23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MENJAGA ARJA AGAR TAK MATI

I Wayan Dibia by I Wayan Dibia
June 26, 2025
in Esai
MENJAGA ARJA AGAR TAK MATI

Arja Lingsar itu yang akan dipentaskan pada Selasa, 24 Jani 2025 di Gebung Kesirarnawa, Taman Budaya Bali | Foto: tatkala.co/Rusdy

ARJA adalah sebuah kesenian klasik tradisional yang menyanggga keberlangsungan dari berbagai unsur kebudayaan Bali. Tembang macepat, bahasa, dan sastra Bali adalah tiga unsur kebudayaan Bali yang diintegrasikan serta disangga kuat oleh dramatari berdialog tembang ini. Kepunahan bahkan kematian dari dramatari ini akan mengancam eksistensi dan keberlangsungan dari unsur-unsur budaya Bali yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu, setiap upaya, sekecil apapun untuk menjaga Arja jangan sampai mati perlu diapreasia.  Pementasan Arja Lingsar, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, 24 Juni 2025, dalam rangka Pesta Kesenian Bali ke 47, yang diprakarsai oleh teman-teman jurnalis perduli seni budaya Bali, patut diapresiasi. Pertunjukan Arja dengan format mini ini, yang digarap secara apik, mampu memukau penonton walau-pun sajian ini masih perlu disempurnakan.  

Arja adalah salah satu kesenian klasik Bali yang hingga kini masih digemari di kalangan masyarakat Bali.  Sering dijuluki sebagai ”operatari Bali” Arja merupakan produk budaya Bali Klasik yang menjadi populer diawal abad XIX.  Dalam perkembangannya, Arja bukan saja mengalami masa pasang surut melainkan juga mengalami transformasi bentuk dengan munculnya beberapa jenis Arja seperti Arja Doyong yang disajikan oleh satu orang tanpa gamelan pengiring, Arja Muani dengan para pelaku semuanya laki-laki, Arja Gaguntangan (19yang menggunakan iringan gamelan Gaguntangan, , Arja Roras dengan pemeran utama berjumlah 12 orang, Arja Gong yang menggunakan iringan gamelan Gong Kebyar, dan Arja Mini yang melibatkan para pemain dengan jumlah kecil (antara 5-6 orang). dan lain sebagainya.

Selama ini banyak yang memandang Arja sebagai sebuah kesenian yang berbau feodal.  Pandangan seperti ini semata-mata disebabkan oleh lakon-lakon yang digunakan yang pada umumnya diambil dari cerita Panji atau Malat dengan kisah yang berkisar kepada kehidupan keluarga istana seperti  Daha, Jenggala, Metaun, Pejarakan, dan lain-lain, dengan segala lika likunya. Baru kemudian muncul cerita-cerita rakyat seperti Pakang Raras, Linggar Petak, yang sedikit banyak masih diilhami oleh cerita Panji, kecuali cerita Basur, Sampik Ingtai, dan Dukuh Suladri, yang sudah lepas dari pengaruh cerita Panji.  Namun jika disimak lebih jauh, lakon-lakon Arja ini sejatinya mengungkap nilai-nilai kehidupan masyarakat kebanyakan.  Kemelut rumah tangga, cinta segi tiga, perebutan hak waris, merupakan pokok-pokok persoalan hidup yang banyak diungkap dalam pertunjukan Arja.  Satu hal yang perlu diingat bahwa walaupun konon Arja lahir di istana, namun hingga sejauh ini belum ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa kesenian ini pernah hidup atau dipelihara oleh kalangan istana. Arja merupakan kesenian yang hidup dan berdegup di kalangan masyarakat luar istana.

Arja Sebagai Pengemban Tembang Macepat

Arja adalah satu-satunya dramatari Bali yang berdialog tembang macepat.  Salah satu prinsip estetik dari Arja adalah ”ngigelin tembang” atau ”nembangin igel” yang esensinya menari sambil menembang atau menembang sambil menari. Tidak ada dramatari lainnya di Bali yang pertunjukannya dipenuhi dengan alunan tembang macepat.  Dalam pertunjukan Arja, hampir semua peran tampil ke atas pentas sambil nembang.  Kemampuan nembang, lebih dari kemampuan menari dan berakting, menjadi syarat utama dari pada para penari Arja.  Jika diperhatikan, banyak penari Arja yang tidak bisa menari, atau dengan bekal teknik tari yang pas-pasan, tetapi memiliki kemampuan nembang yang hebat.

