6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baduy Tetap Tradisional atau Berubah? Biarkan Mereka Memilih

Asep Kurnia by Asep Kurnia
July 7, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

JIKA kita membaca dari sisi akademis, maka tidak dapat dipungkiri bahwa pergeseran, pengadopsian dan perubahan pada saat ini adalah merupakan jawaban bahwa perubahan itu abadi dan terjadi di setiap kelompok masyarakat mana pun, termasuk Suku Baduy. Pergeseran dan pengadopsian yang mereka lakukan tersebut juga merupakan upaya dan usaha mereka dalam menangani permasalahan yang sedang mereka hadapi, termasuk mengurangi ketimpangan-ketimpangan yang mereka rasakan.

Jadi pada posisi ini jelas tidak ada unsur terpaksa atau memaksakan untuk berubah, tapi mereka berubah memang tidak bisa mereka tolak. Ayah Mursid mempertegas sebagai berikut:

“Sabenerna, kami ti jauhna keneh geus waspada jeung sadar, yen jaman pasti rubah… tantangan keur masyarakat adat mingkin dieu mingkin beurat, ti berbagai sudut perkampungan perbatasan geus teu ka tadah ku kamajuan hirup… tapi kami tetep usaha satekah polah kudu teguh patuh keur ngalaksanakeun Amanat Wiwiwtan jeung kami tetep yakin Baduy tetep kudu ayeum tentrem nu penting ulah ngaganggu atawa diganggu jeung ulah ngarugikeun komo deui dirugikeun, kami siap kerjasama jeung sasaha oge tapi anu aya manfaat kana kasalametan hirup balarea, kami mah patuh kana hukum jeung kahayang alam nu diciptakeun kunu maha kawasa”.

Artinya, “Sebenarnya sejak awal kami sudah waspada dan menyadari, bahwa zaman pasti berubah, tantangan buat masyarakat adat semakin hari semakin berat, dari berbagai perkampungan perbatasan sudah tidak terbendung lagi oleh kemajuan pola/gaya hidup, tapi kami (warga Baduy) tetap berupaya sekuat tenaga untuk tetap teguh patuh untuk melaksanakan Amanat Wiwitan  dan kami tetap meyakini bahwa Baduy tetap harus aman, yang penting jangan mengganggu atau diganggu dan jangan merugikan apalagi dirugikan, kami (Baduy) siap bekerja sama dengan siapapun tapi yang ada manfaat demi keselamatan hidup semua manusia, kami tetap akan patuh mengikuti hukum dan kehendak alam yang sudah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa”.

Penegasan Ayah Mursid beberapa tahun lalu yang sengaja penulis tulis berulang-ulang adalah untuk menegaskan dan atau sebagai bukti bahwa pergeseran, perubahan dan pengadopsian yang sekarang terjadi di suku Baduy dengan sadar sudah mereka baca atau perkirakan akan terjadi dan tidak bisa mereka hindari. Karena mereka sudah menganalisa secara akurat, maka yang mereka lakukan adalah bukan lagi menolak tetapi lebih pada menyeleksi hal-hal mana yang pantas dan bisa diadopsi, langkah-langkah dan persiapan apa yang mereka persiapkan agar ketika memilih suatu sikap tidak secara seporadis mengguncangkan tatanan hukum adat mereka.

Ayah Mursid lebih awal menempa diri untuk lebih dulu berpengetahuan dan berwawasan serta memiliki keterampilan komunikasi dengan dunia luar, walaupun sadar bahwa dirinya adalah anggota warga Baduy Dalam yang serba ketat aturannya, serba terbatas dan dibatasi (pendidikan), namun tidak menjadi penghambat bagi dirinya karena memang mereka butuh dan akhirnya Ayah Mursid menjadi salah satu generasi warga Baduy Dalam yang melek dan intelek dan kiprahnya sudah sangat mereka rasakan. Walau penulis sadar bahwa ke-melekan dan ke-intelekan seorang Ayah Mursid tidak serta merta akan menjamin masa depan Baduy lebih baik ketika melaksanakan ide dan gagasannya.

Jadi, kengerian atau kekhawatiran kita tentang akibat negatif mereka bergeser, berubah dan meniru berbagai pola dan nilai budaya luar (modern) tentu karena kita terlalu mencintai mereka, terlalu sayang pada mereka, atau terlalu menganggap bahwa ketika mereka berubah akan merugikan kehidupan mereka, padahal secara nyata mereka mebutuhkan bahkan sedang mencari bentuk perubahan yang cocok untuk komunitas adat mereka.

