22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong

Chusmeru by Chusmeru
May 1, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

NAMANYA Dodot Widiono. Dosen mata kuliah Komunikasi Tradisional yang sudah lebih dari 30 tahun mengabdi sebagai pengajar di perguruan tinggi. Mata kuliah itu sudah diampunya sejak lama, karena memang sulit mencari dosen yang berminat mengajar bidang kajian komunikasi tradisional.

Di banyak perguruan tinggi, mata kuliah ini sudah tidak diajarkan lagi. Atau bahkan banyak perguruan tinggi yang tidak mencantumkan mata kuliah ini dalam kurikulum mereka. Alasannya sangat sederhana. Mata kuliah Komunikasi Tradisional sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.

Namun di tangan Dodot Widiono, mata kuliah Komunikasi Tradisional menjadi menarik bagi mahasiswa. Meski perkembangan media digital begitu pesat, antusias mahasiswa untuk mempelajari tradisi masih tinggi. Itu lantaran Dodot berhasil menjelaskan dan mengaplikasikan tradisi dalam konteks kekinian.

Sumber bacaan Dodot dalam menjelaskan komunikasi tradisional tidak terlalu muluk. Apalagi literatur tentang komunikasi dan tradisi masih sulit dicari. Oleh karenanya Dodot mengunakan Primbon Jawa sebagai sumber bacaan kuliah.  Primbon Jawa sudah menjadi referensi nenek moyang sejak dulu. Segala macam urusan tradisi, baik yang berkaitan dengan kehidupan, kelahiran, pernikahan, dan kematian dapat disimak dalam Primbon Jawa.

Salah satu pokok bahasan yang menarik mahasiswa adalah ilmu katuranggan yang disampaikan Dodot. Katuranggan adalah ilmu dalam masyarakat Jawa yang mempelajari ekspresi nonverbal, gerak tubuh, dan bentuk tubuh seseorang dikaitkan dengan kecenderungan perilakunya. Misalnya saja, perempuan yang berjalan seperti blarak sempal (daun kelapa jatuh) memiliki pribadi yang sabar dan anggun.

Tak kalah menarik yang disampaikan Dodot di kelas adalah tentang khodam. Dalam pandangannya, khodam sesungguhnya adalah entitas selain tubuh manusia yang terhubung dengan seseorang. Khodam dalam perspektif Jawa hampir mirip dengan yang disebut sedulur papat lima pancer. Konsepsi Jawa tentang hal itu berkaitan dengan empat “saudara” yang mendiami tubuh seseorang.

Sedulur papat lima pancer terdiri dari adi ari-ari atau plasenta, puser atau tali plasenta, kakang kawah atau air ketuban, dan getih atau darah. Keempat “saudara” manusia itu menyatu dalam pancer atau diri sendiri. Semuanya itu dipercaya yang akan melindungi perjalanan hidup manusia.

Sementara itu, khodam adalah semacam makhluk gaib yang juga dipercaya melindungi seseorang. Ia berada di dalam maupun di sisi tubuh manusia. Khodam bisa berasal dari manifestasi empat “saudara”, leluhur, maupun trah seseorang di masa lalu. Untuk mengetahui siapa khodam seseorang dapat dilakukan penelusurannya melalui cek khodam. Inilah daya tarik mata kuliah Komunikasi Tradisional yang membuat mahasiswa penasaran dan ingin dicek khodamnya.

***

Dodot Widiono menjelaskan kepada mahasiswa, bahwa sesungguhnya setiap orang memiliki khodam. Banyak orang yang tidak mengetahui khodamnya. Namun dengan ritual tertentu, orang dapat mengenali khodamnya. Dodot pun menawarkan kepada mahasiswa, apakah ada yang berniat untuk dicek khodamnya.

Tentu saja tawaran Dodot disambut antusias mahasiswa. Apalagi belakangan ini viral di media sosial tentang cek khodam secara online. Bahkan ada lagu berjudul Cek Khodam yang dinyanyikan oleh artis Anwar BAB. Kebanyakan mahasiswa penasaran ingin mengetahui apa dan siapa khodam mereka.

Ada empat syarat yang disampaikan Dodot agar mahasiswa dapat terbaca khodamnya. Pertama ia harus menuliskan tanggal, hari, dan weton kelahirannya. Kedua, nama kedua orang tuanya; untuk melacak leluhur seseorang. Ketiga, sebelum cek khodam mahasiswa harus mandi keramas. Keempat, tidak boleh makan unsur daging dan telor menjelang cek khodam.

Dodot menjelaskan alasan syarat-syarat tersebut. Cek khodam itu ibarat orang akan masuk laboratorium untuk rontgen. Kondisi tubuh harus bersih agar tampak jelas khodamnya. Unsur telor dan daging yang dimakan akan membuat khodam tidak tampak, ibarat foto rontgen menjadi kabur.

Sebagai media untuk memanggil dan berkomunikasi dengan khodam seseorang, Dodot akan membakar dupa merah lima buah. Asap dupa yang mengepul akan menjadi media dan mengirimkan sinyal kepada khodam yang hidup di alam lain.