Dalam pertunjukan Arja, tembang macepat digunakan dalam tiga bagian penting.  Ketiga bagian yang dimaksud adalah, pengalang  atau pembukaan, ketika para penari menyanyi bersama-sama di dalam rangki; bagian papeson atau pengenalan karakter, dan bagian panyarita atau dialog.

Tembang Pangalang. Sudah menjadi kebiasaan para penari Arja di masa lalu, terutama Arja Sebunan (berasal dari satu banjar atau desa), untuk menyanjikan tembang pangalang (pemanasan) yang dilakukan sebagai pemanasan vokal di belakang layar atau di dalam rangki. Di awal pertunjukan, para penari, terutama penari wanita, menyanyi bersama-sama di dalam rangki. Salah satu tembang yang biasa digunakan adalah Ginanti yang berlaras Slendro.

Tembang Papeson.  Tembang papeson (pesu = keluar) pada dasarnya dinyanyikan sebagai pengenalan karakter.  Ketika menyanyikan tembang papeson, setiap peran melakukan ragam-ragam geraknya sesuai jumlah baris tembang yang dinyanyikan.  Tiga hal yang selalu dilakukan penari Arja ketika menyanyikan tembang papeson adalah mungkah lawang, ngigelin langse ngawan ngebot, dan matanganan. 

Setiap peran utama dalam Arja memiliki tembang papeson yang berbeda-beda. Condong atau Inya menggunakan tembang papeson berupa pupuh Galuh atau Sari menggunakan pupuh Dandang atau Adri, Limbur atau permaisuri menggunakan tembang Sinom, Desak (Klatir), dan Liku menggunakan pupuh Dandang, Mantri Manis menggunakan pupuh Sinom, dan Mantri Buduh menggunakan pupuh Durma.  Penasar kelihan (Punta), baik yang manis maupun buduh, menggunakan tembang Durma, dan panasar cenikan  (Wijil, Kartala) menggunakan pupuh Mas Kumambang atau tembang cecantungan. Pada umumnya, para penari Arha menggunakan tembang papeson sebagai ruang untuk mempertontonkan kemampuan nembang terbaik mereka.

Tembang Panyarita. Ketika memasuki bagian dialog, para penari Arja mulai menyanyikan tembang-tembang panyarita, yaitu tembang-tembang yang digunakan untuk menyampaikan jalan cerita, baik dalam bentuk monolog maupun dialog.  Pemilihan tembang disesuaikan dengan suasana dramatik seperti tenang atau damai, bahagia, roman, tegang, dan sedih yang akan digambarkan.  Di antara tembang-tembang yang biasa digunakan dalam panyarita adalah Sinom atau Ginanti untuk suasana tenang, damai, dan bahagia, Sinom dan Ginada untuk roman, Durma untuk tegang, Semarandana dan Ginada untuk sedih.

Setiap tembang, baik untuk pangalang dan papeson maupun panyarita tembang di atas diiringi tabuh dengan irama yang berbeda-beda. Misalnya tembang pengalang pada umumnya diiringi dengan tabuh dua yang bertempo lambat, tembang papeson pada umumnya dengan tabuh besi, sedangkan iringan tembang panyarita disesuai suasana dramatik yang disajikan. Sebagai contoh, suasan tegang dengan tabuh batel, suasana roman dengan tabuh besik, dan suasana sedih dengan tabuh dua.

Arja Sebagai Pengemban Bahasa Bali

 Dominannya penggunaan bahasa Bali dalam pertunjukan Arja menjadikan seni drama ini menjadi kesenian pengemban bahasa Bali. Dengan ini dimaksudkan bahwa Arjamerupakan ajang dan ruang bagi masyarakat untuk mempelajari dan mengetahui penggunaan Bahasa Bali dengan berbagai tingkatannya. Konsekwensinya, ketika Arja menjadi pengemban bahasa Bali, banyak penonton yang berharap bisa belajar bahasa Bali melalui pertunjukan seni drama ini. Oleh sebab itu, para pemain Arja dituntut agar mampu menggunakan bahasa Bali yang baik dan benar sesuai tata krama, tata titi, dan anggah-ungguh kruna bahasa Bali, sesuai peran yang dibawakan dan seturut dengan suasana dramatik dari sebuah lakon yang dibawakan.

