24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 19, 2025
in Ulas Musik
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals

Ilustrasi tatkala.co | Sumber foto dari Google

MUSIK adalah seni yang timbul dari perasaan atau pikiran manusia sebagai ungkapan ekspresi diri. Musik tercipta dari nada-nada atau suara-suara yang harmonis. Sejarah perkembangan musik tidak lepas dari perkembangan kebudayaan manusia karena musik merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia bersama dengan ilmu pengetahuan, bahasa, dan sastra. Jika musik diartikan sebagai ekspresi sederhana dari suasana hati atau respon literal terhadap peristiwa-peristiwa dalam diri pribadi pencipta lagu, maka diperlukan informasi atau referensi yang cukup untuk membangun hubungan langsung antara kehidupan dan karyanya. Para pendengar musik dapat menyelami makna dalam lagu lewat latar belakang atau sudut pandang pencipta, ataupun menelusuri setiap bait pada sebuah lirik lagu.

Lirik lagu merupakan ekspresi atau ungkapan hati seseorang tentang suatu hal yang telah dialami atau diamatinya. Dalam mengekspresikan pengalaman dan keresahannya, pencipta lagu atau musisi kerap melakukan permainan kata-kata dan bahasa untuk menciptakan sebuah lirik yang menarik bagi khalayak. Musik adalah bahasa universal, karena siapa pun dapat menyampaikan gagasan dan keresahan melalui musik. Selain itu, musik juga dapat digunakan sebagai pelipur lara.

Perkembangan musik saat ini lebih menyesuaikan dengan selera pasar, label rekaman dan pencipta lagu harus mempunyai strategi agar lagu yang dipromosikan bisa laris manis. Hal ini menyebabkan banyak cabang industri musik menghasilkan lagu pop yang klise dan terinspirasi dari lagu-lagu populer sebelumnya dengan tema dan lirik yang hampir sama. Sehingga membuat industri musik saat ini menjadi seragam dan monoton. Namun, tidak semua musisi melakukan hal seperti itu, banyak juga musisi yang masih mempunyai idealisme dalam berkarya, kualitas musik yang konsisten, dan penulisan lirik yang khas. Salah satunya adalah Iwan Fals.

Siapa yang tidak mengenal Iwan Fals, musisi dengan nama lengkap Virgiawan Liestanto ini selain menjadi musisi ia juga merupakan seorang kritikus dan karateka. Iwan Fals adalah salah satu musisi yang konsisten berkecimpung di dunia musik sejak 1970-an sampai sekarang. Genre atau gaya bermusiknya amat beragam, mulai dari pop, rock, country, folk pop, dan masih banyak lagi. Lagu-lagu yang diciptakan oleh Iwan Fals sangat menggambarkan suasana kehidupan di masa orde baru. Selain itu tema-tema yang diangkat olehnya juga sangat beragam seperti romansa percintaan, kritik sosial, kritik politik, dan krisis alam.

Sejak tahun 1975, sekitar 41 album sudah dirilis oleh Iwan Fals. Dalam analisis ini, penulis memilih lagu “Guru Oemar Bakrie” dalam album Sarjana Muda yang dirilis pada tahun 1981. Album Sarjana Muda adalah awal kepopuleran Iwan Fals di industri musik tanah air. Lagu-lagu karya Iwan Fals di album Sarjana Muda didominasi dengan tema kritik sosial, salah satunya adalah lagu “Guru Oemar Bakrie”. Lagu ini merupakan kritik sosial terhadap nasib guru dan pendidikan di tanah air.

Penulis memilih lagu “Guru Oemar Bakri” karena lagu ini merupakan salah satu lagu yang populer (hits) di masyarakat dan masih relevan dengan situasi pendidikan saat ini. Selain itu, penulis juga melihat keunikan dari segi penulisan lirik dalam lagu ini, liriknya begitu khas dan memiliki karakteristiknya tersendiri. Sebuah lirik lagu akan mempunyai makna jika pembaca atau pendengar memberikan maknanya. Namun pemberian makna ini harus melalui kerangka semiotik. Oleh karena itu, untuk menafsirkan tanda atau simbol dalam lirik lagu dengan baik, haruslah dianalisis secara semiotik.

Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik

Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur kebahasaan atau dapat dikatakan pembacaan berdasarkan konvensi sistem semiotika tingkat pertama, yaitu penjelasan urutan setiap bagian cerita menurut analisis formalnya. Sedangkan pembacaan hermeneutik adalah pembacaan berdasarkan konvensi semiotik tingkat kedua, yaitu membaca ulang atau membaca kembali setelah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya.

