12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Embun dan Senjakala Pertanian Bali: Dilema Generasi dan Jejak Penanam Terakhir

Teguh Wahyu Pranata, by Teguh Wahyu Pranata,
May 7, 2025
in Esai
Di Balik Embun dan Senjakala Pertanian Bali: Dilema Generasi dan Jejak Penanam Terakhir

Menanam padi | Foto: Teguh Pranata

PAGI-pagi sekali, pada pertengahan April menjelang Hari Raya Galungan, saya bersama Bapak dan Paman melakukan sesuatu yang bagi saya sangat asyik; ngabut bulih (mencabut bibit padi yang siap tanam). Hawa dingin daerah Bangli seakan menyayat tulang.

Di antara balutan embun pagi kami mendiskusikan isu pertanian masa kini, salah stunya tentang mahalnya biaya yang dikeluarkan petani untuk bertani dan ketidakpastian nasib menjadi seorang petani.

”Saatang ragane, Ngah, wak sing ngelah tongos kene!” ujar Paman.  Usahakan dirimu, Nak, orang tidak punya tempat begini.

Artinya, sebagai seorang fresh graduate, saya dimintanya untuk mencari kerja lain ketimbang mengolah lahan pertanian.

Sebagai seorang petani berusia berlian, Paman justru melarang anak cucunya untuk menjadikan bertani sebagai profesi. Alasannya tidak jauh dari kepemilikan lahan yang terbatas; hasil panen yang tidak sepadan dengan waktu dan biaya yang dikeluarkan; juga tentang ketidak relevanan profesi petani di era gempuran pariwisata dan pembangunan.

Kegiatan bertani dan menanam padi hanya disarankan bagi mereka yang memiliki lahan luas, juga bagi pegawai tetap yang ingin mencari selingan. Sementara bagi mereka yang tidak punya banyak lahan dan bukan pegawai tetap yang cari selingan, justru lebih memilih mencari pekerjaan lain, selain petani.  Sebagian kecil lagi memilih untuk menjual atau menyewakan lahan pertanian miliknya.

Jadi, mereka membiarkan subak-subak berubah menjadi villa. Sungguh ironi mengingat pertanian turut menyokong doktrin pariwisata budaya yang digaungkan sejak tahun 1970-an.

Petani, subak, dan lumbung padi menjadi bagian tak terpisahkan dari citra pariwisata Bali yang eksotik nan harmoni. Namun ketika pembaca bertanya apakah para petani memiliki taraf hidup yang layak, dan apakah mengelola lahan pertanian lebih menguntungkan ketimbang menukarnya dengan harga sewa, jawabannya seringkali dalam konotasi negatif. Semua itu kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi kelangsungan pertanian dan regenerasi petani Bali.

***

Pada hari yang sama, sekitar pukul 9:30 pagi, dua orang pria lanjut usia datang dari arah utara. Mereka adalah I Wayan Lembian (76) dan I Nengah Karya (72), tukang memula (buruh penanam padi) yang dipanggil oleh Bapak dan Paman. Mereka termasuk tukang tanam padi paling senior yang kini masih bertahan dengan pekerjaannya.

I Wayan Lembian (76) dengan bangga menjelaskan kisah awalnya menjadi tenaga penanam padi. Semua dimulai pada pertengahan tahun 1960-an ketika dirinya bekerja sebagai tenaga pertanian di Tabanan.

”Cang dugas amen ragane nak be biase menek, acepoke nang selae bakat ben ngalih. Pidan uling suud gestoke ke Menek ngalih gae. Dadi tukang penek, tukang memula, tukang manyi. Nak ajak onyang kemu jaman to.”

Artinya, ”Saya waktu seumuran kamu itu sudah biasa naik (kelapa) sekali naik bisa sekitar dua puluh lima butir dapat. Sejak setelah Gestok sudah ke Menek (Tabanan) bekerja. Jadi pencari kelapa, tukang tanam, tukang panen. Semua orang ke sana jaman itu.”

