23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 29, 2024
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

 HABERMAS memandang bahasa sebagai manifestasi kebutuhan manusia untuk berkomunikasi. Bahasa adalah sarana integrasi sosial antara berbagai subjek komunikasi dan sarana sosialisasi kebutuhan, serta kepentingan yang melatarbelakangi komunikasi.

Habermas mengembangkan gagasan tentang manusia sebagai komunikator yang rasional dalam kehidupan. Bagi Habermas, inti persoalan manusia adalah bagaimana memperoleh rasionalitas komunikatif, yaitu syarat-syarat yang memungkinkan komunikasi rasional antarindividu dan budaya yang berbeda.

Bahasa sebagai identitas dalam perilaku  manusia dapat beralih sebentar ke bahasa berbeda untuk alasan sosial, yaitu memberi tahu dan membangun secara aktif identitas etnik dan solidaritas dengan lawan bicara. Pakar sosiolinguistik Champion berpendapat dalam Liliweri (2018) bahwa identitas utama suatu etnik adalah bahasa.

Kenneth Burke juga mengatakan bahwa bahasa menjadi faktor yang sangat penting untuk menentukan identitas budaya, baik bahasa verbal maupun nonverbal. Bukan saja menandai identitas budaya, tetapi juga identitas peran di dalam masyarakat. Kata-kata yang dipilih sebagai pengganti bahasa asli berperan sebagai penanda identitas etnik.

Tradisi Lisan yang Menghibur

Gagasan Habermas intinya adalah suatu rasionalitas yang sama bagi semua peserta dialog sebagai syarat komunikasi. Pikiran Habermas dapat digunakan untuk memotret suatu tradisi lisan yang berkembang di masyarakat lokal kita, seperti berbalas pantun, musyawarah, guyonan; baik ala masyarakat Jawa Timuran, Jawa Tengah Banyumasan ngapak, Sunda, dan Betawi.

Saya yakin, hampir setiap daerah memiliki cara masyarakat menghibur dirinya dengan bahasanya, berseloroh, humor, yang tentunya sudah hidup sejak masyarakat itu ada. Perlu dilakukan penelitian yang serius untuk hal ini, karena menurut saya ini bagian dari kearifan lokal masyarakat pendukungnya.

Menurut saya, tradisi lisan ini merupaka hiburan yang membuat masyarakat bahagia (happy). Bila melihat tayangan lawakan, sinetron, film, pentas teater, banyak juga yang mengambil atau mengangkat tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Sebut saja lawakan Srimulat yang pernah berjaya beberapa dekade, Opera Van Java (Parto dan Sule cs), group lawak Jayakarta (Jojon cs), group lawak Pelita (Kimung cs, dengn nuansa etnik Jawa, Batak, Minang, Sunda), lawakan de Kabayan (kang Ibing cs), film-film Benyamis S, dan sinetron si Doel yang berlatar Betawi.

Bila kita perhatikan dialog-dialog dalam pementasan mereka ada satu kekhasan yang menurut saya selalu terjadi ledek-ledekan, main ”kata-kataan”, atau dalam bahasa orang Betawi adalah ngeceng, ceng-cengan. Agar pentasnya menarik dan lucu, mereka melakukan yang namanya ceng-cengan dalam setiap episodenya. Kebetulan  saya tumbuh remaja di Kota Tangerang sebelah timur, yang sedikit banyak dipengaruh oleh budaya Betawi.

Pementasan lawakan atau stand up komedi yang lagi tren di kalangan anak muda sekarang, agar meriah dan lucu mereka melakukan ledek-ledekan atau ceng-cengan, apakah di antara peserta lakon atau dalam monolog sekalipun. Mereka bernarasi agar tetap lucu, biasanya mereka ”membully”, perihal apa yang mereka sampaikan.

Istilah yang berkembang guyon gaya anak remaja kala itu sering disebut di- cengin, ledek-ledekan. Istilah anak remaja sekarang bully. Entah dari mana istilah itu, bully memiliki kesan tidak baik dan cenderung sadis, berbeda dengan istilah ceng-cengan.

