30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen

Chusmeru by Chusmeru
February 6, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MENJADI dosen yang ramah dan periang menjadikan Himawan banyak disukai mahasiswa. Bahkan rekan dosen dan pegawai juga banyak yang menyukainya. Apalagi Himawan dikenal sebagai dosen yang humoris dan senang bercanda dengan siapa pun.

Meski sudah termasuk dosen senior, masih terpancar aura kegantengannya di masa lalu. Wajahnya perpaduan antara aktor film Cok Simbara dan Roy Marten. Kumisnya melintang tebal. Wajar jika selain disukai, Himawan juga disegani karena sikapnya yang tegas untuk urusan pekerjaan.

Mengajar mata kuliah Kebijakan Publik, Himawan sangat disiplin. Selalu tepat waktu masuk ruang kelas. Setiap tugas kuliah harus dikumpulkan tepat waktu. Meski demikian, ketika berada di dalam kelas Himawan membuat suasana kuliah sangat cair dan santai. Sesekali ia bercanda, membuat cerita-cerita lucu yang membuat mahasiswa tertawa terbahak-bahak.

Selain suka bercanda, Himawan juga perokok berat. Jika sedang santai, Himawan akan mengajak ngobrol dosen lain atau pegawai sambil merokok di lobi kampus. Sambil merokok pun Himawan masih selalu bercanda dan mengundang tawa orang. Sebetulnya kebiasaan merokok Himawan untuk mengurangi ketegangan akibat pekerjaannya yang menumpuk setiap hari. Ia juga memelihara dan beternak burung perkutut serta ikan hias. Hewan peliharaannya selain untuk hobi juga dijual untuk menambah koceknya sebagai dosen.

Himawan bukan sekadar dosen biasa yang rutin mengajar di kampus. Banyak jabatan di tingkat fakultas, universitas, maupun di pusat yang membuat Himawan sering mondar-mandir ke Jakarta. Kadang ia juga mendapat tugas ke berbagai daerah di luar Jawa. Karenanya, Himawan memiliki banyak relasi mulai dari dosen, menteri, hingga pejabat tinggi di berbagai lembaga.

Setiap melakukan perjalanan ke berbagai daerah, ada saja cerita lucu yang dibagikan kepada dosen lain. Bahkan kadang Himawan juga membagikan cerita yang misterius dan menyeramkan. Hal itu biasanya ia alami ketika melakukan tugas penelitian ke daerah pedalaman.

Sebagai dosen Himawan bukan hanya mengoleksi buku di perpustakaan pribadinya di rumah. Ia juga mempunyai beberapa batu akik yang dikoleksi. Batu akik itu ia peroleh dari berbagai daerah seperti Sumatra, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. Tentu saja koleksi batu akiknya diwarnai dengan latar belakang misteri untuk mendapatkannya.

Batu akik kecubung ungu misalnya, ia dapatkan di pedalaman Kalimantan. Menurut Himawan akik tersebut termasuk keramat. Untuk mendapatkan akik itu ia harus berjalan kaki puluhan kilometer di bebukitan pedalaman Kalimantan. Disebut keramat karena akik itu ada pantangan jika dipakai dan memiliki aura yang menyebabkan banyak orang simpati kepada pemakainya. Salah satu pantangan akik itu adalah tidak boleh dipakai saat berkencan dengan wanita.

Ada juga batu akik onyx hitam yang ia peroleh dari pedalaman Sumatra. Akik ini memiliki aura kewibawaan. Jika orang memakai akik ini maka akan tampak berwibawa di hadapan orang lain. Pantangannya, akik ini tidak boleh dibawa buang air ke toilet. Apa alasannya, Himawan tak tahu. Hanya itu pesan yang peroleh dari orang yang memberi akik tersebut.

Kedua akik Himawan pernah akan dibeli oleh seorang pengusaha. Tidak main-main, orang itu menawar akik itu hingga puluhan juta. Himawan menolaknya. Bukan ia tak tergiur oleh uang puluhan juta, namun ia lebih sayang pada akiknya yang keramat itu. Apalagi akik itu ia peroleh jauh di pedalaman luar Jawa, dan diberikan oleh tokoh masyarakat di sana.

                 ***

Himawan berada di depan kelas. Kuliah Kebijakan Publik akan dimulai. Di jari tangan kanan akik onyx hitam dipakainya. Mahasiswa duduk tertib. Materi demi materi diberikan. Dibumbui cerita lucu, kuliah menjadi segar. Tidak ada mahasiswa yang mengantuk atau mengobrol sendiri dengan teman.