Kita tidak juga bisa ngotot agar mereka tetap alami seperti zaman dulu, atau di balik kita ngotot ingin mengubah mereka lebih maju dan bermartabat sesuai persepsi kita. Mereka punya rambu-rambu dan batasan-batasan tertentu aspek dan nilai mana yang harus bergeser, mana yang perlu diubah dan mana yang pantas diadopsi bagi kehidupan mereka dengan segala resiko yang akan mereka hadapi.

Jaro Tangtu Cibeo (Jaro Sami) hari Kamis tanggal 14 Januari 2016 di rumah penulis mempertegas sekaligus memberikan penjelasan bahwa menurut cerita dan pesan leluhurnya : “Dina hiji mangsa atawa zaman, Baduy bakal ngalaman ruksak, ruksakna teh lain ku bangsa luar tapi ku anu ngeusianana..tapi henteu nepika ancur komo leungit mah..”. Artinya “ pada saat atau zaman tertentu, Baduy akan mengalami keruksakan bukan oleh orang luar tapi oleh yang mengisinya (warga Baduy sendiri) tapi tidak sampai hancur atau musnah“

Kemudian dipertegas lagi dengan kalimat yang luar biasa tegasnya bahwa  “…zaman ayeuna teu saeutik urang Baduy nu geus lain jiga urang Baduy deui, jeung teu mustahil aya urang luar tapi sabenerna urang Baduy ..”. Artinya pada zaman sekarang tidak sedikit orang Baduy yang sebenernya sudah bukan seperti orang Baduy lagi, tetapi tidak mustahil ada orang luar tapi sebenarnya orang Baduy.”

Dinamisasi Berpikir Orang Baduy.

Pada acara Seba 2015 di pendopo Gubernuran Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra juga dengan gamblang memberikan penjelasan saat diwawancarai oleh seorang Jurnalis Kompas TV perihal terjadinya perubahan perilaku warga Baduy yang lebih mendekati pada menerima pola-pola hidup modern.

Salah satu penjelasan beliau yang amat menarik dan dinamis sekali adalah: “Bahwa jika sekarang warga Baduy banyak memiliki dan menggunakan HP bukan karena itu melanggar adat, dulu dilarang karena memang HP-nya belum ada, sekarang ada dan bermanfaat untuk mempermudah komunikasi jarak jauh, jadi jelas sekali HP bermanfaat dan dibutuhkan oleh masyarakat kami… masa iyah sudah ada HP kita tetap harus selalu jalan kaki untuk menyampaikan informasi, sementara ada alat yang bisa membantu dengan cepat dan efisien, jadi Baduy pun harus dinamis mengikuti zaman jangan ketinggalan tapi tetap tidak jor-joran .”

Pandangan dan persepsi masyarakat Baduy Dalam yang dulu meyakini untuk tetap tidak mau menerima bantuan dan menutup diri dengan warga luar setelah dibukanya program Wisata Budaya Baduy yang awalnya hanya membolehkan wisatawan masuk Baduy Dalam Cibeo saja. Setelah memperhatikan dan menyaksikan warga Baduy Cibeo mendapatkan penghasilan dan banyak dikunjungi oleh para pejabat  dan  sering mendapat  bantuan,  maka  kini di bagian selatan, tepatnya di kampung Cijahe dibuka pula posko 2 dan di Binong Raya posko 3 sebagai areal pelayanan untuk para wisatawan yang ingin berkunjung ke Baduy Dalam Cikeusik, Cikartawana dan Cibeo dengan alasan lebih dekat jarak tempuhnya. Pembukaan posko 2 dan 3 sebagai tempat alternatif kunjungan wisata para wisatawan di Cijahe dan Binong Raya adalah bukti kongkrit bahwa mereka mengalami “dinamisasi berpikir.”

Dinamisasi berfikir tersebut sesungguhnya sebagai jawaban dan pengambilan sikap dari kegalauan (dilema) mereka ketika melihat perubahan yang terjadi pada kawan dan saudara se-Baduy-nya yang berubah menuju sejahtera dan mudah mendapat uang, sedangkan warga mereka merasa akan kerugian dan tertinggal bila tidak mengikuti tren perubahan sikap kawannya.

Kesadaran berfikir yang muncul dari pengalaman melihat bahwa warga kampung Baduy lain yang mulai maju karena berinteraksi dan mau menerima pola hidup modern terutama warga Baduy Luar maka ”warga Baduy Dalam yang dulunya menghindar untuk bertemu orang asing (baca : tamu) kini berubah menjadi menjemput tamu bahkan aktif menemui dan mencari tamu. ”

Program Wisata Budaya Baduy yang sudah dibuka sejak 1994 lalu dan diubah atau diperhalus dengan diksi  Saba Budaya Baduy tahun 2015 adalah bukti nyata bahwa mereka sudah melonggarkan dan membuka diri untuk mulai berinteraksi, berkomunikasi dan bertransaksi dengan dunia luar yang modern. Walau dari sudut pandang kita sebagai orang luar tidak dipungkiri bahwa selain kebermanfaatan yang sudah mereka rasakan (baca: secara finansial) akan tetapi banyak pula dampak negatif yang muncul atau hal kurang baik terhadap keajegan mempertahankan budaya dan keadatan mereka.