Sebagai perbandingan, sebagaimana telah disinggung di atas, Arja sering dikatakan sebagai seni drama pengemban tembang macapat.  Hal ini tiada lain disebabkan oleh penggunaan tembang macapat yang begitu dominan dalam pertunjukan Arja. Hampir semua peran menggunakan tembang dengan pupuh yang berbeda-beda. Bahasa yang digunakan dalam tembang-tembang Arja dominan bahasa Bali, baik yang alus dan madya, maupun kasar yang di sana sini diperkaya, bahkan dituakan, dengan kata-kata bahasa Kawi. Dalam Drama Gong, bahasa Bali digunakan dalam bahasa sehari-hari, bukan dalam bentuk tembang, namun dengan cara ungkap dan percakapan beretorika tertentu.

Dalam pertunjukan Arja, sesuai peran yang dibawakan, dan sesuai suasana dramatik yang digambarkan, para pelaku menggunakan bahasa Bali dengan ketiga tingkatannya yang biasa dikenal dengan Bahasa Bali alus, madya, dan kasar dengan berbagai tingkatannya.  Dalam mengucapkan bahasa-bahasa ini para pemain menggunakan bahasa gerak sesuai peran yang dibawakan.

Secara umum dapat dikatakan bahwa Bahasa Bali alus digunakan untuk berkomunikasi atau menyebutkan orang-orang atau tokoh yang patut ditinggikan atau dihormati dengan menggunakan kata-kata Bali alus. Biasanya bahasa alus diucapakan dalam suasana formal atau tenang, dengan iringan tabuh-tabuh yang tenang dan agung seperti legod bawa, atau bapang gede. Dalam suasana seperti ini, ketika seorang abdi mempersilahkan seorang patih, atau orang yang belum dikenal untuk makan digunakan kata ngajengang, untuk raja digunakan ngerayunang.  Menyebut makanan untuk patih atau orang yang tidak dikenal digunakan kata ajengan, untuk raja digunakan rayunan.

Bahasa Bali madya digunakan untuk berkomunikasi atau menyebutkan orang-orang atau tokoh yang setingkat atau sejajar, termasuk orang yang tidak dikenal. Raja dengan permaisuri, abdi dengan sesama abdi, atau dengan orang yang belum dikenal, menggunakan bahasa Bali madya yang menggunakan kata-kata Bali madya. Biasanya bahasa madya diucapakan dalam suasana tenang dan ceria dengan iringan tabuh-tabuh yang tenang dan gembira seperti bapang atau gegaboran. Dalam suasana biasa dan tenang, ketika seorang abdi mempersilahkan abdi lainnya untuk makan maka kata medaar yang digunakan, untuk duduk kata negak yang digunakan, untuk tidur digunakan kata pules.  Untuk panggilan kamu, maka kata cai atau nyai biasa digunakan. Untuk memanggil orang yang belum dikenal biasa digunakan kata jero.

Bahasa Bali kasar digunakan untuk berkomunikasi atau menyebutkan orang-orang atau tokoh yang dianggap lebih rendah, atau yang ingin direndahkan bahkan dinistakan. Biasanya bahasa madya diucapakan dalam suasana tegang dan mencekam dengan iringan tabuh-tabuh yang bersuana seperti batel atau kale. Contohnya, seorang abdi yang dengan marah dan kecewa menyuruh abdi lainnya untuk makan, yang bisa saja menggunakan kata ngamah, ngleklek, pantet dan lain-lain. Ketika seorang raja menyebutkan mulut abdinya, ia bisa saja menggunakan kata bungut.  Sudah biasa, tokoh raja berwatak keras (mantri buduh) minta kedua abdinya, untuk melaporkan sesuatu dengan mengatakan: ”Punta Wijil aturang bungute.” Atau ketika seorang raja yang marah lalu menghardik abdinya bisa saja menggunakan kata-kata cicing cai, bangken kuluk, atau jelema matemah cai, dan lain-lain.

Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam pertunjukan Arja, begitu juga drama-drama tradisional Bali lainnya, dalam kondisi tertentu, sesuai alur dramatik, bahasa kasar tetap bisa digunakan. Jadi, penggunaan Bahasa Bali kasar sudah biasa dan tidak ditabukan dalam seni pertunjukan. Berdasarkan pentunjuk  para seniman dan tetua di masa lampau, ungkapan memisuh adalah ujaran yang tidak pantas diungkapkan di depan umum atau ruang publik seperti kalangan tempat pertunjukan.

