24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Waktu Terbaik Mengasuh dan Mengasah Kemampuan Anak: Catatan dari Kakawin Nītiśāstra

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 28, 2025
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

DI mata orang tua, seorang anak tetaplah anak kecil yang akan disayanginya sepanjang usia. Dalam kondisi apa pun, orang tua adalah tempat pulang: rumah berteduh dengan rekah senyuman yang tanpa syarat dan hangat pelukan yang tanpa batas. Mereka akan menerima anaknya dalam segala kondisi, baik suka duka lara maupun nestapa.

Karena itulah Kakawin Nitīśāstra menyebut tidak ada kasih sayang yang lebih tinggi dari yang dilimpahkan oleh orang tua kepada anaknya: norāna sih manglәwihana sih ikaṅ atanaya.

Kasih sayang orang tua yang demikian tulus, apabila tidak dikendalikan dengan kehati-hatian bukan berarti tanpa konsekuensi. Pustaka Ādiparwa dengan terang menyebutkan dua cerita tentang hal ini dalam kisah Drәṣṭaratta dan Bhagawan Drona. Keduanya diketahui sebagai pemimpin. Drәṣṭaratta adalah pemimpin negara, sedangkan Bhagawan Drona merupakan pemimpin di bidang agama. Keduanya diyakini berhasil memimpin orang banyak, tetapi keliru dalam mendidik seorang anak.

Konsekuensi

Drәṣṭaratta yang terlalu menyayangi Duryoddhana menyebabkannya menghalalkan segala cara agar anaknya itu bisa memegang tampuk kekuasaan tertinggi di Kerajaan Hastina. Bahkan, pada saat Duryodana terbukti bersalah ketika merencanakan pembunuhan kepada Bhīma dengan cara meracuninya, Sang Raja Hastina tidak mau menjatuhkan sanksi apapun untuk menegakkan keadilan. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Drәṣtaratta kala anak-anaknya melakukan pembakaran rumah lak untuk membinasakan seluruh keluarga Pandawa dan Kunti.

Akibat taksanya hukum yang diterapkan oleh Drәṣṭaratta itu, perilaku Duryoddhana semakin tak terkendali. Drupadi yang dijadikan taruhan oleh Panca Pandawa ingin diperkosanya di balai sidang, sedangkan Krisna awatara Wisnu itu dihina ketika menjadi utusan perdamaian, dan puncaknya berbagai perilaku kriminal dilakukan oleh Duryodana untuk memenangkan perang di Kuruksetra.

 Situasi yang tidak berbeda juga dialami oleh Bhagawan Drona. Ia sebagai guru loka juga terjebak pada kasih sayang yang berlebihan kepada anaknya yang bernama Aswatama. Sebagai ayah, Bhagawan Drona merasa ingin memberikan yang terbaik untuk anak semata wayangnya itu akibat penderitaan yang dialami Aswatama ketika ia kecil. Bhagawan Drona dan istrinya nyaris tak pernah mampu memberikan setetes susu ataupun mentega kepada anaknya karena dijerat kemiskinan. Oleh sebab itulah, ia memutuskan untuk menjadi guru di Kerajaan Hastina dengan harapan kualitas dan kesejahteraan hidup yang lebih baik.

Namun sayang, di masa pembelajaran tersebut Aswatama justru lebih banyak bergaul dengan Korawa sehingga tabiat buruk Korawa juga menyusup ke dalam liang hatinya. Hal inilah yang menyebabkan Bhagawan Drona dibujuk oleh Aswatama untuk berpihak pada Korawa ketika perang Bharata Yuddha berkecamuk. Ia tak punya pilihan lain atas ancaman anaknya untuk bergabung ke pihak Korawa. Akibatnya, Guru Drona yang tahu bahwa kebenaran menyala di ujung-ujung panah Pandawa tidak bisa ikut membesarkan cahaya itu. Guru Drona memberikan restu pada kemenangan Arjuna, meski raganya ada di pihak Korawa.

Kakawin Nitīśāstra

Kisah Drәṣṭaratta dan Bhagawan Drona di atas menitipkan pesan bahwa pemberian kasih sayang yang tidak didasari kewaspadaan justru menyebabkan keduanya jatuh pada kesengsaraan. Berbagai situasi tentu dapat mendorong seseorang untuk melimpahkan kasih sayang yang tanpa kendali kepada anaknya, meski tanpa disadari pujian yang terlalu banyak tak membuat anak tahan terhadap ujian kehidupan. Sampai di titik ini, seni melimpahkan kasih dengan cara dan waktu yang tepat perlu dipelajari oleh setiap insan yang bertugas menjadi orang tua.

Pustaka Kakawin Nitīśāstra tampaknya memberikan peta jalan untuk ke luar dari labirin kelindan kompleks hubungan antara orang tua dan anak ini. Karya sastra ini menunjukkan waktu dan cara terbaik untuk mengasuh sekaligus mengasah kemampuan anak sesuai dengan tingkat umurnya.

Karya sastra yang dalam tradisi Bali diyakini ditulis oleh Dang Hyang Nirartha ini menyatakan bahwa: anak yang sudah berumur lima tahun mesti disayangi seperti seorang anak raja (tiŋkahiŋ sutta śaśāṇa kadi rāja tanaya ri huwusiṅ limaṅ tahun). Ketika sudah berumur tujuh tahun, ia diperlakukan seperti pelayan (sāpṭa warṣā wara hulun). Lalu ketika anak sudah berumur sepuluh tahun, ia harus diajari aksara (sapuluhiŋ tahun nikā hurukĕnaŋ akṣarā). Setelah umurnya bertambah menjadi enam belas, anak dijadikan sahabat dengan kehati-hatian tinggi dalam menetapkan hukuman kepadanya (yapwan ṣodaśāwarṣā tulya wara mitrā tinahat-tahat dentā miḍaṇḍā). Demikian pula, ketika anak sudah berkeluarga dan memiliki keturunan, ia wajib dinasihati hanya menggunakan tanda-tanda oleh orang tuanya (yan wuṣ putrā sūputra tiṅhalana solah irā hurukniŋ nayeŋ gittha).