Pembacaan Heuristik Lirik Lagu “Guru Oemar Bakrie”

Dalam pembacaan heuristik ini, karya sastra dibaca menurut struktur bahasanya. Penerapan pembacaan heuristik dapat berupa sinopsis, pengucapan alur cerita, gaya bahasa yang digunakan, atau pesan yang ingin disampaikan. Pembacaan tahap pertama ini menghasilkan sekumpulan makna yang heterogen.

Menurut Pradopo (1995), makna heuristik sebuah teks dianalisis berdasarkan struktur kebahasaannya. Struktur kalimat disesuaikan dengan kalimat baku, bila perlu bisa dibalik untuk memperjelas arti. Selain itu, dapat juga ditambahkan kata atau sinonim dalam tanda kurung. Pembacaan heuristik lirik lagu “Guru Oemar Bakrie” sebagai berikut.

Bait pertama

Tas hitam (terbuat) dari kulit buaya, (Bapak Oemar Bakrie mengucapkan) “Selamat pagi”, (dan) bapak Oemar Bakrie berkata “hari ini aku rasa kopi nikmat sekali”.

Bait kedua

Tas hitam (terbuat) dari kulit buaya, mari kita pergi (ke sekolah) memberi pelajaran (dan) ilmu. Mungkin (saja), pasti murid bengalmu itu sudah menunggu.

Bait ketiga

Laju sepeda kumbang di jalan (yang rusak) berlubang, selalu (sama) begitu (tidak pernah berubah) dari dulu waktu jaman Jepang, (Pak Oemar Bakrie) dia terkejut waktu mau masuk pintu gerbang (sekolah), banyak polisi berwajah garang (dan) membawa senjata.

Bait keempat

Bapak Oemar Bakrie kaget (dan bertanya) Ada apa gerangan? “Berkelahi, pak!” Jawab (salah satu) murid (berlagak) seperti jagoan, Bapak Oemar Bakrie (merasa) takut bukan kepalang, sepeda butut itu dikebut lalu (ia pergi) cabut (dengan) kalang kabut, (dan bergegas) cepat pulang. Busyet (sepedanya seolah-olah) Standing (roda depannya terangkat) dan terbang.

Bait kelima

Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (seorang) pegawai negeri. Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (sudah) 40 tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti memang (selalu) makan hati.

Bait keenam

Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (telah) banyak ciptakan menteri. Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (mulai dari) profesor, dokter, insinyur pun jadi, tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie (justru) seperti dikebiri?

Bait ketujuh

Laju sepeda kumbang di jalan (yang rusak) berlubang, selalu (sama) begitu (tidak pernah berubah) dari dulu waktu jaman Jepang, (Pak Oemar Bakrie) dia terkejut waktu mau masuk pintu gerbang (sekolah), banyak polisi berwajah garang (dan) membawa senjata.

Bait kedelapan

Bapak Oemar Bakrie kaget (dan bertanya) Ada apa gerangan? “Berkelahi, pak!” Jawab (salah satu) murid (berlagak) seperti jagoan, Bapak Oemar Bakrie takut bukan kepalang, sepeda butut itu dikebut lalu (ia pergi) cabut (dengan) kalang kabut, (Pak) Bakrie (sampai) kentut (dan bergegas) cepat pulang.

Bait kesembilan

Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (seorang) pegawai negeri. Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (sudah) 40 tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti memang (selalu) makan hati.

Bait kesepuluh

Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (telah) banyak ciptakan menteri. Oemar Bakrie, bikin otak orang (jadi cerdas) seperti otak Habibie, tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie (justru) seperti dikebiri?

Pembacaan Hermeneutik Lirik Lagu “Guru Oemar Bakrie”

Pembacaan ini berbasis pada konvensi sastra, dimana pembaca dapat menjelaskan makna suatu karya sastra berdasarkan tafsiran yang pertama (Ratih, 2016). Dari hasil pembacaan pertama, pembaca harus melewati lebih jauh lagi untuk mencapai kesatuan makna dengan melanjutkan pada pembacaan hermeneutik, yaitu pemberian makna berdasarkan konvensi sastra (Pradopo, 1990). Berikut pembacaan hermeneutik lirik lagu “Guru Oemar Bakrie”.

Bait pertama

Tas hitam (terbuat) dari kulit buaya, (Bapak Oemar Bakrie mengucapkan) “Selamat pagi”, (dan) bapak Oemar Bakrie berkata “hari ini aku rasa kopi nikmat sekali”.

Lirik di atas menceritakan tentang rutinitas seorang guru Oemar Bakrie sebelum berangkat ke sekolah untuk mengajar. Dipertegas dan ditandai dengan tas kulit hitam dan rutinitas minum kopi di pagi hari.

