23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Waktu Terbaik Mengasuh dan Mengasah Kemampuan Anak: Catatan dari Kakawin Nītiśāstra

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 28, 2025
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

DI mata orang tua, seorang anak tetaplah anak kecil yang akan disayanginya sepanjang usia. Dalam kondisi apa pun, orang tua adalah tempat pulang: rumah berteduh dengan rekah senyuman yang tanpa syarat dan hangat pelukan yang tanpa batas. Mereka akan menerima anaknya dalam segala kondisi, baik suka duka lara maupun nestapa.

Karena itulah Kakawin Nitīśāstra menyebut tidak ada kasih sayang yang lebih tinggi dari yang dilimpahkan oleh orang tua kepada anaknya: norāna sih manglәwihana sih ikaṅ atanaya.

Kasih sayang orang tua yang demikian tulus, apabila tidak dikendalikan dengan kehati-hatian bukan berarti tanpa konsekuensi. Pustaka Ādiparwa dengan terang menyebutkan dua cerita tentang hal ini dalam kisah Drәṣṭaratta dan Bhagawan Drona. Keduanya diketahui sebagai pemimpin. Drәṣṭaratta adalah pemimpin negara, sedangkan Bhagawan Drona merupakan pemimpin di bidang agama. Keduanya diyakini berhasil memimpin orang banyak, tetapi keliru dalam mendidik seorang anak.

Konsekuensi

Drәṣṭaratta yang terlalu menyayangi Duryoddhana menyebabkannya menghalalkan segala cara agar anaknya itu bisa memegang tampuk kekuasaan tertinggi di Kerajaan Hastina. Bahkan, pada saat Duryodana terbukti bersalah ketika merencanakan pembunuhan kepada Bhīma dengan cara meracuninya, Sang Raja Hastina tidak mau menjatuhkan sanksi apapun untuk menegakkan keadilan. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Drәṣtaratta kala anak-anaknya melakukan pembakaran rumah lak untuk membinasakan seluruh keluarga Pandawa dan Kunti.

Akibat taksanya hukum yang diterapkan oleh Drәṣṭaratta itu, perilaku Duryoddhana semakin tak terkendali. Drupadi yang dijadikan taruhan oleh Panca Pandawa ingin diperkosanya di balai sidang, sedangkan Krisna awatara Wisnu itu dihina ketika menjadi utusan perdamaian, dan puncaknya berbagai perilaku kriminal dilakukan oleh Duryodana untuk memenangkan perang di Kuruksetra.

 Situasi yang tidak berbeda juga dialami oleh Bhagawan Drona. Ia sebagai guru loka juga terjebak pada kasih sayang yang berlebihan kepada anaknya yang bernama Aswatama. Sebagai ayah, Bhagawan Drona merasa ingin memberikan yang terbaik untuk anak semata wayangnya itu akibat penderitaan yang dialami Aswatama ketika ia kecil. Bhagawan Drona dan istrinya nyaris tak pernah mampu memberikan setetes susu ataupun mentega kepada anaknya karena dijerat kemiskinan. Oleh sebab itulah, ia memutuskan untuk menjadi guru di Kerajaan Hastina dengan harapan kualitas dan kesejahteraan hidup yang lebih baik.

Namun sayang, di masa pembelajaran tersebut Aswatama justru lebih banyak bergaul dengan Korawa sehingga tabiat buruk Korawa juga menyusup ke dalam liang hatinya. Hal inilah yang menyebabkan Bhagawan Drona dibujuk oleh Aswatama untuk berpihak pada Korawa ketika perang Bharata Yuddha berkecamuk. Ia tak punya pilihan lain atas ancaman anaknya untuk bergabung ke pihak Korawa. Akibatnya, Guru Drona yang tahu bahwa kebenaran menyala di ujung-ujung panah Pandawa tidak bisa ikut membesarkan cahaya itu. Guru Drona memberikan restu pada kemenangan Arjuna, meski raganya ada di pihak Korawa.

Kakawin Nitīśāstra

Kisah Drәṣṭaratta dan Bhagawan Drona di atas menitipkan pesan bahwa pemberian kasih sayang yang tidak didasari kewaspadaan justru menyebabkan keduanya jatuh pada kesengsaraan. Berbagai situasi tentu dapat mendorong seseorang untuk melimpahkan kasih sayang yang tanpa kendali kepada anaknya, meski tanpa disadari pujian yang terlalu banyak tak membuat anak tahan terhadap ujian kehidupan. Sampai di titik ini, seni melimpahkan kasih dengan cara dan waktu yang tepat perlu dipelajari oleh setiap insan yang bertugas menjadi orang tua.

Pustaka Kakawin Nitīśāstra tampaknya memberikan peta jalan untuk ke luar dari labirin kelindan kompleks hubungan antara orang tua dan anak ini. Karya sastra ini menunjukkan waktu dan cara terbaik untuk mengasuh sekaligus mengasah kemampuan anak sesuai dengan tingkat umurnya.

Karya sastra yang dalam tradisi Bali diyakini ditulis oleh Dang Hyang Nirartha ini menyatakan bahwa: anak yang sudah berumur lima tahun mesti disayangi seperti seorang anak raja (tiŋkahiŋ sutta śaśāṇa kadi rāja tanaya ri huwusiṅ limaṅ tahun). Ketika sudah berumur tujuh tahun, ia diperlakukan seperti pelayan (sāpṭa warṣā wara hulun). Lalu ketika anak sudah berumur sepuluh tahun, ia harus diajari aksara (sapuluhiŋ tahun nikā hurukĕnaŋ akṣarā). Setelah umurnya bertambah menjadi enam belas, anak dijadikan sahabat dengan kehati-hatian tinggi dalam menetapkan hukuman kepadanya (yapwan ṣodaśāwarṣā tulya wara mitrā tinahat-tahat dentā miḍaṇḍā). Demikian pula, ketika anak sudah berkeluarga dan memiliki keturunan, ia wajib dinasihati hanya menggunakan tanda-tanda oleh orang tuanya (yan wuṣ putrā sūputra tiṅhalana solah irā hurukniŋ nayeŋ gittha).

