25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Embun dan Senjakala Pertanian Bali: Dilema Generasi dan Jejak Penanam Terakhir

Teguh Wahyu Pranata by Teguh Wahyu Pranata
May 7, 2025
in Esai
Di Balik Embun dan Senjakala Pertanian Bali: Dilema Generasi dan Jejak Penanam Terakhir

Menanam padi | Foto: Teguh Pranata

PAGI-pagi sekali, pada pertengahan April menjelang Hari Raya Galungan, saya bersama Bapak dan Paman melakukan sesuatu yang bagi saya sangat asyik; ngabut bulih (mencabut bibit padi yang siap tanam). Hawa dingin daerah Bangli seakan menyayat tulang.

Di antara balutan embun pagi kami mendiskusikan isu pertanian masa kini, salah stunya tentang mahalnya biaya yang dikeluarkan petani untuk bertani dan ketidakpastian nasib menjadi seorang petani.

”Saatang ragane, Ngah, wak sing ngelah tongos kene!” ujar Paman.  Usahakan dirimu, Nak, orang tidak punya tempat begini.

Artinya, sebagai seorang fresh graduate, saya dimintanya untuk mencari kerja lain ketimbang mengolah lahan pertanian.

Sebagai seorang petani berusia berlian, Paman justru melarang anak cucunya untuk menjadikan bertani sebagai profesi. Alasannya tidak jauh dari kepemilikan lahan yang terbatas; hasil panen yang tidak sepadan dengan waktu dan biaya yang dikeluarkan; juga tentang ketidak relevanan profesi petani di era gempuran pariwisata dan pembangunan.

Kegiatan bertani dan menanam padi hanya disarankan bagi mereka yang memiliki lahan luas, juga bagi pegawai tetap yang ingin mencari selingan. Sementara bagi mereka yang tidak punya banyak lahan dan bukan pegawai tetap yang cari selingan, justru lebih memilih mencari pekerjaan lain, selain petani.  Sebagian kecil lagi memilih untuk menjual atau menyewakan lahan pertanian miliknya.

Jadi, mereka membiarkan subak-subak berubah menjadi villa. Sungguh ironi mengingat pertanian turut menyokong doktrin pariwisata budaya yang digaungkan sejak tahun 1970-an.

Petani, subak, dan lumbung padi menjadi bagian tak terpisahkan dari citra pariwisata Bali yang eksotik nan harmoni. Namun ketika pembaca bertanya apakah para petani memiliki taraf hidup yang layak, dan apakah mengelola lahan pertanian lebih menguntungkan ketimbang menukarnya dengan harga sewa, jawabannya seringkali dalam konotasi negatif. Semua itu kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi kelangsungan pertanian dan regenerasi petani Bali.

***

Pada hari yang sama, sekitar pukul 9:30 pagi, dua orang pria lanjut usia datang dari arah utara. Mereka adalah I Wayan Lembian (76) dan I Nengah Karya (72), tukang memula (buruh penanam padi) yang dipanggil oleh Bapak dan Paman. Mereka termasuk tukang tanam padi paling senior yang kini masih bertahan dengan pekerjaannya.

I Wayan Lembian (76) dengan bangga menjelaskan kisah awalnya menjadi tenaga penanam padi. Semua dimulai pada pertengahan tahun 1960-an ketika dirinya bekerja sebagai tenaga pertanian di Tabanan.

”Cang dugas amen ragane nak be biase menek, acepoke nang selae bakat ben ngalih. Pidan uling suud gestoke ke Menek ngalih gae. Dadi tukang penek, tukang memula, tukang manyi. Nak ajak onyang kemu jaman to.”

Artinya, ”Saya waktu seumuran kamu itu sudah biasa naik (kelapa) sekali naik bisa sekitar dua puluh lima butir dapat. Sejak setelah Gestok sudah ke Menek (Tabanan) bekerja. Jadi pencari kelapa, tukang tanam, tukang panen. Semua orang ke sana jaman itu.”

