2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Hari Buruh, Bapak! Kau Pahlawanku

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
May 1, 2025
in Esai
Selamat Hari Buruh, Bapak! Kau Pahlawanku

Saya besama Bapak

Selamat Hari Buruh, Bapak! Kau Pahlawanku

“Selamat Hari Buruh bagi siapa pun para tulang punggung yang terlihat rapuh!”

BAGI banyak orang, Hari Buruh barangkali momen untuk mengenang perjuangan kelas pekerja yang berjuang keras untuk menghidupi keluarga. Namun, bagi saya, lebih dari itu. Hari Buruh adalah penghormatan khusus untuk seorang pahlawan tak dikenal, bapak saya.

Bapak saya, seorang buruh yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk memastikan bahwa kami, keluarganya, tetap berdiri di atas kaki yang kokoh. Dia tidak pernah mengenakan seragam kebesaran, tidak juga berdiri di atas panggung, di podium, dengan iringan tepuk tangan menggema.

Di berada di panggung milik dia sendiri. Panggung itu  adalah truk sembako dan jalanan yang sunyi. Baju usang dan kemeja grobyog sebagai pelindung perutnya yang buncit, bukti  kebahagiaan yang tersembunyi di balik penampakan yang kurang ideal.

Bapak saya, Nyoman Murjana, lahir di Desa Tembok pada 22 Desember 1969, ia lahir dari sebuah kampung yang terletak di ujung utara Bali, yang dirindangi oleh pohon ental dan mete.

Menginjak usia 18 tahun, dia memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya, merantau ke Singaraja dengan tekad kuat, mungkin tafsir saya, dia tidak bisa menemukan masa depannya di desa kala itu. Dia tidak membawa apa-apa selain keberanian dan keyakinan bahwa kota ini akan memberinya kesempatan.

Awalnya, dia menjadi sopir truk pasir dan penyetak batako (1986-1989) di sebuah toko besar yang sekarang sudah bangkrut. Desas-desus menyebutkan kejayaan perusahaan itu hilang karena keluarga yang terlilit hutang. Namun, dari sana Bapak belajar bahwa hidup tidak pernah memberi jalan yang mudah, tetapi kerja keras akan membuka pintu-pintu kecil yang mungkin tidak terlihat.

Berangkat dari seorang yang tidak mempunyai ilmu sebagai sopir, akhirnya bapak khatam dengan hal itu.  Apakah setelah berhenti kerja di toko besar itu Bapak akan menjadi supir untuk orang-orang besar pada kala itu, misal sopir bupati atau anggota dewam? Kan ia sudah mahir urusan sopir-menyopir.

Ternyata tidak. Bapak memilih migrasi ke Desa Pinggan, Kintamani. Masih menjadi sopir. Hanya saja, kali itu armada angkutannya beda. Ia menjadi supir mobil pengangkut sayur dan telur.

Bukan tanpa sebab juga, kebetulan di sana ada kakak perempuannya yang menampung dia untuk tinggal (1989-1992). “Nyari pengalaman aja!” Itu kata Bapak ketika saya tanya pagi tadi, di Hari Buruh.

Sempat juga ia menjadi sopir pengantar kayu bakar, untuk bakar bata merah di daerah Gianyar, tepatnya di Tulikup. Masa lajang, ia habiskan untuk menjadi sopir penantar kayu dari ladang seseorang.

Lambat laun, Bapak memilih untuk kembali ke Singaraja lagi (1994-sekarang), seperti rumah yang mangkrak, entah apa yang membuat pikirannya berubah-ubah, walaupun profesinya tetap saja tidak berubah.

Dia akhirnya menjadi sopir sembako. Hingga kini, ia jadi sopir sembako di PT Makmur Indah, milik warga keturunan Tionghoa. Perusahaan itu ada di Jalan Dewi Sartika, Singaraja.

Sudah 31 tahun dia menjalani profesi ini. Bertahun-tahun, Bapak adalah saksi bisu dari denyut kehidupan yang terus bergerak. Dari balik kemudi truk sembako, dia membawa harapan ke rumah-rumah, toko-toko, dan pasar-pasar.

