23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

APWT Heart Water Chiang Mai Thailand: Ketika Sastra Mempertautkan Penulis Penerjemah Kawasan Asia Pasifik

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 30, 2024
in Esai
APWT Heart Water Chiang Mai Thailand: Ketika Sastra Mempertautkan Penulis Penerjemah Kawasan Asia Pasifik

Saya (Kadek Sonia Piscayanti) (paling kiri) Presentasi di APWT tentang karya sastra baik berupa puisi, naskah teater dan film.

KETIKA undangan resmi datang dari Asia Pasific Writers dan Translators 2024, saya merasa bahagia. APWT adalah asosiasi penulis dan penerjemah se-Asia Pasifik dan saat ini merupakan salah satu jaringan penulis terbesar di Asia Pasifik.

APWT berdiri sejak tahun 2007 dan hingga kini telah mengadakan konferensi sebanyak 15 kali hingga 2024. Indonesia menjadi bagian penting dari APWT karena termasuk tempat berlangsungnya APWT pertama kalinya, yaitu di Ubud pada tahun 2007. 

Sejarah APWT dimulai dari dua pendirinya yaitu Nury Vittachi dan Jane Camens yang ingin menjembatani para penulis dan penerjemah khususnya menggunakan jejaring universitas di Kawasan Asia Pasifik. Tujuannya untuk berbagi gagasan seputar dunia menulis kreatif dan mempererat jejaring penulis dan penerjemahnya.

Pertemuan pertama APWT terjadi di Ubud, Bali, pada tahun 2007, dan karena itu,  Ubud adalah tempat bersejarah bagi APWT karena merupakan tempat pertemuan pertama.

Berikutnya APWT 2008 terlaksana di New Delhi India, 2010 di Hong Kong, China. Tahun 2011 di Perth Australia, 2012 dan 2013 di Thailand, 2014 di Singapore, 2015 di Phillipines, 2016 di Guangzhou China, 2017 di Singaraja, Bali. Selanjutnya di tahun 2018 di Gold Coast Australia, 2019 di Macau, China, 2022 di Bangalore India, dan 2023 di Ubud.

Tahun 2024 ini APWT digelar di Chiang Mai Thailand. Dengan tema Heart Water APWT membahas bagaimana air menjadi penghubung semua teritori Kawasan Asia Pasifik dan bagaimana hati mempertautkan kita. Memang tak berlebihan jika dikatakan bahwa kita bersatu karena air dan jiwa melalui sastra.

Direktur Eksekutif APWT Prof. Sally Breen mengatakan bahwa APWT adalah asosiasi penulis dan penerjemah se-Asia Pasifik yang lebih memprioritaskan pada kedalaman dan keterhubungan personal antar anggotanya sebagai sebuah keluarga besar yang saling mendukung dan saling merangkul.

Sebanyak kurang lebih 100 penulis berkumpul di Chiang Mai, saling berbagi, saling mendengar, saling bertukar gagasan, juga tentunya saling mendukung dan saling menguatkan.

Indonesia diundang melalui dua penulis yaitu saya sendiri (Kadek Sonia Piscayanti), dan Pranita Dewi. Kami dipilih karena karya-karya yang berbicara tentang identitas perempuan Bali dan komplesitas isu yang kami hadapi dan tuliskan melalui berbagai jenis karya sastra.

Saya sebagai penulis naskah teater, penulis puisi, cerpen, esai, juga produser film, dan pendiri festival sastra di Singaraja. Sementara Pranita Dewi adalah penulis puisi, esai, dan juga pembaca puisi. Mewakili Indonesia, kami mendapatkan dukungan pendanaan dari Dana Indonesiana.

Hari pertama, kami mengikuti jadwal yang padat yaitu Keynote Seminar dari Sunnisa Maning, panel paralel yang menampilkan banyak penulis dari kawasan Asia Pasifik di antaranya Mai Nardone, Joe Milan, Piia Mustamaki, Philip Cornwell Smith, Sara F Costa, Tony Waters, Robin Hemley dan masih banyak lagi.