Bait kedua

Tas hitam (terbuat) dari kulit buaya, mari kita pergi (ke sekolah) memberi pelajaran (dan) ilmu. Mungkin (saja), pasti murid bengalmu itu sudah menunggu.

Lirik di atas menceritakan guru Oemar Bakrie yang segera bergegas berangkat ke sekolah untuk mengajar murid-muridnya.

Bait ketiga

Laju sepeda kumbang di jalan (yang rusak) berlubang, selalu (sama) begitu (tidak pernah berubah) dari dulu waktu jaman Jepang, (Pak Oemar Bakrie) dia terkejut waktu mau masuk pintu gerbang (sekolah), banyak polisi berwajah garang (dan) membawa senjata.

Lirik di atas menggambarkan guru Oemar Bakrie yang berangkat menggunakan sepedanya melintasi jalan rusak yang tidak kunjung diperbaiki. Kemudian ketika ia sampai di depan sekolah, ia melihat ada banyak polisi bersenjata di areal sekolah.

Bait keempat

Bapak Oemar Bakrie kaget (dan bertanya) Ada apa gerangan? “Berkelahi, pak!” Jawab (salah satu) murid (berlagak) seperti jagoan, Bapak Oemar Bakrie takut bukan kepalang, sepeda butut itu dikebut lalu (ia pergi) cabut (dengan) kalang kabut, (dan bergegas) cepat pulang. Busyet (sepedanya seolah olah) Standing (roda depannya terangkat) dan terbang.

Lirik di atas menceritakan betapa terkejutnya guru Oemar Bakrie karena menurutnya kalau sudah ada banyak polisi pasti telah terjadi hal-hal yang membahayakan. Ia bertanya “ada apa gerangan?”, “berkelahi Pak” jawab salah satu murid yang berlagak jagoan. Karena ketakutan, guru Oemar Bakri tidak jadi mengajar dan lebih memilih untuk segera cepat pulang agar terhindar dari bahaya.

Bait kelima

Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (seorang) Pegawai negeri. Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (sudah) 40 tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti memang (selalu) makan hati.

Lirik di atas menggambarkan bahwa guru Oemar Bakrie adalah seorang pegawai negeri yang sudah mengabdi sebagai seorang guru selama empat puluh tahun lamanya. Namun selama empat puluh tahun mengabdi hidupnya hanya se-alakadarnya, segitu-segitu saja tidak ada perkembangan. Ditandai dengan kalimat “jadi guru jujur berbakti memang makan hati.”

Bait keenam

Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (telah) banyak ciptakan menteri. Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (mulai dari) Profesor, dokter, insinyur pun jadi, tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie (justru) seperti dikebiri?

Lirik di atas menggambarkan selama guru Oemar Bakrie mengabdi, sudah banyak anak didiknya yang berhasil menjadi menteri, profesor, dokter, insinyur, dan lain sebagainya. Namun guru Oemar Bakrie sebagai pegawai negeri masih tetap segitu segitu saja tidak ada perhatian lebih oleh pemerintah, bahkan gajinya sangat kecil.

Bait ketujuh

Laju sepeda kumbang di jalan (yang rusak) berlubang, selalu (sama) begitu (tidak pernah berubah) dari dulu waktu jaman Jepang, (Pak Oemar Bakrie) dia terkejut waktu mau masuk pintu gerbang (sekolah), banyak polisi berwajah garang (dan) membawa senjata.

Lirik di atas merupakan perulangan dari lirik sebelumnya pada bait ketiga dan memiliki makna yang sama.

Bait kedelapan

Bapak Oemar Bakrie kaget (dan bertanya) Ada apa gerangan? “Berkelahi, pak!” Jawab (salah satu) murid (berlagak) seperti jagoan, Bapak Oemar Bakrie takut bukan kepalang, sepeda butut itu dikebut lalu (ia pergi) cabut (dengan) kalang kabut, (Pak) Bakrie (sampai) kentut (dan bergegas) cepat pulang.

Lirik di atas merupakan perulangan dari lirik sebelumnya pada bait keempat dan memiliki makna yang sama. Namun pada lirik bait kedelapan Iwan Fals menambahkan satu frasa yakni “Bakrie Kentut” frasa ini menggambarkan kepanikan guru Oemar Bakrie yang sudah sangat ketakutan.

Bait kesembilan

Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (seorang) Pegawai negeri. Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (sudah) 40 tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti memang (selalu) makan hati.

Lirik di atas merupakan perulangan dari lirik sebelumnya pada bait kelima dan memiliki makna yang sama.

