24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
February 4, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SUNGGUH berat bagi siapa pun memilih, menggelari dan menetapkan seseorang menjadi sosok “Pejuang”, karena kata pejuang memberi image sosok manusia terpilih yang memiliki kualitas di atas rata-rata manusia lainnya. Berbagai kriteria harus dapat dibuktikan dan terbukti ada pada diri orang yang kita gelari sebagai pejuang, pun demikian harus ada fakta kekaryaan yang bisa dirasakan oleh orang banyak.

Artinya, jika kita berani memberikan gelar sebagai pejuang pada personal tertentu harus ada dalil dan argumentasi yang mengiringinya sehingga penetapan kita menggelari seseorang jadi sosok pejuang tidak terbantahkan dan diakui keberadaannya. Ingat loh, budaya di negeri kita menggelari seorang pejuang harus tercatat di lembaga resmi yang ditetapkan pemerintah, bahkan harus ada nomor surat penetapannya dan segala embel-embel syarat dan administrasi lainnya. Bahasa pendek penulis pejuang itu harus tersertifikasi.

Menurut kamus , pejuang adalah orang yang berjuang untuk membela kebenaran atau kepentingan orang lain. Pejuang biasanya memiliki keberanian dan rela mengobankan apa yang dimilikinya baik tenaga, pikiran, harta bahkan jiwa. Pejuang selalu bahagia tatkala berhasil mengurangi kesulitan atau penderitaan sesama, memberi manfaat bagi orang banyak, bisa membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi seseorang atau kelompok.

 Biasanya para pejuang dalam bidang apa pun selalu tampil di depan tanpa dorongan orang lain.  Pejuang biasanya tidak peduli apakah pada akhirnya akan memperoleh sesuatu atau tidak, kesenangan dan kebahagian pejuang adalah ketika dirinya bisa berprilaku berjuang untuk kepentingan orang banyak.

Dengan membaca berbagai ciri dan kejiwaan seorang pejuang di atas, maka kita dan siapa pun boleh menggelari seseorang sebagai sosok pejuang , dan tidak harus selalu tercatat terlebih dulu atau minta persetujuan lembaga khusus yang bertugas memberi gelar pejuang. Penulis pun sepakat dan sejalan dengan penjelasan tentang siapa pejuang itu. Maka dengan argumentasi di atas,  penulis diperbolehkan  atau memiliki kewenangan juga untuk memberi gelar pejuang kepada orang-orang sepanjang personal tersebut memiliki ciri-ciri dan kriteria sebagaimana narasi di atas.

Melalui tulisan ini, penulis mohon izin untuk ikut berpartisipasi menggelari beberapa orang yang menurut penilaian dan  kajian secara khusus penulis mereka memiliki jiwa peduli, responsif, bertanggungjawab dan  berkelanjutan dalam memperhatikan dan membantu menjaga eksistensi dan keajegan keberadaan suku Baduy yang luput dari sorotan kamera lembaga khusus pemberi gelar pejuang. Tentunya pemilihan dan penentuan sosok para pejuang suku Baduy yang penulis sejarahahkan ini bersifat tentatif dalam artian bisa disanggah oleh siapa pun dengan versi yang tentunya berbeda.

Penggelaran dan penunjukan pejuang ini adalah versi khusus dari penulis yang dibatasi pada tiga klaster yaitu :  Pejuang Akademis Suku Baduy , Pejuang Sosial Kemanusiaan Suku Baduy dan Pejuang Kesehatan Suku Baduy atas dasar data konkret (dapat dipertanggungjawabkan dan dipertanggunggugatkan) yang penulis miliki dan kumpulkan selama 30 tahun ( 1995-2025).

Pejuang Akademisi Baduy

Terminologi Pejuang Akademisi mungkin barang baru dalam dunia ilmu pengetahuan dan informasi, karena belum terdefinisikan secara sah dan meyakinkan. Oleh karennya bila diksi Pejuang Akademisi yang saya munculkan di artikel ini dirasakan rancu dan kurang tepat atau kurang serasi , maka dengan senang hati penulis menerima saran atau koreksi jitu dari para ahli ketatabahasaan yang sifatnya memperlengkapi dan menyempurnakan makna atau definisinya.

Agar tidak terlalu bias pemaknaan diksi termaksud, penulis mencoba membawa arah pikiran pembaca pada pengertian akademisi yang dikutip dari Wikipedia bahwa “akademikus atau akademisi adalah istilah umum yang merujuk kepada seseorang yang berpendidikan tinggi, atau intelektual, atau seseorang yang menekuni profesi sebagai pengajar dan guru besar di perguruan tinggi.”  Pengertian lain dari kata ini adalah anggota suatu akademi.

Ilmuwan, peneliti, cendekiawan, dan para ahli biasanya juga disebut akademikus, meskipun tidak bekerja di perguruan tinggi. Dengan berpatokan pada pengertian di atas, maka batasan Pejuang Akademisi Baduy dapat diartikan :  “ seseorang atau siapa pun  yang berjuang secara akademisi demi dan untuk kemajuan suku Baduy, tetapi tetap menjaga eksistensi ke-Baduy-annya.