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan gagasan Habermas, bahwa komunikasi atau dialog akan terjadi bila frekuesinya sama, antara komunikator dan komunikan sudah in tune. Terkait hal ini ada satu penelitian menarik dari Darmani (1990) yang berjudul Peranan Bahasa Dalam Budaya Komunikasi, Studi Mengenai Ceng-cengan pada Masyarakat Betawi di Kemayoran. Salah satu aspek kebudayaan khas yang dimiliki masyarakat Betawi ialah apa yang dikenal dengan ngeceng, dan ceng-cengan, atau main ledek-ledekan, bersilat lidah dalam kontek humor yang penuh canda.

Ngeceng, ledek-ledekan, berseloroh, guyon dan sebutan lainnya, sifat yang cukup menonjol bagi kebanyakan orang Betawi. Humor mempunyai hubungan erat dengan ceng-cengan yang merupakan topik pembahasan tulisan ini. Ceng-cengan yang merupakan  kegiatan komunikasi bernada senda gurau itu dalam dialog memang penuh dengan humor. Sehingga tidak mengherankan kalau kegiatan itu berlangsung banyak disertai dengan gelak tawa. Sebagai aktivitas komunikasi, ngeceng tetap harus memeperhatikan etika.

Istilah ngeceng sejauh pengetahuan saya sudah ada sejak lama. Pertama saya mengenal istilah ini saat duduk di kelas 2 SMP tahun 1978.Namun sejak kapan istilah ini digunakan di kalangan remaja, wallahulam bissawab, karena  sudah sejak lama dikenal masyarakat. Peribahasa  Betawinya,“dari zaman kude gigit besi istilah ngeceng ude ade, walhasil itu bukan hal baru”.

 Sampai sekarang praktis masih tetap digunakan. Bahkan terus berkembang, bertambah banyak pendukung tradisi ini dalam acara dan pementasan film sinetron, lawakan dan lain-lain. Dengan demikian ngeceng tampaknya sudah menjadi salah satu bagian tata pergaulan masyarakat Betawi, dan mewarnai berbagai aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Bentuk dan Kegiatan Ceng-cengan

Biasanya  diawali oleh salah seorang anak muda yang seolah-olah berperan sebagai pemancing inisiatif. Kemudian setelah berlangsung, dari sejumlah anak muda yang terlibat, ada yang aktif tapi ada pula yang hanya berperan sebagai pemberi “bumbu” dengan menyelipkan kata-kata lucu dalam bentuk ceng-cengan yang sedang berlangsung.

Katakanlah sabagai penyumbang moral kepada yang ngeceng, kemudian beralih kepada yang di-ceng. Mengingat bentuk ceng-cengan banyak ragamnya, agar menjadi jelas berikut akan diketengahkan salah satu contoh, termasuk situasi berlangsungnya.

Sekelompok anak muda berkumpul, suasananya santai dan tampak meriah. Sesaat kemudian datang rekan sebaya dengan langkah pasti dan penuh percaya diri. Ia mencangking atau membawa sebuah gitar yang penuh tempelan berbagai macam stiker yang gambar maupun tulisan bargaya pop, romantis dan berkesan lucu.

Kedatangan teman yang baru itu cukup menarik perhatian rekan yang berkumpul lebih dulu. Ada suatu yang menarik,  tampaknya bukan karena gitar maupun pakaian yang melekat di badannya, melainkan jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya.“Baru nih yeee, jam tangan jengkol bewe?” (arti bebasnya kira-kira: baru ya, jam tangan mu kok seperti jengkol yang telah dipendam beberapa hari), terlontar seberkas kata-kata bernada ngeceng dari salah satu seorang rekan.

Si pemakai jam tangan, mendapat serangan tiba-tiba itu tidak berkecil hati apalagi tersinggung. Sedikitpun tidak tergambar kekecewaan pada wajahnya. Bahkan begitu spontan benaknya yang bagaikan komputer segera memprogram serangkaian kata – kata untuk balasan yang inspirasinya bersumber dari jaket yang dikenakan rekan yang ngeceng lebih dulu.