Oh iya, jika Bapak tidak memilih ke Singaraja dan bekerja bosnya yang Tionghoa itu, bisa saja saya tidak muncul di dunia ini. Di perusahaan itu, Bapak bertemu orang tercantik di dunianya, ibu saya, yang kala itu bekerja sebagai pramusiwi.

Saat ini, kami tinggal di Desa Penarukan, tidak jauh dari pusat kota Singaraja. Rumah, selama kami hidup dan saling mengasihi, itu mewah. Berkat hasil kerja keras kedua orang tua saya, ya, walaupun diimbangi dengan hutang.

Bapak saya, selain menjadi sopir sembako, juga memiliki usaha jasa las kecil-kecilan. Pekerjaan ini dia mulai karena rasa tanggung jawabnya untuk menambah penghasilan. Ini bukan menambah pengalaman lagi, mungkin di satu sisi dia sedikit jenuh melihat stang mobil yang setiap hari diputarnya.

Pelanggan-pelanggannya di bidang las bukan orang-orang besar, tetapi tetangga sekitar rumah dan langganan sembako yang ia antar setiap hari. Pintu pagar, kanofi, hingga kusen dari besi yang diperbaiki olehnya adalah hasil dari tangan sekasar amplas, yang tidak kenal lelah. Terkadang matanya merah, bukan sebab debu jalanan yang ia lalu, tapi juga debu besi, kuang apalagi.

Setiap hari, Bapak berangkat bekerja. Dia selalu memastikan bahwa bekal saya sudah ada di meja kecil di samping kasur sebelum dia pergi. Bapak tidak pintar merangkai kata-kata, tapi, bentuk cintanya, ia sampaikan lewat tindakan kecil namun berarti. Malamnya, dia pulang larut, ketika saya sudah terlelap.

Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ketika sengaja saya tidak tidur karena menantinya, setidaknya untuk mengobrol, malah jadi wacana saja. Dan yang paling kentara, saya kadang sering pura-pura tidur agar tidak dimarah Bapak, karena saya tahu, jika Bapak pulang, pintu yang ia buka setelah ruang tamu adalah pintu kamar anaknya.

Memang benar, percakapan kami jarang terjadi, tetapi setiap momen singkat itu terasa berarti.

“Sesulit apa pun nanti, jalani saja. Jika ini berhubungan dengan keluarga, apa pun akan kamu lakukan. Kamu akan merasakannya nanti,” kata Bapak. Tidak jauh dari kata supir, itu adalah kalimat yang paling saya ingat.

Kala itu, kita pulang dan berbincang di dalam mobil colt usang milik paman yang dipinjam Bapak setelah kami pulang dari memperbaiki pintu rumah seorang pelanggan. Kadang ingin menangis jika melihat tubuh Bapak, seperti sudah hapal, setiap Bapak pulang dari kerja las, ada saja bekas luka. Mungkin itu bentuk balas dendam dari besi yang ia potong dan tempa.

“Ini bukan seberapa,” katanya klise. Kata yang sering diucapkan untuk menenangkan hati anaknya.

Saya menyimpan kata-kata itu hingga kini. Kata-kata sederhana yang mengandung kebijaksanaan dari seorang pria yang hidupnya telah ditempa oleh kerja keras.

Bapak tidak pernah meminta lebih. Dia tidak meminta pengakuan, apalagi pujian. Kebahagiaannya sederhana, melihat keluarganya cukup makan, melihat anak-anaknya bisa sekolah, dan memastikan bahwa masa depan kami lebih baik daripada hidup yang dia jalani.

Ketika saya kecil, saya sering merasa iri kepada teman-teman yang memiliki bapak yang sering mengajak mereka bermain atau jalan-jalan. Bapak saya tidak pernah punya waktu untuk itu. Jika dia tidak sedang mengemudi, dia sedang sibuk dengan lasnya.