Sementara itu I Nengah Karya (72) sedikit lebih junior ketimbang rekannya. Ia baru mulai menjadi tukang tanam padi pada tahun 1970-an. Kala itu, Karya juga pergi ke Tabanan untuk bekerja sebagai tenaga pertanian. Meninggalkan rumah, istri, dan anaknya.

”Yen we dorinan kemu, tahun 1970an, I Murtiasa be ade dugas to. Patuh masih dadi tukang di uma, tukang memula. Megenep je gaene jemak masih.”

Aerinya, “Kalau Paman belakangan ke sana (Tabanan), tahun 1970-an, Si Murtiasa (Anak Karya) sudah lahir waktu itu. Sama juga menjadi pekerja di sawah, tukang tanam. Berbagai pekerjaan (lain) diambil juga.”

Singkat cerita, keduanya kemudian bekerja sebagai tukang tanam padi di desa sepulang dari Menek, Tabanan. Di usia senjanya mereka masih menjadi tukang memula yang sangat diandalkan oleh para petani setempat. Setiap musim tanam, keduanya selalu mendapatkan ”orderan” untuk menanam padi, menjadi langganan bagi para petani.

Menariknya, jika ditelusuri, jumlah tukang memula di desa saya sangatlah minim. Mereka juga merupakan orang-orang lanjut usia yang memang sudah bekerja pada bidang ini sejak lama. Bukan tenaga-tenaga baru atau hasil regenerasi. Dalam hal ini kelangkaan tukang memula kemudian menjadi isu kecil dengan masalah besar dibelakangnya.

Tukang memula yang menipis menjadi domino kecil yang siap meruntuhkan sesuatu yang lebih besar di depannya. Mereka adalah pilar-pilar penting, ya, jarang disorot. Pekerja-pekerja senior yang belum menemukan sosok pengganti.

Sementara Sekaa Manyi (kelompok pemanen padi) masih memiliki anggota-anggota yang lebih muda, dan tukang traktor lebih identik dengan tenaga-tenaga berusia produktif, tukang memula justru masih terdiri dari veteran-veteran yang masih bertahan.

Selain itu, ketika para pemanen padi telah menggunakan teknologi dores, dan para pembajak sawah lebih memilih traktor ketimbang sapi, belum ada alih teknologi untuk tukang memula di Bali.

Dalam hal ini, alih teknologi untuk kegiatan menanam padi di Bali menjadi pr yang harus dikerjakan. Sebagai alternatif, kerjasama antar petani dan anggota subak juga sangat diperlukan. Subak perlu membangun sekaa tanam untuk mempertahankan eksistensi tenaga penanam padi.

Peran pemerintah juga sangat penting, kebijakan yang dibuat agaknya dapat menjawab berbagai permasalahan dalam setiap aspek pertanian. Industri pariwisata perlu diarahkan sejalan dengan pertanian, pun sebaliknya. Isu pertanian dan masalah petani sudah sepatutnya menjadi sorotan, bukan hanya janji pengulangan dalam pesta lima tahunan.

Program-program pertanian yang telah digaungkan seperti Program Petani Milenial, subsidi pupuk, hingga yang terbaru: belajar bertani di Israel perlu dikawal dan diimplementasikan dengan serius. Permasalahan pertanian dari yang paling general seperti regenerasi petani dan ketimpangan hasil, hingga yang lebih spesifik seperti krisis tukang memula adalah PR bersama bagi seluruh lapisan di Bali. PR dari kita semua agar bertani tetap relevan diantara hiruk piruk pariwisata Bali. [T]

Penulis: Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Edi Juliana, Pemuda Pelopor Wakil Bali, Pemuda Tamblingan yang Tak Bosan Urus Pertanian
Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian
“Kerta Masa” dari Penggak Men Mersi: Pertanian Adalah Ibu Kebudayaan Bali
Tags: pertanianpertanian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HINDU MEMBACA KALIMAT SYAHADAT

Next Post

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Teguh Wahyu Pranata

Teguh Wahyu Pranata

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co