Bertitik tolak dari penjelasan di atas, karya sastra Kakawin Nitīśāstra mengajak kita untuk menyadari bahwa seorang anak tidak saja bertumbuh dari segi usia, tetapi juga bertambah dari segi pengetahuan dan pengalaman hidupnya. Oleh sebab itu, orang tua mesti memperlakukan anaknya dengan sikap yang berbeda dalam setiap jenjang umurnya. Perlakuan seperti rāja tanaya‘pangeran’ atau ‘putri’ wajib diusahakan ketika usia anak lebih dari lima tahun. Dalam situasi ini seorang anak memang sedang membutuhkan kasih sayang yang penuh dari orang tuanya. Maka berbagai keinginannya biasanya akan dituruti oleh orang tua sesuai batas kemampuannya.

Setelah anak berusia tujuh tahun, cara memperlakukan anak seperti pangeran atau putri raja harus dihentikan. Kakawin Nitīśāstra menyarankan agar ia dididik seperti seorang warahulunatau pelayan. Pada masa ini, seorang anak mulai dibiasakan mengikuti berbagai disiplin diri di tingkat keluarga. Ia diajarkan untuk seaktif-aktifnya untuk menyerap berbagai laku baik orang tua dan lingkungan terdekatnya. Ketika masa agraris dulu, anak yang biasa diajak untuk mengolah sawah pasti menjadi petani yang mampu hidup dari tanah di masa dewasanya. Demikian pula seorang anak yang terbiasa diajak untuk membantu orang tuanya di laut. Kelak ketika dewasa, ia akan menjadikan ombak sebagai sahabat yang membantunya untuk memindahkan ikan dari samudra hingga sampai di meja makan orang-orang yang hidup darat.

Selanjutnya, ketika usia anak menginjak umur sepuluh tahun, aktivitas literasi mesti ditanamkan. Pustaka Kakawin Nitīśāstra menyarankan agar anak mulai hurukĕnaŋ akṣarā atau diajari aksara. Dengan mempelajari berbagai tanda-tanda grafis itu, seorang anak diharapkan dapat mengakses berbagai pengetahuan tertulis. Kemampuan menulis yang sekaligus berhubungan erat dengan membaca ini pasti menjadi gerbang baginya untuk membuka dunia dan cakrawala pengetahuan yang lebih luas, baik di hulu masa lalu maupun masa yang akan datang. Kemampuan membaca aksara, akan membuatnya tidak buta dalam hal pengetahuan.

Lalu setelah anak berada di tangga umur enam belas tahun, Kakawin Nitīśāstra menyarankan agar anak diperlakukan sebagai wara mitrā‘sahabat’. Kenapa demikian? Karena pada masa krusial ini seorang anak sudah mulai beranjak dewasa. Dengan menjadikannya sebagai sahabat, anak akan lebih cenderung terbuka untuk menyampaikan berbagai tantangan hidup yang tengah dihadapinya kepada orang tuanya, terutama dalam hal cita-cita dan cinta. Keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak dalam masa transisi ini menjadi sangat penting agar anak tidak mencari pelarian keluar dari pagar-pagar yang telah ditetapkan oleh orang tuanya.

Terakhir, ketika seorang anak sudah berkeluarga dan memiliki keturunan, Kakawin Nitīśāstra menyarankan agar orang tua memberikan kepercayaan kepada anaknya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama keluarga kecilnya sendiri. Orang tua mesti sadar dengan sepenuh hati untuk menarik diri dari kehidupan pribadi anaknya. Ia tak boleh lagi mengintervensi anak yang tengah berusaha menata dan meniti kehidupan barunya. Kalau seorang anak melakukan kekeliruan, ia cukup menasihatinya dengan memberikan tanda secara tidak langsung atau hanya mengandalkan nayeng gita. Dengan demikian anak akan memiliki ketangguhan dan keteguhan dalam menapaki tangga-tangga kehidupan untuk kelak diajarkan lagi kepada keturunannya.

Demikianlah Kakawin Nitīśāstra memberikan kita peta kognitif tentang momentum-momentum terbaik dan seni mendidik anak sesuai dengan tingkat umurnya. Waktu dan cara yang tepat ini penting disadari oleh orang tua agar anaknya kelak tumbuh menjadi pribadi yang matang dari segi fisik, mental, dan spiritual. Kematangan pendidikan anak dalam setiap jengkal perkembangannya juga akan menentukan bagaimana sikap anak dalam memperlukan orang tuanya di kala mereka sudah memasuki usia senja kelak.

Ketika tubuh orang tuanya sudah merenta, pikirannya tak lagi tajam, dan hidupnya secara penuh sudah digantungkan kepada anak, maka pada saat itulah ia akan memetik hasil dari buah kesabarannya dalam mengasuh dan mengasah anak dengan penuh kasih. [T]

Paris, 27 Mei 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa
Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung
Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan
Tags: anak-anakkakawinKakawin Nitisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budaya Kolektif dalam Duka

Next Post

Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co