Beberapa mahasiswa sudah mendaftar untuk cek khodam, baik yang laki-laki maupun perempuan. Suasana mulai agak menegangkan ketika Dodot membakar dupa merah di dalam kelas. Aroma cendana yang keluar dari asap dupa menimbulkan kesan magis. Mulut Dodot komat-kamit membaca mantra yang berisi pesan untuk memanggil roh leluhur para mahasiswa.

Urutan pertama mahasiswa yang akan dicek khodam adalah Septio Permana. Ia duduk di depan kelas menghadap ke arah Dodot yang hari itu menggunakan ikat kepala hitam khas daerah Banyumas, Jawa Tengah. Dodot bertanya apakah Septio sudah melakukan syarat-syarat cek khodam yang diberikan. Setelah Septio mengiyakan, ritual pemanggilan khodam pun dilaksanakan. Dodot memejamkan mata agak lama.

“Khodam kamu laki-laki, masih ada trah Ki Ageng Giring dari Mataram,” kata Dodot menjelaskan khodam Septio.

Disebut memiliki khodam dari zaman Kerajaan Mataram tentu saja membuat Septio senang.

Giliran berikutnya, Puspita Anggraini. Ia juga ditanyakan tentang syarat-syarat cek khodam. Semua yang disyaratkan Dodot sudah diturutinya. Ia tidak makan daging dan telor sejak malam. Sebelum kuliah ia juga mandi keramas.

Dodot kembali membakar lima dupa merah. Puspita Anggraini menunggu berdebar-debar untuk tahu siapa khodamnya. Awalnya ia hanya iseng. Namun ketika diberitahu Dodot bahwa khodam juga dapat menjadi penjaga diri, maka Puspita memberanikan diri cek khodam.

Dodot memejamkan mata agak lama, seolah ia sedang berkomunikasi dengan leluhur Puspita. Sesekali Dodot memandang wajah Puspita sambil mengibaskan asap dupa dengan tangannya agar dapat menerpa wajahnya.

“Hmmm… bagus… khodam Puspita bernama Hyang Janawati dari Kerajaan Galuh,” kata Dodot.

“Kerajaan Galuh di mana itu, Pak?” tanya Puspita penasaran.

“Di daerah Jawa Barat. Apa orang tuamu yang dari Jawa Barat?” kata Dodot sambil menanyakan leluhur Puspita.

Puspita mengangguk. Neneknya memang berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Ia memiliki darah Sunda dari garis ibunya. Puspita tidak menanyakan lebih jauh khodamnya. Baginya mengetahui khodamnya berhubungan dengan leluhurnya sudah cukup.

Dodot istirahat sejenak. Ia menegak air putih yang dibawa dari rumah. Tenaganya terkuras untuk berkomunikasi dengan khodam mahasiswanya. Kemudian ia memanggil mahasiswa urutan berikutnya untuk dicek khodamnya. Kali ini giliran Aji Sukmono. Seperti yang lain, Dodot menanyakan syarat cek khodam. Aji mengatakan sudah melakukan syarat itu.

Dupa merah kembali dibakar Dodot. Ia konsentrasi untuk memanggil khodam Aji Sukmono. Berkali-kali Dodot memejamkan mata, menahan napas, dan konsentrasi. Namun khodam Aji belum juga muncul dalam pandangan mata batin Dodot. Cukup lama Dodot berkomunikasi di alam gaib, khodam itu tak kunjung datang. Ia mulai curiga. Jangan-jangan ada syarat yang tidak dipenuhi Aji.

Saat Dodot merasa curiga, mendadak terjadi kehebohan di kelas. Muncul sosok pocong laki-laki berbalut kain kafan putih di samping Aji. Wajah pocong itu sangat menyeramkan. Matanya hanya terlihat satu. Mukanya berlumuran darah. Semua mahasiswa menjerit histeris. Dodot buru-buru mematikan dupa. Berbarengan dengan itu, pocong laki-laki seram itu pun lenyap.

“Kamu pasti bohong. Tidak melakukan syarat-syarat cek khodam..!” kata Dodot kesal.

Aji hanya tertunduk ketakutan. Ia memang melanggar syarat cek khodam. Sebelum kuliah ia sarapan nasi gudeg ayam. Padahal untuk cek khodam syaratnya tidak boleh makan unsur daging.

Selanjutnya Dodot memanggil Endah Cahyani untuk dicek khodam. Dodot tidak menanyakan apakah Endah sudah melakukan persyaratan cek khodam. Ia langsung membakar dupa merah untuk memanggil khodam Endah. Dodot juga menghabiskan waktu cukup lama untuk berkomunikasi dengan leluhur Endah.