Bertitik tolak dari penjelasan di atas, karya sastra Kakawin Nitīśāstra mengajak kita untuk menyadari bahwa seorang anak tidak saja bertumbuh dari segi usia, tetapi juga bertambah dari segi pengetahuan dan pengalaman hidupnya. Oleh sebab itu, orang tua mesti memperlakukan anaknya dengan sikap yang berbeda dalam setiap jenjang umurnya. Perlakuan seperti rāja tanaya‘pangeran’ atau ‘putri’ wajib diusahakan ketika usia anak lebih dari lima tahun. Dalam situasi ini seorang anak memang sedang membutuhkan kasih sayang yang penuh dari orang tuanya. Maka berbagai keinginannya biasanya akan dituruti oleh orang tua sesuai batas kemampuannya.

Setelah anak berusia tujuh tahun, cara memperlakukan anak seperti pangeran atau putri raja harus dihentikan. Kakawin Nitīśāstra menyarankan agar ia dididik seperti seorang warahulunatau pelayan. Pada masa ini, seorang anak mulai dibiasakan mengikuti berbagai disiplin diri di tingkat keluarga. Ia diajarkan untuk seaktif-aktifnya untuk menyerap berbagai laku baik orang tua dan lingkungan terdekatnya. Ketika masa agraris dulu, anak yang biasa diajak untuk mengolah sawah pasti menjadi petani yang mampu hidup dari tanah di masa dewasanya. Demikian pula seorang anak yang terbiasa diajak untuk membantu orang tuanya di laut. Kelak ketika dewasa, ia akan menjadikan ombak sebagai sahabat yang membantunya untuk memindahkan ikan dari samudra hingga sampai di meja makan orang-orang yang hidup darat.

Selanjutnya, ketika usia anak menginjak umur sepuluh tahun, aktivitas literasi mesti ditanamkan. Pustaka Kakawin Nitīśāstra menyarankan agar anak mulai hurukĕnaŋ akṣarā atau diajari aksara. Dengan mempelajari berbagai tanda-tanda grafis itu, seorang anak diharapkan dapat mengakses berbagai pengetahuan tertulis. Kemampuan menulis yang sekaligus berhubungan erat dengan membaca ini pasti menjadi gerbang baginya untuk membuka dunia dan cakrawala pengetahuan yang lebih luas, baik di hulu masa lalu maupun masa yang akan datang. Kemampuan membaca aksara, akan membuatnya tidak buta dalam hal pengetahuan.

Lalu setelah anak berada di tangga umur enam belas tahun, Kakawin Nitīśāstra menyarankan agar anak diperlakukan sebagai wara mitrā‘sahabat’. Kenapa demikian? Karena pada masa krusial ini seorang anak sudah mulai beranjak dewasa. Dengan menjadikannya sebagai sahabat, anak akan lebih cenderung terbuka untuk menyampaikan berbagai tantangan hidup yang tengah dihadapinya kepada orang tuanya, terutama dalam hal cita-cita dan cinta. Keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak dalam masa transisi ini menjadi sangat penting agar anak tidak mencari pelarian keluar dari pagar-pagar yang telah ditetapkan oleh orang tuanya.

Terakhir, ketika seorang anak sudah berkeluarga dan memiliki keturunan, Kakawin Nitīśāstra menyarankan agar orang tua memberikan kepercayaan kepada anaknya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama keluarga kecilnya sendiri. Orang tua mesti sadar dengan sepenuh hati untuk menarik diri dari kehidupan pribadi anaknya. Ia tak boleh lagi mengintervensi anak yang tengah berusaha menata dan meniti kehidupan barunya. Kalau seorang anak melakukan kekeliruan, ia cukup menasihatinya dengan memberikan tanda secara tidak langsung atau hanya mengandalkan nayeng gita. Dengan demikian anak akan memiliki ketangguhan dan keteguhan dalam menapaki tangga-tangga kehidupan untuk kelak diajarkan lagi kepada keturunannya.

Demikianlah Kakawin Nitīśāstra memberikan kita peta kognitif tentang momentum-momentum terbaik dan seni mendidik anak sesuai dengan tingkat umurnya. Waktu dan cara yang tepat ini penting disadari oleh orang tua agar anaknya kelak tumbuh menjadi pribadi yang matang dari segi fisik, mental, dan spiritual. Kematangan pendidikan anak dalam setiap jengkal perkembangannya juga akan menentukan bagaimana sikap anak dalam memperlukan orang tuanya di kala mereka sudah memasuki usia senja kelak.

Ketika tubuh orang tuanya sudah merenta, pikirannya tak lagi tajam, dan hidupnya secara penuh sudah digantungkan kepada anak, maka pada saat itulah ia akan memetik hasil dari buah kesabarannya dalam mengasuh dan mengasah anak dengan penuh kasih. [T]

Paris, 27 Mei 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa
Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung
Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan
Tags: anak-anakkakawinKakawin Nitisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budaya Kolektif dalam Duka

Next Post

Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co