Pada dasarnya memisuh, yang berbeda dengan bahasa kasar, adalah ujar kata yang menggunakan kata-kata kotor dalam Bahasa Bali. Kata-kata pisuhan seperti endas keleng, sakit gede, bangsat dan lain-lain.  Para seniman tua tidak membolehkan para muridnya memisuh di atas pentas karena ungkapan kotor seperti ini bisa menodai kesucian kalangan sebagai sebuah tempat yang sudah disucikan dengan sesaji prayascita. Di samping itu, memisuh diyakini bisa mengotori sajian seni sebagai ciptaan Tuhan.

Arja Sebagai Pengemban Sastra Bali

Arja merupakan sebuah dramatari klasik Bali yang banyak membawakan lakon yang bersumber dari gaguritan dan satua.  Gaguritan adalah sebuah karya sastra yang ditulis menggunakan metrum tembang macepat, berbeda dengan satua yang merupakan jalinan kisah yang dituturkan secara lisan.

Banyak Gaguritan yang menjadi sumber lakon dari dramatari Arja. Ketika sebuah lakon diangkat dari Gaguritan, biasanya isi Gaguritan diolah kembali untuk disesuaikan dengan tokoh-tokoh utama yang ada dalam Arja.  Beberapa contoh Gaguritan yang banyak dijadikan lakon Arja adalah Gaguritan Tamtam, Gaguritan Jayaprana, Gaguritan Sampik, Gaguritan  Basur, Gaguritan Cilinaya, Gaguritan Salya, dan Gaguritan Dukuh Suladri.

Selain Gaguritan, Arja juga banyak mengambil lakon yang bersumber dari satua atau cerita lisan. Beberapa contoh dari cerita rakyat yang bisa dipentaskan dalam Arja adalah, Rare Angon, I Krerek, Ni Suhadi, Galuh Ngajang Sebun, dan lain-lain. Dalam penyajiannya, sesuai kondisi dan konteks pertunjukan, cerita-cerita rakyat ini sering kali diperkaya dengan plot-plot baru tanpa harus merusak plot utama dari lakon.

Hingga kini, kematian Arja masih menjadi kekhawatiran banyak orang terutama para pencinta kesenian Bali. Dalam perjalanan Arja yang cukup panjang, dari awal abad XIX sampai memasuki abad XXI, Arja memang pernah mengalami masa pasang surut, namun menurunnya popularitas Arja tidak bisa dilihat sebagai sebuah kematian.  Sebagai contoh, surutnya popularitas Arja Sebunan tahun 1970-an dijawab dengan munculnya Arja Bon atau Susupan, sekitar waktu yang sama popularitas Arja pernah surut dikalahkan oleh Drama Gong, Gong Kebyar, dan Sendratari. Munculnya Arja Gong dan Arja berlakon Ramayana menjadi wujud kebangkitan dari Arja di Bali. Meredupnya popularitas Arja di tahun 1990-an digebrak oleh Arja Cowok (Printing Mas) yang membuat banyak penonton kembali mencintai Arja. Semuanya ini menunjukkan adanya masa pasang surat Arja, tetapi bukan kematian Arja di Bali.

Menurunnya popularitas Arja di kalangan masyarakat Bali modern sering kali dilihat sebagai akibat dari kemampaun para pelakunya. Sejatinya, kelesuan Arja erat kaitannya dengan melemahnya penguasaan masyarakat Bali terhadap penggunaan bahasa Bali, tembang-tembang macepat, dan literasi terhadap karya-karya sastra Bali.  Agar Arja, dan juga kesenian-kesenian Bali lainnya yang menggunakan tembang, bahasa dan sastra Bali, perlu dilakukan upaya revitalisasi terhadap program pendidikan, materi kurikulum, terutama di tingkat Pendidikan Dasar.  Di masa lalu, anak-anak Sekolah Dasar diberikan pelajaran Bahasa Bali, Magending Bali, dan Nyatua, yang ketiganya ini merupakan pengetahuan dasar dalam menikmati pertunjukan kesenian Bali. Misalnya, penonton yang bisa berbahasa Bali akan bisa menikmati dialog-dialog para pelaku dalam dramatari klasik Bali, begitu pula penonton yang tahun tembang macepat akan bisa menikmati, bahkan ikut nembang, sambil menonton pertunjukan Arja.  Mereka yang mengerti cerita Sampik Ingtai akan bisa melelehkan air mata ketika menyaksikan kesedihan Sampik yang sedang patah hati.  Semuanyanya ini menjadi kunci dari kenikmatan estetik maksimal yang bisa dirasakan para penonton ketika menyaksikan pertunjukian kesenian Bali.   

