27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Denyar Renjana”, Pameran Lima Seniman Perempuan Indonesia di Santrian Art Gallery Sanur

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
March 8, 2025
in Pameran
“Denyar Renjana”, Pameran Lima Seniman Perempuan Indonesia di Santrian Art Gallery Sanur

Yasumi Ishii dan lukisannya | Foto: Bud

LIMA perupa Indonesia menggelar pemeran bersama berajuk ‘Denyar Renjana’ di Santrian Art Gallery Sanur. Lima seniman perempuan dalam Semesta Gairah itu adalah Erica Hestu Wahyuni, Mola, Ni Nyoman Sani, Theresia Agustina Sitompul dan Yasumi Ishii.

Pameran “Denyar Renjana” ini memajang sebanyak 18 karya dengan tema dan ukuran yang berbeda-beda. Namun, semuanya dipersatukan oleh gairah, hasrat dan cinta sebagai makna dari ‘Denyar Renjana”. Pameran dibuka oleh Marlowe Bandem Jumat 7 Maret, dan pameran berlangsung hingga 30 April 2025.

Kurator, penulis, dan seniman dalam Pameran Denyar Renjana | Foto: Bud

Kurator pameran, Anton Susanto, mengatakan Denyar Renjana (Pulse of Passion) merupakan getaran pancaran hasrat dan gairah yang didasari oleh kekuatan cinta yang menyebar ke segala arah. Denyar Renjana menjadi bingkai proses kreatif ke lima seniman yang berpameran itu.

Menariknya, setiap seniman menunjukkan kecenderungan yang berbeda satu sama lainnya. Dalam segala perbedaan tersebut, terselip satu kesamaan, yaitu gairah dan kecintaaan dalam menghayati pengalaman menjadikan “ada” setiap karya.

“Kelima perupa ini menampilkan karya-karya yang penuh penghayatan disertai dengan pendalaman eksplorasi tema, teknis, gagasan serta determinasi yang tinggi,” kata Anton Susanto di sela-sela pembukaan pameran Denyar Renjana itu.

Dengan formasi tersebut setiap seniman memiliki kecenderungan yang cukup spesifik satu sama lainnya, sehingga memiliki keragaman dalam modus, media, teknis serta artikulasi gagasan hingga statement dalam ranah “keseniannya”.

Lukisan karya Mola | Foto: Bud

Theresia Agustina Sitompul (There) menghadirkan 2 karya dengan seri yang sangat progresif dan ekperimentatif bermain di antara berbagai ambang. Melalui karya-karya dengan tema domestic landscape ini, There bereksperimen dan bermain, juga melakukan dialog-dialog.

Ia mempertanyakan tentang banyak hal yang kemudian telah menjadi konvensi dalam perkembangan seni rupa hari ini. Misalnya, melalui domestic landscape, secara sadar There mencoba membongkar ulang perjalanan sejarah seni rupa di Indonesia.

Lukisan-lukisannya cenderung menampilkan landscape dari perspektif yang lebar dan jauh serta cenderung tidak menampilkan detil-detil suasana kehidupan sebuah masyarakat atau peradaban yang mendiami bentang alam tersebut.

Kehadiran unsur persoalan sosial, ekonomi, dan domestik banyak direduksi atau dihilangkan dalam tradisi lukisan-lukisan hindia molek. Hal tersebut dapat dilihat pada karya-karya There dalam versi oposisinya.

There menghadirkan karya domestic landscape dengan pendekatan teknik carbon press yang merupakan pendekatan teknik seni cetak. Hal bersifat kontradiktif pun dihadirkan dalam visualisasi “domestic landscape”.

Karya There, landscape tidak lagi berjarak dengan manusianya, tidak lagi terasa “jauh”. Landscape yang dihadirkan merupakan susunan dari berbagai objek domestic yang ada dalam keseharian masyarakat hari ini.

Mola menampilkan 5 karya  dengan ekspresif dan figurative serta simbolik yang sarat dengan metafora, terlebih pada seri karya Edited Clown. Dalam pameran Denyar Renjana kali ini, Mola menampilkan karya-karya yang berbeda.

