23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengharapkan Peran Serta Anak Muda untuk Mengembalikan Vitalitas Pusat Kota Denpasar

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
May 15, 2025
in Esai
Mengharapkan Peran Serta Anak Muda untuk Mengembalikan Vitalitas Pusat Kota Denpasar

Rebranding Suci Plaza menjadi Graha Yowana Suci

SIANG terik, sembari menunggu anak yang sedang latihan menari tradisional untuk pentas sekolahnya, saya mampir di Graha Yowana Suci. Ini tempat yang dahulu sempat menjadi salah satu nodes penting di Kota Denpasar tahun 1980-an. Bersama dengan Terminal Gunung Agung di barat, Terminal Ubung di utara, Sanglah di selatan dan Kereneng di timur, ia membentuk jejaring transportasi publik paling padat yang menghubungkan titik barat, utara, selatan dan timur Kota Denpasar. Tidak mengherankan jika dahulu tempat ini merupakan salah satu pusat gaya hidup masyarakat Denpasar bahkan Bali.

Sebagai pusat gaya hidup, kawasan di sekitar Suci ini tumbuh dengan berbagai toko fashion dan kebutuhan lainnya untuk anak muda. Selain itu, posisinya yang dekat dengan Pasar Badung, salah satu pusat perbelanjaan tradisional terbesar masa itu, juga membuatnya berperan penting bagi pertumbuhan ekonomi kota secara umum. Hal ini memancing ide baru untuk mengubahnya menjadi sebuah pusat perbelanjaan dengan harapan akan membawa keuntungan lebih besar.

Perkembangan pariwisata yang menjauh dari pusat kota menuju pinggiran, terutama wilayah-wilayah pantai, membuat pusat kota perlahan kehilangan pamor sebagai nerve centre aktivitas penduduk. Pertumbuhan bisnis jasa untuk wisatawan juga membuat terjadinya shifting tenaga kerja dari jasa tradisional menjadi pelayanan yang berfokus pada wisatawan. Ini menyebabkan pusat-pusat ekonomi tradisional mulai kehilangan pendukungnya. Pusat-pusat ekonomi baru yang berpusat pada aktivitas pariwisata tumbuh di tempat-tempat baru. Akibatnya, perkembangan di pusat kota lama mengendur. Dalam tata ruang, ini membentuk pola seperti donat, dimana kawasan pinggiran lebih padat dibandingkan kawasan di tengah yang kehilangan vitalitasnya. Bangunan pusat perbelanjaan yang disebut sebagai Suci Plaza gagal bersinar.

Konsekuensi lain dari pola perkembangan kota ini adalah naiknya layanan jasa transportasi yang bisa di-custom, yang mengantarkan penumpang tanpa rute tertentu.  Ini membuat jasa layanan transportasi publik berbasis terminal meredup. Tidak hanya di Denpasar, tetapi fenomena ini terjadi di seluruh Bali. Belakangan, terminal-terminal berubah fungsi menjadi pasar senggol. Para penggunanya sudah beralih menggunakan transportasi pribadi yang dianggap lebih efisien karena bisa manjangkau kawasan-kawasan kota yang terus meluas dengan jarak yang semakin jauh dari pusat.

Suci, yang merupakan salah satu terminal penting masa lalu dan berubah menjadi pusat perbelanjaan modern, mati suri. Hal yang sama juga terjadi dengan aktivitas ekonominya yang ikut meredup  Bukan hanya Suci, tetapi nyaris seluruh kawasan di pusat Kota Denpasar mengalami penurunan performa ekonomi. Sepanjang Jalan Gajah Mada banyak toko-toko yang tutup.

Pandemi Covid-19 nampaknya memberi kita pelajaran bahwa hanya bergantung pada pariwisata sangat berbahaya bagi ekonomi. Bali yang mati suri saat terjadi isolasi wilayah mendapat pengalaman penting bahwa ekonomi yang hanya bertumpu pada satu sumber saja sangat berbahaya. Turis yang dianggap sebagai kelompok konsumen dominan tidak datang selama pandemi. Saat satu-satunya mesin ekonomi tersebut lumpuh, maka semua sendi kehidupan juga ikut tidak bekerja.