“Masih mendingan gue, gini-gini kan arloji canggih kuning bukan sembarang kuning, kuning emas. Timbang elu, jaket ape kutang nenek-nenek” (arti bebasnya: masih lebih baik jam tangan saya, walaupun begini arloji canggih, kuning bukan sembarang kuning, kuning emas. Daripada kamu pakai, jaket seperti kutang / BH nenek-nenek). Balasan spontan tersebut disambut oleh rekan-rekan dengan tawa bersambungan, sedangkan yang baru saja  menerima balasan terdiam sejenak untuk menyusun strategi lebih lanjut.

Semetara terdapat kesenjangan, salah seorang rekan mengambil kesempatan menimpali. “Eeee.., biar kaya kutang nenek–nenek itu kan barang antik, manjur bisa ngebaein anak kecil yang kesambet, tutupin mukannye kontan bae” (arti balasannya : Eee.., biar seperti kutang nenek–nenek itu kan barang antik, mujarab dan dapat menyembuhkan anak kecil yang sakit karena gangguan roh halus, tutup wajahnya langsung sembuh). “Bukan mengandung obat, tapi bau selangkangan onta, mana tahan, jin juga kabur ame baunye” (arti bebasnya : Bukan mengandung obat, tetapi bau antara dua paha onta, siapa yang tahan, jin saja lari cium baunya). Begitu sela rekan lain.

Objek Benda

Pada ceng-cengan seperti diilustrasikan tersebut yang menjadi objeknya benda, yakni jam tangan dan jaket. Kedua jenis benda yang menjadi objek tadi untuk dapat dieksploitasi menjadi bahan ceng-cengan tidak perlu memiliki bentuk terlalu unik. Sedikit saja dianggap memiliki “kelainan” dapat dikembangkan menjadi bahan ceng-cengan.

Terhadap jam tangan yang dipakai tadi bentuknya cukup normal, bulat tidak berbenjol–benjol seperti pecahan batu koral. Lagipula model seperti itu banyak dipakai orang. Barangkali karena ukurannya saja yang agak maksimal, sedangkan yang memakainya kurus ceking, membuat benda itu amat kontras melingkar di pergelangan tangan kirinya yang kurang lebih sebesar batang tebu.

Demikian pula dengan jaket, melihat bahannya tidaklah terlalu jelek, warnanya pun cukup cerah, tidak lentur atau dekil termakan usia. Hanya saja karena dikenakannya kurang pas atau agak serba tanggung sehinnga dikatakan sebagai kutang nenek-nenek. Menurut ukuran umum tidak terlihat di mana letak segi lucunya benda tersebut.

Kutang hanyalah sejenis pakaian dalam wanita; yang dikatakan kutang nenek–nenek di Betawi sudah lazim dikenakan khususnya oleh mereka yang sudah setengah baya ke atas. Tapi kenyataannya begitu disebut dalam kontek ceng-cengan nyaris mengundang tawa.

Selain benda, bagian anggota tubuh dan sifat seorang dapat memberikan inspirasi ceng–cengan. Untuk bagian tubuh hanya kelainan yang tidak begitu parah saja yang dijadikan sasaran. Semakin parah tingkat kecacatan tubuh seseorang semakin enggan dijadikan objek, apalagi saling berhadapan langsung.

Sebagai misal, mereka yang tertatih-tatih karena cacat, biasanya hanya ditempatkan sebagai pelengkap. “jalan bergaya nih yee, petantang–petenteng gonjet kaya si Anu” (arti bebasnya : berjalan penuh gaya, mondar-mondar pasang aksi sambil junjit-jinjit seperti si Anu). Yang dimaksud si Anu ialah mereka yang berjalan berjinjit–jinjit dan tidak berada di tempat saat ceng-cengan berlangsung.

“Ceng-cengan emang udeh jadi kebiasaan, apalagi anak muda, tapi kalo ngeceng yang badannye kagak normal rasanye kagak tega”  (arti bebasnya: Ceng-cengan emang sudah menjadi kebiasaan anak muda, tapi kalau ngeceng yang badannya tidak normal rasanya tidak tega), kilah anak muda yang termasuk getol (gandrung) ceng-cengan.