Mola menghadirkan tentang rasa, menggunakan cat air dan tinta di atas kanvas. Mood dan feels dibangun melalui sapuan kuas gestural yang ekspresif. Lapis-demi lapis saling bertumpuk di antara lapisan-lapisan transparan, dan menimbulkan efek kedalaman yang kompleks.

Lukisan karya Erica Hestu Wahyuni | Foto: Bud

Seorang seniman yang menekuni yoga dan menyukai aktivitas di alam liar, pada karya-karya ini nampaknya ada kecenderungan pengalaman batin yang menjadi bagian dan membentuk dirinya di transformasikan menjadi karya-karya lukisnya.

Sebagai seorang yang menghayati perjalanan di alam liar cenderung memiliki pandangan yang cukup kuat dalam hal harmonisasi, khususnya dengan alam. Alam bukan hal yang harus ditaklukan, tapi dipahami untuk melakukan harmonisasi diri dengan alam.

Karya-karya Mola menampilkan elemen-elemen alam menjadi cuplikan inspirasi untuk menghadirkan sebuah suasana batin. Elemen alam seperti akar, daun, cahaya matahari, bumi, tanah dan spirit jiwa dipanggil dan di elaborasi melalui warna dan sapuan kuas gestural yang ekspresif menjadikan sebuah seri pemandangan jiwa atau soul scape.

Mola tidak bercerita, tapi ia mengajak kita menemukan rasa yang ia bangun melalui lukisan. Misalnya “rasa” yang ia bangun dari inspirasi kekuatan akar yang mampu menopang beban dan memberi daya hidup.

Erica Hestu Wahyuni memajang 5 karya juga memiliki energi besar dan intensitas tinggi, dengan pendekatan visualnya yang naif dan sangat khas secara ekspresif menghadirkan berbagai suasana yang merupakan sebuah semesta dari pengalaman batin dan gagasan Erica sebagai seniman.

Melalui kecenderungan karyanya yang ekspresif, Erica menggabungkan berbagai pengalaman visual, pengalaman batin dan fantasinya menjadi sebuah perupaan baik objek maupun sebuah scene. Hasil elaborasi ini memunculkan bentuk-bentuk dan warna yang khas.

Simbolisme acap terasa baik dari warna maupun ukuran serta komposisi yang dihadirkan. Jejak-jejak kecerdasan pada karya-karya anak-anak tetap dipertahankan sebagai strategi visual yang akan menemukan di antaranya konsep visual Ruang-Waktu Datar (RWD), X-ray atau objek yang tembus pandang, rebahan dan multi perspektif.

Travelling sebagai salah satu kegemarannya, merupakan ajang bagi Erica menghayati sebuah suasana atau wilayah. Proses ini pun seperti proses ia melakukan screening terhadap berbagai objek atau aspek yang spesifik di setiap wilayah yang ia kunjungi.

Karya Erica cenderung naratif bercerita tentang segala sesuatu atau fenomena di sekitar kehidupannya. Ia bercerita tentang mimpinya, pun ia bercerita tentang imajinasinya dengan bahasa visualnya yang khas.

Yasumi Ishii dan lukisannya | Foto: Bud

Yasumi Ishii menampilkan 3 karya cenderung terpesona dengan kekayaan warna dan bentuk dari budaya Jawa. Ia ingin melakukan eksplorasi terhadap warna-warna berasal dari kampungnya, Jepang. Dua hal ini merupakan kunci utama menyelami semesta kekaryaan Yasumi Ishii.

Pertemuan dua kebudayaan yang berbeda ini terlihat pada karya-karyanya. Karya-karya Yasumi meminjam karakter dua mahluk yaitu kucing dan naga. Pada seri Tujuh Naga, Yasumi menghadirkan berbagai jenis warna naga yang memiliki symbol yang berbeda satu sama lainnya.

Di antaranya adalah Naga Emas yang melambangkan kekayaan dan kemakmuran, Naga Merah melambangkan keberanian dan kekuatan. Naga Biru melambangkan ketenangan dan kedamaian. Naga Hitam melambangkan misteri dan kekuasaan.