Saya (kanan) bersama Anita Thomas (kiri) di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Saya sendiri mendapat sesi sore yaitu di panel paralel dengan topik  Make it Move – Make it Flow dipandu oleh host Roland B Tolentino. Saat itu saya menjadi narasumber bersama Maude Veilleux dan Mitch Goodwin, namun Mitch hanya hadir melalui karya visualnya.

Di panel ini saya berbicara soal puisi, naskah drama, dan film sebagai perantara gagasan menuju ke publik yang luas namun segmented. Definisi panel Make it Move Make it Flow sangat terkait dengan hampir seluruh karya saya yang berisi ajakan bergerak dan mengalir, melakukan sebuah perubahan.

Esensi tema yang baik ini menjadi inti diskusi kami, yaitu perspektif kata-kata dalam konteks ruang dan rupa realita.

Diskusi berjalan baik dan lebih menitikberatkan pada bagaimana kemungkinan karya-karya kami selain dapat dinikmati lebih luas namun juga memberi dampak dan mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Dalam konteks lebih spesifik, salah satunya melalui film, secara audio visual film dapat menggugah hati dengan kritis.

Malam harinya ada pembacaan karya, dimana Pranita Dewi diundang sebagai penyair yang membaca puisi. Sangat menarik melihat pembacaan puisi begitu dihayati dan diresapi dengan serius.

Hari kedua kami mendengar keynote dari Robin Hemley, yang bicara soal pendekatan personal dalam sastra yang mampu mengubah dunia. Intinya, jika kita mampu memandang sesuatu secara personal dan menggarapnya dengan perspektif segar, maka akan lahir karya yang berbeda.

Selepas itu kami melanjutkan menikmati panel-panel yang seru, salah satunya adalah panel soal bagaimana isu industri kreatif penulisan saat ini bagaimana ekosistem harus dimainkan. Panel ini menghadirkan Sally Breen, Brendan Fredericks, Vanessa Barrington, Catherine Cormier-Larose, Deva Eveland, Murielle Paviet-Fanolliet, Michael Clements.

Bersama penulis-penulis lain di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Bersama penulis Philip Cornwell Smith (kiri) dan Sudeep Sen (kanan) di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Malam harinya, di Kalm Village kami diundang makan malam bersama seluruh penulis yang sekaligus peserta APWT, kami disuguhi pertunjukan musik dan puisi.

Lalu 24 November, pagi hari pada sesi pembacaan puisi di Kalm Village saya membacakan puisi berjudul A Cursed Poet. Puisi ini bercerita tentang bagaimana puisi mempersatukan para penulis se-Asia Pasifik di Chiang Mai Thailand.

Puisi bekerja seperti karma, tak dapat dihindari, jika saatnya lahir puisi maka puisi akan lahir, dan saatnya bersua akan bersua dengan penyair lainnya.

Seolah puisi ini benar adanya, seluruh penyair yang hadir nampak larut dan benar-benar mengapresiasi kehadiran puisi.

Masih di 24 November, film yang saya produksi diputar. Film ini telah diputar di Singaraja Literary Festival, Agustus 2024, lalu diedit kembali khusus untuk diputar di APWT Chiang Mai.

Di tanggal 24 pula, kami melakukan seremoni perpisahan, karena telah usai mengikuti seluruh program APWT. Sungguh sastra telah membawa saya menemukan diri yang lebih kaya karena bertukar gagasan dan cerita menyebabkan pertumbuhan mental yang baik. Sebagai duta budaya dari Indonesia, kami sangat dihargai, dirayakan dan dihormati. Matur suksma. [T]

BACA artikel lain dari penulis KADEK SONIA PISCAYANTI

Kembalinya Mimpi dan Puisi: Perjalanan Saya dan Sonia ke (dan dari) APWT di Chiang Mai, Thailand
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Macau Bukan Hanya Kasino – Ada Tragedi, Komedi dan Hal Lain Tentang Manusia
Tags: APWTAsia FasifikAsia Pacific Writers and TranslatorsChiang MaipenerjemahpenulissastraThailand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Susiawan dalam Pameran “Bridges of Light”: Pengalaman Transformatif yang Mendorong Dialog, Kreativitas, dan Refleksi

Next Post

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi --- [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co