Pada akhirnya Program Wisata Budaya Baduy itu menjadi simalakama sendiri bagi mereka. Ibarat dua sisi pisau yang sama tajamnya. Satu sisi memberikan efek peningkatan kesejahteraan yang cukup signifikan, dan pada saat yang sama mengakibatkan mereka tergerus pada pengadopsian pola tingkah laku berbau modern tanpa bisa mereka tahan.

Sikon yang terjepit oleh dua keadaan antara kemudahan pemenuhan kebutuhan pokok dan mendasar yaitu uang melalui para pengunjung wisata dengan efek negatif (polusi mental) yang mereka rasakan secara sadar menjadi problematika dan dilema besar bagi kesukuan mereka. Dengan melihat perubahan di atas penulis khawatir pada 2-5 tahun ke depan kawasan Tanah Ulayat Baduy bisa saja menjadi objek pariwisata murni tanpa batasan. Apalagi dengan digulirkannya program destinasi wisata yang menjadi program andalan dan favoritnya pemerintah daerah Lebak dan pemerintah Provinsi Banten, semakin khawatir membesarnya tingkat problematika dan dilema kesukuan mereka.

Mereka pasti akan merasakan dilema di awal kejadian saat ada tatanan  baru  yang mereka lihat.  Mereka pasti  dilema  ketika  harus memilih diantara dua situasi yang berbeda tapi sama sama penting dan diperlukan. Mereka pasti dilema di saat harus memilih melanggar adat demi memenuhi kebutuhan ataukah tetap patuh dan taat pada hukum adat, tetapi harus menderita dan kesusahan, dan mereka juga pasti dilema ketika ada program pemerintah yang harus diterapkan di kesukuan mereka. Sementara hukum adat mereka belum membolehkan, sedangkan program tersebut sangat dibutuhkan dan bisa bermanfaat bagi warganya, serta mereka akan terus menemukan dilema dilema berikutnya   sesuai   dengan   perubahan   yang   dituntun   alam  dan kemajuan-kemajuan yang terus diciptakan oleh modernisasi dan globalisasi.

Mereka harus mampu menyelesaikan dilema-dilema yang mereka harus alami sesuai dengan rentang waktu dan kesempatan. Jika ada aspek-aspek yang meredup bahkan menghilang dari tatanan kehidupan sekalipun sebagai ciri khusus kesukuan mereka, mungkin itulah yang harus mereka tanggung. Dan ketika tumbuh perkembangan dan peningkatan kemajuan, baik peningkatan kualitas sumber daya manusia maupun peningkatan kesejahteraan pada mereka sebagai dampak positif dari pilihan sikap mereka, kita hanya menjadi saksi perjalanan kisah kesukuan mereka.

Pilihan tetap tradisional untuk melakukan dan mempertahankan tradisi ataukah berubah menjadi kesukuan yang modern demi memenuhi azas kebutuhan adalah tetap hak prerogatif dan pilihan mereka dan untuk masa depan mereka.

Oleh karenanya penulis kembali katakan, “Biarkanlah mereka bicara, biarkanlah mereka dilema, biarkanlah mereka memilih. Sudah saatnya mereka dewasa untuk memilih sikap yang tepat dengan siap menerima segala konsekuensi dari pilihannya“ (Asep Kurnia, 2025 ). Penulis hanya berdoa semoga pilihan apa pun yang mereka pilih bermanfaat bagi kesejahteraan kesukuan mereka, bermanfaat bagi keajegan kesukuan mereka dan pilihan sikap mereka justru dapat memperkuat pertahanan adat mereka. Amien..yaa robbalalamien.

“Tidak diharamkan demi keajegan, kekonsistensian menegakan hukum adat dan meningkatkan kesejahteraan mereka, kita memberikan upaya dan usaha cerdas dan bijak merekayasa sosial bahkan intervensi positif pun boleh jadi kita lakukan.” (Asep Kurnia, 2025) [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, Juli 2025

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy – [Bagian 1]
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: Suku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karya-karya Pelegongan Maestro Wayan Lotring di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Panggung Budaya untuk Mengingat Seratus Tahun Rarud Batur

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Panggung Budaya untuk Mengingat Seratus Tahun Rarud Batur

Panggung Budaya untuk Mengingat Seratus Tahun Rarud Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co