Naga Putih menjadi lambang kemurnian dan kebijaksanaan. Naga Hijau melambangkan kehidupan dan pertumbuhan. Naga Ungu menjadi lambang spiritualitas dan trasnformasi. Setiap naga divisualisasikan sedang terbang di antara elemen-elemen pendukung yang menjadi simbol dan tugas masing-masing naga.

Sementara pada seri karya yang menghadirkan wajah-wajah kucing, memiliki emosi yang sederhana dan kekayaan ekspresi tanpa bahasa, berbeda dengan manusia yang kompleks bahkan bisa tertutup oleh kepura-puraan. Ini sebuah pesan yang sangat jelas.

Pesan itu, Yasumi melihat interaksi dan komunikasi antar manusia. Ia hadirkan wajah-wajah kucing dengan berbagai ekspresi pada lukisannya. Kucing merupakan hewan yang dekat dalam keseharian Yasumi, sehingga ia nampaknya mengenal betul berbagai ekspresi kucing.

Lukisan wajah-wajah kucing ini terlihat Yasumi menunjukan dua pengaruh berbeda antara warna-warna yang cenderung dekat dengan tradisi Jawa juga Jepang, serta cara menggambar wajah kucing terlihat bergaya Jepang. Ada kucing marah, senyum, cemberut, sedih dan lain-lain.

Ni Nyoman Sani (Sani) pamerkan 3 karya, juga menampilkan wajah-wajah pada lukisannya. Sani menampilkan seri lukisan potret wajah pada bidang kanvas berukuran besar, sehingga terasa sensasi visual yang berbeda dengan lukisan-lukisan potret pada umumnya.

Melukis bersama | Foto: Bud

Pada seri lukisan potret ini ukurannya besar, lebih terasa mendominasi kendati tidak terlalu ramai dan ekspresi atau mimik pada seri lukisan potret ini pun tidak terlalu ekstrem. Karya Sani dari Look series ini menampilkan potret wajah figur-figur perempuan maupun laki-laki.

Baik menghadap ke depan atau pun ke samping. Semua dalam posisi dan gestur yang tenang tidak banyak ekspresi yang ditampilkan. Melalui karya ini, Sani cenderung ingin menghadirkan sebuah suasana atau moods atas bagaimana ia melukis potret wajah dan potret wajah itu sendiri.

Menyaksikan karya Sani, seakan mengajak orang merenung untuk menelusuri tentang potret wajah ini dan mengapa Sani memilih untuk melukis wajah seperti ini. Proses penelusuran akan membawa orang mengamati sapuan kuas pada kanvas dan beberapa pendekatan yang berbeda.

Sani dan lukisannya | Foto: Bud

Lukisan Sani memberikan ruang tawar bagi orang untuk melakukan interpretasi yang beragam. Karya Sani, bila dihubungkan dengan kondisi Indonesia merupakan wilayah bekas jajahan bangsa Eropa.

Genetika post-colonial syndrome yang tertanam dalam setiap individu di semua negara bekas jajahan memiliki peranan cukup signifikan dalam hal perspektif melihat diri dan melihat yang di luar diri.

“Karya-karya dari ke lima seniman ini, memancarkan energi beragam, energi yang akan sampai kepada setiap audiens yang berbeda dengan cara berbeda. Semuanya memberikan ruang tafsir bagi penikmat, sehingga semua bisa turut hadir menjadi bagian dari setiap karya,” papar Anton Susanto. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Baligrafi dan Masa Depan Seni Aksara Bali
Post Tradisi : Upaya untuk Meletakkan Bali dalam Pembacaan Seni Rupa Indonesia
Catatan Pendek Sekali: Pameran Tunggal Naela Ali, The Beauty of The Mundane
Tags: lukisanPameran Seni RupaSantrian Art GallerySeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Next Post

Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2025: Yang Jegeg Yang Bagus Pakai Kain Tenun Buleleng

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2025: Yang Jegeg Yang Bagus Pakai Kain Tenun Buleleng

Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2025: Yang Jegeg Yang Bagus Pakai Kain Tenun Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co