Baduy yang dulu ( 30 tahun ke belakang ) masih dikatagorikan satu suku yang lengket dengan ketaatan keteguhan melaksanakan hukum adat (tradisi buyut pamali), menghindari dan mengasingkan diri dari pergaulan hidup modern dengan berpegang teguh pada pola hidup sederhana dan lama tidak bersentuhan atau berinteraksi secara terbuka. Namun di kekinian katagori tersebut sudah mulai berubah atau bergeser hampir 180 derajat menuju hidup sejahtera, lebih bermartabat, interaktif dan komunikatif, bahkan melek dengan berbagai pengadopsian pola-pola hidup modern. Perkembangan dan perubahan tersebut sepengetahuan penulis  terjadi sebagai akibat dari keinginan masyarakat Baduy itu sendiri yang dipengaruhi oleh para pemengaruh yang peduli terhadap keberadaan suku Baduy.

Pemengaruh  yang penulis khususkan adalah para akademisi yang penulis kenali dan berkonsentrasi mengkaji, meneliti, dan menggali berbagai aspek kehidupan di suku Baduy yang mengkaji kondisi strata dan pola sosial , ekonomi , budaya , politik, kebutuhan dan kesejahteraan, kesehatan, pendidikan. Termasuk mengkaji bidang hukum adat , geografis dan demografi serta aspek lainnya.

 Lebih penulis persempit dan batasi lagi pada sosok  peneliti dan pengkaji suku Baduy yang berkelanjutan menerapkan hasil kajiannya di kehidupan mereka atau dengan kata lain come back again ke Baduy. Sehingga kebermanfaatan hasil kajiannya dirasakan oleh suku Baduy, tidak hanya sebatas meneliti dan langsung menghilang (tilem ) dari pandangan masyarakat Baduy. 

Berbicara tentang para researcher Baduy, penulis tidak bisa menghitung dan memerinci berapa banyak dan siapa saja serta objek yang ditelitinya apa, apalagi jika menggali siapa saja para peneliti terdahulu Baduy.  Penulis hanya berkesempatan mencatat para peneliti yang dikenal dan dikenang oleh masyarakat Baduy dan selalu ditanyakan keberadannya, bahkan dinantikan kedatangannya. Banyak peneliti Baduy, tetapi hilang tak berkesan di mata masyarakat Baduy, karena penelitiannya hanya diperuntukkan bagi kebutuhan dirinya dalam hal menaikan pangkatnya.

Lalu, siapakah akademisi atau researcher yang selalu ada di hati mereka, dikenang mereka  dan selalu menjadi buah bibir mereka sekaligus selalu dinanti  kedatangannya ? Mereka penulis juluki dan diistilahkan sebagai  “Lima Pemerhati Handal Etnis Baduy” (The Five Reliable Observer of  Ethnic Baduy ) yaitu : Prof Ahmad Sihabudin, Prof Imam B. Prasodjo, Prof. Retty Isnendes , Prof. Fadli, dan the big Profesor ayahanda Prof Yudhistira K Garna.  Ini adalah guru besar-guru besar yang berhasil menancapkan dan memberi cinderamata kekaryaannya untuk masyarakat Baduy sesuai dengan spesifikasi keahliannya dengan berbagai kajiannya yang sangat bermanfaat dan berguna terhadap proses meningkatkan derajat kehidupan warga Baduy dan problem solving bagaimana mempertahankan keajegan suku Baduy.

Kiprah Akademisi di Tanah Ulayat Baduy

Prof. Dr. H. Ahmad Sihabudin, M.Si

Sosok ini ketika di klik di jagat internet pasti profilnya muncul dengan seabreg prestasi akademik serta jabatan juga pengalaman berharganya. Beliau adalah orang yang sangat konsen melakukan kajian ilmiah dan selalu dimuat di jurnal-jurnal terkenal, plus rajin menulis artikel yang diterbitkan atau di-publish di berbagai media cetak dan elektonik.

Jika tentang ketokohan (figure) beliau semuanya ditulis di artikel ini terus terang penulis kesulitan untuk menempatkannya. Maka demi keefisienan dan keefektifan penulis mohon izin untuk menulis ulang atau meringkas profil serta coretan peristiwa ( experience ) Profesor yang ada keterkaitan dan hubungannya dengan komunitas adat Baduy.

Beliau adalah asli anak Banten, lahir di Kota Serang, 4 juli 1965 adalah Guru Besar Ilmu Komunikasi Lintas Budaya pada jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Di lingkungan akademik beliau lebih akrab dengan sapaan Prof. Sihab. Sampai saat ini sudah mencetak atau melahirkan 21 Doktor Ilmu Komunikasi dan menjadi Ketua Promotor dan Co Promotor di Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta, Universitas Padjadjaran Bandung, dan di Institut Pertanian Bogor. Dua dari ketiga perguruan tinggi tersebut adalah tempat dibesarkannya beliau meraih titel akademik  S2 dan S3, Sarjana komunikasinya diraih tahun 1989 di FIKOM (IISIP) Jakarta d/h Sekolah Tinggi Publistik.