Bait kesepuluh

Oemar Bakrie, Oemar Bakrie (telah) banyak ciptakan menteri. Oemar Bakrie, bikin otak orang (jadi cerdas) seperti otak Habibie, tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie (justru) seperti dikebiri?

Lirik di atas merupakan perulangan dari lirik sebelumnya pada bait keenam dan memiliki makna yang sama. Namun pada bait kesepuluh Iwan Fals mengubah salah satu bagian lirik yakni “profesor, dokter, dan insinyur pun jadi” diubah menjadi “bikin otak orang seperti otak Habibie”. Dari segi makna tetap sama, yakni menggambarkan bagaimana perjuangan seorang guru dalam mencerdaskan anak-anak didiknya. Iwan mencoba menggunakan sosok Habibie, karena Habibie dikenal sebagai orang yang jenius.

Secara keseluruhan, lirik lagu “Guru Oemar Bakrie” menggambarkan tentang realita sebagian orang yang berprofesi sebagai guru di Indonesia. Lirik lagu tersebut juga menggambarkan begitu banyaknya problematika yang dihadapi oleh seorang guru mulai dari tawuran antar siswa, murid-murid nakal, gaji kecil, hingga pemotongan gaji. Guru Oemar Bakrie digambarkan sebagai seorang guru lama yang mengajar di kota besar. Sosoknya sederhana dan telah mengabdi sebagai guru hampir empat puluh tahun lamanya. Ia digambarkan sebagai orang yang baik hati dan ikhlas dalam mengajar murid-muridnya.

Lirik lagu “Guru Oemar Bakrie” merupakan gambaran suasana kehidupan seorang guru pada era akhir 1970-1980an. Walaupun menceritakan suasana di masa lampau, namun lagu ini masih dianggap relevan oleh masyarakat terhadap kerasnya kehidupan profesi guru di zaman sekarang. Iwan Fals menciptakan lagu ini karena terinspirasi dari apa yang telah dialami dan diamatinya. Secara implisit, lagu ini berisi pujian dan kekaguman kepada seorang guru. Selain itu, lagu ini juga berisi kritik dan sindiran kepada pemerintah tentang kesejahteraan guru dan infrastruktur jalan yang rusak. Selain itu, Iwan Fals juga menggambarkan tentang maraknya terjadi kasus tawuran antar kelompok siswa ataupun antar sekolah pada masa itu.

Guru merupakan sosok pendidik yang utama dalam kemajuan bangsa, banyak orang hebat tercipta dari seorang guru yang tekun dan ikhlas, tetapi mengapa guru hanya dianggap sebelah mata? ini menjadi pesan tersirat yang dapat dipetik dari lagu tersebut. Melalui lagu ini, Iwan Fals mengajak masyarakat untuk menghargai seorang guru, dan khususnya kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan serta mengangkat derajat profesi guru agar tidak dianggap sebagai profesi yang rendahan.

Iwan fals menggubah lagu ini menjadi bernuansa jenaka dengan gaya musik atau aransemen genre country, sehingga lagu yang sebetulnya berisi problematika dan kritik dikemas menjadi lagu yang penuh humor dan bernuansa komedi.

Lewat lagu ini, Iwan Fals mencoba mempertanyakan mengapa seorang guru yang amat berjasa untuk bangsa, justru dipandang sebelah mata dan tidak diperhatikan oleh pemerintah. Hal seperti inilah yang membuat citra profesi guru dianggap remeh dan rendahan oleh sebagian orang. Ini sangat relevan dengan keadaan di masa sekarang, profesi guru mulai tidak diminati lagi oleh generasi muda karena dianggap profesi yang tidak bergengsi.

Melalui lagu “Guru Oemar Bakrie” Iwan Fals mengajak kita semua untuk menghargai profesi seorang guru, dan agar pemerintah juga bisa memperhatikan serta mengangkat derajat profesi guru agar lebih dipandang di sosial masyarakat. Karena secanggih dan semaju apapun perkembangan zaman, profesi guru tidak akan pernah bisa tergantikan.

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu artikel dari buku “Dari Kejahatan Berbahasa Hingga Bentrok Tafsir: Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya dalam Aneka Perspektif”. Buku ini diterbitkan pada tahun 2024 oleh penerbit Pustaka Larasan, yang bekerja sama dengan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali).
  • BACA JUGA:
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis
Tembang Puitik Ananda Sukarlan: Penerjemahan Intersemiotik
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Tags: guruIwan Falsmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Next Post

“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 1, 2026
0
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan...

Read moreDetails

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
0
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?” Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang...

Read moreDetails
Next Post
“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co