Ketika saya bertanya mengapa dia tidak pernah istirahat, jawabannya selalu sama: “Bapak harus bekerja. Jika tidak, Bapak bisa sakit!” Aneh bukan?

Dulu saya tidak mengerti, tetapi sekarang saya tahu bahwa jawabannya itu adalah bentuk cinta paling tulus yang bisa dia berikan.

Di Hari Buruh ini, saya ingin mengenang dan mengapresiasi, ketika Bapak pulang dengan wajah lelah. Baju kaosnya berbau keringat dan besi, tetapi senyumnya selalu ada seolah menutup rasa laparnya ketika mendapati di rumah kadang sudah tidak ada lauk pauk untuk makan.

Dia jarang mengeluh, tidak pernah berkata bahwa hidup ini terlalu sulit. Dia hanya bekerja, terus bekerja, seperti mesin yang tak pernah padam. Kadang saya berpikir, dari mana dia mendapatkan kekuatan itu? Apakah dari tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga? Atau dari keyakinannya bahwa hidup adalah perjuangan tanpa henti?

“Pak de ke nganggo baju jak celane be bolong, wak kar megae neh” (Pak, jangan pakai baju bolong dan celana bolong, kan mau kerja). Teguran itu sering terlontar dari mulut saya.

Namun, ia menjawab, “De, megae ngelas sing perlu baju jak celane luung, nak api grinda ne ngeranang bolong, engkenang men. Kadang pas nyongkok, uwek!” (De, bekerja sebagai tukang las tidak perlu baju dan celana bagus, ini karena api dari mesin gerinda, kadang juga waktu jongkok, robek!).

Saya, dan dunia pun tahu bahwa sosok bapak adalah pahlawan sejati di mata anaknya, untuk siapapun itu. Bapak saya, dia mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah, namanya mungkin tidak dikenal di luar lingkungan kecil kami, tetapi bagi saya, dia adalah ujung tombak yang tak pernah tumpul oleh umur.

Selain Ibu, dia adalah alasan saya memiliki mimpi, alasan saya mencoba berdiri tegak di dunia ini. Semua pencapaian kecil yang saya raih, saya hindangkan hanya untuk mereka.

Ketika saya melihat truk sembako berlalu di jalan, saya selalu teringat padanya. Teringat, pada perjalanan panjangnya dari Desa Tembok hingga Singaraja, dari seorang pemuda 18 tahun yang merantau dengan harapan kosong hingga menjadi kepala keluarga yang tak tergantikan. Teringat, pada malam-malam ketika dia pulang dengan tubuh lelah.

Saya teringat pada pesan-pesan tanpa kata berbentuk uang yang dia tinggalkan di meja kecil di samping kasur saya.

Bapak, tulisan ini untukmu. Hari Buruh ini adalah hari untukmu. Terima kasih telah menjadi pahlawan. Terima kasih telah menunjukkan bahwa kasih sayang tidak membutuhkan kata-kata besar atau pengakuan publik. Kasih sayang ada dalam setiap tetes keringatmu, setiap langkahmu, dan setiap senyuman kecil yang kau berikan meski dunia ini begitu keras.

Selamat Hari Buruh, Bapak. Dunia mungkin tidak mengenalmu, tetapi aku mengenalmu. Dunia mungkin tidak berterima kasih padamu, tetapi aku berterima kasih. Kau adalah pahlawanku, dan akan selalu begitu.

Dari anakmu, yang belajar arti cinta dari kerja kerasmu. [T]

Singaraja, 1 Mei 2025

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Hari Buruh Sedunia: Kerja Keras Seorang Juru Parkir
“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala
Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit
Tags: Hari Buruh InternasionalHari Buruh NasionalKeluarga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong

Next Post

“Follow Your Spirit”: Gerak Tubuh, Musik, dan Kesadaran Diri di BaliSpirit Festival

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Follow Your Spirit”: Gerak Tubuh, Musik, dan Kesadaran Diri di BaliSpirit Festival

“Follow Your Spirit”: Gerak Tubuh, Musik, dan Kesadaran Diri di BaliSpirit Festival

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co