Prof Sihab adalah satu dari beberapa Guru Besar yang begitu konsen melakukan penelitian pada masyarakat komunitas adat terpencil wabil khusus pada KAT (Komunitas Adat Terpencil) Baduy dan kasepuhan Cisungsang Banten Pakidulan. Ada 10 buku ber-ISBN karya beliau yang terdokumentasikan secara rapi dari hasil kajiannya dan sudah resmi diterbitkan. 

Ada 2 buku khusus membahas tentang Baduy, dan 2 buku tentang kasepuhan Cisungsang. Buku “Saatnya Baduy Bicara” adalah buku yang mengantarkan beliau jadi popular sebagai pakar etnis Baduy, karena buku tersebut memaparkan  originalitas aspek-aspek kehidupan etnis Baduy yang dihimpun dari narasumber primer (tokoh adat terkemuka Baduy). Tentunya didukung oleh disertasinya yang berjudul “Persepsi Komunitas Adat Baduy Luar Terhadap Keluarga di Kabupaten Lebak Provinsi Banten” yang kemudian dijadikan buku berjudul “ Kebutuhan Keluarga Komunitas Adat Baduy”. 

Di catatan penulis masih ada 3 karya tulis ilmiah yang membahas Baduy, dan 4 penelitian khusus tentang Baduy. Prof Sihab ini adalah betul-betul akademisi tulen suku Baduy . Beliau menginjakkan kaki sebagai peneliti Baduy dan berkiprah sebagai pemerhati juga peduliwan Baduy mulai dari tahun 2005 – sekarang (non stop selama 20 tahun). Dengan narasi yang dipaparkan di atas, penulis menunjukkan dan membuktikan alasan konkret, bahwa pak Sihab memiliki kepantasan dijuluki salah seorang “Pejuang Akademisi Baduy”.

Coretan peristiwa beliau di Baduy tidak hanya sebagai  akademisi saja, ia juga merangkap sebagai peduliwan Baduy yang selalu tampil memberi bantuan-bantuan kemanusiaan terkait dengan kebutuhan sebagai mana tertuang di disertasinya.

Tak terhitung mendatangkan bantuan sosial tatkala ada kejadian musibah di Baduy. Menggandeng perusahaan, yayasan, pejabat dan pengusaha untuk memberi bantuan melalui CSR-nya adalah hal yang rutin ia lakukan. Bersama Prof Iman Prasodjo, KOAPGI, pengusaha Tanjung Lesung memprakarsai bantuan tanah untuk Baduy Dalam Cibeo. Banyak sekali  bantuan sembako secara pribadi kepada warga-warga Baduy dan tindakan kemanusiaan lainnya. Action-action tanpa pamrih Itulah yang membuat beliau semakin dikenal,  dicintai dan dikenang oleh baduy.

Ada 2 Catatan unik dan istimewa beliau selama berkiprah di Baduy :

1. Beliau satu- satunya peneliti yang dicatat dan diakui bahkan direstui oleh ketiga ke-puun-an. Ia bersama penulis satu-satunya tamu khusus (researcher) yang diperkenankan melihat menyaksikan acara sunatan masal di tiga kampung Baduy Dalam selama satu hari , pagi di Cikeusik,  siang di Cikartawana dan sore di Cibeo.  Padahal menurut hukum adat mereka kejadian itu dianggap tidak lazim.

2.  Beliau bersama penulis adalah satu-satunya penulis buku Baduy yang acara launching bukunya dibuka oleh Prof Imam Prasodjo dan disaksikan langsung oleh tiga Jaro Tangtu  sebagai  pemuka adat tertinggi pada acara “Book Fair Indonesia” di GOR Senajan Jakarta dan langsung menyampaikan buku “Saatnya Baduy Bicara” ke Presiden SBY ( Susilo Bambang Yudoyono) di Cikeas.

Sampai saat ini beliau tetap setia membersamai Baduy dengan berbagai ragam kajian akademis serta kepedulian sosialnya. Semoga interest-nya beliau terhadap KAT Baduy tidak pernah memudar. Amien. Simak tokoh lainnya di episode berikutnya. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Efek Intensitas Wisatawan Saba Budaya Baduy
Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 

Next Post

Meisya Ariasthi Juara Nyurat Aksara — Inilah Para Juara Bulan Bahasa Bali di Buleleng …

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Meisya Ariasthi Juara Nyurat Aksara — Inilah Para Juara Bulan Bahasa Bali di Buleleng …

Meisya Ariasthi Juara Nyurat Aksara -- Inilah Para Juara Bulan Bahasa Bali di Buleleng …

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co