Kehebohan kembali terjadi. Semua mahasiswa tercekam takut. Pocong perempuan muncul di samping Endah. Pocong itu melompat ke kanan dan ke kiri. Wajahnya lebih menyeramkan dari pocong lali-laki tadi. Hidungnya mengeluarkan darah. Mukanya penuh luka, seolah pocong perempuan itu korban pembunuhan. Bau anyir darah tercium ke penjuru kelas. Seluruh mahasiswa kembali menjerit histeris. Endah juga menjerit ketakutan. Suasana kelas menjadi kacau-balau. Ada mahasiswa yang sangat ketakutan sampai terjatuh dari tempat duduknya.

Dodot pun merasa kesal bercampur takut juga. Ia segera mematikan dupa agar pocong itu kembali ke alamnya. Setelah itu ia berkata kesal kepada Endah.

“Kamu juga bohong. Syarat apa yang kamu langgar?” tanya Dodot kepada Endah.

“Mohon maaf, Pak… tadi saya tidak mandi keramas,” jawab Endah sambil menunduk ketakutan.

Kuliah sudah tidak nyaman lagi. Mahasiswa yang sudah terdaftar  juga mebatalkan untuk cek khodam. Mereka takut akan muncul pocong atau hantu lain di kelas. Dodot pun memutuskan untuk menghentikan perkuliahan.

***

Aji Sukmono dan Endah Cahyani sangat menyesal berbohong kepada Dodot Widiono saat cek khodam. Mereka sama sekali tidak menyangka jika yang muncul bukan khodamnya, tetapi pocong yang sangat menyeramkan. Hingga sampai di rumah rasa ketakutan itu masih terbawa.

Ketika Aji sedang mengerjakan tugas kuliah di kamarnya tiba-tiba tercium bau busuk yang sangat menusuk hidung. Ia mencoba mencari-cari sumber bau itu. Dia pikir ada tikus atau cicak yang mati di kolong ranjang tempat tidurnya. Namun betapa terkejut dia. Sosok pocong yang muncul di kelas kembali muncul di kamarnya. Pocong laki-laki berdiri di sudut kamar sambil menatapnya. Sungguh menyeramkan. Aji nyaris tak bisa berteriak. Ia segera berlari ke luar dari kamarnya.

Kejadian serupa dialami Endah Cahyani. Baru saja ia selesai mandi. Bukan harum sabun atau bedak yang tercium di kamarnya. Endah mencium bau anyir darah. Ia mencoba mengamati seisi kamar. Tidak ada tanda-tanda darah binatang di kamarnya. Saat ia menatap ke arah jendela, detak jantungnya nyaris terhenti. Pocong perempuan berdiri di depan jendela kamar. Sangat menyeramkan. Kain kafan putih yang membungkus pocong itu berlumuran darah.

Mulut Endah terasa terkunci. Ia mau berteriak minta tolong, namun kerongkongannya kering tak mampu bersuara. Endah mencoba berlari, namun kakinya seperti terikat tak bisa bergerak. Sementara pocong itu terus memandanginya. Ketika pocong perempuan itu mendekatinya, tubuh Endah terasa lunglai. Ia pingsan di sisi tempat tidurnya.

Saat perkuliahan Komunikasi Tradisional, Aji dan Endah menceritakan apa yang mereka alami kepada Dodot Widiono. Tentu saja Dodot kaget dan kasihan kepada mereka. Gara-gara cek khodam, mereka harus mengalami peristiwa yang menyeramkan.

Dodot menjelaskan bahwa pocong yang muncul saat cek khodam adalah hantu yang menghuni kampus. Bukan khodam Aji dan Endah. Pocong itu hadir karena aroma dupa yang dibakar Dodot saat memanggil khodam. Namun karena Aji dan Endah melanggar persyaratan, maka pocong itu memanfaatkan situasi untuk menampakkan diri.

Aji dan Endah disarankan untuk menjalani ritual agar tidak lagi didatangi pocong itu. Mereka harus puasa ngrowot dan mandi keramas selama tiga hari. Puasa ngrowot di Jawa adalah semacam tradisi untuk membersihkan jiwa dan raga dari hal-hal yang buruk. Puasa ini dilakukan dengan cara tidak memakan semua yang berasal dari unsur beras. Aji dan Endah harus makan umbi-umbian dan sayuran selama tiga hari.

Apa yang disarankan Dodot Widiono terbukti. Selama puasa ngrowot tiga hari dan mandi keramas, Aji dan Endah tidak lagi didatangi pocong menyeramkan. Mereka sangat menyesal telah berbohong kepada dosen. Ternyata untuk mengetahui khodamnya orang memang harus melakukan beberapa syarat.

Kejadian yang menimpa Aji dan Endah membuat Dodot memutuskan untuk menghentikan cek khodam dalam perkuliahan. Dodot tidak ingin mahasiswa menyepelekan tradisi dengan berbohong. Dodot juga tak ingin leluhur mahasiswa nantinya akan dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Padahal selama ini Dodot sangat menghormati tradisi dan leluhurnya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Next Post

Selamat Hari Buruh, Bapak! Kau Pahlawanku

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Hari Buruh, Bapak! Kau Pahlawanku

Selamat Hari Buruh, Bapak! Kau Pahlawanku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co