Aktivitas di dalam Graha Yowana Suci didominasi pelaku anak muda | Foto: Gede Maha Putra

Pasca pandemi, bisnis-bisnis baru yang tidak menempatkan turis sebagai satu-satunya konsumen bermunculan. Salah satu wujudnya adalah industri kuliner yang kini tumbuh subur. Denpasar, yang menjadi pusat kehidupan anak muda di Bali berkat konsentrasi fasilitas pendidikan: universitas-universitas dan sekolah-sekolah menengah terbaik yang ada di dalamnya, memiliki populasi kaum urban lokal yang tinggi. Mereka ini adalah pelaku sekaligus pasar bagi bisnis baru.

Kebangkitan bisnis baru ini, secara sekilas, nampak mengembalikan peranan pusat kota sebagai arena pengembangan ekonomi. Fenomena ini terjadi secara bottom–up, berasal dari ide dan inisiasi yang melibatkan komunitas-komunitas di masyarakat. Lebih menarik lagi, para pemilik dan inisiatornya adalah anak-anak muda. Seperti di bekas bangunan pusat perbelanjaan Suci.

Bangunan yang sudah lama terbengkalai kini nampak hidup lagi. Pemerintah memiliki peran krusial dalam upaya memanfaatkan ulang bangunan ini dengan mengundang proposal dari pelaku bisnis. Branding baru yang lebih berkesan anak muda diciptakan dari Suci Plaza menjadi Graha Yowana Suci. Strateginya adalah mengajak masyarakat untuk mengusulkan fungsi yang akan diisi. Usulan-usulan tersebut dikurasi dan ide-ide bisnis yang menarik serta potensial diberikan ruang untuk membuka usaha. Di dalam gedung, saat ini kita menjumpai beberapa bisnis yang mulai berjalan baik. Sore hingga malam hari, anak-anak muda konsumen berbagai usaha yang ada disana berdatangan membuat kawasan menjadi hidup.

Ide incremental ini cukup menarik karena, alih-alih membuka semua usaha secara serentak, pemerintah justru membiarkan bisnis-bisnis tumbuh secara alamiah. Meskipun nampaknya ada kekosongan di sana sini, setidaknya pembangunan dengan pola inkremental ini memberi  peluang setiap pelaku usaha untuk melihat dan melakukan evaluasi terhadap bisnisnya. Hal ini justru bisa membuat usahanya menjadi lebih sustainable. Ini disebabkan karena masyarakat-lah yang memegang kendali atas sukses atau tidaknya kawasan ini. Istilah kerennya adalah community-led development.

Adaptasi bangunan lama agar bisa memenuhi tuntutan fungsi baru menjadi harapan menghidupkan pusat kota lama | Foto: Gede Maha Putra

Dalam pola pembangunan yang berbasis pada komunitas ini, partisipasi masyarakat dalam membangun kota mendapatkan tempat yang memadai. Pembangunan semacam ini membuat ruang-ruang kota menjadi lebih inklusif karena peluang diberikan kepada siapa saja sepanjang mereka memiliki ide yang baik. Pemerintah tinggal menyiapkan ruang-ruang untuk usaha dan memilih jenis usaha yang sesuai. Karena ruang dan bangunannya sudah ada, pengembangan Bangunan Suci ini juga relative menjadi ‘murah’. Perbaikan-perbaikan, baik atas ide bisnis ataupun fasilitas pendukungnya, bisa dilaksanakan dalam skala kecil-kecil dan bertahap sehingga hal ini juga bisa mengakali keterbatasan anggaran.

Satu hal penting lain dari pola pembangunan dimana masyarakat terlibat secara aktif dalam pola bottom-up planning ini adalah munculnya rasa memiliki atau sense of belonging. Kualitas ini bisa menciptakan ruang-ruang yang vibrant, berfokus pada manusia dan pengguna dimana mereka memiliki ruang ekspresi yang leluasa. Pelibatan komunitas ini bisa menjadi sumber terbentuknya identitas lokal baru yang lahir dari konstruksi sosial baru.

Apa yang terjadi di bangunan Suci bukan satu-satunya fenomena menarik yang terjadi di pusat Kota Denpasar. Di sepanjang Jalan Gajah Mada kini juga bermunculan beberapa coffee shop yang, buat saya, memiliki desain yang unik. Mereka menempati ruko-ruko peninggalan lama yang sempat terbengkalai. Pemanfaatan ulang yang adaptif ini menghemat banyak hal. Tidak dibutuhkan lahan baru sehingga menghindari alih fungsi. Selanjutnya, tidak dibutuhkan pembangunan besar-besaran baru sehingga bisa mengurangi jejak karbon karena hanya membutuhkan adaptasi-adaptasi kecil untuk menyesuaikan dengan fungsi barunya sebagai sebuah kedai.