Di tengah perkuliahan, mahasiswa dikejutkan oleh munculnya sosok laki-laki tinggi besar secara misterius dan tiba-tiba yang berdiri di samping Himawan. Rambutnya gondrong sedikit gimbal. Bola matanya besar dan menonjol ke luar. Tubuhnya kekar, telanjang dada hanya menenakan celana kolor hitam. Siapa pun yang melihatnya pasti ketakutan. Sebagian besar mahasiswi menutup matanya.

Sosok laki-laki menyeramkan itu bukan hanya berdiri di samping Himawan. Ia juga bertolak pinggang sambil matanya melotot memandangi mahasiswa. Beberapa mahasiswi yang duduk di kursi depan nyaris berteriak histeris sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Suasana perkuliahan pun menjadi gaduh. Mahasiswa yang duduk di depan bergegas pindah tempat duduk ke belakang.

“Ada apa dengan kalian, kok seperti ketakutan?” tanya Himawan kepada mahasiswa.

Tak seorang pun mahasiswa yang menjawab. Ferdinan, sebagai koordinator kelas dengan terpaksa dan takut menjelaskan.

“Ada laki-laki menyeramkan di sebelah bapak,” kata Ferdinan.

Himawan terkesiap. Ia tak menyadari makhluk gaib yang katanya menghuni batu akiknya menampakkan diri di kelas.

“Maaf…,” kata Himawan sambil melepas dan memasukkan batu akik keramat itu ke dalam saku bajunya. Seketika sosok laki-laki menyeramkan di sebelah Himawan pun hilang.

Menurut orang yang dulu memberikan batu onyx hitam itu, akiknya memang keramat. Dihuni oleh makhluk gaib seperti raksasa yang menakutkan. Akik itu memiliki wibawa yang membuat orang yang memakainya akan disegani oleh orang lain.

Akik hitam milik Himawan memiliki aura keperkasaan dan kekuasaan. Beberapa orang pernah meminjam akik itu untuk mendapatkan jabatan. Kenalan Himawan yang pernah meminjam adalah mereka yang akan mencalonkan diri sebagai kepala desa, bupati, dan calon pejabat di beberapa kampus. Entah karena akik keramat itu atau memang usaha keras dan nasib baik, mereka yang meminjam akik Himawan sukses dalam persaingan jabatan itu.

Tidak sedikit orang yang percaya pada kekuatan magis akik keramat Himawan. Memang agak aneh. Di era teknologi digital, masih banyak orang yang percaya pada kekuatan batu akik. Barangkali rasionalitas menimbulkan kejenuhan, sehingga orang kembali pada mitos dan irasionalitas. Bukan untuk mengabaikan garis illahi atau takdir Tuhan, tetapi manusia mencoba melawan rasionalitas teknologi yang membelenggunya.

                     ***

Kuliah Kebijakan Publik berikutnya Himawan tidak memakai akik onyx hitam. Ia khawatir makhluk seperti raksasa itu akan hadir kembali di kelas. Apalagi perkuliahan hari ini bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Kali ini Himawan memakai akik kecubung ungu di tangan kirinya. Bentuk akiknya cukup besar, sehingga sangat mencolok ketika dipakai. Akik itu diperoleh Himawan saat penelitian di pedalaman Kalimantan, bertemu dengan tokoh masyarakat di sana yang memberinya batu akik itu.

Konon batu akik kecubung ungu itu juga disebut keramat oleh pemberinya. Himawan mengiyakan saja, karena ia tak mau menanyakan lebih lanjut kepada tokoh masyarakat yang memberinya. Akik itu dikatakan memiliki aura keberuntungan dan daya pikat.

Himawan sedang menjelaskan arti penting kebijakan publik dalam proses pembangunan di daerah. Tanpa ia duga, suasana kelas kembali gaduh. Mahasiswa dikejutkan dengan munculnya sosok perempuan cantik di samping kiri Himawan secara tiba-tiba. Parasnya menawan. Menggunakan gaun cerah berwarna ungu, mirip seperti warna akik yang dipakai Himawan.

Mahasiswa tetap saja takut, meski yang muncul sosok perempuan cantik. Masalahnya ia hadir secara misterius dan bukan manusia biasa. Berulang kali perempuan itu tersenyum kepada mahasiswa. Senyum yang disertai dengan tatapan mata yang menyeramkan bagi mahasiswa. Sesekali perempuan itu  memegangi rambutnya yang terurai panjang. Tentu saja menambah suasana menyeramkan di ruang kuliah.

Apalagi Thomas, mahasiswa yang duduk di depan berkali-kali menjadi sasaran tatapan mata perempuan itu. Bulu kuduk Thomas berdiri. Ia seperti diteror hantu perempuan. Ia mencoba menundukkan kepala, tetapi perempuan itu tetap memandanginya. Bergegas ia berdiri dan pindah tempat duduk di kursi belakang. Himawan pun menegur Thomas yang tiba-tiba hengkang dari tempat duduknya.

