INI kedua kalinya saya mengikuti acara pemutaran film Layar Kolektif Bali Utara yang diselenggarakan oleh Singaraja Menonton di Buleleng, Minggu malam, 8 Juni 2025, di Agrowisata Lalangan Desa Sawan-Buleleng. Program Layar Kolektif Bali Utara di Sawan itu diselenggarakan Singaraja Menonton bekerjasama dengan Saka Pariwisata Kwartir Cabang Buleleng. Pemutaran film menjadi bagian dari acara Kemah Pelantikan Anggota Saka Parwisata tahun 2025.
Film-film yang diputar, dirangkum dalam program dengan judul “Masa Transisi”. Ada tujuh film pendek yang dirangkai dalam program ini seluruhnya bergenre fiksi, karya para sutradara dari Buleleng. Ketujuh film tersebut antara lainnya; “Metuun” (2019) yang digarap oleh Dewadi Wijaya, “Story” (2019) digarap oleh Eka Prasetya, “Nyambutin” (2021) digarap oleh Agus Primarta, “Made” (2022) digarap oleh Agus Primarta, “Al’r” (2023) Dian Suryantini, “Abu-abu” (2023) Dewadi Wijaya, “Renjana” (2023) Dian Suryantini.

Suasana pemutaran film di Agrowisata Lalangan Desa Sawan-Buleleng | Foto: Dok. Singaraja Menonton
Malam itu, saya duduk di deret kursi kedua dari akhir, tepat di belakang para anggota Pramuka Saka Pariwisata. Saya menyaksikan layar yang begitu besar menampilkan film yang semuanya menarik untuk ditonton. Saya dan para anggota pramuka, antusias menonton film yang ditampilkan. Pandangan dan perhatian saya, terfokus untuk menonton tujuh film yang ditayangkan.
Dari tujuh film yang diputar, pikiran saya terganggung dengan film berjudul Made. Dan, sebagai peserta Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film, film “MADE” menarik untuk saya jadikan latihan untuk menulis kritik film.
Film “Made” karya Agus Primarta ini tampaknya sangat relevan dengan kehidupan keluarga, terutama yang dalam konteks ekonomi, atau masalah keuangan keluarga. Film Made mengisahkan seorang anak bernama Made, berasal dari keluarga kurang mampu.
Suatu hari, Made bermain dengan teman-temannya. Made masih membawa mobil-mobilan dari botol plastik, namun temannya bermain game di HP. Made merasa iri, karena tak punya HP. Made berusaha meminta HP kepada ibunya, namun ditolak. Sebagai seorang janda dengan pekerjaan yang tak tetap, ibu Made tak mampu memenuhi keinginan anaknya.
Film ini merupakan realita masyarakat kelas menengah ke bawah. Benar-benar menampilkn kenyataan, sangat sesuai sekali dengan tagline Layar Kolektif Bali Utara “Cerita Kita, Suara Nyata”. Ekonomi, menjadi urusan yang sangat penting di dalam rumah tangga. Bagi keluarga mampu, yang telah selesai dengan urusan pangan pokok, akan bisa mengikuti arus perkembangan sosial. Urusan perut bukan lagi urusan yang mendasar. Sedangkan bagi orang yang kurang mampu, mereka akan bertanya dan berpikir dengan keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka harus bekerja lebih giat dari kebanyakan orang. Mereka harus menahan diri untuk tidak membeli barang yang tak perlu. Bagaimana bisa berpikir tentang urusan sandan dan papan, jika urusan pangannya belum mereka tuntaskan.

Sosok ibu dalam film Made | Foto: Dok. Singaraja Menonton
Film ini juga menceritakan tokoh Made yang juga ikut bekerja. Made mengumpulkan botol plastik. Ini realita yang sangat sering kita lihat di Buleleng. Anak-anak setelah pulang sekolah harus membantu orang tua bekerja, demi memenuhi kebutuhan pokok. Made sudah diajarkan langsung pada kerasnya kehidupan. Kondisi tokoh Made sangat berbeda dengan kondisi anak-anak lainnya yang ada di film tersebut. Made harus bekerja keras untuk kehidupan keluarga. Sikap ini, cerminan dari keberanian, kesadaran, dan tekad yang tinggi sudah tertanam sejak kecil.
Saya sebagai penonton sangat mengapresiasi Agus Primarta sebagai sutradara. Sutradara mampu menciptakan sebuah karya yang membuat penonton merasa terpakau karena cerita. Ceritanya dibuat sederhana, mudah dimengerti dan ending film yang mengejutkan. Made sebagai tokoh utama, menjadi anak kecil yang penuh tanggung jawab untuk keluarga. Made dipaksa berpikir lebih dewasa oleh tekanan Ekonomi. Pemeran Made berhasil membawakan karakter yang diinginkan Agus Primarta sebagai sutradara.

Penonton dari Saka Pariwisata Kwartir Cabang Buleleng | Foto: Dok. Singaraja Menonton
Dari sekian banyak keunggulan film ini, saya masih menumukan kekurangan dalam permainan angle kamera dan keaktoran. Dalam angle kamera, ada beberapa momen angle kamera terlalu jauh pada saat adegan dialog, dan tiba-tiba saja anglenya berubah menjadi sangat dekat. Pada keaktoran, beberapa aktor, ekspresi dan gerak tubuhnya yang masih kaku. Terlihat Agus Primarta sebagai sutradara berupaya keras untuk menghasilkan akting yang natural pada setiap aktornya.
Dari semua keunggulan dan kekurangan dari film Made ini, secara pribadi saya merasa terwakili dan tersuarakan. Saya berkali-kali mengalami hal yang sama seperti tokoh Made, tidak mampu mewujudkan hal yang saya inginkan. Seperti, ingin membeli sesuatu namun tidak terwujud karena uangnya tak ada. Film ini sangat mewakili banyak orang di dunia ini, terkhusus pada mereka yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. [T]
Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole
Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.
- BACA JUGA:



