Bergerak di Jalan Gajah Mada lebih ke timur lalu berbelok ke utara dari Patung Catur Muka, kita menjumpai lebih banyak lagi kedai-kedai serupa di Jalan Veteran. Isinya, anak-anak muda dengan berbagai aktivitasnya. Ada yang membuka laptop, bercengkerama, mencorat-coret di atas kertas dan aktivitas lainnya. Di tempat lain, dengan radius 400 meter dari Patung Catur Muka kita mudah menjumpai kedai, restaurant, atau warung milik anak muda dengan aneka sajian, utamanya berbagai olahan kopi. Ada pula olahan makanan. Sebagian besar adalah jenis makanan atau minuman baru.

Ini mengingatkan kita pada masa lalu, dimana kawasan pusat kota menyajikan hal-hal terbaik: warung babi guling terbaik, hidangan Chinese food paling enak, dagang es rasa paling nikmat dan hal-hal baik lainnya. Semua sempat hilang. Kini berganti dengan vibrasi baru anak muda yang sekarang turut berpartisipasi dalam mengembalikan vitalitas kota dengan menghembuskan vibrasi baru.

Toko buku yang dikelola anak muda di Graha Yowana Suci yang dipenuhi anak-anak muda | Foto: Juli Sastrawan

Vibrasi ini menjadi gelombang baru kebangkitan kawasan pusat Kota Denpasar yang dahulu sempat berjaya lalu meredup. Hal yang menggembirakan adalah peran aktif anak-anak muda dalam proses kebangkitan ini sehingga kita bisa berharap bahwa ini akan membuat masa depan pusat kota menjadi cerah.

Tentu saja tidak semuanya berjalan sempurna, masih ada hal-hal yang bisa kita harapkan lebih baik lagi. Misalnya saja, bagi saya, reklame elektronik besar di Suci cukup mengganggu secara visual. Ini bisa mempengaruhi proses konstruksi identitas baru yang sedang berlangsung di halaman-haaman gedung. Kita tentu memaklumi bahwa reklame adalah salah satu sumber pendapatan daerah, tetapi penempatannya tepat di lokasi yang sedang berusaha untuk membangun identitas baru bisa menjadi ‘gangguan‘.

Berikutnya adalah jenis bisnis yang sedang berlangsung. Meskipun kopi mejadi titik balik bagi kebangkitan ini, dominasinya bisa mengurangi kekayaan pengalaman pengguna ruang. Di masa depan, kita mungkin akan lebih bahagia jika melihat ada anak-anak muda yang juga berjualan sayuran, obat-obat tradisional, atau kebutuhan sehari-hari. Tentunya dengan gaya anak muda. Sama seperti kedai kopi yang sebetulnya bukan hal baru tetapi menjadi menarik karena mendapat sentuhan anak muda.

Festival-festival kecil dengan melibatkan anak-anak muda dalam interval beberapa waktu bisa juga diinisiasi. Kerjasama dengan komunitas seni bisa dilaksanakan untuk menciptakan kerumunan, sesuatu yang selama ini hilang dan hanya muncul di festival akhir tahun saja. Jika hal-hal tersebut terjadi, maka kita bisa membayangkan bahwa kawasan pusat Kota Denpasar akan bangkit lagi sebagai pusat aktivitas anak muda. Menarik untuk kita tunggu dan lihat geliat pembangunan berbasis komunitas dengan pemerintah sebagai fasilitatornya ini.

Cukup? Tentu tidak, manusia tidak pernah merasa cukup. Jika masih bisa berharap, tentunya kita menginginkan trasnportasi publik bisa hidup lagi. Ini akan mengurangi kebutuhan atas lahan parkir sehingga ruang kota lebih banyak diperuntukkan untuk manusia. Hal ini juga bisa mengurangi jumlah kendaraan yang ada di jalanan sehingga mengurangi kemacetan dan polusi udara yang ditimbulkan olehnya. Jalan-jalan bisa diklaim ulang oleh manusia, si pencipta kota yang telah menyerahkan ruang yang diciptakannya untuk kendaraan. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Transformasi Ubud: Gambaran Daerah Lain di Bali yang Juga Bergerak ke Arah Serupa
Meningkatnya Individualism yang Mengalahkan Nilai Komunalisme Arsitektur di Bali Hari Ini
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik
Tags: anak mudaarsitekturekonomi kreatifKafe Anak MudaKota Denpasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Next Post

‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan

‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co