Bagian tubuh yang dapat dijadikan sasaran ceng-cengan meliputi dari kepala sampai kaki. Di bagian kepala sekitar wajah bisa beraneka ragam seperti berikut : untuk bagian hidung: hidung dot militer; bagian bibir: bibir apa puser beruang, bagian gigi: gigi apa pacul kuburan, bagian dahi: jidad apa pantat monyet.

Terkadang sesuatu yang wajar dapat diaktualasikan menjadi objek. Model sisiran rambut misalnya, padahal sudah demikan rapih dengan jambul berbentuk tipis, dikatakan: “jambul apa sendok semen” (arti bebasnya: jambul seperti sendok semen).

Objek Sifat

Mengenai sifat seseorang, walaupun objek sasarannya sama yaitu tentang diri pribadi, tetapi antara ngeceng yang objeknya bagian tubuh dan sifat pribadi ada perbedaanya. Kalau bagian tubuh terdapat kesan masih memilih-milih, untuk sifat pribadi agak bebas.

Beberapa contoh ngeceng yang objeknya sifat seseorang adalah sebagai berikut: Untuk anak muda yang makannya gembul (banyak) : “makannya sedikit yee, cuma kagak sekalian piringnya dilalap” (arti bebasnya: makannya sih sedikit, hanya saja piringnya tidak sekalian dimakan). Mereka yang mempunyai sifat agak pelit : “dia ude berenti ngeroko, minta sih jalan terus”.

Seringkali pula keadaan lingkungan turut mengilhami semaraknya ceng-cengan, seperti dalam bentuk: “badannya wangi, bau jamban pinggir kali”. Rupanya ragam kata yang digunakan dalam ceng  cengan tidak begitu mempersalahkan kaitan makna antara satu sama lain.

Bahkan acapkali pula terdapat kata-kata yang sulit dibayangkan maknanya, bahkan boleh dikatakan membingungkan, seperti berikut: muka apa selangkangan onta, nyanyi kaya geledek kentut, bibir apa jempol Idi Amin (Presiden Uganda 1970an yang memiliki wajah dan perilaku sangar, bengis, dan sadis). Dari contoh tersebut tentunya dapat menimbulkan pertanyaan, bagaimana selangkangan onta, seperti apa geledek kentut dan bagaimana pula jempol Idi Amin. Barangkali yang ngeceng pun tidak dapat menjelaskan yang dikatakan apalagi orang lain, yang tidak terlibat dalam aktivitas tersebut.

Apa yang menarik anak muda melibatkan diri dalam kegiatan ceng-cengan memang belum diadakan peneltian secara mendalam. Sementara ini yang menjadi pendorong ialah terletak pada unsur kocak dan sifat keakraban yang terdapat dalam kegiatan itu.

Pada umumnya anak muda Betawi menyatakan senang sekali pada tradisi ngeceng, karena menyatakan senang gembira, tertawa itu sehat bikin awet muda, humor membuat tertawa dapat menhilangkan pikiran ruwet. Dengan humor akan menambah akrab dalam pergaulan anak muda, dan tentunya happy bahagia. [T]

  • Tulisan ini bersambung pada bagian 2 yang akan membahas hubungan kocak dengan ceng-cengan.

Baca artikel berikutnya:

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 2]: Hubungan Kocak, Humor dan ”Ngeceng”
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 3]: Tanggapan pada Kawan yang Kocak
Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan
Tags: Betawigaya hidupJakartakesenian betawi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabrak: Pameran Seni Rupa Made Kaek vs Arwin Hidayat di Museum Arma Ubud

Next Post

Perbedaan antara Virus dan Bakteri: Apa Hubungannya dengan Istilah Viral?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Perbedaan antara Virus dan Bakteri: Apa Hubungannya dengan Istilah Viral?

Perbedaan antara Virus dan Bakteri: Apa Hubungannya dengan Istilah Viral?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co