Format Mini-Arja Lingsar

Melalui olah pikir yang panjang, grup Gita Semara Peliatan-Ubud, di bawah pimpinan I Wayan Sudiarsa, menampil sebuah format Arja mini berupa pertunjukan Arja Lingsar yang dibawakan hanya oleh 4 (empat) orang. Didukung oleh para pemain berpengalaman, dengan modal olah vokal dan kualitas suara yang bagus, Arja berdurasi kurang lebih satu jam ini telah mampu memikat penonton yang hadir ketika itu. Tidak kalah pentingnya adalah permainan tabuh Gaguntangan yang disertai nyanyian yang dibawakan oleh para pemain Semara Gita.

Tidak kalah menariknya adalah diskusi seusai pertunjukan yang menampilkan empat narasumber, yaitu Prof. Dr. I Made Suartha, M.Si.; Dr. I Ketut Kodi, SSP., M.Si; I Wayan Sudiarsa SSn., M.Sn, dan Adnyana Ole dengan moderator Jero Gede Alitan Batur.  Dalam diskusi ini terlontar rasa kekhawatiran terhadap masa depan Arja, keunikan dramatari ini, tuntutan seorang penari Arja, disertai lontaran gagasan terhadap bagaimana menggairahkan kembali kehidupan Arja. 

Jika ada beberapa hal kecil yang bisa diajukan sebagai bahan penyempurnaan terhadap format kecil Arja Lingsar ini, di bawah ini adalah 3 (tiga) hal yang kiranya perlu dijadikan pertimbangan.

Satu, penyajian Arja ini sebaiknya tetap menggunakan langse. Kelihatan sedikit lucu ketika penari memakai gerak mungkah lawang dan ngigelang langse tanpa langse.  Jika karena satu dan lain hal tak menggunakan langse, sebaiknya penari tidak melakukan ketiga gerak tersebut di atas, atau dilakukan dengan cara penampilan nomplok. Dua, busana ketiga pemain Arja, mantri manis dan panasar, sebaiknya tetap digunakan. Penggunaan busana sesaputan akan melengkapi aspek visual dari sebuah pertunjukan Arja. Tiga, di bagian akhir, ketika munculnya matah gede memakai topeng rangda, rasa Arja bergeser ke Calonarang sebagai akibat dari mantri manis yang tidak berdialog tembang melainkan memakai ucap-upakan Calonarang.  Untuk mengentalkan rasa Arja, sebaiknya mantri manis tetap berdialog tembang.

Penutup

Demikian beberapa hal yang dapat disampaikan dari pertunjukan Arja Lingsar persembahan Gita Semara di Gedung Ksirarnawa.  Sajian ini patut di apresiasi sebagai suatu tawaran baru yang penuh inovasi dalam menyelamatkan Arja agar tidak jadi mati. [T]

Penulis: I Wayan Dibia
Editor: Adnyana Ole

Drama Gong
Arja “Alas Langit Peteng”: Manis & Pangus — Catatan TA Mahasiswa Pendidikan Bahasa Bali Undiksha
Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa
Tags: arjadramatari arjaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

Next Post

“PROGRAM BHUTA KALA” versus “PANUGRAHAN IDA BHATARA”

I Wayan Dibia

I Wayan Dibia

Prof. Dr. I Wayan Dibia adalah budayawan dan maestro seni sekaligus Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Ia mendapatkan penghargaan seni “Padma Shri Award 2021” dari Pemerintah India atas kiprahnya dalam menjalin karya seni antara budaya Bali-India. Pada tahun 1969, Wayan Dibia pertama kali tampil di India dengan menarikan Hanoman. Karya pertamanya di tahun 1971 berupa prembon dengan mengambil kisah Gatot Kaca Sraya yang telah memperkenalkan sastra maha agung India kepada masyarakat bali melalui seni pertunjukan. Tahun 1972, memulai garapan kecak gugurnya Prabu Drestaratha yang mengangkat epik India. Selain menciptakan puluhan karya seni tari, ia juga aktif menulis buku seni diantaranya Dramatari gambuh dan tari-tarian yang hampir punah di beberapa daerah di Bali (1979); Kecak, The Vocal Chant Of Bali (2000); Balinese dance, drama & music: a guide to the performing arts of Bali (2012); Tari Komunal (2015); dan Tari barong ket: dari kebangkitan menuju kejayaan (2018).

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

"PROGRAM BHUTA KALA" versus "PANUGRAHAN IDA BHATARA"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co