“Kenapa Thomas?” tanya Himawan ketika melihat Thomas seperti ketakutan.

“Maaf, Pak… ada perempuan di samping bapak…,” jawab Thomas dengan mulut gemetaran.

Tentu saja Himawan kaget. Mengapa mahasiswa selalu melihat makhluk gaib yang menghuni cincinnya. Padahal Himawan sendiri belum pernah melihat sosok penghuni akiknya. Segera ia melepas cincin itu dari jari tangan kirinya, dan memasukannya ke dalam sakunya.

“Waduuuhh… maaf… maaf…,” kata Himawan kepada Thomas dan mahasiswa lainnya.

Begitu akik itu berada di dalam saku baju Himawan, perempuan gaib itu pun lenyap. Namun suasana perkuliahan sudah tidak kondusif lagi. Semua mahasiswa berada dalam suasana yang mencekam.

Batu akik kecubung ungu milik Himawan dipercaya sangat keramat. Pancaran sinar yang keluar dari batu akik itu mampu menimbulkan daya pikat kepada lawan jenis. Tak heran jika banyak rekan Himawan yang masih jomblo meminjam akik itu untuk mendapatkan jodoh atau pasangan.

Himawan dengan senang hati akan meminjamkan akik itu. Baginya, jika memang orang lain percaya pada aura akik itu dan berhasil mendapatkan jodoh, Himawan juga ikut merasa senang. Dan sebagian besar rekan kerja Himawan yang muda dan belum memiliki pasangan, tak lama kemudian mendapatkan pasangan setelah memakai akik keramat itu.

Bukan hanya itu, akik kecubung ungu itu juga dipercaya membawa keberuntungan. Akik itu pernah dipinjam kawan Himawan yang menjadi pelatih klub bola voli  di Jakarta. Anehnya, saat akik Himawan yang dipinjam temannya itu terjatuh, klub volinya sempat tertinggal jauh skornya ketika bertanding. Namun ketika akik itu dipakai kembali, klubnya kembali unggul hingga memenangi pertandingan itu.

***

Bulan berikutnya Himawan masuk ruang kuliah seperti biasa. Kuliah terakhir dari Kebijakan Publik yang diampunya. Namun ada yang tak biasa kali ini. Himawan tidak memakai cincin di tangannya. Ia tak memakai akik onyx hitam maupun kecubung ungu. Wajahnya seperti memendam rasa kecewa.

“Kok nggak pakai akik, Pak Himawan?” tanya Ferdinan memberanikan diri.

Himawan tidak segera menjawab. Matanya seperti memancarkan kesedihan.

“Hilang…,” kata Himawan lirih.

Himawan lantas menceritakan apa yang terjadi. Akik onyx hitam miliknya dipinjam seorang teman yang akan mencalonkan diri sebagai bupati. Awalnya Himawan ragu untuk memimanjamkannya. Apalagi setelah ia tahu akik itu keramat. Sosok raksasa yang menghuni akik itu seolah menambah kewibawaan Himawan ketika berada di hadapan orang lain.

Namun karena temannya memohon dengan sedikit memaksa, akhirnya Himawan meminjamkannya. Celakanya, teman yang meminjam akiknya berbuat teledor. Ketika buang air kecil di toilet akik itu tidak dilepasnya. Padahal Himawan sudah mengingatkan tentang pantangan memakai akik itu di toilet. Benar saja, akik keramat itu hilang begitu saja dari jemari tangan temannya. Lebih sial lagi, teman Himawan kalah dalam pertarungan pemilihan bupati.

Sedangkan akik kecubung ungu dipinjam laki-laki tetangganya. Alasannya, tetangga itu sudah cukup lama menyendiri, belum punya kekasih. Ia berharap dengan memakai akik Himawan akan segera mendapatkan pasangan hidup.

Nyaris sama dengan akik onyx hitamnya, tetangga yang meminjam akik kecubung ungu pun berbuat kesalahan. Ketika ia berhasil mendapatkan kekasih, ia lupa pada pantangan yang disampaikan Himawan. Saat sedang berkencan dengan kekasihnya, akik itu tetap dipakainya. Seketika akik keramat yang mengandung aura pengasihan itu pun lenyap.

Himawan jelas terpukul, mengingat kedua akik itu diperoleh dengan perjuangan yang berat. Ia kini tak lagi punya akik keramat. Tak ada lagi lelaki tinggi besar telanjang dada di sampingnya. Tak ada lagi perempuan cantik yang mendampinginya. Tetapi Himawan tetap berwibawa dan disegani. Ia tetap kocak dengan kumis lebatnya.

  •  Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata.

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kiri” Ayah

Next Post

Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet

Book Café Halaman Belakang di Singaraja -- Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan
Esai

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi
Esai

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

by Angga Wijaya
April 28, 2026
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co