Sementara itu I Nengah Karya (72) sedikit lebih junior ketimbang rekannya. Ia baru mulai menjadi tukang tanam padi pada tahun 1970-an. Kala itu, Karya juga pergi ke Tabanan untuk bekerja sebagai tenaga pertanian. Meninggalkan rumah, istri, dan anaknya.

”Yen we dorinan kemu, tahun 1970an, I Murtiasa be ade dugas to. Patuh masih dadi tukang di uma, tukang memula. Megenep je gaene jemak masih.”

Aerinya, “Kalau Paman belakangan ke sana (Tabanan), tahun 1970-an, Si Murtiasa (Anak Karya) sudah lahir waktu itu. Sama juga menjadi pekerja di sawah, tukang tanam. Berbagai pekerjaan (lain) diambil juga.”

Singkat cerita, keduanya kemudian bekerja sebagai tukang tanam padi di desa sepulang dari Menek, Tabanan. Di usia senjanya mereka masih menjadi tukang memula yang sangat diandalkan oleh para petani setempat. Setiap musim tanam, keduanya selalu mendapatkan ”orderan” untuk menanam padi, menjadi langganan bagi para petani.

Menariknya, jika ditelusuri, jumlah tukang memula di desa saya sangatlah minim. Mereka juga merupakan orang-orang lanjut usia yang memang sudah bekerja pada bidang ini sejak lama. Bukan tenaga-tenaga baru atau hasil regenerasi. Dalam hal ini kelangkaan tukang memula kemudian menjadi isu kecil dengan masalah besar dibelakangnya.

Tukang memula yang menipis menjadi domino kecil yang siap meruntuhkan sesuatu yang lebih besar di depannya. Mereka adalah pilar-pilar penting, ya, jarang disorot. Pekerja-pekerja senior yang belum menemukan sosok pengganti.

Sementara Sekaa Manyi (kelompok pemanen padi) masih memiliki anggota-anggota yang lebih muda, dan tukang traktor lebih identik dengan tenaga-tenaga berusia produktif, tukang memula justru masih terdiri dari veteran-veteran yang masih bertahan.

Selain itu, ketika para pemanen padi telah menggunakan teknologi dores, dan para pembajak sawah lebih memilih traktor ketimbang sapi, belum ada alih teknologi untuk tukang memula di Bali.

Dalam hal ini, alih teknologi untuk kegiatan menanam padi di Bali menjadi pr yang harus dikerjakan. Sebagai alternatif, kerjasama antar petani dan anggota subak juga sangat diperlukan. Subak perlu membangun sekaa tanam untuk mempertahankan eksistensi tenaga penanam padi.

Peran pemerintah juga sangat penting, kebijakan yang dibuat agaknya dapat menjawab berbagai permasalahan dalam setiap aspek pertanian. Industri pariwisata perlu diarahkan sejalan dengan pertanian, pun sebaliknya. Isu pertanian dan masalah petani sudah sepatutnya menjadi sorotan, bukan hanya janji pengulangan dalam pesta lima tahunan.

Program-program pertanian yang telah digaungkan seperti Program Petani Milenial, subsidi pupuk, hingga yang terbaru: belajar bertani di Israel perlu dikawal dan diimplementasikan dengan serius. Permasalahan pertanian dari yang paling general seperti regenerasi petani dan ketimpangan hasil, hingga yang lebih spesifik seperti krisis tukang memula adalah PR bersama bagi seluruh lapisan di Bali. PR dari kita semua agar bertani tetap relevan diantara hiruk piruk pariwisata Bali. [T]

Penulis: Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Edi Juliana, Pemuda Pelopor Wakil Bali, Pemuda Tamblingan yang Tak Bosan Urus Pertanian
Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian
“Kerta Masa” dari Penggak Men Mersi: Pertanian Adalah Ibu Kebudayaan Bali
Tags: pertanianpertanian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HINDU MEMBACA KALIMAT SYAHADAT

Next Post

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Teguh Wahyu Pranata,

Teguh Wahyu Pranata,

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co