun sebagai ciri khusus kesukuan mereka, mungkin itulah yang harus mereka tanggung. Dan ketika tumbuh perkembangan dan peningkatan kemajuan, baik peningkatan kualitas sumber daya manusia maupun peningkatan kesejahteraan pada mereka sebagai dampak positif dari pilihan sikap mereka, kita hanya menjadi saksi perjalanan kisah kesukuan mereka.
Pilihan tetap tradisional untuk melakukan dan mempertahankan tradisi ataukah berubah menjadi kesukuan yang modern demi memenuhi azas kebutuhan adalah tetap hak prerogatif dan pilihan mereka dan untuk masa depan mereka.
Oleh karenanya penulis kembali katakan, “Biarkanlah mereka bicara, biarkanlah mereka dilema, biarkanlah mereka memilih. Sudah saatnya mereka dewasa untuk memilih sikap yang tepat dengan siap menerima segala konsekuensi dari pilihannya“ (Asep Kurnia, 2025 ). Penulis hanya berdoa semoga pilihan apa pun yang mereka pilih bermanfaat bagi kesejahteraan kesukuan mereka, bermanfaat bagi keajegan kesukuan mereka dan pilihan sikap mereka justru dapat memperkuat pertahanan adat mereka. Amien..yaa robbalalamien.
“Tidak diharamkan demi keajegan, kekonsistensian menegakan hukum adat dan meningkatkan kesejahteraan mereka, kita memberikan upaya dan usaha cerdas dan bijak merekayasa sosial bahkan intervensi positif pun boleh jadi kita lakukan.” (Asep Kurnia, 2025) [T]
- Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, Juli 2025
Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole
- BACA esai-esai tentang BADUY
- BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA





























